JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
I have a son


__ADS_3

AGA


Sepertinya baik mama maupun papa memahami situasi, mereka memberiku ruang untuk menyendiri tanpa bertanya apalagi menghakimi. Aku langsung masuk ke kamar setelah acara makan malam itu usai. Aku ingin berteriak, melampiaskan semua amarah, kesedihan, rasa kecewa, sakit hati, penyesalan dan semua emosi yang campur aduk dihati, tapi aku enggak bisa.


Aku hanya bisa memukul dinding dengan tubuh bergetar hebat saat aku menyadari kenyataan bahwa aku sudah menjadi seorang ayah.


I have a son, usianya sudah 4 tahun. Dan enggak sekalipun dalam kurun waktu itu, Raya memberitahuku. Ya Tuhan, kenapa dia begitu tega?


Ya, aku salah. Aku bajingan yang menidurinya malam itu, kemudian pergi untuk menggapai cita-cita ku. But at least, aku enggak pergi diam- diam, aku sempat menawarkan tanggung jawab ke Raya, aku sungguh-sungguh waktu bilang aku mau menikahinya setelah kejadian malam itu. But she told me to go, Raya menolakku dan malah mendukungku untuk pergi. Tidakkah seharusnya dia memberitahuku kalau waktu itu dia mengandung anak kami, tidakkah aku berhak tahu???


Aku pasti akan kembali dan bertanggung jawab pada bayi kami. Binatang pun akan mengamuk jika anaknya diambil. Lantas apakah bagi Raya aku lebih rendah dari binatang hingga enggak berhak untuk tahu tentang darah dagingku?


Aku enggak peduli pada buku tanganku yang telah berdarah, aku menjambak rambutku. Wajah Athan memenuhi pikiranku, mata beningnya, senyum manisnya dan tingkah polosnya, tanpa sadar ternyata pipiku sudah basah oleh air mata.


"Tapi ibun enggak pernah telpon papa, Athan juga enggak tahu wajah papa seperti apa."


Aku makin menangis saat teringat ucapan Athan ketika pertama kali kami bertemu. Ya Tuhan, aku benar-benar sudah punya anak. Rasanya masih terlalu sulit untuk dipercaya. Aku sudah jadi seorang ayah, dan baru mengetahuinya lima tahun kemudian. Melewatkan lima tahun yang begitu berharga. Sialan, sekarang aku merasa seperti seorang pecundang yang tak berguna.


Hai boy, siapa nama mu?"


Bocah itu mengerucutkan bibir, jadi mengingatkan ku pada seseorang, "Boy? I am not a dog, uncle!"


"Dog...?"


"Yeah, boy itu nama anjing tetangga kami." Bocah itu memberengut kesal, aku ingin tertawa, tapi takut si bocah tambah marah.


"Ups, sorry. Jadi siapa namamu bocah?"


Dan sepertinya kali ini aku salah lagi, anak laki-laki itu semakin mengerucutkan bibir, mirip Raya kalau lagi enggak suka pada sesuatu, aihhh kenapa aku jadi ingat Raya, aku terkekeh getir.


"Aku bukan bocah." Jawabnya ketus, membuatku menaikkan alis. Jelas- jelas dia bocah kan, lucu.


"Terus, who are you?"


"Aku Ranathan, seorang pria empat tahun." Katanya dramatis penuh rasa percaya diri.


Aku tersenyum kecut kala mengingat hari itu, namanya Athan, Ranathan. Anakku.

__ADS_1


Hatiku hancur, untuk pertama kali dalam hidup aku merasakan keinginan untuk menangis yang begitu kuat hingga membuat dadaku sakit jika menahannya. Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan diri dan pikiranku.


Entah berapa lama, hingga aku merasa hati ini cukup tenang untuk berfikir.


Aku sudah punya anak, itu kenyataan. Jika aku mengetahui kenyataan itu lima tahun lalu saat aku bersiap untuk pergi mengejar impianku, apa yang akan kurasakan? mungkin Raya berfikir kalau aku akan menganggap anak itu sebagai beban yang akan menghalangi langkahku? menghambat cita-cita ku? seperti itukah yang ada di pikiran Raya hingga ia tega enggak memberitahuku tentang kehadiran Athan? apakah dia berfikir aku lebih mencintai cita-cita ku ketimbang dia dan anak kami?


Aku menghela nafas sambil memandang dinding kamar yang suram, mencoba mencerna semua yang telah terjadi. Mataku terpejam lagi dengan hati yang bagai tertusuk bilah bambu tajam, membayangkan Raya muda yang begitu polos harus menghadapi kenyataan kalau dia hamil tanpa suami. Membayangkan reaksi ayahnya dan orang-orang sekitarnya. Membayangkan Raya melewati 9 bulan masa kehamilannya seorang diri. Siapa yang membelikannya sesuatu saat ia mengidam? siapa yang memijit lehernya saat ia mual muntah karena bayi kami? atau yang memijat kakinya saat ia merasa pegal?


