
Raya
Mataku berkaca ketika mama melepaskan pelukannya. Mama masih menangis, sementara aku berjalan gontai memasuki kamar, aku perlu berfikir sendiri. Kejadian ini terlalu mendadak, hatiku belum siap.
Belum juga genap satu minggu aku merasakan bahagia sebab bisa berkumpul kembali dalam satu keluarga yang utuh. Dan sekarang, aku sudah ditampar realita yang menyedihkan. Ternyata kebahagiaan kemarin hanya mimpi. Yang sesungguhnya terjadi adalah, aku tengah digiring ke jurang dalam tak berdasar.
Aku mengusap air mata ketika kudengar suara ribut-ribut diluar. Itu suara ayah, berteriak memaki mama, dan mama seperti dulu-dulu balas berteriak tak mau kalah. Hatiku bertambah nyeri mendengar mereka.
"Apa salahnya? Pak Horizon duda, dan dia bisa membebaskan semua hutang kita kalau Raya mau jadi istrinya!"
"Raya masih kuliah!!"
"Raya masih bisa kuliah, walaupun sudah menikah!!"
Aku mengintip dari celah daun pintu yang terbuka, ayah dan mama masih bersitegang di ruang tamu.
"Kita bisa membebaskan Fiza, kita bisa membawanya ke panti rehabilitasi atau membawanya ke rumah sakit jiwa. Raya akan terjamin masa depannya, pak Horison orang kaya, Raya tidak akan bernasib seperti kita kalau dia menikahi pak Horison."
Aku masih betah menguping di balik pintu dengan dada yang bergemuruh. Jujur aku ingin memberontak, aku enggak mau menikah dengan pria yang umurnya saja sebelas dua belas dengan ayah, aku masih ingin menikmati masa muda, aku ingin tetap kuliah tanpa dibebankan embel-embel pernikahan, aku ingin menikah dengan seseorang yang aku cintai, aku ingin menyuarakan pendapatku itu. Tapi bibirku kelu. Jangankan untuk keluar dan menyela pembicaraan mereka. Untuk berdiri pun aku sudah enggak sanggup. Tubuhku bergetar hebat dengan airmata yang tak mau berhenti mengalir.
Keesokan harinya, pria yang disebut-sebut mama dengan panggilan pak Horison itu benar-benar datang. Dia beserta bodyguard nya yang seratus kali lebih menyeramkan dari bang Ijal itu menjemput kami. Tanpa meminta persetujuanku apalagi pendapatku, mama mengemas semua pakaikanku ke dalam koper.
Aku masih menangis saat mereka membawaku, mama dan ayah ikut tapi di mobil yang berbeda. Aku duduk bersebelahan dengan pak Horison, dengan wajah ditekuk, aku terus menghadap kearah jendela, sampai-sampai leherku rasanya kram.
"Siapa nama kamu?" Itu suara pak Horison yang sekian lama hanya diam.
Aku tetaplah Raya, gadis baik hati, sopan yang enggak pernah mengabaikan pertanyaan orang tua sekesal apapun suasana hati. Orang tua?? Iya, pak Horison kan orang tua. Maka aku menoleh dan menjawab pertanyaannya.
"Soraya pak."
Pak Horison mengangguk pelan, "Sudah tau kenapa kamu dibawa?"
"Mau dinikahkan sama bapak." Jawabku polos, sepolos tatapan bayi. Dan pak Horison tersenyum geli, tentu saja. Nih anak pasrah banget mungkin pikirnya.
"Kamu tau hutang mama kamu berapa ke saya?" Lanjutnya.
Aku hanya menggeleng pelan.
"Tiga ratus juta, dan itu belum dihitung bunga selama dia melarikan diri. Menikahi kamu pun rasanya belum sebanding dengan hutang orang tua kamu itu."
Aku hanya menatap bapak tua ini datar tanpa ekspresi, mati sudah, hidupku benar-benar sudah end, tadinya kupikir bisa bernegosiasi atau apalah, tapi melihatnya yang menggebu membicarakan uang, dan membandingkan hargaku dengan hutang mama, membuatku merasa skeptis untuk sekedar bersuara. Yang ada hanya pikiran bagaimana cara aku bisa melompat dari mobil ini, syukur - syukur kalau ada truck lewat dan langsung menggilas tubuhku. Tuh kan, otakku isinya cuma mau mati.
