
AGA
Aku sengaja bangun siang hari ini, sama sekali menulikan telinga dari ketukan pintu dan suara Shella yang memanggilku dari depan pintu kamar. Entah berapa lama, sampai suara itu hilang dan berganti dengan suara gadis lain.
"Ga, bangun!! Aku tahu kamu dengar, Shella udah pulang, dia nangis." Teriak Raya sambil mengetuk pintu.
Aku membuka mata malas. Aku masih kesal, jujur saja. Sudah berapa kali Shella mencuri kesempatan untuk menjamah tubuhku tanpa seizinku, seperti malam tadi. Dia menginap di kamar Raya, dan malamnya mengendap ke tempat tidurku, salahku juga yang lupa mengunci pintu kamar. Gadis itu sangat frontal, dia enggak segan minta cium dan make out, tapi entah kenapa aku sama sekali enggak pernah nafsu.
"Dia sudah pergi?" Tanyaku ke Raya yang masih berdiri di depan pintu kamar.
Raya mengangguk, "Kalian ribut?"
Aku melangkah melewati Raya menuju dapur, mengabaikan pertanyaan Raya yang sudah mengekorku di belakang.
"Tadi Shella nangis soalnya. Kalian ada masalah apa sih? kalau cuma dia yang masuk ke kamar kamu, enggak perlu semarah ini, aku juga pernah kan masuk ke kamar keramatmu itu, kenapa kamu enggak marah?"
Aku berhenti meneguk minum dan menatap Raya, "Dia ngajak aku bercinta, dan aku enggak nafsu."
Raya menaikkan alisnya tinggi- tinggi, menatapku heran seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil, semacam matahari berubah jadi dua pagi hari ini." Kenapa?" tanyaku.
"Ga, kamu masih normal tapi kan? maksudku, laki-laki mana yang enggak nafsu melihat Shella. Okelah kalau kamu nolak ajakannya untuk maksiat, itu masalah prinsip. Tapi enggak nafsu, masa sih, Ga?"
Aku mengedikkan bahu, aku benar, aku emang enggak nafsu, mau gimana lagi. Tapi kali ini Raya jadi cemas melihatku, dia sampai mendekatiku dan mengajakku duduk dikursi.
__ADS_1
"Ga, kamu pernah dengar tentang asex ual?"
Aku tampak berfikir dan mengangguk singkat. Asexual adalah kelainan orientasi sek sual, dimana penderita yang mengalaminya tidak memiliki atau sama sekali atau hanya sedikit memiliki ketertarikan terhadap aktivitas sek sual. Tiba-tiba aku tersentak, dan berbalik menatap Raya. Jadi Raya berfikir aku mengidap asek sual? seperti itu?
Raya masih menatapku cemas, dan tentu saja aku tertawa." Jadi menurutmu aku asex sual?"
Pelan namun pasti Raya mengangguk, "Kemungkinan seperti itu."Jawabnya diplomatis. Dan tentu saja, jawaban Raya menyentil egoku. Aku normal, hanya saja aku enggak tertarik sama Shella, dia terlalu agresif. Tinggal menunggu waktu saja untukku mengakhiri hubungan ini.
"Kamu perlu terapi, Ga. Ada banyak yang bisa sembuh setelah terapi. Harus dipastikan apakah itu hanya asek sual atau HSDD."
"HSDD?" Meski telingaku sudah panas mendengar tuduhan Raya, aku masih bertanya.
"Iya HSDD, Hypoactive sexual desire disorder. Gangguan seksual yang menyebabkan penderita kehilangan hasrat untuk bercinta sama sekali. Bahkan sekedar pegangan tangan, ciuman dan mimpi basah."
"Mari kita buktikan." Lirihku pelan.
"Buktikan apa?"
"Yah, buktikan kalau pendapat kamu benar atau salah."
"Maksudnya?"
"Izinkan aku menciummu."
__ADS_1
Mata Raya membola, "Kalau mau buktikan, sana ke pacar kamu, kenapa ke aku." Raya mendesis.
"Kan sudah kubilang, aku enggak nafsu ke Shella. Jadi aku mau mencobanya ke gadis lain."
Raya mengedip mencerna ucapanku, aku bisa merasakan tubuhnya menegang ketika aku mendekatkan wajahku ke arahnya. Mataku beralih ke bibir tipis milik Raya, dan menelan ludah. Aku menyentuh bagian belakang kepala Raya, sementara gadis itu masih diam mematung, dengan sekali hentak aku menyapu bibir itu.
Aku tidak beranjak, dan masih mempertahankan jarak yang sangat singkat dengan Raya, "How?" bisikku pelan. "Aku normal kan."
Detik berikutnya Raya langsung berdiri dan berlari ke kamarnya, meninggalkanku terbengong di kursi dapur sendiri.
****
Aku masuk ke kamar lagi dengan masih meraba bibirku sendiri. Perasaan apa ini?? aneh. Teringat ucapan papa dulu, saat beliau menginterogasiku sesaat setelah beliau memergokiku menjual mobil. Papa enggak marah saat itu, selagi aku enggak macam- macam, katanya. Papa tau, aku menjual mobil untuk membantu Raya, kata papa, hitung- hitung donasi seperti setiap bulan ia merogoh kocek untuk yayasan dan panti asuhan. Dan baik mama atau papa, memang terbiasa dengan kegiatan amal.
"Peduli dan cinta itu beda tipis, Ga. Kadang kita tidak menyadari kalau rasa peduli itu adalah salah satu bentuk samaran dari rasa cinta. Kamu pasti menyukai gadis itu sampai rela menjual mobil?"
"Enggak, pa. Aku cuma peduli, dia sahabatku."
"Oh ya?" Papa menyangsikan.
Waktu itu, didepan papa, aku mengangguk mantap. Aku dan Raya hanya sahabat, aku sayang ke Raya. Aku enggak mau, dia menikahi pria tua bongkotan demi membayar hutang orangtuanya. Raya selalu mengatakan ingin menjadi sarjana dan bekerja di perusahaan farmasi, dan aku akan membantunya mewujudkan cita-cita itu, tentu saja. Dan aku, akan fokus juga ke impianku, setelah ini lanjut S2 ke London, dan menjadi seorang diplomat.
Tapi apa iya, ini hanya peduli seperti yang aku ucapkan ke papa dulu. Mengingat saat ini jantungku masih berpacu kencang, setelah ciuman tadi. Rasa semacam ini enggak aku dapatkan ketika di dekat Shella. Walaupun hanya sentuhan singkat tapi sukses membuat kupu- kupu di perutku beterbangan.
__ADS_1