
Hi guys...apa kabar???
Sehat ya,,,sehat dong,,,,biar bisa baca tulisan aku hehehhe
Tau gak sih, aku tuh kesal banget makanya gak update update lagi, jadi ceritanya aku udah nulis, draftnya udah panjang banget padahal. Tetiba bip bip bip ketikan aku hilang gesss, kesal kan jadinya. Dan sekarang baru mau mulai nulis lagi nih wkwkkwkwk....
“Jadi, lo beneran mutusin Athan?” Ini pertanyaan Sarah yang entah untuk keberapa kali sejak Fara menceritakan hubungannya dengan Athan. Fara sampai heran kenapa Sarah sebegitu antusiasnya mendengar ini.
“Sar, ini pertanyaan lo yang ke lima ya, sekali lagi lo nanya, gue lempar jam dinding.” Sengit fara yang diikuti gelak Ve.
“Ya jangan gitu dong babe, gue kan cuma syok aja, enggak nyangka akhirnya lo sadar juga kalau hubungan lo sama Athan selama ini cuma toxic, finaly, ini yang gue tungu- tunggu dari dulu, saat dimana putri tidur kita bangun dan tersadar.” Sarah ikut tertawa. ”Udah gue bilang dari dulu, lo sama Athan gak ada cocok cocoknya, bagusan lo sama Dru.”
Fara memutar bola mata malas, dia bukannya enggak tau kalau dari kelas X, Dru yang anak band itu menyukainya, tapi Fara seolah membutakan mata dan menulikan telinga karena Fara memilih untuk mengejar Athan. Dan sekarang, entah mengapa Sarah terlihat menggebu- gebu sekali ingin menjodohkannya dengan Dru. “Gue mau off dari dunia percintaan, gue mau fokus sama diri gue sendiri, jadi mau Dru, Dre, atau Dro yang lo jodohin ke gue, sorry, gue gak tertarik.” fara mengibaskan tangan.
“Gue tau lo trauma sama cinta bertepuk sebelah tangan, tapi ini Dru, Far. Dia satu- satunya orang yang cinta mati sama lo, dia rela nungguin lo, dia enggak pernah terlihat jalan sama cewek lain. Dia tau lo jadian sama Athan, tapi dia tetap nungguin lo.” Sarah membenarkan posisi duduknya mendekati fara.
“Siapa bilang gue trauma, gue udah ikhlas lahir batin kok. Gue cuma belum mau menjalani hubungan baru.”
“Ayolah Fara sayang, besok Dru ulang tahun, kita dapat undangan juga, datang ya, siapa tau lo berubah pikiran setelah ketemu Dru. By the way, minggu depannya kan lo yang ulang tahun, lihat ulang tahun kalian aja deketan, pasti jodoh tuh.”
Fara memicingkan mata menatap sarah,”Gue jadi curiga lo di suap apa sama Dru sih sampe ngotot kayak gini?”
__ADS_1
Sarah mengangkat kedua tangannya,” Ya enggak ada, sembarangan aja. Tapi kita tetap datang, gue udah janji soalnya ke Dru kalau kita bertiga datang ke pestanya besok.”
Fara menggeleng pelan sebelum beranjak dari duduknya. Sarah keterlaluan sekali, dia tau kalau Fara tidak suka, tapi bikin janji seenaknya tanpa izin. Sarah dan Ve menyusul Fara yang lebih dulu berjalan. Seolah tidak memperdulikan perasaan Fara, Sarah terus berkoar tentang kedatangan mereka besok di pestanya Dru. “Gue mesti beli pernak pernik untuk ke pestanya Dru, ada gelang cantik banget kemaren gue lihat di butiknya tante Ami, jadi kita mampir dulu kesana.”
“Gue belum bilang gue setuju.” Sengit Fara.
“Kita enggak perlu minta persetujuan lo kok Far, lo ikut.” Sarah melirik Fara sekilas, sangat percaya diri kalau Fara akan ikut besok.
Mereka bertiga sampai di butik tante Ami, belum lagi Fara mendorong pintu kaca butik. Ve mencekal tangannya sambil menggeleng.”Kita ke tempat lain aja yuk.”
Fara menoleh heran, wajah Ve tampak pucat. Ve terus menarik tangan Fara untuk menjauh dari butik.” Lo kenapa sih Ve?”
“Kita ke tempat lain aja, please, yuk.” Ve mendorong Fara kali ini agar Fara berbalik.
Sama seperti Athan, Andari juga tersenyum sesekali terkekeh pelan. Belum sampai satu minggu sejak kejadian di kantin, dimana Fara meminta break, tapi Athan sudah bersama Andari. Rasanya sedikit menyakitkan, yah hanya sedikit. Fara menghembuskan nafas dalam, kalau dulu saja dia melihat ini, dia mungkin akan mengamuk, Fara bisa saja menjambak rambut Andari saat itu juga, tapi itu dulu. Sekarang? Fara sudah lelah, dia benar- benar ikhlas, Athan memang ditakdirkan bukan untuknya. “Benar kata Ve, kita ke tempat lain aja.” Ucap Fara pelan lalu berbalik.
Mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke toko pernak- pernik di ujung jalan. “Lo enggak apa- apa kan Fa?” Ve, mengusap pelan punggung tangan Fara. Wajah khawatirnya tercetak jelas dengan mata yang menyendu.
Fara tersenyum dan balik menangkap tangan Ve, “Gue lebih kuat dari yang lo lihat Ve, tenang aja.”
