JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Cemburu???


__ADS_3

Raya


Sudah dua jam aku berkutat di depan laptop, namun enggak menghasilkan apapun. Mataku tertuju pada tulisan yang ada dimonitor, tapi pikiranku dengan sangat kurang ajar malah memutar kembali adegan Aga dan Shella yang sedang berciuman. Padahal sudah hampir dua minggu kejadian itu berlalu, dan sampai hari ini adegan itu enggak bisa enyah dari otakku.


"Shhiit... "Umpatku pelan sambil mengacak rambut.


Alih-alih meneruskan tugas, aku malah berbaring telentang di kasur tipis di kontrakanku. Malam ini jadwalku libur di minimarket, malam minggu. Enggak ada yang spesial dengan malam minggu. Jika teman-temanku akan sangat menantikan malam minggu setelah dari senin sampai jum'at bergelut dengan tugas kampus, ditambah sabtu jadwal lab. Maka bagiku malam minggu adalah malam membosankan, yang artinya aku akan menghabiskan malam ini dengan sepi seperti biasa.


Pintu kontrakan diketuk dari luar saat aku baru saja ingin memejamkan mata. Tubuhku langsung awas, pelan aku berdiri dan berjalan ke arah pintu, bukan apa-apa, aku takut bang Fiza datang lagi dan menggangguku. Terakhir dia datang malah mengambil seluruh tabunganku hingga berakhir aku yang ingin terjun ke sungai.


"Ian??"


Aku mengernyit heran melihat Ian berdiri di depan pintu kontrakanku. Namun cepat- cepat membuka pintu lebar agar Ian bisa masuk.


"Ada apa?"


Ian tertawa kecil, "Ini malam minggu Soraya."


"Lo mau ngapel gue ceritanya? masih musim ya malam mingguan?" Ledekku.


"Mungkin."


Aku mencondongkan tubuh untuk melihat sesuatu yang disembunyikan Ian dibelakang punggungnya, "Lo bawa apa? bunga? Ledekku lagi.


" Nih..." Ian menyodorkan kantong plastik yang disembunyikannya tadi ke tanganku.


"Martabak?" Aku menahan tawa ketika melihat isi kantong plastik itu.


Ian berdecak, "Daripada gue bawa bunga, enggak ada manfaatnya, lo kan penganut azas manfaat, martabak lebih ada gunanya ketimbang bunga."


Aku mengangguk, kali ini setuju dengan Ian. Ian masuk ke kontrakan, sementara aku berjalan ke dapur mengambil piring dan air putih." Jadi, ada angin apa ke kontrakan gue, tumben?"


"Seperti yang lo bilang tadi, mau malam mingguan."


"Gue serius Ian." Aku mendelik ke arah Ian.


"Lo lagi ngapain?" Ian mengindahkan pertanyaan ku.


"Tuh.. " Aku menunjuk laptop dan kertas-kertas yang berserak diatas karpet.


"Keluar yuk, nonton bioskop."


Aku memutar bola mata malas, "Pacar lo kemana?sampai nyasar kesini?"


"I have told you, gue enggak punya pacar."


Aku mendengus kasar, "Kayak gue percaya aja."


"Serius, Raya." Ian melirik jam tangannya, "Gue tunggu lima belas menit, siap-siap, kita nonton bioskop."


Aku memicingkan mata, namun tak urung juga berjalan ke kamar untuk berganti pakaian. Tawaran Ian ada bagusnya, setidaknya aku perlu udara segar sesekali, agar enggak stress mendekam di kontrakan kecil ini.


Sama hal nya dengan Aga, Ian juga berasal dari keluarga berada. Setauku papa Ian seorang direktur merangkap dokter spesialis penyakit dalam di RSCM dan ibunya punya bisnis Weeding Organizers. Berbeda dengan Aga yang selalu mengendarai motor sport nya kemana-mana. Ian lebih suka bawa mobil.


