
AGA
Kami masih terdiam didalam mobil yang kuparkirkan di sisi jalan malam itu, berusaha menyelami perasaan masing-masing setelah pertengkaran hebat yang terjadi diantara aku dan Raya akibat kesalahpahaman. Sebenarnya hal ini enggak perlu terjadi jika kami saling terbuka, Yah, baik aku maupun Raya, kami sama-sama salah. Bahkan kami sejak dulu telah salah.
Aku seolah telempar ke masa- masa dulu dimana semua bermula. Aku enggak pernah menyesali semua yang telah terjadi diantara kami, sesungguhnya sejak dulu aku sudah mencintai Raya, sangat mencintainya sehingga aku selalu bertekad untuk melindungi wanita ini dengan caraku, aku bersembunyi dibalik topeng persahabatan untuk menyangkal perasaanku sendiri, aku terlalu pengecut hingga terlambat menyadari perasaanku yang sejujurnya pada wanita yang tengah duduk disampingku ini. Yang aku sesali sampai detik ini adalah kebodohanku, kebodohanku yang membiarkan Raya pergi hingga aku kehilangan lima tahun berharga dalam hidupku.
"Gimana kehamilanmu dulu?" Raya tersentak dan menoleh sebagai respon dari pertanyaanku.
"Apa bayi kita menyusahkanmu waktu dalam kandungan? apa dia meminta yang macam- macam?" tanyaku getir.
Raya menggeleng pelan, "Enggak, Athan enggak pernah menyusahkan ku."
Aku tau Raya berbohong, ayah sudah cerita semua, bagaimana awal kehamilan Raya yang membuatnya harus diopname di Rumah Sakit karena mual muntah hebat. Kebohongan Raya demi menenangkanku malah membuat rasa bersalahku kian menjadi- jadi. Aku meremas jari Raya pelan.
"Awalnya cukup berat. Aku menelepon ayah, mengabari tentang kehamilanku dan pindah ke Surabaya. Beruntung baik ayah maupun ibu, keluarga ibu, enggak ada yang menghakimi, mereka menyayangiku dan Athan." Ucap Raya.
"Kalau kita enggak ketemu waktu itu, berarti kamu enggak ada niat memberitahuku tentang keberadaan Athan selamanya kan?" Aku menghela nafas, sedikit kesal pada keputusan Raya dulu. Aku melirik Raya yang tampak pias, dia menunduk menghindariku.
__ADS_1
"Aku mencarimu Ray, sejak hari dimana kamu pergi, aku mencarimu. Aku menghubungi perusahaan papa, ternyata kamu enggak pernah datang kesana. Aku seperti orang gila mencarimu, satu hal yang aku tau, kamu sengaja pergi dan berbohong padaku, itu membuatku sakit."
"Aku pikir kamu enggak pernah cinta ke aku Ga, aku cuma sahabat bagimu. Kamu enggak pernah melihatku sebagai perempuan. Kamu pacaran sama Shella waktu itu, kalian berciuman di apartemen. Yah, kita cuma sahabatan, dan kejadian antara kita berdua hanya sebuah kecelakaan, jadi memberitahukanmu soal kehamilanku hanya akan mengekangmu, membuatmu terkurung dalam hubungan atas dasar tanggung jawab, dan aku enggak mau itu terjadi. Kamu pernah cerita, kamu ingin melanjutkan studi, menjadi diplomat. Dan aku enggak akan pernah menghancurkan cita-citamu. Cintaku yang membuat aku mundur, cita- citamu diatas segalanya, Ga."
Hatiku remuk mendengar penuturan Raya, setiap kata yang ia ucapkan seperti bilah bambu yang menusuk tepat ke jantungku.Dia mencintaiku, Raya mencintaiku hingga rela mengorbankan hidupnya sendiri. " Apa sejak dulu kamu menyukaiku?"
Raya terdiam, dia memberanikan diri untuk menatapku, "Aku enggak berfikir sejauh itu, yeah, maksudku-, aku memang suka, tapi kamu sahabatku, level kita berbeda, kita bisa-, cuma bisa jadi sahabat, aku pikir-selamanya akan tetap jadi sahabat." Gugup Raya membuang pandangannya.
"Kamu diam-diam menyukaiku?" bibirku berkedut melihat wanita disampingku salah tingkah, "Sejak kapan?" serbuku gencar menggoda Raya. Wajah Raya makin memerah seperti tomat.
"Aku enggak pernah tau kalau kamu menyukaiku dulu." Kali ini bibirku menipis menahan senyum sebab Raya sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Aku meraih tangan itu dari wajahnya, meneliti setiap centi dari pemilik wajah cantik, ibu dari anakku ini.
"Enggak ada yang sia-sia, takdirnya memang seperti itu." Raya menggenggam tanganku. "Aku akan mengenalkanmu sebagai ayah ke Athan dalam waktu dekat." ungkap Raya.
.
.
__ADS_1
.
Berulang kali aku mengecek penampilanku di depan kaca, rapi. Hari ini aku mengenakan kemeja polos berwarna putih dengan 2 kancing teratas kubiarkan terbuka, kupadukan dengan jeans yang membungkus kaki jenjangku dengan sempurna. Yap, aku memutuskan untuk tetap berada di Surabaya. Dan hari ini Raya akan mengenalkanku pada Athan, anak kami secara resmi.
Bisa dibayangkan betapa gugupnya aku. Kami pernah bertemu, bahkan sudah berteman. Tapi Athan belum mengetahui statusku sebagai ayahnya. Seperti apa reaksi Athan nanti, kalau tau orang yang sering dia panggil oom adalah ayahnya. Aku sama sekali enggak bisa menerka- nerka isi pikiran anak kecil.
Jadilah sepanjang sisa waktu untuk bertemu, Raya sibuk menenangkanku via telpon. Meyakinkanku bahwa semua akan berjalan lancar. Athan anak baik, dia akan senang bertemu ayahnya nanti, seperti itu terus yang dikatakan Raya. Perkataan Raya bukannya membuatku tenang malah makin gugup.
Okay, aku hanya bertemu dengan bocah lima tahunan, bukan investor asing kan. Jadi, aku berdehem sebentar sebelum meraih kunci mobil dan keluar dari kamar hotel, tempatku menginap selama di Surabaya.
To be continue...
Pertanyaan :
Bagaimanakah reaksi Athan?
A. Bingung
__ADS_1
B. Marah
C. Senang