
“Abang kalau mau pulang, gak papa. Biar ibun yang jagain Dira.” Suara ibunya Athan mengagetkan laki- laki itu yang lagi fokus ke ponselnya sejak tadi. Wajah Athan kusut persis seperti orang yang sedang lari dari kejaran hutang.
“Hah..” Athan mendongak sebentar kemudian menoleh ke arah tempat tidur rumah sakit dimana Dira sedang terbaring lemah. Dira didiagnosa Thalasemia sejak usia dua tahun, penyakit kelainan genetik yang mempengaruhi produksi sel darah merahnya, sehingga Dira harus bergantung dengan transfusi darah sepanjang hidupnya.
Dira adalah anak kerabat jauh dari papa Athan. Dia tinggal bersama neneknya, rumah mereka hanya berkelang 2 rumah dari rumah Athan. Sejak orangtuanya meninggal lima tahun lalu, Dira berada dibawah pengawasan neneknya yang dipanggil papa Athan sebagai bude dan mereka sudah seperti keluarga bagi Athan.
Athan di telpon ibunya pukul lima subuh waktu Bali, katanya Dira pingsan. Ibun cuma bilang Dira dirawat, tapi jam 6 pagi ibun kembali menelpon Athan, beliau bilang stok darah AB rhesus negatif kosong untuk transfusi Dira. Dira sudah melakukan transfusi darah rutin tiga bulan sekali sejak usianya masuk 5 tahun. Biasanya kalau stok di PMI kosong, maka Athan yang akan mendonorkan darahnya, kebetulan Athan dan Dira memiliki golongan dan rhesus darah yang sama. Jadilah jam setengah tujuh tadi Athan bertolak ke Jakarta mengambil penerbangan terpagi dari Bali.
“Kamu kenapa bang?” Ibun menatap aneh ke arah anak laki- lakinya itu. Tidak biasanya Athan tampak frustasi seperti saat ini, matanya suntuk, garis wajahnya juga keras sejak tadi. Apakah ada masalah di Bali yang dia tinggalkan.
Tapi Athan hanya menggeleng lemah,”Aku pulang ke rumah, bun.”
“Ada masalah?”
“Enggak.”
“Kamu beda.”
“Beda apanya bun, cuma capek aja.” Athan berkilah sambil membuang muka, tidak mau menampakkan mimik wajahnya pada sang ibun.
Athan sejak kecil memang terkesan cuek dan dingin. Dia jarang sekali menampilkan emosi yang dia rasakan ke orang- orang, jadinya terkesan datar, kalau ngomong ya seperlunya. Cowok ini tidak tahu cinta, tidak tertarik dengan hal- hal berbau romantisme. Makanya pas ketahuan kalau ada foto perempuan cantik yang nangkring dilaptopnya Athan, ibun langsung mencecar anaknya itu. Ditambah lagi Athan yang mengaku kalau perempuan yang jadi wallpaper itu adalah pacarnya. Kan bisa dibayangkan bagaimana senangnya hati ibun.
Tapi melihat betapa kacaunya Athan saat ini, membuat ibun penasaran, apa ini ada hubungannya dengan si Fara Fara itu. “ Fara apa kabar, bang?” Ibun akhirnya bertanya juga.
“Baik.”
“Enggak main ke rumah lagi?”
“Sibuk.”
Udah cuma itu doang, dan ibun yang tadinya mau bertanya lagi jadi urung ketika melihat sepertinya anak laki- lakinya itu lagi benar-benar bad mood.
***
__ADS_1
“Mau ikutan?” Fara memicingkan matanya kearah pantai mendengar tawaran Dru barusan, disana di laut dengan ombak sedikit bergelombang, Sarah dan yang lain sedang asyik bermain banana boat sambil berteriak- teriak girang.
“Enggak ah, gue nonton dari sini aja.”
“Hmmm, kalau gitu gue nemenin lo nonton dari sini juga.” Dru menyengir lebar.
Mereka diam, sibuk dengan kegiatan masing- masing. Fara yang masih betah bertahan menatap ke arah laut, dan Dru yang fokus ke ponselnya.
“Fa, bantuin gue, mau?”
“Bantuin apa?” Fara mengalihkan tatapannya dari laut dan beralih ke Dru.
“Jadi model video klip gue.”
Fara mengernyitkan dahinya dalam. Dia tahu kalau Dru saat ini sedang ada project single yang dia ciptakan sendiri diluar dari band nya. Tapi meminta Fara untuk jadi model sebuah lagu, wait, lucu aja dengarnya kan.
“Enggak ada orang lain apa?”
Fara tidak tahan untuk tidak tertawa, ini pasti modusnya Dru, apalagi.”Iya kali gue yang jadi modelnya, entar ancur project lo gimana.”