Yang jelas baik Aga maupun Ian adalah cowok-cowok yang enggak pernah aku mimpikan untuk jadi pasangan. Terlalu tinggi dan tak terjangkau, istilahnya beda kasta. Mereka kasta Ksatria dan aku kasta Sudra. Mungkin kalau tau latar belakang keluargaku seperti apa, mereka takkan mau lagi berteman denganku. Jadi untuk saat ini aku cukup beruntung bisa berteman dengan Aga dan Ian.


***

__ADS_1


Kami tiba diparkiran, dan Ian dengan gesit membukakan pintu mobil untukku. Ian membawaku ke lantai dua di pusat perbelanjaan, tempat dimana kami akan menonton bioskop.


"Gue kira lo bawa siapa, kenapa sama Raya?"


Aku menoleh ke sumber suara, ternyata Aga. Egoku tersentil saat mendengar kalimat kenapa sama Raya, seolah-olah memang aku enggak pantas berada disini.


"Kenapa emang kalau Ian sama aku?" Ucapku sarkas. Entahlah, sejak kejadian aku memergoki Aga berciuman dengan pacarnya di apartemen, aku sering naik darah ketika berbicara dengan Aga, aku juga enggak tau kenapa aku jadi seperti ini.


"Tadinya aku ngajak Ian double date gitu, yah aku kaget aja, yang diajak Ian malah kamu." Jawab Aga dingin.


"Aga takut diapa-apain sama Shella,, makanya enggak berani ngedate berduaan, iya kan Ga?" Ian berusaha menengahi aku dan Aga yang mulai berkonfrontasi. "Shella mana?"


"Gue tanya kenapa bawa Raya, enggak ada gadis lain yang bisa lo deketin apa?" Aga mengindahkan pertanyaan Ian.


"Lo kok jadi sewot sih." Ian akhirnya terpancing juga.


"Ian ngajak aku, karena dia kasihan lihat aku ngeram di kontrakan sendirian. Sekali-kali sesama teman ngajak nonton bioskop, ada yang salah?" Aku menatap Aga. "kalau kamu keberatan, aku bisa balik kok."


Aga menghela nafas pelan," Bukan gitu maksud aku, Ya."


"Terus apa dong?"


"Udah, udah. Film nya bentar lagi mulai, ayo." Ian menggandeng tanganku dan kami berjalan memasuki gedung bioskop, diikuti oleh Aga dan Shella yang baru tiba dari toilet.


Ian menempati tempat duduk paling pinggir kemudian aku, lalu Aga dan Shella. Jadilah aku duduk ditengah-tengah antara Ian dan Aga. Aku enggak tau film apa yang akan kami tonton, dan aku juga enggak terlalu peduli lagi, mood ku rusak gara-gara Aga.


Kami juga enggak ada cemilan sama sekali membuatku bengong setengah mengantuk menatap layar lebar yang menampilkan film action mandarin yang sama sekali tak kumengerti alur ceritanya itu.


Pelan aku mencondongkan wajah ke telinga Ian, "Tau gini mendingan gue tiduran di kontrakan."


"Dasar aneh." Aku melirik bangku Aga sekilas.


"Dia yang nyuruh gue bawa cewek biar enggak garing, eh giliran gue bawa lo, dianya malah mencak- mencak." Ian berbisik pelan, dan tanpa kami sadari jarak kami yang saling berbisik menggibah Aga ternyata cukup dekat.


"Kalian mau mesra-mesraan atau mau nonton?!"


Sontak aku menegakkan punggung mendengar suara Aga yang terdengar sangat tidak bersahabat itu.


Aku fokus lagi pada layar lebar didepan, tapi baru saja sepuluh menit mataku sudah terkantuk kantuk, pelan aku merasakan sebuah tangan meraih kepalaku untuk bersandar dibahunya. Entah bahu siapa aku enggak tau, yang jelas antara Ian dan Aga, sebab mereka yang berada di kiri kananku. Dan aku pun benar-benar terlelap.


