JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Borgol sialan


__ADS_3

Hai hai semua,,, Aku ngebut nih nulis nya,, sebisa mungkin sebelum Ramadhan JAGAD RAYA udah end, mau nya sih hehee , tapi kita lihat nanti, seberapa cepat aku nulis cerita ini. Seperti biasa, Novel aku enggak panjang panjang episode nya kok.... Meskipun jujur, aku jatuh cinta sama sosok Aga ini hahaaaa, maunya pengen nulis Aga panjang - panjang.


******************


RAYA


Seharusnya aku enggak perlu senorak ini dengan jantung berdebar tak menentu dan pipi yang entah sejak kapan sudah bersemu merah, ya Tuhan, Raya, memalukan sekali. Aga hanya bilang mungkin, ya mungkin dia jatuh cinta padamu, mungkin juga enggak. Kan, ada dua kemungkinan itu. Jadi stop, bertingkah seperti remaja tanggung yang baru saja ditembak oleh cowok incaran.


"Mungkin?"


"Yeah, mungkin."


Aku mengangguk pelan, "Berapa persen kemungkinan itu?"


Aga terkesiap, dia memejamkan mata sesaat, dan aku bisa melihat bulu matanya yang panjang, serta bibirnya yang tipis bervolume, aku tebak bibir itu enggak pernah tersentuh nikotin sedikit pun.


Aga membuka mata membuatku langsung mengalihkan pandangan dari wajahnya.


"98% aku yakin aku suka kamu." Jawabnya.


98%...Berarti masih ada 2% lagi kemungkinan perasaan Aga salah. Dan sayangnya aku lebih mempercayai sisa 2% itu.


"Why? Kenapa?"


"Apa ada alasan untuk mencintai seseorang?" Aga balik bertanya.


"Menurutku harus ada alasan ketika kamu mulai memutuskan untuk mencintai seseorang. Entah karena orang itu cantik hingga menarik perhatian, atau baik, atau membuatmu nyaman ketika didekatnya. Dan yang kulihat darimu hanya perasaan bersalah, Ga. 98% mu itu terbentuk dari rasa bersalah yang kamu pupuk hingga kamu berfikir harus bertanggung jawab padaku."


Aga refleks menoyor pelan kepalaku dengan telunjuknya, "Dari mana teori konyol 98% mu itu. Kamu bilang apa tadi? alasan karena cantik, menarik, baik and what? nyaman? yeah, semuanya aku rasakan ketika ada didekatmu, jadi aku naikkan 2% lagi. Kini aku yakin perasaanku 100% ke kamu."


" Kamu kira ini bursa saham? naik 2% dalam waktu kurang dari semenit?"


"Bisa kita bicara sambil makan, aku belum sarapan tadi." Aga meringis mengabaikan protesku terhadap kenaikan persentase perasaannya yang mendadak dan signifikan itu.


Aku mencibir, "Salah sendiri, pagi-pagi sudah bikin masalah."


"Oke, kita cari makan dulu."


"Lepaskan dulu borgol sialan ini."

__ADS_1


"Oh ya." Aga merogoh kantong jaketnya, kemudian wajahnya pias.


"Kenapa?"


"Aku rasa, kuncinya jatuh, enggak ada di kantong."


"What??"


Damn, Aga bebar- benar minta di tonjok.


"Terus gimana?"


"Yah, enggak gimana - gimana." Jawab Aga santai.


Tepat saat aku ingin membuka mulut, suara ponselku berbunyi.


Bu Gigi calling...


Aku cepat- cepat mengangkat telpon dari direktur operasional itu. Ini semua gara-gara Aga, yang membuatku batal pergi ke pabrik.


"Ray, dimana?"


"Tadi kata Andin, kamu ada di bus."


"Iya, terus pulang lagi bu, diare, sakit perut."


Suara hembusan nafas berat bu Gigi terdengar dari sambungan telpon, apa dia menyadari kalau aku baru saja berbohong? Oh, ya Tuhan. Apa dia melihatku di tarik Aga tadi di depan gerbang?


Aku memejam, menggigit bibir bawahku gugup, sementara Aga, pria brengsek itu menahan tawa mengejek mendengar kebohonganku barusan dari balik kemudinya. Dasar sialan.


"Jadi, ini gimana, Ga?" Naikkan ku tangan kami yang sama-sama terborgol dengan perasaan cemas.


"Kita cari makan dulu, sumpah aku udah lapar banget, Ray."


"Dengan tangan seperti ini? nanti aku dikira pencuri yang ketangkap."


"Memang kamu pencuri?!" Aga mengerling jahil, "Pencuri hatiku."


"Hahaa enggak lucu! garing tau!!!! " Aku memutar bola mata malas.

__ADS_1


"Emang enggak lucu, aku kan bukan pelawak."


"AGAAAAAA!!!!!!"


****


Kami berhenti tepat di depan tenda bubur ayam, Aga memesan dua porsi, satu untuknya dan satu untukku. Kami duduk berdampingan, sambil menyembunyikan borgol sialan di sisi tubuh kami masing-masing.


"Mau aku suap?" Tanya Aga sungguh-sungguh saat melihatku memakai tangan kiri, tanganku yang enggak terborgol.


"Terimakasih!" Dengusku ketus.


"Ayolah Ray, kita udah damai kan, jangan jutek gitu dong."


Aku melanjutkan menyuap dengan tangan kiri, mengabaikan Aga yang sesekali memperhatikanku. Risih juga rasanya ditatap seperti itu, aku yakin pipiku sudah memerah lagi sekarang.


Aga meneguk minumnya dan membersihkan bibirnya dengan tisue sebelum beralih padaku.


"Ray... Aku serius dengan perasaanku tadi."


Aku berdehem kikuk, menatap gelasku yang sudah kosong, menatap mangkuk buburku yang isinya sudah beralih ke perut, melirik kotak tisue, melihat apa saja kecuali wajah Aga.


Aga meraih tanganku yang terborgol dan menggenggam nya, "Kalau kamu mau, kita bisa menjalani hubungan lebih."


" Hubungan lebih?" aku membeo.


Aga mengangguk, "Kita pacaran."


Aku harus menunggu sampai berusia 27 tahun, sampai ada seseorang yang menembakku. Namun aku enggak menyangka penantian itu akan diakhiri oleh Aga. Ayah biologis dari anakku sendiri, ini benar- benar lucu, bukan???


" Kamu mau kita pacaran?" tegasku.


Tanpa mengalihkan tatapannya, Aga mengangguk.


"Ga, kamu serius?" Entah siapa yang perlu ku yakinkan disini, mungkin diriku sendiri.


"Aku serius."


Ya Tuhan, aku mendesah pelan. Aga pasti mati berdiri saat tahu kami memiliki anak bersama dan dia baru menembakku untuk jadi pacarnya sekarang, setelah anak kami berusia 4 tahun. Sepintas, aku tergoda untuk memberi tahu Aga, melihat reaksinya seperti apa. Namun kemudian aku tersadar, belum saatnya Aga tahu soal Athan.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2