
"Jadi lo gagal mutusin Ranathan?" Sarah bersedekap sambil menatap Fara, sementara Ve ikut mendengar sambil menutup kancing teratas dari baju seragamnya, Yah mereka sekarang berada di ruang ganti setelah sebelumnya mengikuti pelajaran olahraga pagi itu.
Fara menghembus poninya, "Gimana gue mau mutusin kalau Athannya bilang nyaman sama gue." ungkapnya pelan.
"What? Nyaman?" Kali ini Sarah tertawa. "Coba lo deskripsikan nyaman versi Athan itu gimana sih, ada gak orang selain Athan yang ngebalas chat pacarnya dua hari sekali? nge-chat pagi balesnya malam, gak niat banget punya pacar. Gua sih ogah punya cowok kayak gitu. Ganteng sih ganteng tapi kalau cueknya gak ketulungan mana tahan."
"Apa mungkin dia udah beneran suka sama lo Fa?" Ve yang selesai dengan baju nya bersandar pada lemari sambil ikut- ikutan bersedekap seperti Sarah.
Fara mengedikkan bahu, jujur saja, sampai sekarang dia sama sekali enggak bisa menebak isi kepala Athan, cowok itu enggak terbaca, Athan bisa cuek dan perhatian disaat yang bersamaan. Dia tipe cowok dingin yang gak suka flirting ke pasangan, tapi bisa ngasih perhatian tiba-tiba. Seperti dulu pernah Fara dibawain obat pas Fara mau berangkat kemah PMR, isinya obat magh, obat sakit kepala,obat gatal yang sudah dimasukkannya dalam kotak kecil, kata Athan apa coba waktu itu,"Takut magh kamu kambuh disana." Padahal sehari sebelum berangkat, pas Fara cerita kalau dia mau ikut lomba PMR, nginap di tenda 2 malam, respon Athan cuma, "Oh, hati- hati." Eh besoknya tiba-tiba Athan datang bawain obat.
Athan memang cuek, seringnya nyakitin Fara dengan sikap cuek dan dinginnya itu, sampai- sampai Fara berfikir kalau sebenarnya Athan gak bahagia sama dia. Tapi sampai saat ini pun Athan juga enggak pernah jahat sama Fara, Athan enggak pernah selingkuh dibelakang Fara, cowok itu juga enggak pernah ngomong kasar sehebat apapun pertengkaran mereka.
"Semuanya tergantung sama lo sih Fa, kalau lo yakin lo bakalan bahagia sama manusia es kayak Athan ya monggo dilanjutkan hubungan kalian, tapi kalau lo merasa hubungan lo cuma toxic ya mendingan putus." Ve menepuk bahu Fara pelan. "Kan lo yang ngejalani, bukan kita."
"Menurut gue sih mending putusin aja, lo cari lagi cowok yang benar- benar cinta sama lo. Tuh gue dengar- dengar Andaru anak IPS 3 udah lama naksir sama lo." Sarah tersenyum, tapi entah kenapa Fara menangkap senyum itu hanya kamuflase belaka. Diantara Sarah dan Ve, memang Sarah yang sejak dulu menentang hubungan Fara dan Athan, Fara enggak tahu masalahnya dimana, tapi Sarah sejak awal memang terlihat enggak suka ke Athan.
Fara menghembuskan nafas pelan,"Gue coba jalani dulu." Ucap Fara kemudian.
"Tapi awas aja lo merengek ke kita soal Athan, Athan ginilah, Athan gitu lah." Sarah mendelik mengancam Fara.
"Tenang, kalau Sarah gak mau dengar, masih ada gue yang siap jadi tong sampah pikiran lo, cerita aja ke gue." Ve menyengir sambil menggandeng tangan Fara.
Fara memutuskan untuk menjalaninya dulu, bukan apa-apa, karena Fara pikir mungkin masih ada harapan. Saat jatuh cinta pada Ranathan, saat memutuskan untuk mengutarakan perasaannya terhadap Ranathan, saat bersedia melakukan apa saja demi bisa bersama Ranathan, pun sampai hari ini menjadi pacar Ranathan meskipun tahu cowok itu mencintai perempuan lain, Fara memiliki satu hal yang membuatnya terlihat baik-baik saja, yakni harapan.
Harapan kalau suatu hari nanti, semua ini akan sepantar. Harapan kalau suatu hari nanti Ranathan bisa melupakan indira kemudian belajar mencintai Fara. Harapan suatu hari nanti Ranathan bisa mencintai Fara sebanyak Fara mencintai cowok itu. Tapi jika suatu saat dia sudah kehilangan harapan itu, I promise, I'll leave him. Ucap Fara dalam hati.
...***...
Hari minggu biasanya dihabiskan Fara untuk mager sampai sore, jika enggak ada telpon dari Sarah maupun Ve yang ngajakin kumpul, atau enggak ada kegiatan Athan yang mesti ia ikuti, seperti nemenin Athan main game sampai Fara ketiduran. Percaya atau enggak, Fara pernah melakukan hal bodoh seperti itu, Fara pernah nekat ngapelin Athan ke rumahnya, beruntung saat itu dirumah Athan cuma ada Athan dan adeknya, orangtuanya sedang ada kerjaan di luar kota.
