JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
BAB IV


__ADS_3

Kata orang kesuksesan itu didapat dari 99% usaha dan sisa 1% nya adalah bakat. Begitu pun cinta, Fara percaya cinta bisa didapat karena usaha, Yah usaha apa aja untuk mendekati target, mulai dari usaha stalking media sosial, minta No wa, atau usaha tembak ditempat. Meski sulitnya seperti mendaki gunung Merapi, Fara masih menganut azas Witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu datangnya karena terbiasa. Itu kata pepatah Jawa kuno entah dirilis abad keberapa, mungkin zamannya roro jonggrang kali.


"By the way, Ini jalan ke dua tahun lo sama Athan." Sarah melototi cangkir tehnya yang sudah tandas.


"Iya dua tahun, apanya yang Witing tresno jalaran soko kulino, gue enggak pernah tuh liat Athan bucin sama lo." Yap, kali ini Ve yang bersuara, keren kan teman Fara kalau soal menjatuhkan mood.


"Tapi kan gue lagi usaha nih, buktinya Athan betah- betah aja jalan sama gue." Fara menghembuskan poninya frustasi.


"Iya juga sih, tapi masa lo gak bosan ngadepin cowok yang cuek nya kayak Athan itu."


"Mau gimana lagi, gue cinta mati sama dia."


"Nah itu yang gue enggak setuju dari cinta, cinta itu pembodohan karakter. Orang bisa jadi bego karena cinta. Makanya gue milih jadi jomblo abadi ketimbang pacaran." Ucap Sarah diplomatis.


"Itu karena lo aja yang enggak laku- laku." Ve menyahut.


"Bukan gak laku Ve, gue enggak mau aja capek ngejar cowok kayak Fara, cinta itu enggak seperti itu, cinta itu saling berkorban, bukan salah satu pihak aja yang berkorban, itu bukan cinta namanya tapi perbudakan. Gue enggak mau aja jadi budak cinta seperti Fara."


***


Sepulang dari konferensi meja bundar dadakan yang di adakan tiga serangkai Fara, Ve, dan Sarah di Cafe langganan mereka. Membuat Fara jadi memikirkan ucapan Sarah, apa iya selama ini ia sudah jadi budak cinta nya Athan. Kalau dipikir- pikir benar juga sih kata Sarah, Athan itu cueknya enggak ketulungan, kalau Fara ngirim pesan wa pagi, balesnya sore. Kalau ngirim pesannya malam, balesnya besok paginya. Athan enggak pernah tuh nunjukin kalau dia benar-benar cinta ke Fara.


Selama ini Fara seolah menulikan telinga dan membutakan mata terhadap sikap dingin dan cueknya Athan, tapi sampai kapan. Ini sudah mau jalan dua tahun hubungan mereka. Apakah ini pertanda Fara harus melambaikan bendera warna putih, Yah, sepertinya Fara mesti tahu diri, sampai kapanpun Athan enggak akan membalas perasaannya. Fara sudah melakukan berbagai cara, sampai dia pernah mengkepoin kehidupan Dira, cewek yang digadang- gadang akan menjadi masa depan Athan. Fara pernah meniru gaya rambut Dira, meniru cara berpakaian gadis itu, tapi yang ada Fara capek sendiri. Athan emang dari orok terlahir cuek.


"Hei, kalau jalan jangan melamun, ntar nabrak tiang." Tubuh menjulang Bonny tiba-tiba muncul entah dari mana, membuat Fara kaget saat berjalan di koridor perpustakaan.


"Tumben lo ke perpus, kesambet setan apa?" Fara melihat sekeliling, enggak ada orang, cuma Bonny seorang.


"Bantuin gue cari buku sejarah." Bonny menarik lengan Fara masuk ke dalam perpustakaan.


"Enak aja, cari sendiri."

__ADS_1


"Gue traktir bakso dikantin plus sama jus jeruk." Bonny membujuk.


"Terakhir lo traktir gue, yang ada gue bangkrut, lo pura- pura lupa bawa dompet." Fara mendelik, teringat kejadian seminggu lalu dengan kasus yang sama, Fara bantuin Bonny ngerjain PR, berakhir dengan Fara yang membayar semua pesanan karena Bonny lupa bawa dompet.


"Kali ini enggak lagi, gue bawa dompet, serius. Nih lihat nih." Bonny mengeluarkan dompet dari saku celananya, lengkap dengan uang merah- merah didalamnya.


"Hahh, show off banget."


"Makanya bantuin gue cari buku, biar kita cepat ke kantin." Sekali lagi Bonny menarik lengan Fara. Yah, dengan terpaksa Fara mengikuti Bonny masuk ke dalam perpustakaan.


Fara mulai mencari satu persatu buku yang diinginkan Bonny, keduanya berdiri bersisian. "Bon..."


"Hmmm."


"Bon."


"Iya apa? Bicara aja, gue denger kok." Bonny menatap Fara.


"Menurut lo, Athan itu sayang gak sih ke gue?"


"Kalian kan teman, masa Athan gak pernah cerita soal gue.... atau Dira? Athan masih suka ke Dira, iya kan Bon?"


Bonny menghela nafas, dia mencoba menatap Fara lama, kemudian beralih ke bukunya lagi. "Kalau dia suka ke Dira ngapain dia mau pacaran sama lo, ngabisin waktu."


"Tapi Athan cuek banget ke gue."


"Emang orangnya kayak gitu kan, masa baru nyadar kini."


"Tapi terkadang gue merasa Athan enggak cinta ke gue, gue yakin itu, dia cuma terpaksa jalan sama gue." Fara bergumam pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.


"Lo cantik, baik, enggak sulit kok bikin cowok suka sama lo, termasuk Athan."

__ADS_1


Fara cuma diam, kemudian melanjutkan aktivitasnya mencari buku untuk Bonny.


"Lo mau tau cara membuktikan Athan itu cinta ke lo apa enggak?"Lanjut Bonny.


"Emang bisa?"


"Bisa.."


"Caranya?" Fara berdiri sedikit mendekat ke Bonny.


"Ikuti rencana gue, jangan tanya- tanya, pokoknya lo diam aja."


Fara mengeryit bingung saat Bonny maju selangkah hingga jarak mereka tinggal beberapa senti, "Lo mau ngapain?" cicit Fara panik.


"Ssstt, gue bilang diam aja, ikuti skenario gue. Ntar lo tau, Athan suka apa enggak ke lo, Fara."


Okeh, kali ini Fara diam membiarkan Bonny yang mulai menyelipkan rambut Fara ke belakang telinga, matanya menatap Fara penuh damba, sumpah ini awarkd banget sih, Fara sampai bisa merasakan hembusan nafas Bonny yang berbau mint, dari jarak sedekat ini Fara jadi tau kalau hidung Bonny mancung juga, ada tahi lalat kecil di sebelah kiri hidungnya.


"Kita hitung mundur..."Bisik Bonny pelan.


"Tiga..."


"Dua... "


" Sa... - "


BUGHHHH.....


" Aaaaahhhgghh" Fara memekik kaget.


Dari arah belakang Fara, Athan yang entah sejak kapan berada di perpustakaan menarik dan meninju Bonny kencang hingga Bonny jatuh terhuyung ke belakang menabrak rak buku.

__ADS_1


"Berhenti!!!!"


To be continue


__ADS_2