JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
BAB VI


__ADS_3

"Lo pura-pura selingkuh aja sama Bonny." Usul Sarah saat Fara menceritakan keinginannya untuk putus dari Athan.


Fara memutar bola mata malas, "Mau gue selingkuh beneran juga gak bakalan ngaruh- ngaruh amat sama kehidupan seorang Athan, dia gak bakalan peduli. Kasian Bonny mesti di cap penyikut teman sendiri sama anak- anak yang lain."


Baik Sarah maupun Ve tampak berpikir keras, mencari ide lain. "Lo kok tiba-tiba pengen putus sih?" celetuk Ve kemudian setelah enggak nemu ide lagi.


"Athan itu cinta pertama gue, gue suka ke Athan waktu masih SMP, dan ketika akhirnya bisa jadian sama Athan, kebayang kan bahagianya gue kayak gimana."


"Terus kenapa sekarang mau putus?"


"Karena gue tahu, Athannya enggak bahagia, Ve. Dan ya, gue harus realistis."


"Tapi... "


" Tapi, tenang aja. Gue bisa move on kok." Lanjut Fara lagi, suaranya agak memelan.


"Move on gimana?"


"Pas gue pikir-pikir lagi, mungkin kami memang enggak cocok dalam sebuah hubungan, tapi kami cocoknya jadi teman." Fara tersenyum.


"Tuh kebetulan orangnya datang." Sarah menunjuk Athan yang sedang berjalan ke arah mereka dengan dagunya.


"Kami cabut duluan ya, good luck, semoga berhasil." Sarah menepuk pundak Fara pelan sebelum berdiri, dan bersama Ve keluar dari kantin.


"Hai, Than. Duluan ya." Ve sempat berbasa- basi saat berpapasan dengan Athan di pintu masuk yang diikuti anggukan singkat dari Athan.


Fara menghembuskan nafas pelan, sudah dua hari dia berusaha menghindar dari Athan, yap, sejak kejadian di perpustakaan itu. Ini benar- benar rekor terbaru. Bahkan pesan Athan enggak ada yang dibalas satupun oleh Fara.


"Udah makan?" Athan mendaratkan bokongnya di kursi yang tadi di duduki Sarah.


"Udah, barusan tadi. Kamu?"


"Udah."

__ADS_1


Fara diam sebentar, pura-pura menyibukkan diri dengan buku yang dibawanya tadi.


"Chat aku kenapa gak dibalas?"


"Hah.. " Fara mendongak, lalu meringis" Sorry, aku lupa. Kamu juga sering gitu kok, chat pagi dibalas malam. Chat hari ini dibalasnya sehari kemudian." Fara berusaha terkekeh, namun sepertinya gagal hingga terdengar seperti cicitan.


Athan berdecak singkat, "Besok aku main futsal, mau nonton lagi? Aku jemput kalau mau ikut.


"Enggak deh, besok papa pulang dari Pontianak." Fara menampakkan ekspresi menyesal, sebenarnya pengen banget Fara ikut, apalagi ini jelas- jelas Athan yang ngajak langsung, tapi kan Fara masih dalam rangka move on, jadi ia harus serius, gak boleh tergoda pokoknya, titik.


Langkah pertama untuk move on adalah dengan tidak berhubungan sama sekali, dan itu artinya Fara mesti memutuskan Athan secepat mungkin kan, tapi gimana Fara mau memutuskan Athan, kalau wajah cowok ini bisa begitu menarik hati, aihhh.


"Ehem." Fara berdehem.


Athan mendongak, menunggu Fara yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu,namun urung gadis itu lakukan. "Ada masalah?" tanya Athan.


Fara mendadak gelisah, dia ingin memutuskan Athan, tapi kok kesannya jahat ya. Kenapa enggak Athan saja sih yang mutusin, Fara bisa terima dengan lapang dada kok, jadi gak ada perasaan bersalah. Dia bisa move on dengan tenang. Fara bisa mencari cinta yang baru. Dia lebih baik jatuh cinta kepada orang yang mencintainya juga kan. Ya, seperti itu lebih terdengar realistis.


"Than..."


Fara menelan air liurnya sebelum lanjut bicara, kok mendadak grosir. Oke Fara, ini demi kebaikan Athan, setelah ini mungkin dia bisa bahagia dengan cinta sejatinya tanpa ada kamu lagi yang mengganggu.


"Kita udahan ya, maksud aku, aku minta maaf selama ini mungkin udah bikin kamu enggak nyaman... "


"Aku nyaman kok."


Glek.. Fara hampir tersedak air liurnya sendiri. Apa katanya tadi? Nyaman?


Athan masih menunggu Fara bicara, menatapnya hingga Fara jadi salah tingkah sendiri.


"Cuma mau ngomongin itu?"


"Hah?" Lagi- lagi Fara cuma hah hih huh doang, Ya, Tuhan, ini kenapa Fara jadi gagu. Biasa juga nyerocos depan Athan.

__ADS_1


"Masih ngambek soal kejadian di perpus? Aku minta maaf." Lanjut Athan.


"Bukan ke aku, tapi ke Bonny, dia yang kamu pukulin."


"Dia yang salah." Athan mengedikkan bahu.


"Tapi kamu yang bikin hidungnya berdarah."


"Sejak kapan kamu jadi memperhatikan hidung Bonny?"


"Sejak dua hari lalu." Ucap Fara ngotot, berdebat dengan Athan ternyata asyik juga. Selama ini Fara selalu ingin mengalah, demi agar Athan enggak kesal padanya, tapi mulai hari ini membuat Athan kesal adalah prioritas utamanya.


"Jangan hubungi aku sebelum kamu minta maaf ke Bonny." Gertak Fara.


Athan menaikkan alis, mungkin heran melihat kelakuan Fara. Biasanya kalau Athan sudah begini, pasti si Fara langsung berubah jadi mode kucing anggara, iya sayang, apa sayang, iya deh terserah kamu aja. Tapi kali ini no way, jangan harap.


Fara sama kekeuh nya memasang ekspresi keras, "Aku duluan." Fara sudah berdiri ketika Athan juga ikut berdiri.


"Iya, besok aku minta maaf ke Bonny." Ucap cowok itu.


"Kenapa mesti besok, kamu bisa chat dia sekarang."


"Harus sekarang?"


Fara mengangguk mantap, dia jadi heran sendiri, Athan yang dingin sedingin kulkas dan cuek kok bisa disetir dengan mudah sih. Biasanya Fara yang disetir Athan karena takut kehilangan cowok ini, tapi kali ini enggak lagi, Fara serius soal ingin move on dari Athan.


Athan merogoh ponsel dari saku celananya dan fokus mengetikkan sesuatu, kemudian mendongak menatap Fara. "Nih." Tampakkannya layar ponsel yang berisi chat permintaan maaf pada Bonny.


"Udah kan, Yuk pulang."


"Enggak, aku bisa pulang sendiri kok."


Athan menghembuskan nafas pendek dan menatap Fara. "Kamu kenapa sih? Lagi PMS?"

__ADS_1


Fara menggeleng mantap, "Lagi enggak mau aja pulang bareng kamu." Kemudian Fara berbalik dan melangkah secepat mungkin dari sana.


__ADS_2