
Fara seperti kesusahan menelan salivanya sendiri, semuanya seperti dejavu. Jika itu berhubungan dengan seorang Dira, maka Athan akan bersedia meninggalkan apa saja, cowok itu tidak peduli kalau Fara membutuhkannya juga. Dira selalu menjadi prioritas utama Athan, dan Fara tidak akan pernah menang sekuat apapun dia berusaha.
Athan boleh saja bilang kalau dia mencintai Fara sebanyak dan sedalam yang dia mau, tapi tetap bukan Fara yang menjadi prioritasnya, melainkan perempuan itu. Fara berdiri dan kembali ke kamar tanpa berniat menghabiskan sarapannya sama sekali, tenggorokannya terasa tercekik, matanya sudah berair menahan gelombang rasa yang tidak mengenakkan hati ini.
Athan
Miss call 09.20
Sorry Fa, aku balik ke Jakarta
Miss video call 09.30
Gak sempat kasih kabar tadi, hp lobet
Miss video call 10.00
Miss video call 10.20
Miss call 11.00
Miss call 12.00
Fara, please
Miss call 12.10
You blocked thus contact. Tap to unblock
__ADS_1
Keterangan itu tertera pada layar ponsel yang berada di genggaman Fara. Dia tau perbuatannya ini kekanak-kanakan dan menyebalkan. Setidaknya Fara ingin memberitahu kalau sekarang dia tidak mau diajak bicara, dia butuh waktu untuk meredakan rasa kecewanya.
Well, untuk apa Fara kecewa? Dia bahkan tidak memiliki hubungan apa- apa lagi dengan Athan. Mereka bukan siapa- siapa bagi satu sama lain. Kalau Athan mau menemui Dira lantaran perempuan itu sakit, memang apa masalahnya?
Masalahnya ada pada Fara sendiri yang mau- mau saja dipermainkan oleh cowok itu, mau saja ketika dicium, mau saja ketika disentuh. Jadi yang bodoh disini siapa? Toh, Athan dan Dira sudah mengenal sejak mereka kecil. Wajar kalau mereka sangat dekat, saling membutuhkan, dan seharusnya tidak terpisahkan. Wajar kalau Athan selalu jadi emmergency call nya Dira. Wajar kalau Dira selalu diutamakan oleh Athan. Cowok itu hanya melakukan yang seharusnya.
Fara tidak mestinya egois, apalagi merasa jadi yang paling tersakiti sedunia. Pakai acara dadanya terasa sesak bukan main segala, belum lagi perasaan negatif lain yang sampai terbawa mimpi. Dia tidak akan merasa tercekik seperti ini kalau saja tidak memiliki sifat dengki, yah sedari dulu Fara selalu iri pada sosok Dira.
“Woiii, Fa, fokus!” Fara terkejut saat Ve menepuk pundaknya. “Dari tadi melamun aja.”
Belum sempat membalas ucapan Ve, ponsel Fara berdering, nomor baru tengah melakukan panggilan ke ponselnya, tidak Fara angkat. Tak lama bunyi notifikasi sebuah pesan muncul.
Ini Athan
Fa, angkat telponnya
Seperti sebelumnya, Fara tidak membalas, apalagi berniat mengangkat panggilan telpon. Yang ada malah dia abaikan, kemudian dia bokir lagi kontak tersebut. Kalau Athan bisa mengabaikan Fara begitu saja, Fara juga bisa. Seharusnya.
Gantian, kali ini ponsel Ve yang berdering.
Athan is calling...
Ve mengernyit menatap ponselnya,”Tumben Athan nelpon gue?”
“JANGAN DIANGKAT!!!!” Fara memekik, mencegah tangan Ve, membuat cewek itu spontan berdiri kaget.
“Kalian kenapa lagi sih?” Ve menatap ponselnya dan Fara bergantian.
__ADS_1
“Enggak ada. Ya udah angkat aja, tapi misalkan dia nanyain gue, bilang aja enggak tau.”
Ve mengangguk dan mengangkat telpon dari athan.
“Hallo Than...”
“......”
“Fara? Tadi sih ada kok, gue belum sama Fara sekarang, mungkin dia lagi gabung bareng sama anak anak lain.”
“Fa, Faraaaa, kesini!!” Itu suara cempreng Sarah yang berteriak beberapa meter dari Ve dan Fara berdiri saat ini, mengacaukan, membuat baik Ve dan Sarah jadi berdiri kaku.
“Sorry.” Ucap Ve kemudian dalam telponnya.
Mau tidak mau, Fara akhirnya menghidupkan ponselnya dan membuka blokiran kontak Athan, kemudian mengiriminya pesan.
To Athan
I’am fine
Cuma lagi males ngomong sama kamu
Setelah itu Fara memblokir kembali kontak Athan di ponselnya, mematikan ponselnya dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas yang dia bawa.
“Gue baru tau yang kayak Athan bisa terdengar panik juga.” Cerocos Ve, “Dia kayak frustasi gitu enggak bisa ngehubungi lo dari pagi.”
“Paling pura- pura, dia kan rubah jantan.” Fara mulai sinis.
__ADS_1
To be continue....