
Perpustakaan yang semula hening mendadak riuh, rak buku sudah terjatuh memuntahkan semua buku-buku ke lantai, anak- anak yang tadinya sibuk dengan aktivitas masing-masing kini berkumpul mengelilingi Athan dan Bonny, anak laki-laki berteriak menyemangati agar perkelahian bertambah seru, sementara anak perempuan berbisik- bisik antusias.
Bonny benar-benar terlihat menggenaskan dengan hidung yang berdarah, kemungkinan patah. No no, hidung Bonny patah?
Fara panik segera menghampiri Bonny yang menyedihkan, baru saja ingin membantu Bonny, tangan Fara dicekal, siapa lagi kalau bukan Athan pelakunya.
Athan menarik Fara menjauh dari lokasi, "Bonny berdarah!" Fara mencicit geram ke arah Athan.
Cicitan Fara enggak dihiraukan Athan sampai mereka berada di ujung lorong yang sedikit sepi, Athan melepaskan cekalan tangannya pada Fara.
"Aku mau lihat Bonny, hidungnya berdarah."
"Kamu bodoh atau apa sih, Bonny baru saja mau melecehkan kamu!!!" Suara Athan terdengar tajam dan dingin.
Sesaat Fara bingung kemana arah pembicaraan Athan, "Melecehkan?" apa maksudnya.
Oh iya, jadi ini maksud Bonny tadi dengan ngikutin skenarionya dia. Maksudnya Bonny ingin membuktikan apakah Athan cemburu atau enggak. Tunggu, jadi Athan cemburu pada Bonny? Begitu?
Fara menautkan alisnya, mencoba membaca ekspresi Athan, apakah ada cemburu disana, tapi sulit, wajah Athan terlampau datar dan tidak tertebak.
"Jadi kamu cemburu?" Tembak Fara langsung.
"Dasar bego, Bonny tadi mau nyium kamu."
"Iya tau, maksud aku kamu cemburu liat Bonny mau nyium aku apa enggak?" Fara gergetan sendiri, apa salahnya Athan tinggal bilang "Iya aku cemburu, aku cinta kamu Fara, aku enggak suka liat kamu dekat dengan cowok lain selain aku."
Tapi Athan hanya diam, membuat Fara mengambil kesimpulan kalau Athan enggak cemburu. Fara tertawa getir," Kalau Dira yang ada di posisi aku tadi, apa kamu akan melakukan hal yang sama pada Bonny?"
Lagi- lagi Athan diam, dan itu artinya tindakan Athan memukul Bonny tadi murni karena rasa kemanusiaan melihat seorang wanita yang hampir dilecehkan, bukan karena cemburu, fix.
"Sudahlah, lupakan pertanyaanku tadi." Ucap Fara pelan, dadanya sesak, matanya juga sudah panas, Fara ingin menangis, tapi tentu saja enggak disini, didepan Athan.
Fara berjalan cepat menjauh dari Athan, dia kembali ke perpustakaan, Tapi Bonny sudah enggak ada. Fara merogoh ponselnya, memencet nama Bonny.
"Dimana?"
"Di UKS, hidung gue patah nih." Suara Bonny yang masih sempat- sempatnya tertawa di ujung telpon.
"Gue kesana." Fara mematikan panggilan, dia berjalan hampir berlari ke arah UKS.
__ADS_1
Sampai disana, dilihatnya Bonny sudah duduk di pinggir tempat tidur dengan hidung yang sudah ditempeli plaster.
"Beneran patah?" Fara langsung mengambil posisi duduk disisi Bonny. Wajahnya tampak khawatir melihat keadaan Bonny.
"Menurut lo?
"Enggak sih, cuma lecet doang kan itu." Fara mendekat dan menyentil hidung mancung Bonny.
"Awww, sakit." Bonny meringis. "Jadi gimana?sukses kan?"
Fara mengedikkan bahu lemah."Gue enggak tau, gue malas bahasnya."
