
AGA
Shiit,,, aku mengumpat pelan saat menyadari kalau Raya sudah mengelabuhiku lagi. Dia keluar lewat gerbang belakang sedang aku sudah menunggunya di gerbang depan hampir satu jam seperti orang bodoh.
Suasana hatiku gelap seketika, aku bahkan terus merutuki kelalaianku karena terlalu percaya diri kalau Raya akan menepati janjinya untuk bicara padaku. Berkali-kali aku memukul stir dan menggeram ketika jalanan semakin macet. Bahkan, aku baru saja menolak mentah- mentah ajakan Giana untuk makan malam bersama keluarganya.
Ponselku berdering, mama menelepon. Aku mendesah kesal ketika mengangkat panggilan mama.
"Kamu nolak undangan, Giana ya Ga?" Suara protes mama langsung menyambutku.
"Ya."
"Kenapa? mereka udah prepare nyambut kamu di Surabaya, Giana udah baik gitu, malah di jutekin."
"Siapa yang jutekin ma, aku lagi enggak mood. Capek."
"Ya seenggaknya hargai om Guesto dong, itu tadi kamu pake acara nanyain karyawan disana udah punya pacar apa belum, udah nikah belum, maksudnya apaan coba?"
Ingatan ku beralih ke kejadian tadi siang, saat aku melontarkan pertanyaan itu ke Raya.
"Ya, emangnya kenapa, ma?"
"Kamu itu ya, Ga. Di depan Giana ngomong kayak gitu. Dengerin mama, selama ini mama enggak pernah maksa kamu mau ngapain aja, pacaran sama siapa aja, terserah, mama enggak ambil pusing, tapi sekali ini nurut ke mama. Mama sama om Guesto udah bahas ini, kamu sama Giana cocok udah, tinggal tukar cincin aja lagi."
"Mama ngomong apa sih, enggak enggak, aku enggak setuju. Aku udah bilang ke mama, aku cari sendiri. Nanti kalau udah nemu yang cocok, bakalan aku bawa ke rumah."
"Aga!!!"
"Ma, please."
Mama menutup sambungan telpon sepihak, aku tahu mama merajuk. Untuk saat ini enggak ada yang bisa kulakukan selain membiarkan mama, nanti setelah pulang ke Jakarta aku akan memeluknya, mama biasanya luluh kalau sudah dipeluk, apalagi dicium sambil dikasih bunga lili kesukaan nya.
***
Aku sudah tiba di kamar hotel, tempat ku menginap sampai beberapa hari kedepan selama di Surabaya. Setelah membersihkan diri dan memesan makanan, ponselku kembali berdering, kali ini nomor tak dikenal. Besar harapanku kalau itu adalah Raya, panggilan video. Aku segera menggeser tombol hijau.
Wajah bocah cilik yang enggak mau dipanggil bocah tempo hari langsung memenuhi layar ponselku..
"Hai Om.... "
__ADS_1
Aku tersenyum, mataku langsung bertatapan dengan mata si bocah yang begitu bening. Bibirku refleks mengangkat melihat wajahnya yang begitu menggemaskan. Dia sangat tampan, dan entah kenapa terasa begitu familiar padahal aku yakin, ini baru kali kedua aku melihatnya setelah dirumah bude waktu itu.
Dia mengoceh dan bercerita tentang harinya disekolah, sesekali aku menyela dengan pertanyaan. Bocah ini, selain tampan juga sangat cerdas. Melihatnya bercerita dengan mata berbinar penuh semangat membuatku seperti bercermin dengan diriku sendiri. Aku juga seperti itu, selalu bicara dengan menggebu, selalu semangat menyampaikan apa yang ada dalam pikiranku.
"Kapan- kapan om mau sepedaan bareng Athan?" Tanyanya penuh harap."Nanti Athan traktir es cream, tapi es cream yang dua ribuan ya Om, soalnya Athan enggak punya uang kalau yang mahal." Ia terkikik.
Aku tertawa, "Okay, siap pria empat tahun. Toss dulu deh." Aku mengangkat tangan mengajaknya ber high five lewat ponsel dan dia menyambut antusias dengan mata selalu berbinar.
Sebuah perasaan aneh menyeruak dihatiku saat menatap dikedalaman matanya, aku tersentak, mata bening itu, mirip Raya... Aku menggeleng sesaat, tentu saja otakku sudah terdistraksi oleh Raya, hingga melihat mata anak ini, seperti melihat sosok Raya didalamnya. Tapi satu hal yang pasti, setiap melihat mata bocah itu, ada perasaan sesak yang menyeruak didadaku, meski aku enggak bisa mendeskripsikannya dengan pasti.
Seperti sebuah penantian yang akhirnya berujung, atau seperti sebuah kerinduan yang akhirnya menemukan penawarnya. Juga sebuah keinginan kuat untuk melindungi. Perasaan - perasaan yang tentu saja sangat aneh sebab anak ini bukan siapa- siapa. Aku bahkan enggak mengenalnya sampai aku tiba di Surabaya. Jadi bagaimana bisa aku menanti, merindukan atau lebih bodoh lagi ingin melindunginya dari seluruh marabahaya didunia ini.
Ahh, mungkin bocah ini pernah bercerita kalau dia merindukan sosok ayah yang bahkan belum pernah ia lihat selama hidupnya. Ku rasa seperti itu.