Kami tiba dikediaman pak Horison hampir tengah hari, tapi hanya ada mobil kami, mobil yang ditumpangi mama dan ayah enggak ada. "Ayah sama mama...?" Tolehku pada bapak tua yang sialnya akan jadi suamiku beberapa jam ke depan.
__ADS_1
"Mereka istirahat di hotel, besok pagi baru kesini."
"Terus saya..?"
"Kamu disini, dibawah pengawasan saya, karena saya tidak mau ada drama pengantin wanita yang melarikan diri di hari pernikahan."
Good, bapak tua ini baru saja memberikanku ide bagus, tadinya aku enggak kepikiran buat melarikan diri, keran otakku sudah mampet duluan. Tapi kini, aku jadi memikirkan bagaimana caranya bisa kabur dari sini.
Aku diantar ke lantai dua, ke sebuah kamar besar dengan jendela yang menghadap ke halaman belakang. Netraku menyusuri setiap sudut ruangan, hanya ada tempat tidur, meja hias dan lemari pakaian. Tak lama beberapa wanita berseragam Pink dengan label nama dari sebuah calon kecantikan masuk. Tanpa tedeng aling- aling mereka melakukan perawatan pada tubuhku, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku bahkan sampai tertidur saking menikmatinya.
Mereka ada tiga orang, satu orang memegang rambutku, satu orang membersihkan kuku, satu orang lagi sedang sibuk menyusun peralatan. Aku memicingkan mata, dan mulai berfantasi untuk menyekap salah satu dari mereka, melucuti pakaiannya, dan menyamar menjadi salah seorang diantara mereka untuk keluar dari sini. Detik berikutnya aku tersenyum, hal semacam itu hanya ada di film, tentu saja.
Aku menghembuskan nafas kasar demi mengusir isi brain ku yang mulai error. Hari sudah mulai gelap ketika para gadis salon itu menyudahi pekerjaan mereka. Tubuhku kini sudah harum, dengan rambut beraroma mawar, serta kulit wajah yang kental dan segar, andai dalam suasana berbeda mungkin aku akan sangat mensyukuri perubahan tubuhku saat ini. Pak Horison datang sekedar memberitahu untuk tidur lebih cepat karena besok adalah hari penting, penting untuknya dan sangat enggak penting untukku.
Alih-alih memejamkan mata, aku malah membuka jendela, cahaya bulan yang tertutup separuh oleh awan tampak ikut mengasihani perjalanan hidupku. Jika hidup bisa di reset, aku ingin sekali mengulang lagi dengan cerita yang berbeda. Aku ingin dilahirkan dari keluarga yang normal, bisa melanjutkan pendidikan setinggi dan sejauh yang kubisa. Tapi sekarang, mimpi untuk memakai toga dihari wisuda pun rasanya begitu sulit.
Hanya Tuhan yang tahu, betapa aku ingin menyelesaikan pendidikanku, menjadi seorang sarjana dan bekerja di perusahaan farmasi yang kuidam- idamkan sejak dulu. Lagi-lagi airmata ku mengalir jika memikirkan itu semua. Ayah dan mama enggak akan pernah mengerti tentang ini semua. Mereka hanya tahu uang, uang dan uang. Dan sialnya lagi, aku sangat menyayangi mereka, hatiku begitu rapuh jika itu menyangkut keduanya. Aku pernah membenci mama karena meninggalkanku dulu, serta muak dengan ayah dan pekerjaannya. Tapi untuk kesekian kalinya, sayangku ke mereka membuatku hancur seperti ini.
****
Pukul lima subuh aku dibangunkan, beberapa wanita yang berbeda tapi memakai seragam yang sama persis dengan yang kemarin datang mulai sibuk mendandaniku. Aku dipakaikan kebaya putih gading dengan leher rendah hingga mengekspose leher dan pundakku.
Satu wanita sibuk memasang kancing- kancing kebaya dibagian belakang punggungku. Membuatku jengah sendiri sebab hampir dua puluh menit, dia masih berkutat dengan kancing bulat- bulat yang terpasang rapat di punggungku. Kenapa enggak pake resleting saja sih, lebih praktis ketimbang kancing kecil yang harus dipasang satu- satu itu.
