
Fara baru keluar dari kelas ketika melihat Andaru menghampirinya dengan setengah berlari, “Jadi gimana, Fa?” tannyanya to the point.
“Apanya?”
“Soal tawaran gue kemaren.”
Fara baru ingat kalau pas di Bali Dru menawarinya untuk jadi model lagunya dia, perempuan itu belum benar- benar memikirkannya sih, tapi melihat wajah Dru yang seperti kucing minta makan itu, Fara jadi terpaksa jadi memikirkan tawaran itu.
“Lo tinggal ikuti aja arahan sutradaranya.”Ucap Dru menggebu, “Haikal yang jadi sutradaranya.”
“Haikal anak IPS 3? yang anak teater juga itu kan?”
“Yap, kalian kan satu ekskul, udah kenal juga, gampanglah.” Dru menyengir.
“Gak ada adegan sentuhan fisik tapi kan?” Fara memastikan.
“Enggak ada, paling jauh cuma pegangan tangan doang.”
“Itu sih masih sentuhan fisik namanya.” Fara memutar bola mata.
“Kalau lo keberatan ntar bisa kita ubah kok.” Dru meyakinkan,”Gimana? Mau ya?”
Fara berfikir lagi, sebenarnya enggak ada ruginya juga dia ikut di projectnya Dru, Fara juga suka acting, follwer nya Dru enggak kaleng- kaleng, ini bisa menaikkan jumlah follower Fara juga di media sosial. Dan akhirnya Fara memutuskan untuk mengangguk. “Kapan rencana syutingnya?”
“Minggu ini bisa? Ntar sore kita breafing dulu di studio gue, Haikal mau jelasin konsepnya gimana terus latihan dua hari abis itu langsung take gambar.”
“Okelah, gue juga enggak ada kegiatan nanti sore.”
“Barengan aja ke studio gue.”
Tanpa berfikir , Fara langsung mengiyakan ajakan Dru.
Betul, sorenya ketika pulang les, Dru sudah menunggu Fara diparkiran. Mereka langsung menuju studio Dru yang terletak di bagian gudang rumah cowok itu. Studio ini biasanya tempat Dru dan anak band nya latihan. Mereka sudah ditunggu Haikal dan tim Dru yang lain, karena sudah sore juga, Haikal langsung menjelaskan ke mereka kosep cerita di video klip nanti seperti apa. Fara mendengarkan dengan seksama, sesekali menginterupsi ketika ada beberapa scene yang tidak sesuai.
“Oke, besok latihan disini aja, pulang sekolah kita kumpul lagi.” Haikal menyudahi.
Rumah Dru sangat luas, dengan beberapa taman terpisah di kiri kanannya, ada kolam renang, kolam ikan dan gazebo di tengah- tengah kolam. Jadi menurut Fara, view disini cocok sih kalau sekedar untuk video, enggak perlu cari tempat lain.
“Ntar pulang gue antar ya.” Dru ikut duduk disebelah Fara yang masih sibuk mengamati rumah cowok itu.
Fara menoleh, “enggak usah, gue bisa balik sendiri kok.”
“Udah sore.”
“Gue udah pesan ojek online, lagi jalan kesini.” Fara menyengir membuat Dru mengedikkan bahu.
__ADS_1
Fara yang lebih dulu pulang diantara mereka, karena ojek onlinenya sudah berada di depan rumah Dru. “Gue cabut ya, gak usah antar sampai depan.” Cegah Fara ketika Dru juga berniat berdiri yang akhirnya duduk kembali.
“Ya udah, big thanks ya Fa, hati- hati.”
Fara berjalan sampai ke depan gerbang pintu rumah Dru sambil sibuk menunduk fokus ke ponsel. Ketika Fara mendongak ketika keluar dari pagar, dia malah terkejut sebab yang didapatinya sosok Athan yang berdiri disana.