"Om, om udah dulu ya, Athan ngantuk, nanti ibun marah kalau Athan belum bobok."
"Iya Athan, eh ini Athan pake hp siapa telpon Om?"
"Hp bibi Siska."
Aku mengangguk mengerti, bibi Siska yang dia maksud pastilah teman Cia yang tempo hari main kerumah, dan setelah sambungan terputus aku langsung menyimpan nomor tersebut dengan nama Athan.
***
Aku sudah mendelegasikan semuanya ke pak Junaidi dan sekretaris papa. Dan aku, what I'm going to do? dengan mengenakan jeans serta kaus putih yang dibalut jaket kulit, dan kepala yang ditutupi topi, jelas aku enggak ada niat pergi ke perusahaan itu, tapi mengapa aku berada di depan pabrik, mengendap dalam mobil persis seperti penculik yang mengintai mangsa, yap, aku memang akan menculik seseorang hari ini, tapi bukan anak melainkan dia.
Raya baru turun dari bus, bersama karyawan- karyawan yang lain. Dia belakangan, sepertinya sedang memeriksa sesuatu dalam tas, entah apa. Hingga aku sudah berdiri dihadapan wanita itu, dan dia enggak menyadarinya sama sekali.
Raya baru tersentak saat tanganku mencekalnya. "Terkejut hahh?" Seringaiku.
Dan aku ingin tertawa melihat wajah cantiknya sudah pucat pasi, dia kembali ketakutan, aku menariknya sampai masuk ke dalam mobil, enggak ada yang melihat adegan ini kecuali satpam pabrik, dan aku sudah menyuap dua pria tambun itu tadi pagi.
"Ga, pekerjaan aku banyak hari ini, aku mau keluar!!!"
Owh, dia mulai berani membentakku.
"Salahkan dirimu sendiri, aku menunggumu kemarin dan kamu melarikan diri."
"Mau kamu apa?"
__ADS_1
"Kamu tanya mau aku apa hah? Ini mau ku!"
Ceklekk....
Aku memborgol tangan kanan Raya dengan tangan kiriku. Jadilah kami disatukan dalam sepasang borgol yang sama, borgol yang kupinjam dari Raihan, akhirnya berfungsi hari ini.
Mata Raya melotot, dan dia syok tentu saja. "Kamu gila, Ga. Lepasin!!"
"Enggak sampai kamu jelaskan kenapa kamu berubah jadi seperti ini, kamu bukan Raya yang kukenal."
Raya mendengus, "Enggak ada yang berubah, Ga. Aku cuma enggak mau berteman sama kamu lagi, ngerti!!"
Hatiku mencelos mendengar ucapan Raya, "Kenapa? apa karena malam itu? aku udah minta maaf ke kamu, Ray. Aku - aku enggak sadar, okay, aku sadar tapi aku dibawah pengaruh obat. Shella mencampurkan obat perangsang ke dalam minumanku. Aku juga udah menawarkan tanggung jawab padamu, kamu yang nolak."
"Cukup!! cukup okay, bukan masalah itu. Tapi sepertinya kita emang enggak bisa temenan lagi, Ga. Jadi lepaskan borgol konyol ini, aku mau ke pabrik, banyak pekerjaan menantiku."
"Mau kamu apa Ray? aku bingung, sumpah."
"Mau aku, seperti yang aku bilang tadi. Menjauh dariku. Anggap saja kita impas, kamu sudah nolongin aku selama ini, membayar hutang orangtuaku, ngasih aku tumpangan selama kuliah, dan aku sudah membayarnya dengan tubuhku. Deal, jadi pergilah, jangan ganggu aku lagi."
Wajahku memucat saat mendengar penuturan Raya, aku terluka dengan kata-kata nya, sampai mataku berkaca, rasanya seperti ditusuk ribuan pisau ke dalam dadaku, ini terlalu menyakitkan. Jadi selama ini Raya menganggap ketulusanku padanya semacam sesuatu yang bisa ditukar, dan kesalahanku malam itu dianggap sebagai nilai tukarnya???
Aku memejam dengan tangan mengepal kuat. "Malam itu, aku bisa saja meniduri Shella, aku lebih dulu menyentuhnya di club, asal kamu tahu."
Aku bisa merasakan tubuh Raya menegang disamping ku," Tapi aku sama sekali enggak merasakan getaran seperti yang aku rasakan ketika didekat kamu, Ray. Meskipun aku dibawah pengaruh obat, aku masih bisa menolak Shella. Yah, aku pergi dengan taxi malam itu, aku pulang ke apartemen."
"Tapi entah kenapa, didekatmu, aku enggak bisa mengendalikan diri. Ketika kamu menyentuh keningku, rasanya aku tersengat listrik ribuan volt, aku haus, aku lapar ingin memilikimu malam itu."
Raya diam dengan tubuh yang masih menegang, aku memberanikan diri untuk menggenggam tangannya melalui tanganku yang disatukan borgol.
"Aku pikir semua itu karena pengaruh obat, tapi belakangan aku menyadari bukan karena itu, sebab sampai saat ini akupun enggak bisa mengendalikan diri ketika berada didekatmu."
"Mungkin aku sudah jatuh cinta... " Ungkapku pelan.
" Mungkin..?? "
" Yeah, mungkin... "
To be continue...
__ADS_1