Akhirnya dua jam mereka berhasil menyulapku menjadi seorang putri keraton dengan kembang goyang diatas kepala, aku saja pangling melihat penampilanku saat ini apalagi orang lain. Mereka keluar dan menyuruhku untuk tetap menunggu didalam kamar. Sepeninggal wanita- wanita itu, aku kembali sendiri menunggu untuk dieksekusi. Kutarik nafas panjang, ingin menangis rasanya sudah tak ada lagi airmata yang bisa dikeluarkan. Sampai sebuah suara mengagetkanku.
Aku terkesiap, di jendela ada sosok Aga yang sedang berusaha membuka kaca jendela dengan berpijak pada undakan semen. Fix, aku mulai berhalusinasi, sampai melihat Aga yang sudah seperti Spider-Man merayap di dinding. Tapi sosok itu begitu nyata, aku sampai mengucek mataku berkali-kali dan akhirnya mendekati jendela.
"Aga...?"
"Buka Rapunzel... Pangeran datang menjemputmu."
Dengan tangan bergetar aku membukakan jendela, dia benar-benar Aga. Aku langsung menubruk tubuh Aga dan memeluknya erat sambil terisak.
"Are you okay?" Aga mengelus punggungku pelan.
Aku terpaku menatap Aga, kepalaku penuh berisi pertanyaan- pertanyaan, yang kesemuanya bermuara pada kenapa Aga bisa disini??? Tapi persetan dengan itu semua. Aku ingin kabur bersama Aga.
"Bawa aku pergi dari sini."
"Memang itu tujuanku kemari. Tapi ngomong- ngomong kamu cantik sekali."
Sempat- sempatnya aku terkekeh dan tersipu menanggapi lip service yang tak berarti dari Aga, namun realita seolah menghempaskanku kembali bahwa hidupku saat ini berada diujung tanduk.
__ADS_1
"Ayo.. "
Mataku terbelalak ketika Aga mengajakku keluar dari jendela dan terjun dengan ketinggian hampir 4 meter itu. Seolah mengerti ketakutanku, Aga meraih seprai dan kain yang ada ditempat tidur, mengikatnya dan mengaitkannya di celah jendela.
Okay, katakanlah ini gila. Aku bergantung seperti tarzan untuk turun ke bawah dan bruukkk tubuhku jatuh sempurna di lantai semen, sementara Aga menyusulku turun.
"Raya!! kamu enggak papa kan?"
Aku menggeleng sambil meringis kesakitan, siku tanganku terbentur semen tadi. Aga meraih tanganku dan membawaku ke bagian belakang rumah pak Horison.
"Kita harus melewati pagar itu, ayo."
What? pagar setinggi 3 meter. Bagaimana caraku naik dengan menggunakan kebaya, kembang goyang diatas kepalaku makin heboh saja bergoyang.
"Aga... aku pakai rok." Cicitku.
"Naikkan rok nya, aku ambil tangga di gudang."
Mataku nanar melihat sekeliling, takut ada yang melihat aksi kami, sementara Aga mengambil tangga lipat yang sangat kebetulan teronggok di samping bangunan, ku prediksi itu adalah sebuah gudang.
Aku sudah menaikkan rok batik bermotif burung bangau yang kupakai sampai setengah paha.
"Aku duluan yang naik." Aku sudah naik ke tangga, sementara Aga menahan benda itu dari bawah.
"Wow, pink." Aga bersiul.
"Agaaaa!!! Jangan intip celana dalamku, brengsek!!
Aku sudah sampai di atas pagar dan ketakutan untuk melompat. Di balik pagar sudah ada Ian yang siap menyambut tubuhku.
"Raya,,, lompat,, jangan takut,, ada gue." Ian merentangkan tangannya penuh keyakinan. Sudah enggak ada waktu lagi, sebelum anak buah pak Horison mengejar kami. Aku melompat.
BRUAAAKKK...
Tubuhku jatuh sempurna ke pelukan Ian. Aku berada diatas tubuh Ian, menempel tak berjarak. Lengkap sudah, malu ku sudah tercabut sampai ke akar- akarnya pada dua pria ini.
"Enggak papa kan, Ray?" Ian menatap cemas padaku, aku menggeleng lalu menurunkan rok ku lagi.
"Mereka melihat kita!!!" Aga yang baru melompat dari tembok berteriak.
Kami panik lalu masuk ke dalam mobil secepat angin, benar kata Aga, kami ketahuan. Beberapa anak buah pak Horison sudah berlari ke arah mobil kami.
"Iaaannn, jalaaaan!!!! "
__ADS_1
***To be continue
Happy reading ya***.....