"Ray, wake up. Filmnya udah abis." Itu suara Ian yang membangunkanku, aku tersentak menatap sekeliling, dimana orang-orang mulai berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Ya ampun, gue ketiduran." Aku meringis malu.


***


Kami sudah berada diluar, dengan aku sesekali yang masih menguap menahan kantuk.


"Ya udah semua, gue duluan ya." Shella.


"Lah kalian enggak bareng emangnya?" Ian bingung menatap Aga dan Shella bergantian.


"Enggak, gue bawa mobil, Aga bawa motor, kita ketemuan langsung disini tadi." Shella tersenyum. "Ya udah, gue duluan ya."


Kami bertiga kompak mengangguk dan menatap punggung Shella yang menjauh secara bersamaan.


" Ayok Ray, kita pulang." Ian meraih tanganku.

__ADS_1


"Raya pulang bareng gue."


Baik aku maupun Ian langsung menoleh ke Aga. Serius, ini Aga dari tadi kenapa sih, kayak orang lagi PMS aja.


"Raya datangnya sama gue, jadi baliknya sama gue juga."


"Ada yang mau gue ambil di kontrakan Raya, jadi sekalian aja."


Agaknya aku dan Ian sama-sama lelah meladeni sikap aneh Aga malam ini, jadi Ian melepaskan genggaman tangannya padaku.


"Gue duluan ya." Ian menatapku dan diikuti anggukan kecil dariku.


"Thanks Ian."


Aku menghela nafas pelan, kemudian mengikuti Aga berjalan menuju parkiran. Kami sama-sama bungkam, sampai Aga mematikan mesin motornya di depan kontrakanku.


"Tadi Ian jemput kamu disini?" Itu suara Aga setelah sekian lama diam.


Aku mengangguk.


Aga mendengus. Dia sama sekali enggak menutup- nutupi rasa enggak suka diwajah nya. Dan itu membuatnya terlihat menggemaskan dimataku.


"Kamu cemburu?" tembakku bercanda.


Didepan ku, Aga hanya mengernyit. "Aku? Cemburu? Sama Ian?"


Tawaku malah tersembur saat mendapati pertanyaan beruntun dari Aga. Aku memang belum pernah pacaran, belum pernah merasakan langsung cemburu itu seperti apa. Namun Aga tampak gusar, dan dia sama sekali enggak bisa menutupi kegusarannya itu.


Menurutku itu cemburu.


"Yah, aku bisa aja salah. Tapi tingkah kamu dari tadi kayak orang yang lagi cemburu." Elakku.


Aga menatapku dengan mata menyipit, Tell me something, yang masuk akal, kenapa aku harus cemburu sama Ian? Apa yang dia punya tapi enggak aku miliki, makanya aku cemburu?"


Pertanyaan itu lagi- lagi meyakinkanku kalau Aga cemburu, tapi dia sengaja menutupinya. Mungkin dia sendiri enggak menyadarinya. Bisa juga ia sepenuhnya sadar, namun enggan untuk mengakuinya.


"Ian itu baik, menyenangkan, tadi aja dia kesini bawa martabak buat aku."


Aga mendecakkan lidah, membuatku menahan diri untuk melanjutkan ucapanku.


"Aku juga baik, menyenangkan. Meski enggak pernah bawa martabak."


Aku tertawa geli, "You know what? Seeing you like this, well it was fun."


" This is nonsense, aku punya kerjaan yang lebih penting ketimbang mikirin cecunguk Ian."


Aku hanya bisa menggeleng sambil tertawa geli saat melihat tingkahnya.


"I had to go, bye." Aga menstarter motornya kemudian pergi.


Aku masih tertawa kendati sosok Aga sudah tak nampak lagi. Namun detik berikutnya aku tersentak. Jika memang dia cemburu, untuk apa cemburu itu????


To be continue


Like n komen ya


Biar aku semangat nulis nya....

__ADS_1


__ADS_2