Ve mengangguk dan memeluk Fara, mereka sama- sama tertawa. Dunia Fara bukan cuma soal Athan doang, masih banyak yang mesti di urus, Fara masih ingin sekolah dengan benar, les bahasa asing setiap sabtu minggu, mempersiapkan diri untuk kuliah kedokteran seperti mama, menjadi sukses tentunya. Ini hanya masalah hati yang akan pergi seiring berjalannya waktu, dunia Fara masih tetap indah walau tanpa seorang Athan. Jadi Fara memutuskan untuk tidak akan bersedih sama sekali.
__ADS_1
Fara akhirnya menyutujui sarah untuk ikut ke pestanya Dru. Toh, Fara juga enggak ada kesibukan malam minggu ini. Fara sudah izin ke mama untuk langsung menginap dirumah Sarah, jadi disinilah mereka bertiga, Sarah, Ve dan Fara, dirumahnya Dru. Ini pesta ulang tahun Dru yang ke tujuh belas, dapat dilihat dari banner yang terpasang di pinggir kolam renang. Yang Fara tau, Dru ini anaknya Arie Losso, penyayi senior yang sudah malang melintang di dunia musik tanah air, bahkan papanya Dru juga seorang juri dari ajang pencarian bakat, punya program acara sendiri juga. Yah wajar kalau Dru jadi anak band sekolah, bakat turunan dari bapaknya, buah kelapa jatuh gak jauh dari pohonnya.
Dru yang mengenakan kaus putih yang ditutup jas hitam dengan bawahan jeans bewarna senada langsung melambai kearah mereka bertiga sambil tersenyum, dia masih dikelilingi tamu undangan lain sehingga tidak bisa langsung menghampiri Sarah, Ve dan Fara. Dan ini melegakan Fara, karena jujur, dia enggak mau Dru datang menghampiri mereka. Dan benar, sampai MC membuka acara. Dru juga belum bisa melepaskan diri dari tamu- tamu papanya yang kebanyakan artis dan model itu.
“Lo lihat kan, circle pergaulannya Dru enggak main- main, gue yakin dia bakalan jadi bintang juga kayak bokapnya. Lo enggak bakalan rugi Fa.” Sarah berbisik ke Fara.
“Gue balik kalau lo bahas soal Dru lagi.” Fara menggertakkan gigi kesal, bukan tanpa alasan Fara mendelik kesal ke Sarah, pasalnya dari awal acara sampai acara formal ingin berakhir, Sarah terus sesumbar betapa hebatnya Dru.
“Kalau Dru begitu hebat, kenapa enggak lo aja yang deketin dia?” Ve bertanya polos ke Sarah, yang berakhir dengan tatapan membunuh Sarah yang dilayangkannya ke Ve.
“Masalahnya Dru sukanya sama Fara, bukan gue.” Tekan Sarah. Fara baru saja ingin bersuara saat tiba- tiba lampu padam semua, kemudian di detik berikutnya wajahnya silau terkena sorotan lampu terang mengarah padanya. Fara sampai memicingkan mata agar bisa melihat dengan jelas. Hanya Fara yang disoroti lampu, membuatnya mendadak kaku sebab jadi pusat perhatian seluruh tamu yang jumlahnya puluhan mungkin ratusan ini.
Dari atas panggung terdengar suara Dru yang dikeraskan melalui sound system, Dru berjalan menghampiri Fara dan berlutut tepat dihadapan fara sambil memegang satu besar buket bunga, “Lagu ini kupersembahkan untuk seorang gadis cantik yang selalu mengisi setiap sel otakku, hingga aku tidak bisa memikirkan apa- apa lagi selain dia. Fara I Love You, jadilah pacarku.” Dru mulai menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi alunan piano merdu, lagu itu sangat indah kalau saja Fara tidak sedang disoroti lampu seperti ini, tapi untuk saat ini, jangankan mengurusi nada lagu, untuk berdiripun Fara sudah kesusahan.
Sumpah demi apa, Fara ingin menghilang dari sini saat ini juga. Fara gugup setengah mati, dia ingin menangis, wajahnya sudah pucat, bahkan mata Fara sudah berair. Diperlakukan seperti ini ternyata sungguh mengerikan, seperti de ja vu, Fara terlempar ke masa lalu, dimana tanpa memperdulikan perasaan Athan sama sekali, Fara menembak cowok itu di tempat umum, ditengah teriakan dan tepuk tangan orang banyak, dia sempat melihat wajah Athan yang tampak pucat dulu, tapi Fara tidak peduli sama sekali, yang ia inginkan hanya anggukan Athan. Dan sekarang, semuanya berbalik, apakah ini karma, sebab Fara sama sekali tidak menginginkan ini terjadi, Fara tidak bisa mengangguk seperti Athan dulu, Fara tidak bisa.
Walau dia sangat ingin menyelamatkan harga diri Dru, tapi Fara tidak bisa mengangguk, seperti dulu athan mengangguk untuk menyelamatkan harga dirinya. Fara tau, ini karma, tapi kenapa harus sekarang, ditengah orang- orang yang menatap harap padanya. Fara menunduk menatap Dru, dia sangat menyayangkan keputusan Dru yang menyatakan cinta secara tiba- tiba seperti ini. Fara menutup mata, dia ingin menangis, tidak, tidak tidak, Fara terus merapalkan itu dalam hati. Fara baru saja ingin menggeleng ketika tangannya di genggam dari samping, sosok itu.”
“Sorry Dru, Fara masih pacar gue, lo enggak bisa main tembak kayak gini.”
To be Continue.......
__ADS_1
Like komen yaaaaaa biar besok di update lagi hehehehheh