JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Seblak ceker pedas


__ADS_3

Raya


Sorenya, aku tahu betul betapa aku enggak sabaran ingin bertemu Aga, menunggunya menjemputku di depan gedung perpustakaan seperti biasa. Aku bahkan melompat dan berlari kecil ketika melihat motor Aga dari kejauhan.


"Wow,, gimana ceritanya sih?" belum juga Aga mematikan mesin motornya, aku sudah menepuk bahu pria itu.


"Apa?" Jawab Aga cuek.


"Kamu sama Shella. Gilaa!!! akhirnya sahabatku enggak jomblo lagi, kita mesti ngerayain ini." Aku menaiki motor Aga cepat, "Makan-makan dong."


"Makan seblak aja, kamu yang masak."


"Huhhhh.."


"Kita ke apartemen aku, kamu masak sambil dengerin cerita aku." Itu pernyataan bukan pertanyaan yang butuh jawaban, dan aku mengangguk singkat menanggapinya.


"Ajak Ian juga, nggak papa kan?"


"Udah di telpon?"


"Belum sih, nanti aja pas nyampe apartemen."


"Telpon sekarang aja, biar nanti dia udah siap." Aku sedikit memajukan wajahku ke depan.


Aga mengikuti saranku dengan menelepon Ian, memberitahu untuk datang ke apartemennya.


Sejak Aga dihadiahi papanya sebuah apartemen di ulang tahun ke 18, sudah tak terhitung aku datang kesini. Bahkan aku yang lebih tahu isi dapur Aga ketimbang si empunya sendiri. Aku suka bereksperimen di dapur Aga, entah itu sekedar memasak mie tumis, seblak ceker atau ikan bakar, kebetulan ada pemanggang disini, di beli Aga pas tahun baru, tahun kemarin. Waktu kami bertiga Ian merayakan tahun baru disini.


Aku sudah mengobrak-abrik dapur Aga, meletakkan bahan-bahan yang sudah kami beli di pasar tradisional sebelum kesini tadi, saat suara bel berbunyi, sudah bisa dipastikan itu Ian.


Aga yang lagi rebahan di karpet langsung berdiri membukakan pintu. Aku melirik sekilas saat Aga dan Ian berjalan ke arah dapur.


"Jadi??" Ian menaik turunkan alisnya jahil ke arah Aga. "Cepat juga prosesnya, baru kemaren ketemuan, udah jadian aja, lo. "


Aga menampilkan ekspresi sedang berfikir keras," Gue juga heran, kami ketemuan sore terus malamnya, dia nembak. Yah, gue terima dong."


Baik aku maupun Ian melongo, jadi bukan Aga yang nembak, tapi Aga yang ditembak. Aku melirik Ian sekilas, yang tampak masih syok. Dari ekspresinya pasti Ian pengen bilang, Serius lo, kok gampang banget. Aku sih enggak perlu kaget lagi sebenarnya. Aga memenuhi kriteria cowok idaman semua gadis di dunia. Baik hati, super baik malah, pintar, kaya, tampan, tampannya juga enggak ketulungan, sekali senyum aja, udah bikin cewek- cewek rela buka baju. Aku bahkan sering iri kalau lihat alisnya yang hitam, bulu matanya panjang dan lentik serta hidung yang sangat pas diwajahnya. Orang seperti Aga itu limited edition. Mungkin hanya 15% dari total penduduk Indonesia.

__ADS_1


"Jadi maksudnya, lo gak ada usaha gitu, anjiir hidup lo ya." Ian meninju bahu Aga.


Aku hanya geleng kepala sambil meracik bumbu seblak, "By the way, Kok kamu nggak pernah cerita kalau naksir Shella?"


Aga berdehem pelan, "Belum sempat aja."


"Dia ceritanya ke gue, Ray." Ian menimpal.


