JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Gang Dolley


__ADS_3

RAYA


Sekali lagi aku meyakinkan diri, bahwa keputusanku untuk pindah ke rumah orang tuaku adalah keputusan yang tepat. Sudah lama sekali rasanya aku tidak merasakan hidup satu atap bersama keluarga itu seperti apa. Ayah dan mama benar-benar menyambut hangat kedatanganku, bahkan ayah sengaja mengecat ulang kamarku, membeli seprai baru dan mencuci boneka masa kecilku. Mama memasak opor dan sekali lagi kami makan bertiga dalam satu meja yang sama, aku bahagia. Walau untuk merasakan ini semua, ada harga yang mesti dibayar, yakni ketidaknyamananku berdiri diantara pelanggan dan pelacur-pelacur ayah.


Mereka sebenarnya baik, enggak pernah sekalipun mereka mengusikku, malah terkesan menghormati dan melindungiku disana. Tante Mita, tante Yuri, mbak Angel, itu nama-nama dari sekian banyak peliharaan ayah yang kutau.


"Berangkat kuliah, Ray?" mbak Angel, wanita berambut coklat keemasan menyapa ramah pagi itu. Dia masih muda, mungkin lebih tua satu atau dua tahun dariku, sangat disayangkan harus berakhir disini.


Aku tersenyum, "Iya mbak." anggukku pelan sambil berjalan. Dalam hati aku terus berdoa dan menguatkan hati, bertekad untuk menyelesaikan kuliah dengan benar, agar aku bisa jadi seorang sarjana. Memiliki pekerjaan layak nantinya.


Titt.... Tiiitt....


"Bang Ijal?"


Dia bang Ijal, orang pertama yang sangat senang aku kembali ke rumah lagi, setelah ayah dan mama tentunya. Bang Ijal punya kos-kosan di gang Dolley, dan hampir semua pelacur ngontrak di kosannya dia. Tampangnya sangar abis, tato bergambar singa memenuhi sepanjang bahu sampai ke pergelangan tangannya, tapi sumpah demi apa, cuma aku yang tau kalau dia sebenarnya sangat takut sama cacing, itu rahasia kecil kami, yang disimpan rapat-rapat sejak aku kelas 3 SD.


"Mau abang antar?"


"Enggak usah bang, Raya naik ojek pangkalan aja."


"Jangan gitu, ayok abang antar, tuan putri gang Dolley mana boleh naik ojek."


Aku tersipu menanggapi candaan bang Ijal, lalu meraih helm yang disodorkan bang Ijal.


***

__ADS_1


"Stop stop disini aja, bang."


"Loh, masih jauh dari kampus kamu ini." Protes bang Ijal yang mengerem motornya mendadak.


"Enggak apa, Raya mau ambil fotokopian dulu." Jelas aku berbohong, enggak ada yang harus ku ambil. Aku hanya enggak ingin ada teman kampus yang melihat kalau pagi ini aku diantar seorang laki-laki bertato besar yang memakai celana jeans sobek serta anting hitam ditelinganya.


"Ya udah, hati-hati, Ya."


Aku mengangguk pelan, "Makasih bang."


Kuhela nafas panjang sambil berbalik dan berjalan cepat ke arah kampus, sesekali melirik kanan kiri, hanya memastikan kalau enggak ada teman yang melihatku dan bang Ijal tadi. Sudah hampir tiga hari sejak aku pindah, semua masih aman terkendali. Aku cukup pintar untuk menyembunyikan semuanya, pergi ke kampus di pagi hari, pulang menjelang maghrib ketika kondisi kampus mulai sepi.


Hanya saja dua makhluk pengganggu cukup mengusik kenyamananku, siapa lagi kalau bukan Aga dan Ian. Mereka memborbardirku, menanyakan kenapa aku pindah dari kontrakan, kemana aku pindah, kenapa mereka enggak diberitahu dan banyak banyak lagi pertanyaan hingga membuat kepalaku ingin meledak. Namun satu hal yang pasti, aku belum bisa berbagi, baik itu dengan Aga ataupun dengan Ian.


Mereka cukup tahu kalau selama ini berteman dengan gadis bernama Soraya Inggria Ningrum, seorang mahasiswi Farmasi semester V, cukup itu. Aku enggak sanggup melihat mereka syok, terutama Aga. Aku enggak ingin Aga tau kalau aku anak seorang mucikari yang tinggal di kampung pelacuran. Aku malu, tapi aku juga enggak memiliki hati yang cukup kuat untuk menolak ayah dan mama. Walau bagaimana pun, mereka orangtua ku, tetap orangtuaku sampai kapanpun.


"Kita perlu bicara." Aga menarik lenganku, membawaku masuk ke dalam sebuah mobil, yang baru ku ketahui bahwa itu salah satu mobil koleksi Aga. Membuatku beringsut, makin insecure duduk didekatnya. Hidupku dan Aga sangat jauh, bagai langit dan bumi, tidak, bahkan lebih jauh dari itu.


"What's wrong with you?" Toleh Aga cepat menatapku.


"Nothing, by the way motor kamu kemana? kok bawa mobil?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Raya." Desis Aga dengan tatapan yang makin menajam.


"What?"

__ADS_1


"Kamu?? ada apa?" Kenapa pindah?"


Aku menghembuskan nafas pelan sebelum balik menatap Aga yang sedari tadi memakuku dengan tatapannya yang seperti ingin memakanku hidup- hidup itu. Hubunganku dan Aga hanya sebatas teman, jadi Aga enggak perlu tau mendetail tentang kehidupan seperti apa, ini privasiku.


"Aku pindah ke rumah orang tuaku." Ucapku jujur.


"Orangtua?" Kali ini Aga enggak bisa menyembunyikan rasa penasaran dan harunya. Ia tahu kalau selama ini aku tinggal bersama eyang dan bang Fiza, dan ketika aku menyebutkan kata orangtua membuatnya sangat antusias. Aga diam menungguku bercerita lebih lanjut, namun aku enggak mau.


"Dimana? dimana orangtua mu tinggal? aku boleh main kesana? ke rumahmu?"


Sontak saja mataku membola, kupastikan akan keluar dari rongganya sebentar lagi. Detik itu, aku menyesal sudah memberitahu Aga. Aku menelan ludah kasar, bagaimanapun Aga enggak boleh tau, enggak boleh.


"Aku ada mata kuliah pagi, ya udah, aku duluan ya." cepat- cepat kebuka pintu mobil tanpa harus melihat ekspresi Aga.


"Bye... "


" Raya, Ray... Tunggu... "


Aga kalah cepat, aku sudah masuk kelas yang sudah dipadati oleh teman-teman satu jurusan. Dan Aga masih mikir untuk meneriakkan namaku, kalau enggak mau bikin drama pagi-pagi.


Hari ini aku selamat, tapi enggak tau besok lusa. Perasaanku campur aduk, setengah hatiku malah menyalahkan ayah yang memiliki profesi laknat seperti itu, hingga membuatku malu.


***


To be continue

__ADS_1


Happy reading ya...


__ADS_2