“Lo kan anak teater, gue juga pernah nonton drama musical kalian pas kenaikan kelas, bagus banget.”
“Ya bedalah Dru, gue gagap kalau depan kamera.”
“Coba aja dulu, ini konsepnya sederhana kok. Lagunya tentang cinta sendiri, dimana sang cewek udah lama mencintai seseorang, tapi ternyata dia cuma cinta sendiri.
Fara terdiam, ini lagu minta di sleding, nyindir Fara banget sih. Fara mengangguk singkat kemudian beraih ke arah laut lagi, dilihatnya Sarah, Ve dan yang lain sudah berhenti bermain banana boat, rombongan sedang berjalan mengarah ke Fara.”Gue pikir- pikir dulu deh.” Ucapnya kemudian.
“Gue tunggu kabarnya ya.” Dru menyengir lagi, Fara heran, ini anak kok hobi banget nyengir.
***
Setelah menyelesaikan rentetan acara tour di Bali. Akhirnya, Rabu pagi Fara dan teman- temannya kembali ke Jakarta. Satu- satunya hal yang ingin Fara lakukan ketika sampai dirumah adalah tidur sepuasnya. Fara melirik sekilas ponselnya yang sepi dari gangguan Athan sejak Fara memblokir nomor cowok itu.
__ADS_1
Yah, Athan tidak lagi berusaha untuk menelponnya lewat nomor baru. Tapi langsung menemui Fara ketika disekolah keesokan harinya.
“What I did wrong to you?” Itu ucapan Athan ketika akhirnya dia berhasil membawa Fara ke depan gudang peralatan olahraga, tempat yang lumayan agak sepi dari jangkauan anak- anak lain.
Mata Fara sampai melotot, ini si Ranathan yang terhormat menanyakan apa kesalahannya pemirsa. Dia yang ninggalin Fara gitu aja setelah mencium cewek itu, dia yang memilih pergi menemui Dira setelah ngomong kalau dia mencintai Fara, sekarang menanyakan apa kesalahannya.
Fara mengangkat kepala,”Kamu serius nanya apa kesalahan kamu?” Suara Fara terdengar sinis.
“Kamu enggak pernah mikirin perasaan aku, aku selalu jadi pemain cadangan buat kamu, iya kan. Kamu enggak nyadar sikap kamu selama ini selalu nyakitin aku. Sekarang kamu tanya apa kesalahan kamu? Yah, seorang Ranathan enggak pernah salah kok.”
“Fa, aku enggak ada maksud pergi gitu aja. Dira sakit, makanya aku langsung pulang kemarin.”
“Selalu Dira... “ Desis Fara pelan. “Dira Dira Dira......Yang ada dimata kamu itu cuma Dira.” Suara Fara mulai meninggi.
Sumpah Fara ingin menangis kalau tidak ingat gengsinya, matanya bahkan sudah berkaca saat ini, “Iya, kan selalu Dira!!! aku nyaris berfikir kamu beneran suka aku. Untung cuma nyaris ya, kalau sampai terjebak lagi, kayaknya aku bakalan gila beneran.”
“kamu salah paham, Dira dan aku cuma sahabat, dia udah aku anggap seperti saudaraku sendiri.”
“Sahabat??” Fara mendengus tertawa.” Biar aku kasih tahu, mama dan papaku sahabat sejak mereka dari dalam kandungan, dari mereka bayi mereka udah sama- sama and see, sekarang mereka sepasang suami istri yang saling mencintai. Enggak ada hubungan persahabatan antara laki- laki dan perempuan yang enggak menimbulkan rasa diantara keduanya. Kalau enggak cewek yang duluan naksir, pasti cowoknya.”
“Fa...” Athan memohon agar perempuan itu berhenti, dia berupaya mendekatinya, tapi Fara menghindar.
“Don’t touch me!” peringatnya. “Aku gak boleh percaya....aku gak seharusnya percaya sama kamu.” Fara menggeleng.
Athan memejamkan matanya, menghembuskan nafas panjang, kemudian membuka matanya kembali dan menatap Fara, “I’m sorry, aku benar- benar enggak ada niat buat nyakitin kamu. Kamu salah paham, Fa.”~~~~
“Sekarang aku tanya. Kalau aku dan Dira masuk ke jurang yang sama, siapa yang lebih dulu kamu selamatkan?”
Athan terdiam, wajahnya mengeras. Fara yakin cowok itu tidak bisa menjawab. “Kamu berlebihan Fara.” Ucapnya kemudian.
“Kamu enggak bisa jawab kan? Mungkin sekaranglah saatnya kamu berfikir, yang kamu cinta itu bukan aku melainkan Dira, kamu hanya belum menyadarinya saja.” Ucap Fara pelan, kali ini pertahanannya runtuh, air mata sudah jatuh, dan Fara sangat membenci ini.
To be Continue...
__ADS_1