“Ngapain kamu disini?” Suaranya sedikit memekik, bukan karena marah, tapi lebih ke kaget.
Athan gelagapan,”Aku enggak ngikutin kamu.”
Fara berdecih. Sementara Athan malah menatap lurus kearahnya. Duh kenapa Athan mesti menatap Fara seperti itu sih, sudah tau Fara paling lemah kalau ditatap seperti itu.
“Mau pulang bareng gak?”Tawarnya kemudian. “Aku tadinya ada keperluan di dekat sini, tapi udah selesai, jadi bisa pulang.”
Menunduk agak lama, Fara menghembuskan nafas berat.”Enggak usah, aku bisa pulang sendiri.”
Bagaimanapun, jauh lebih baik jika dia menghindari Athan dalam setiap kesempatan meskipun tidak mudah.
***
Biasanya, dibanding gengsian, Fara tergolong manusia yang tidak tahu malu. Ketika Athan menawarkan untuk pulang berbarengan, orang sepertinya seharusnya langsung mengiyakan, kemudian dia akan naik mobil dengan AC yang menyejukkan dan wangi khas Athan.
Fara seharusnya menyesal setelah dengan belagunya menolak tawaran Athan mentah- mentah. Namun tidak seperti Athan yang biasanya, yang langsung mundur apabila ditolak. Cowok berkaos hitam polos itu belum menyerah, malah terkesan terlalu ngotot yang membuat Fara jadi aneh sendiri.
“Kenapa enggak mau pulang bareng?” Athan bahkan mencegah Fara naik ojek online yang sudah dipesan yang menunggu dua meter dihadapannya, mau tidak mau ikut menonton perdebatan nirfaedah mereka dengan sabar.
“Kenapa enggak.”
“Ya, gak mau aja.” balas Fara tidak kalah ngotot.
Athan tidak membalas perkataan Fara lagi. Cowok itu malah menghampiri driver ojek online, sambil mengeluarkan dompet disaku celana.
“Maaf ya pak, enggak jadi...” Cowok berkaos hitam yang sialnya sangat tampan itu berkata sambil menyerahkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
Baru saja Fara mau mencegah, Athan melanjutkan dengan bisik- bisik yang tidak bisa didengarnya. Awalnya driver ojek online itu tampak ragu karena mendapatkan tip cuma- cuma, kemudian memandangi Fara sebentar, “Jangan ngambek lagi ya neng, saya permisi.” ucapnya lalu menyelonong begitu saja.
“Loh, PAAAKKKK!!!!”
Ditinggalkan oleh driver ojol dengan sangat dramatis, Fara memandangi Athan dengan mata melotot dan sangat tidak menyangka. Nada suaranya seketika menaik.
“Kamu enggak tau ya kalau hari ini udah sore! Aku bisa dimarah mama karena pulang telat. Kalau aku bilang enggak mau pulang bareng kamu, artinya enggak mau. Apa susahnya sih mendengar keinginan orang? Kenapa kamu jadi makin menyebalkan!” perempuan itu jelas melampiaskan kekesaannya dengan terang-terangan.
Athan diam sebentar lalu menjawab, “ Jalanan lagi rame, panas juga kan.”
Setelah menghembuskan nafas kasar, Fara akhirnya naik ke mobil Athan. Setelah berdiam di bawah terik matahari sore yang masih terasa menyengat, akhirnya Fara ketemu AC. Entah kenapa dia merasa lelah sekali, padahal sejak di rumah Dru tadi dia cuma duduk- duduk.
__ADS_1
“Mau makan dulu?” tawar Athan.
“Dibilang juga udah sore takut telat pulang.” jawab Fara sambil memejamkan mata.
“Udah makan?”
“U- dah.”
Athan menghembuskan nafas berat, “Jam berapa terakhir makan?”
“Bukan urusan kamu.” Fara harus melatih diri sesinis mungkin dihadapan Athan, dan sepertinya dia sudah terbiasa.”Mendingan kamu diam.”
