JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Makan malam


__ADS_3

AGA


Raya memutus panggilan video setelah hampir satu jam kami ngobrol. Kalau seandainya kami dekat, aku ingin sekali memeluknya saat ini. Raya menangis, dia sedang sedih. Tentu saja aku marah pada siapapun orang yang telah membuat hati Rayaku seperti itu.


Aku meyakinkan Raya untuk tetap bekerja seperti biasa, jangan terpengaruh oleh apapun, wanita bernama Gigi itu enggak bisa melukai Raya walau seujung kuku, atau aku sendiri nanti yang akan menendangnya keluar dari perusahaan kalau dia berani menyakiti Raya. Raya enggak pantas disakiti oleh siapapun.


Sudah empat hari aku berada di Jakarta, rasanya seperti empat tahun, aku ingin cepat- cepat kembali ke Surabaya dan bertemu Raya, memeluknya erat- erat sampai dia enggak bisa bernafas, aku menggeleng pelan sambil tersenyum, dasar konyol.


"Ga, bisa pulang cepat nanti ya?" Mama sedikit berteriak dari arah dapur ketika melihatku menuruni tangga.


"Kenapa, ma?"


"Om Guesto dan putrinya datang ke Jakarta hari ini, kita makan malam bersama."


Aku memicingkan mata, "Kenapa mereka datang? mama lagi enggak punya rencana apa-apa kan? karena kalau iya, lupakan saja. Rencana mama pasti gagal."


Mama tertawa," Emang mama punya rencana apa?"


"Menjodohkan aku dengan putri pak Guesto mungkin." Aku sudah bersandar di meja makan, bersedekap sambil menatap mama yang sibuk di depan pantry.


Mama tersenyum geli dan balik menatapku, "Tadinya iya, mama punya rencana seperti itu. Tapi setelah mama pikir- pikir lagi, kalau kamunya enggak suka, mama enggak mau maksa, karena yang menjalaninya kan kamu. Yang terpenting buat mama, kamu bahagia, Ga."


Aku refleks memeluk mama," Aku sudah punya calon menantu buat mama, jadi mama enggak perlu khawatir dan mencarikanku jodoh lagi."


"Benarkah?"


"Hmm.. " anggukku ke mama sambil merenggangkan pelukan.


"Siapa? apa mama kenal?"


"Mama tahu teman aku dulu, yang aku bantu membayarkan hutang orang tuanya?"


Mama menaikkan alis, mencoba mengingat, lalu mengangguk- angguk, "Ohh, pantesan mama udah curiga dulu itu, mama sampai bilang ke papa kamu, itu Aga beneran mau jual mobil kesayangannya buat bantu teman? pasti ada udang dibalik rempeyek, eh ternyata beneran iya."


Aku tersenyum malu," Dia orangnya ma."


"Ada fotonya nggak? penasaran mama."


Aku merogoh ponsel dalam kantung celanaku dan menunjukkan foto Raya yang kuambil diam- diam waktu aku berada di Surabaya.

__ADS_1


Mama meneliti sebentar kemudian menoleh, dia tersenyum menggoda, "Cantik, pantesan anak mama bucin akut, kapan mau dibawa kesini."


" Secepatnya." Tegasku.


Mama sekali lagi mengangguk, "Tapi tetap pulang cepat hari ini, pak Guesto dan putri nya mau silaturahmi, kita sambut dengan baik, enggak enak nanti."


Aku mengangguk dan mengecup pipi mama singkat sebelum keluar rumah.


***


Tepat saat magrib aku sudah tiba dirumah, macet yang membuatku enggak bisa pulang tepat waktu. Setelah membersihkan diri dan beristirahat sebentar dikamar, aku keluar. Rupanya tamu kami sudah datang. Om Guesto dan putrinya.


Melihat putri om Guesto itu jadi mengingatkan ku pada cerita Raya beberapa hari lalu. Dia sedikit kelewatan menurutku sampai mengambil foto dari cctv dan memarahi Raya.


Mereka sudah duduk di meja makan saat aku turun, mama sempat mengobrol sebentar ke Gigi, dan berhenti saat aku menarik kursi dan ikut bergabung.


"Apa kabar Jagad, sehat ya?" Om Guesto menyapaku ramah, sama seperti ketika ia menyambutku di pabrik waktu itu.


"Alhamdulilah sehat om." Aku tersenyum.