Aku mengangguk pelan, aku ikut senang sih melihat Aga jadian. Cuma aku sedikit menyayangkan selera Aga. Aku pikir selera Aga yang mirip-mirip Najwa Shihab, smart, elegant and look high education. Tapi, ini Shella. Cantik sih, cantik banget malahan, cocok disandingkan dengan Aga dalam hal fisik. Tapi entah kenapa, melihat Shella, jadi mengingatkanku dengan mama dan mantan kakak ipar ku. Wanita-wanita seperti mereka dengan gaya selangit, yang enggak bisa hidup tanpa bulu mata palsu, yang rela mengorbankan apa saja demi gaya hidup. Aku cuma khawatir, Aga berakhir seperti Ayah dan abang Fiza,yang hancur hanya karena wanita. Mudah-mudahan Shella enggak seperti itu.


Tiga puluh menit telah berlalu, Aga dan Ian masih setia menunggu masakanku di dapur sampai aku menyajikan seblak ceker super pedas kesukaan mereka, masing masing satu mangkuk.


"Raya, lo jadi istri gue aja yuk. Biar kalau mau makan seblak, gak repot beli." Seperti biasa, Ian cengengesan. Ian memang hobi melempar candaan seperti itu padaku, yang biasanya akan kubalas dengan candaan pula.


"Boleh banget, tapi lo mau kasih gue makan apa kalau kita nikah?"


"Makan batu."


Aku terkikik, "Batu juga enak, asal makannya bareng lo."


Aga menampakkan ekspresi pura-pura muntah, membuatku terbahak.


"Capek kenapa?"


"Capek lari-lari dalam pikiran gue."


Sekali lagi aku tertawa, sementara Aga hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kami, sambil meneguk minumnya hingga tandas. "Abis ini langsung ke minimarket?"


Aku mengangguk cepat dihadapan Aga, yah, jam tujuh tepat biasanya aku sudah berada di minimarket, bekerja disana sampai jam 10 malam. Setelah membersihkan peralatan makan kami, aku bergegas meraih tasku di atas sofa. Aga akan mengantarkanku ke minimarket, sementara Ian, sudah selonjoran di sofa, katanya mau nginap di apartemen Aga sih.


"Good bye, babe." Ian mendongak melihat aku dan Aga di depan pintu.


"Apaan, tidur sana."


"Enggak mau."


"Kenapa enggak mau?" tolehku pura-pura manis.

__ADS_1


"Gue takut, kalau tidur nanti ketemu lo."


"Emang gue kuntilanak?"


"Bukan, gue takut kalau tidur, enggak bangun lagi, soalnya mimpi gue terlalu indah untuk ditinggalkan."


"Sinting, garing lo, Sule!!!" Kali ini Aga yang menyahut, sambil merangkul bahuku pelan keluar dari apartemennya.


***


"Ga... "


" Hmmm."


Aku melirik Aga sekilas, kami berjalan beriringan menuju perkiran.


"Kita tetap temenan kan, walaupun kamu udah punya pacar." Ada sedikit nada getir dalam ucapanku barusan, aku enggak menampik kalau aku sebenarnya takut kehilangan Aga.


Aga berhenti, dia menatapku lama, sementara tangannya entah sejak kapan berada dikedua bahuku."Kamu sahabat aku, Raya. Selamanya akan tetap jadi sahabat. Ada atau enggak ada pacar, aku akan selalu ada buat kamu."


Aku tersenyum, "Janji?" Aku berusaha terlihat biasa saja, tapi aku menangkap ada nada menuntut dalam suaraku barusan.


"Janji."


"Kelingkingnya mana? "


Aga meraih kelingkingku dan menautkannya sambil tertawa.


Aku tersenyum, Aga memang berjanji akan tetap selalu ada untukku. Tapi aku tahu, Aga punya kehidupan sendiri. Suatu saat dia akan pergi dengan kehidupannya, dan aku enggak bisa terus-terusan bersandar padanya, bukan.


***To be continue..


Happy reading...


Satu kata untuk Raya??


Satu kata untuk Aga?

__ADS_1


Satu kata untuk Ian***???


__ADS_2