Bukan apa- apa kalau Fara belajar berlaku sinis ke athan, dia hanya berusaha menutupi agar tidak terlena pada godaan Athan yang terkutuk. Meskipun niatnya untuk mengabaikan Athan sepanjang jalan, tetap pasti susah disaat hati Fara tidak bisa berpaling dari cowok tampan ini.
Sial, kenapa perasaan ini terasa rumit sekali ya? Disaat dia ingin sekali menjauh dari Athan, tapi hatinya justru minta dipeluk oleh laki- laki ini.
“Laper gak, nih makan.” Athan menyodorkan kotak makanan yang cowok itu ambil dari atas dashboard mobil.
Iya, jelas, Fara memang kelaparan, tadi sehabis les dia langsung ke rumah Dru tanpa makan apapun. Di rumah Dru pun Fara cuma mencicipi sepotong kue dan minum.
Tapi, Fara yang belum bereaksi, membuat Athan menepikan mobilnya, dan membantu membuka kotak makanan, ada roti lapis isian sayur dan daging. Fara meneguk air liurnya, sebelum menatap ke arah Athan.
Cowok itu mencondongkan tubuhnya ke arah Fara, “Ini aku bikin sendiri, khusus buat kamu, mau aku suapin?”
Fara bergumam pelan, meyakini kalau ini mimpi, masih menatap kearah cowok berkaos hitam itu. Fara menggigit bibirnya lumayan kuat, juga mencubit lengannya sendiri sampai dia kesakitan sampai meyakini kalau ini bukan mimpi. Matanya membulat memandangi Athan,”Kenapa kamu bisa melakukan ini.” Suara Fara mendesis.
“Ya bisa.”
Perempuan itu juga mencondongkan tubuhnya hingga jarak mereka kian menipis, “Ranathan, ini gak lucu!” Menghembuskan nafas dalam- dalam kemudian mengeluarkannya, Fara berkata kembali,” Tujuan kamu kayak gini tuh apa sih sebenarnya? Tiba- tiba udah di depan rumah Dru, maksa pulang bareng. Terus sekarang ngomong kalau makanan ini kamu buat khusus buat aku? Kamu pikir aku bakal baper? Nggak, kamu malah bikin aku takut. Bukankah jelas apa yang aku minta sama kamu? Aku mau jarak."
Athan diam. Dia membasahi bibirnya sambil menatap lurus ke depan. Sementara Fara berfikir kalau perkataannya terlalu kasar dan mungkin keterlaluan. Hanya saja, dia juga kesal...dan bingung.
“Buat apaan sih Than?”
“I miss you.” balasnya. Setelah diam agak lama.
Jantung perempuan itu berdetak sangat cepat.
Fara berdecak, terakhir mereka bertemu ya pagi tadi waktu sepapasan di koridor ruang guru. Belum terlalu lama, tidak peduli meskipun Fara merasakan hal yang sama.
“I really miss you.”ulang cowok itu lagi, kali ini kepalanya sudah berpaling dari Fara.”and I just want to see you. I’m sorry if you’re still mad at me.”
Fara membuang muka menatap kearah kaca depan mobil.
“Aku enggak mencoba bikin kamu baper.”Gumam Athan. “ I’am just being honest.” dia melanjutkan. Lagi- lagi keheningan tercipta diantara keduanya. Hingga akhirnya Ranathan kembali bersuara.”Kamu mending cicipin ini dulu. Tenang aja, aku gak bakalan ngapa- ngapain kamu kok, yang penting kamu nyobain masakan aku dulu, ya?
__ADS_1
To be continue....
Ini Athan ngotot nyuruh Fara nyobain masakannya dia karena saran mbah google tuh,,ambyar kan Than, google mah gak selalu benar Than wkwkkwkk, mendingan ikutin saran dari kakak kakak reader yang udah pengalaman Than hahahhah