"Eh iya, udah ngobrol- ngobrol belum sama anak om? kemaren pas di Surabaya udah disuruh kenalan malah malu- malu."


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan om Guesto tanpa berniat menjawab.


"Jodohkan maksudnya gimana nih ma?" Kali ini bukan suaraku, tapi suara papa yang keluar. Dia menatap mama heran dan mama hanya meringis menatap kami.


"Tadinya mama berencana mau menjodohkan Aga sama putrinya pak Guesto, pa. Tapi.... " Mama melirik Gigi sebentar kemudian beralih ke pak Guesto dan berhenti di papa.


"Tapi mama baru tahu, ternyata Aga udah punya pacar." lanjut mama tampak menyesal karena sudah mengecewakan om Guesto dan putrinya. "Jadi saya serahkan ke anak- anak aja, gimana maunya."


Aku melirik sekilas ke arah om Guesto, wajahnya jelas kecewa, dan itu sama sekali enggak ditutup- tutupinya.


" Aku tahu pacarnya Jagad, tante." Suara Gigi mengejutkan kami.


"Raya, Soraya."


Dan sumpah, aku benci mendengar cara Gigi menyebut nama Raya seperti itu.


"Soraya, manager departemen beta laktam?" Om Guesto menatap anaknya terkejut.

__ADS_1


Gigi mengangguk pelan.


"Iya om, Soraya teman saya dari kecil, dan sekarang kami sedang menjalani hubungan. Aku serius ke Raya, dan secepatnya akan melamar Raya."


"Kamu enggak akan bicara sepercaya diri ini kalau tahu siapa Raya yang sebenarnya." Gigi menatapku tajam.


"Sayangnya, aku lebih tahu siapa Raya dari siapapun yang ada didunia ini." Jawabku tak kalah tajam.


Gigi tersenyum mengejek, dan itu membuat kebencianku pada nya naik berkali- kali lipat. Tahu apa dia soal Raya.


"Sudah berapa lama kalian pacaran? kamu sudah ketemu keluarganya? sudah datang ke rumahnya?" Tantang Gigi. Dan kali ini aku enggak bisa berkutik, aku belum ketemu ayah Raya semenjak di Surabaya, aku juga enggak pernah diajak Raya ke rumahnya.


"Aku yakin belum." Kali ini nada Gigi seperti mencemooh.


"Ini semua enggak ada urusannya denganmu!" Dengusku pelan.


"Memang bukan urusanku, tapi aku sekedar memberi informasi bahwa gadis yang jadi pacarmu itu bukan wanita baik-baik, dia punya anak tanpa menikah."


Deggg...


Jantungku berhenti berdetak, dan aku sudah lupa bagaimana caranya bernafas, kulirik mama, wajahnya pias, ia bahkan menutup mulutnya syok dan papa, wajah papa datar seperti biasa, tapi ada aura ketegangan diwajah itu.


Aku menghela nafas, "Berhenti bercanda denganku, aku enggak mau mendengar lelucon darimu."


Gigi tersenyum, ia mengeluarkan selembar kertas dan foto dari dalam tas nya. "Lebih baik pastikan sendiri, ini alamatnya dan itu foto anaknya. Usia anak itu 4 tahun sekarang. Dulu waktu pertama kali bekerja di pabrik usia anaknya masih satu tahun, dan ia pernah membawa anak itu ke pabrik waktu acara ulang tahun perusahaan, aku serius dan enggak bohong."


Mataku langsung terpaku pada selembar foto diatas meja makan, foto Raya bersama seorang bocah, bocah yang aku kenal. Yang datang ke rumah Cia waktu itu, yang menelponku, yang aku merasa kerucutan bibirnya mirip Raya, yang aku merasa bahwa bocah itu juga ada kemiripan denganku.


Nyess....


Aku menggeleng pelan, Raya enggak mungkin tega.


Raya enggak mungkin tega melakukannya.


Raya enggak mungkin tega melakukannya.


Semakin aku menatap foto itu, semakin aku menemukan diriku dalam mata beningnya. Raya berbohong, dia hamil waktu itu, dan ini alasan dia meninggalkanku lima tahun lalu.


Ya Tuhan, aku enggak ingat kapan terakhir kali aku menangis, namun saat ini rasa panas seperti membakar mataku hingga sebelum kusadari sebutir air mata sudah meluncur turun membasahi pipiku.

__ADS_1


Damn, ternyata Raya benar- benar tega melakukannya.


TO be continue....


__ADS_2