"Kok gitu?"
"Lo udah mendingan belum? Kita makan Yuk, gue laper, hutang bakso lo masih ada." Fara berdiri, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ya kale gue ke kantin kayak gini, bisa hancur reputasi gue sebagai cowok nomer dua terganteng di sekolah."
"Cckk." Fara memutar bola mata malas. Kemudian kembali duduk.
"Bon, lo kalau suka ke cewek bakalan bilang cinta gak?" Ini Fara emang lagi labil akut, sebenarnya dia ingin meluapkan emosi dalam dadanya, tapi enggak tau harus pake cara apa.
"Tapi Athan enggak pernah bilang cinta ke gue, itu artinya Athan emang enggak cinta sama gue hiks hiks huaaa." Akhirnya pecah juga tangis Fara, membuat Bonny panik, dia sampai turun dari tempat tidur dan berjongkok mendekati Fara.
"Far, kenapa nangis, ya Tuhan. Fara."
"Tau dia bilang apa tadi, dia bilang mau nyelamatin gue dari percobaan pelecehan dari lo hiks hiks huaaaaa."
"Gue kasih tau satu hal, Athan itu orang yang penuh pertimbangan, mesti ada hal yang bikin dia bertahan sama lo sampai hari ini, jelas karena ada yang dia suka dari lo. Cuma dia enggak perlu pake bahasa apapun buat mengungkapkan kalau dia cinta sama lo."
"Mana gue tau kalau dia aja enggak pernah bilang cinta ke gue hiks hiks huaaa huaaa."
"Far, please, nangisnya jangan disini. Nanti dikira gue ngapa - ngapain lo lagi." Wajah Bonny sudah pucat, dia berusaha meraih lengan Fara, mengelusnya pelan untuk menghibur.
Fara tau ini UKS, ada beberapa adik kelas juga tadi di sudut ruangan, tapi dia mau nangis, gimana lagi coba, dia enggak bisa nahan dari tadi.
"Udah nangisnya ya, nanti kita beli es krim atau mau balon?"
Sumpah tadinya Fara masih mau lanjut nangis, tiba-tiba sekarang pengen menjitak kepala Bonny, emangnya dia bayi dikasih balon. Fara jadi diam, menghembuskan ingusnya di tisu yang ia bawa.
__ADS_1
"Ewww, jorok banget sih Far." Bonny mengernyit.
Fara mengabaikan protes Bonny ketika ia kembali membuang ingusnya dengan tisu, "Gue mau nyerah aja Bon, gue mau berhenti mencintai Athan, gue capek."
"Gue mau pergi..." lanjut Fara pelan.
"Lo mau bunuh diri?"
Sontak mata Fara mendelik, "Gue mau pergi dari kehidupan Athan, bukan mau bunuh diri bambang! Dasar GGB!"
"Apaan tu?"
"Ganteng ganteng bego!"
"Ohhh, ya mana gue tau, lo bilang mau pergi sambil pasang ekspresi kaya orang mau mati." Bonny terkekeh.
Bel tanda pulang menghentikan obrolan keduanya.
"Gue duluan ya, serius kan lo gak apa- apa?hidung lo?" Fara berdiri.
"Seharusnya gue yang tanya, lo gak apa-apa kan?"
Fara mengangguk singkat, "Gue gak apa-apa, jangan cerita ke Athan kalau gue nangis depan lo, tengsin gue."
"Santai aja."
" Gue cabut duluan ya."
Fara baru saja menyibak tirai pembatas saat Bonny kembali memanggilnya.
"Far?"
"Ya?" Fara menoleh.
"Lo bisa lepasin kalau emang gak kuat lagi, biar dia tau rasanya kehilangan itu seperti apa."
Fara tersenyum, kali ini senyum tulus yang entah mengapa membuat hatinya meluas, "Thanks Bon."
To be continue
__ADS_1