
Athan mengetuk pelan pintu sebuah rumah bertingkat dua dengan cat hijau tosca itu. Rumah yang sangat sering dikunjungi Athan sejak ia dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Sebuah wajah muncul tak lama setelah itu. Dira tersenyum manis menyambut kedatangan Athan, gadis itu membuka daun pintu lebar- lebar agar Athan bisa masuk.
“Kok masih pake seragam sekolah?”
“Lagi malas pulang ke rumah, tadi langsung les.” Jawab Athan sambil mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu rumah Dira.
Dira mengikuti Athan dengan duduk disamping cowok itu, keningnya mengkerut,”Ada masalah apa, muka kamu kayak kusut gitu.”
Athan melirik Dira sekilas, kemudian menghembuskan nafas pelan.”Fara minta break.” Ucapnya pelan.
“Kalian ribut lagi? Bukannya tiap hari ribut kan ya?” Kening Dira makin dalam terlipat.
“Kali ini dia serius.”
“Kamu tau darimana dia serius, palingan besok dia nyamperin kamu lagi minta balikan.”
“Udah seminggu, Dira. Fara juga enggak pernah jawab pesan aku.” Sudahkah suara Athan terdengar sedikit frustasi sekarang. Di awal- awal hubungan mereka dulu, Athan mengakui kalau dia belum ada perasaan apa- apa pada gadis bernama Fara itu, Athan mengangguk saja waktu Fara dengan segala obsesi gadis itu ingin memiliki dirinya. Gak ada yang salah dari pacaran bukan, itu hanya status ilegal yang dibuat atas dasar kesepakatan kedua belah pihak, enggak ada ikatan hukum yang mengikat secara sah semacam pernikahan yang tercatat di negara dengan bukti sebuah buku nikah.
Bagi Athan, pacaran ya pacaran. Cukup dengan chatingan seperlunya, ngobrol apa adanya, nyamperin pas istirahat, jalan ya kalau ada waktu. Karena Athan berfikir hidupnya tidak hanya terpusat pada seorang gadis, dia juga masih SMA. Masa iya, dia mau menyerahkan hidupnya cuma fokus pada sebuah hubungan yang kata Athan ilegal tadi. Persetan lah sama romantisme, dia sekolah juga masih buat belajar, banyak urusan demi membuat dirinya sukses di kemudian hari. Tapi mengapa seperti ada yang kurang saat Athan tidak pernah lagi mendapat chat random dari Fara, atau omelan gadis itu yang seringnya diabaikan Athan begitu saja. Awalnya Athan berfikir karena sudah menjadi sebuah kebiasaan, jadi berasa ada yang kurang saat itu menghilang. Tapi ini sudah bisa dikategorikan cukup mengganggu, sangat mengganggu malah. Athan jadi kesulitan tidur, makannya juga tidak teratur, Athan jadi sering mengalami siklus emosi yang naik turun. Padahal baru seminggu sejak Fara melakukan gencatan senjata melalui kata - kata break.
“Terus?’
“Terus apa?” Athan ikut- ikutan mengernyitkan dahinya menatap Dira.
__ADS_1
“Ya udah kalau dia minta break, ikutin aja.”
Athan mendengus sebal, jawaban Dira sama sekali enggak membuat hatinya membaik.” Gue salah curhat nih.” Ucapnya sarkas.
Dira tertawa,” Itu namanya rindu, Than, kamu rindu ke Fara.” Dira menjeda ucapannya, “Kalau kamu merasa ada yang kosong saat seseorang enggak ada didekat kamu, terus kamu ingin melihatnya, ingin sekali dia ada, itu namanya rindu, dan aku bisa melihat dari mata kamu kalau kamu sekarang sedang frustasi karena rindu.”
“Solusinya apa?” Tanya Athan diplomatis. Jujur saja, dia perlu sebuah solusi yang masuk akal demi mengurangi kegundahan hatinya saat ini.
“Romantislah sesekali, cewek itu butuh perhatian. Fara pasti menyangka kamu enggak sayang ke dia karena terlalu cuek selama ini. Harus ada pengorbanan dalam sebuah hubungan, Than. Hubungan kalian enggak sehat sedari awal.”
“Romantis seperti apa yang kamu maksud? kamu mau aku ciumin dia tiap ada kesempatan?”
Dira memutar bola matanya mendengar ucapan Athan, “Cewek itu maunya hubungan yang ada pengorbanan, than. Bukan cuma nyamperin pas istirahat, makan bareng. Aku juga sering kamu ajak makan kalau hubungannya cuma segitu, harus ada yang spesial yang membuat Fara jadi lebih dari sekedar teman cewek.”
“Kapan Fara ulang tahun?” tanya Dira kemudian.
“Minggu depan.”
“Nah, belikan dia sesuatu yang paling dia sukai, ajak dia dinner dimana, kamu mesti minta maaf dan mengakui kesalahan kamu selama ini dan berjanji akan memperbaiki hubungan kalian.”
