
AGA
Athan masih menatapku sengit, wajahnya bahkan enggak beralih sedetikpun dariku sesaat setelah Raya benar-benar menghilang dari ruangan.
"Why...?"
"Hahh.." Aku berkedip mendengar ucapan Athan. Umurnya masih 5 tahun dan dia sudah bisa mengintimidasiku yang notabene berusia hampir 6 kali lipat darinya. Athan memang luar biasa, punya bakat jadi seorang penyidik di kepolisian, dia memiliki sesuatu dalam dirinya yang membuat lawan bicara enggak bisa berkutik. Mungkin aku harus mempertimbangkan soal cita-cita Athan kedepan, bekerja di badan intelijen nasional patut dijadikan pilihan. Ada rasa bangga terselip didada melihat bahwa Raya sudah melahirkan anak yang begitu cerdas.
"Why? kenapa oom enggak kenal ke Athan waktu kita pertama kali ketemu dulu... "
"....."
"Semua papa mengenali anaknya. Oom enggak."
".... "
"Oom bohong kan, oom cuma mau ambil ibun. Enggak ada yang boleh ambil ibun, ibun selamanya cuma punya Athan...dan papa."
Oh my God, aku papamu boy, kepalaku pening sendiri, aku harus mulai darimana untuk menjelaskan ke Athan. Mengatakan yang sejujurnya kalau aku juga baru tau tentang Athan adalah pilihan terakhir yang enggak akan aku utarakan. Athan dengan segala analisisnya memang membuatku berdecak kagum sekaligus takut disaat yang bersamaan.
__ADS_1
Aku menatap lekat ke mata bundar Athan, Athan mewarisi mata Raya, mata besar dan sendu, seperti mata bidadari, begitulah aku menyebutnya. Tapi mata itu kini tengah balik menatapku awas, layaknya seorang panglima perang yang menggertak musuh agar mundur dari medan pertempuran. Athan tak bergeming.
Aku menghela nafas pelan, "Papa minta maaf.." ucapku lirih, "papa enggak tau harus mulai darimana, papa- papa... minta maaf."
***
RAYA
Aku enggak bisa menyembunyikan perasaan khawatir ketika meninggalkan Aga dan Athan berdua. Aku merasa bersalah pada keduanya. Ku akui, baik aku maupun Aga, kami salah strategi. Aku terlalu bersemangat dan terlalu cepat mempertemukan mereka. Seharusnya aku masuk perlahan dengan memberikan pengertian dulu ke Athan. Tapi ya sudahlah, semua sudah terjadi.
Aku pasrah berdiri dibalik gorden yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga. Mencoba menguping pembicaran mereka. Ku intip, wajah Aga tampak pias, dia seperti terlihat kesulitan untuk menjelaskan ke Athan. Dan seharusnya bukan Aga yang menjelaskan ke Athan, tapi akulah orang yang paling bertanggung jawab untuk memberi penjelasan ke Athan.
Perlahan aku masuk lagi ke ruang tamu, dimana dua orang yang paling berharga dalam hidupku tengah saling menatap. "Athan sayang, bunda boleh ngomong ke Athan?" ucapku pelan.
Athan cukup kaget melihat foto itu. "Ini Ibun kan?"
Aku mengangguk pelan, "Dan ini papa... Papa Athan." Aku menunjuk gambar Aga yang saat itu tengah merangkul bahuku. Kami sama-sama tersenyum difoto itu, Ian yang mengambil gambarnya lewat ponselku.
"Athan waktu itu masih diperut bunda."Aku menunjuk perutku di foto itu. "Dan papa harus pergi melanjutkan sekolah, jadinya ibun yang jagain Athan."
__ADS_1
Athan masih nampak bingung, berkali-kali dia melirikku dan Aga bergantian." Kenapa papa pergi?"
"Papa harus sekolah lagi, sekolah yang lebih tinggi di tempat yang jauuh."
Sepertinya Athan enggak puas dengan jawabanku, namun untuk bertanya lagi, dia pun tampak bingung. Athan membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi.
"Yang terpenting sekarang, papa ada disini, sama kita." Aku tersenyum penuh arti dan kembali memeluk Athan, "Nanti kalau waktunya pas, Athan sudah cukup mengerti, ibun janji bakalan ceritakan semua ke Athan ya, untuk sekarang Athan percaya sama ibun dulu kalau oom itu papa Athan." bisikku.
"Athan percaya kan sama ibun?" Aku mengurai pelukanku.
Athan menatap Aga sebentar kemudian mengangguk. Tapi detik berikutnya dia menarikku menjauh dari Aga. "Ibun,,, oom itu enggak kenal ke Athan waktu dulu, pas ketemu dirumah temannya aunty Siska. Terus dia tanya Athan siapa..."
"Papa enggak ngenalin Athan, karena memang papa belum pernah ketemu Athan kan... Makanya ibun kenalin sekarang ke Athan." Aku menatap Athan dalam, "Athan percaya ibun kan nak?"
Sekali lagi Athan mengangguk dihadapanku, namun sekali lagi Athan bertanya," Papa sekolahnya jauh ya bun sampe enggak bisa pulang ketemu Athan?"
Aku menghela nafas pelan sebelum mengangguk, ada yang teriris didadaku mendengar pertanyaan Athan yang polos, bagaimanapun Athan adalah korban dari keegoisanku dulu. Dan aku sangat menyesali itu.
Kami kembali mendekati Aga, "Sekarang, ayo cium tangan papa." Bisikku pelan ke Athan. Dan syukurlah kali ini Athan mematuhiku. Dia berjalan pelan dan menyalami tangan Aga. Dan Aga langsung meraihnya kedalam pelukan.
__ADS_1
Mataku memanas menyaksikan pemandangan ini. Baik aku maupun Aga, kami sama-sama menangis dalam diam. Aku ikut bergabung memeluk mereka. Mulai saat ini aku berjanji enggak akan memisahkan mereka lagi. Bagaimana pun keadaan kami dan apapun yang akan terjadi dimasa yang akan datang, kami akan selalu bersama.
TO be continue...