__ADS_1
Athan jelas kaget saat mendapati sosok Fara berdiri di depan rumahnya, dia terus melongo sampai bocah sekitar 6 tahunan mengagetkannya dari belakang."Siapa bang?"
Athan menoleh sebentar pada bocah sambil bergumam, "Teman abang." Lalu ia kembali fokus ke Fara, "Masuk." Dia membuka pintu lebar dan mempersilahkan Fara masuk. Fara tersenyum pada sang bocah sambil mengikuti Athan, tentu saja diiringi tatapan penasaran dari sang bocah yang merupakan adik perempuan Athan itu.
Rumah Athan adalah gambaran rumah mewah modern dengan campuran cat berwarna cream dan gold. Setiap sudut ruangan meneriakkan kata expensive, wajar sih, yang Fara tau keluarga Athan memiliki perusahaan Farmasi besar di Jakarta dengan beberapa anak perusahaan.
Athan enggak bertanya kenapa Fara bisa muncul tiba-tiba dirumahnya, cowok itu mengambil minuman kaleng dan beberapa cemilan, lalu duduk disebelah Fara.
"Aku mau lanjut main game, tanggung nih. Kamu bisa duduk aja atau nemenin Andien main berbie." Athan menunjuk Andien sang adik dengan dagunya.
Andien tersenyum sumringah, seolah baru saja mendapat teman baru, bocah itu mendekat ke Fara, "Kakak, kita main boneka berbie Yuk."
Fara menoleh ke Athan sebentar yang sekarang sudah kembali fokus ke layar ponsel, jangan ditanya sekesal apa Fara saat itu, tapi pilihan bermain boneka berbie juga enggak terlalu buruk, sudah lama juga Fara enggak merasakan sensasi menggonta- ganti gaun boneka.
Fara diajak Andien ke ruang tengah, disana ada rumah berbie berukuran 1,5 meter dengan tinggi hampir 2 meter, luar biasa. Ada sekitar 20 boneka berbie original yang berjejer cantik disana, lengkap dengan tempat tidur dan lemari pakaian.
"Kenalan dulu kak, ini namanya Merliah, ini Eris, ini Callisa, ini Xyle, dan ini Fallon." Andien menunjuk berbie- berbienya. Dan Fara magut-magut.
"Ada kak, namanya Thomas, dia pacarnya Callisa." Andien berbisik.
"Oke, berarti Callisa jadi Snow white nya, Thomas jadi pangeran. Kita main cerita Snow white aja, mau?"
Andien mengangguk antusias. Dan untuk selanjutnya mereka seru bermain sampai pengasuh Andien mengajak bocah itu tidur, karena sudah jadwalnya tidur. Andien tampak keberatan, tapi sepertinya orang tua Athan menanamkan nilai disiplin pada anak mereka hingga seorang Andien yang masih bocah telah terbiasa dengan aturan. "Kakak kapan main lagi kesini?" Ucapnya sebelum pergi ke kamar.
"Belum tau sih, tapi kakak janji kapan- kapan main kesini lagi."
"Janji ya?"
"Janji." Ucap Fara yakin.
__ADS_1
Athan masih fokus pada ponselnya ketika Fara kembali duduk disebelah cowok itu."Aku pulang ya."
"Masih hujan, tadi kesini pake apa?" Itu suara Athan yang matanya masih fokus ke game.
"Naik Grab."
"Tunggu disini dulu, nanti biar aku antar pulang."
Fara melirik jam tangannya, sudah jam 12 siang, sementara diluar masih hujan deras. Akhirnya Fara memutuskan untuk mengikuti saran Athan, dia duduk disofa tepat disamping Athan, dengan sabar menunggui cowok itu sampai Fara enggak tau sejak kapan matanya mulai terpejam dan kepalanya bersender nyaman dibahu Athan.
...****************...
Kejadian itu tentu saja sudah lewat berbulan lalu, dan Fara enggak menepati janjinya untuk bermain lagi dengan Andien. Sampai minggu ini ketika sudah bosan mager, Fara akhirnya keluar rumah menuju Gramedia, mencari buku bacaan. Dan....
"Kak Faaraaa..."
Fara tentu saja menoleh ketika namanya dipanggil dengan antusias.
Andien...
Dia bersama wanita cantik seumuran mama, apa itu mamanya, yang artinya mama Ranathan juga kan ya.
Andien berlari ke arah Fara, diikuti oleh langkah lebar wanita yang bersamanya.
"Katanya janji mau main kerumah lagi, kok enggak ada."
Fara meringis mendapati wanita bersama Andien mengeryit heran. "Fara, te. Temannya Athan, dulu pernah main ke rumah Athan." Fara memperkenalkan diri sopan.
"Oh Fara, Pacarnya Athan ya, Athan pernah cerita soalnya."
__ADS_1
Glekkk...