Air mataku kembali mengalir, tanpa dapat kutahan saat membayangkan proses kelahiran Athan. Membayangkan rasa sakit yang dialami Raya demi melahirkan anak kami ke dunia tanpa aku disisinya. Kemana aku waktu itu? mungkin tengah tertawa bebas, bercanda dengan teman-temanku di London, sementara perempuan yang kucintai tengah berjuang hidup dan mati demi menghadirkan buah cinta kami.


Wajahku kembali basah oleh airmata, membayangkan hari demi hari yang dilalui Raya untuk membesarkan Athan. Pasti sangat berat buat Raya, tapi dia berhasil. Athan tumbuh menjadi anak yang cerdas.


Ya Tuhan, aku merasa seperti sampah. Aku bahkan lebih rendah dari binatang. Aku marah pada diriku sendiri dan mulai memukul - mukul dadaku.


Aku enggak bisa seperti ini, aku butuh seseorang. Seseorang untuk mendengarkanku berkeluh kesah. Ini terlalu berat, aku enggak bisa menanggungnya sendiri.


Ian...


Cuma Ian yang terlintas dipikiranku saat ini.


Ian langsung datang 15 menit kemudian setelah ku telpon, dia langsung menghampiriku ke kamar. Dan melihat diriku yang sangat kacau.


"Gue punya anak, Ian. Namanya Athan, umurnya sudah 4 tahun." Cecarku langsung.


Ian bengong, lalu tertawa. "Ga, kalau becanda jangan kelewatan."


"Seandainya ini memang cuma bercanda."Desahku lemah.


"Jadi lo serius?" Suara Ian terdengar was - was.


"Yeah, I have a son, usianya 4 tahun, dia anaknya Raya, otomatis anak gue juga." Aku menyerahkan selembar foto yang tadi diberikan Gigi.


"Oh my God, lo beneran punya anak, jadi ini bukan joke." Ian menatap foto yang ku berikan padanya. "Kok bisa?"


"Yah bisa lah, sper ma bertemu sel telur, terus jadi embrio , tumbuh dan berkembang jadi janin, jadilah anak."


Ian memutar bola matanya, "Maksud gue, berarti malam itu, pas kalian tidur bareng, padahal sama-sama the first kan ya, langsung jadi, topcer banget lo."

__ADS_1


Sekarang giliranku yang memutar bola mata," Gue lagi enggak bahas prosesnya, anjir!?"


"Iya iya, tau gue. Terus Raya dimana sekarang?"


"Di Surabaya."


"Jadi, apa rencana lo ke depan?"


Aku menghela nafas panjang, "Yah, nikahin Raya lah, terus bawa pulang istri sama anak gue."


"Raya mau? maksudnya lo udah ketemu Raya?"


Aku menoleh ke Ian, "Eh iya, gue lupa kasih tau. Gue udah ketemu Raya di Surabaya, kami juga udah pacaran sekarang."


"Dasar brengsek!!! Giliran bahagia aja lupa ke gue, giliran ngenes sok sok an cari gue." Ian melemparku dengan foto yang tadi dipegangnya. "Jangan lupa bilang ke Raya, datang di resepsi nikahan gue, bawa anak lo juga."


"Kayaknya gue duluan yang nikah deh, gue berangkat ke Surabaya besok, ambil penerbangan pagi."


"Terus main ajak nikah anak orang seenaknya gitu?" Ian mendengus.


"Gue enggak mau menyia- nyiakan waktu gue lagi, sudah cukup 5 tahun ini gue kehilangan kebersamaan dengan Raya dan anak kami."


"Bokap nyokap lo tahu?"


"Gue mau cerita nanti, setelah lo pulang."


"Emang double bangsat lo emang ya, udah capek- capek gue kesini. Sekarang malah diusir."


Sekali lagi aku terkena lemparan dari Ian, lemparan bantal. "Gue ikut, gue pengen ketemu Raya juga." Ucap Ian sambil duduk di kasur tempat tidurku.


"Enggak usah, entar lo naksir lagi ke Raya."


Wajah Ian memerah, yah, dulu Ian juga sempat naksir ke Raya, tapi mundur setelah tahu aku juga menyukai Raya. Aku tahu setelah membaca isi note di dalam blog pribadinya yang terkunci. Tapi Ian tetap sahabat terbaikku, dia bersikeras kalau dulu cuma naksir- naksir lucu. Dan sekarang, sahabatku ini akan menjadi seorang suami tiga minggu lagi, aku bahagia akhirnya Ian bisa menemukan gadis yang dicintainya.


To be continue...


Hufhhhh,,,, happy reading ya....

__ADS_1


__ADS_2