“Fara pernah cerita dia pengen punya kalung yang ada foto kami berdua didalamnya.”
“Nah, wujudkan keinginan Fara itu.” Dira tersenyum geli ke arah Athan, Athan memang cuek, terlalu cuek malahan, seringnya terkesan polos dan kaku. Tapi sedari mereka kecil memang Athan lebih terbuka ke Dira dari sekian banyak orang- orang terdekat Athan, sampai mereka- mereka yang enggak pernah tau hubungan seperti apa yang mengikat keduanya berfikir bahwa athan dan Dira saling menyukai satu sama lain.
__ADS_1
Mereka berakhir di butik tante Ami setelah Dira memutuskan untuk menemani Athan membeli kado ulang tahun untuk Fara. “Nanti kadonya jangan dibungkus, kamu langsung bantu pasangkan ke leher Fara.” Ucap Dira antusias.
“Harus banget ya seperti itu?”
Dira memukul pelan lengan Athan,”Harus, kalau kamu ingin belajar romantis.”
***
Tubuh Fara masih bergetar hebat kendati Athan sudah membawanya jauh dari lokasi pesta Dru. Ini karma, sudah pasti Fara berfikir ini karma. Dia pernah memperlakukan Athan seperti Dru tadi memperlakukannya, Fara tidak bisa membayangkan perasaan Athan saat dia menembak cowok itu dulu. Athan masih berbaik hati sebab cowok itu mengangguk dan menyelamatkan harga dirinya di hadapan banyak orang, tapi bagaimana dengan Dru? Cowok itu pasti malu setengah mati saat ini.
Mata Fara berair dan dia sudah menangis, “Aku brengsek banget.” Gumamnya pelan yang hanya didengar oleh dirinya sendiri. Fara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Yah, dia memang tak tahu diri, pertama dia sudah memaksa Athan untuk masuk ke dalam sebuah hubungan atas dasar keinginan sepihak, Athan mungkin terpaksa menjalani hubungan dengannya selama ini dan Fara seolah enggak peduli sama sekali dengan itu. Dan kedua, dia juga sudah menjatuhkan harga diri Dru sejatuh- jatuhnya. Apa lagi yang lebih brengsek dari ini semua, tak terasa Fara terus menangis, dia jadi merasa bersalah pada kedua cowok itu. Fara tadi belum sempat mengucapkan apa- apa pada Dru, minta maaf pun enggak, keburu tangannya ditarik duluan oleh Athan.
Athan mengulurkan tisue ke arah Fara, dan diambil Fara dengan sukarela. Cowok itu hanya diam menunggu Fara menangis, sampai fara sesegukan dan berhenti dari tangisnya, entah sudah berapa lama, yang jelas malam sudah merangkak naik dari saat mereka memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Athan dan berhenti di pinggir jalan.
Fara menghembuskan nafas pelan sebelum mencoba menatap Athan, yah inilah saatnya, dia harus benar- benar melepaskan Athan pada akhirnya. Fara sudah terlalu banyak menyita waktu Athan selama ini dengan memaksa cowok itu untuk menjadi pacarnya. Cukup, dia sudah terlalu lama menyandera seorang Athan. Athan berhak mendapatkan seseorang yang benar- benar cowok itu cintai, entah itu Dira atau siapa pun, Fara enggak bisa egois lagi. Dia sudah cukup mengambil pelajaran dari kejadian barusan. Apa jadinya jika tadi ketika Dru menembaknya dan dia mengangguk demi menyelamatkan harga diri Dru, tentu saja Fara akan menjalaninya dengan penuh keterpaksaan, dan itu sangat tidak enak sekali, hubungan mereka hanya sekedar basa- basi tanpa ada cinta didalamnya, persis apa yang Fara dan Athan jalani selama ini.
Maka inilah keputusan Fara, dia sudah memikirkannya, Fara menghembuskan nafas dalam kemudian beralih ke Athan.“Setelah aku pikir- pikir lagi, kita sebaiknya putus beneran, bukan break.” Ucap Fara serak. Fara bisa melihat keterkejutan Athan meski cowok itu masih diam seribu bahasa. “ Aku mau kita putus, kita jalan masing- masing.”
“Kamu becanda kan?” Gumam Athan terkejut.
Fara menggeleng lalu menangis lagi, kali ini lebih kencang dari sebelumnya,”Aku ingin kita pu-tus, kita pu tus, aku minta maaf, kita benar- benar harus putus. Toloong, aku ingin pu tus.”
Suara Fara terdengar begitu menyedihkan ditelinga Athan, sebegitu tersiksanyakah seorang Fara menjalani hubungan bersamanya sampai harus frustasi seperti ini. Athan berusaha menelan ludah berkali- kali, kenapa hatinya bisa jadi sakit, ini benar sakit. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Athan benar- benar menginginkan seseorang, sangat menginginkannya sampai dia takut kehilangan orang itu.
__ADS_1
To be continue