
Aga
Kalau boleh jujur, sesungguhnya aku bosan setengah mati berada disini. Seorang Aga berhasil memecah rekor dengan berada di perpustakaan selama hampir 4 jam, woow. Aku berdecak kagum sendiri. Sebenarnya apa yang kulakukan disini?
Entahlah, aku bisa jadi bodoh jika itu menyangkut Raya. Soraya... Gadis itu benar-benar membuatku pusing. Minggu kemarin aku dengan semangat menggebu membawa martabak manis toping keju yang kudapat setelah mengantre hampir satu jam ke kontrakannya. Tapi apa yang kudapat disana, kontrakan Raya sudah kosong. Raya pindah, dan dia enggak mengabari ku sama sekali. Keterlaluan....
Gadis itu seperti menjauhiku, seminggu ini aku mengejarnya. Tapi Raya begitu lincah seperti ulat nangka. Dan kali ini aku enggak akan melepaskannya. Ku lirik sebentar Raya yang masih fokus menyusun buku, aku sengaja memilih bangku paling depan dekat dengan pintu masuk, agar bisa memantau gerak-gerik Raya.
Tepat pukul 5 sore, aku hampir berteriak kegirangan sebab penderitaanku berakhir. Dengan cepat aku menutup laptop, membereskan meja dan mengembalikan buku-buku yang kuambil tadi ke tempat semula. Aku menyandang tas ranselku menunggu Raya didepan pintu.
Sepuluh menit, aku menoleh sebab Raya enggak muncul- muncul. Aku kembali masuk ke dalam perpustakaan tepat saat Emily berjalan keluar.
"Hai, Ga...."
"Hai.. Raya nya mana, Em?" aku menoleh ke belakang Emily, tapi enggak menemukan siapapun.
"Oh,, Raya.. Tadi sakit perut, pulang duluan dia."
"Pulang duluan gimana? Dari tadi gue didepan pintu, gak nemu Raya keluar?"
"Ohh, dia lewat pintu belakang." Ucap Emily salah tingkah.
"Shiit... " Refleks aku mengumpat dan menendang bangku perpustakaan, "Sorry." ucapku pada Emily yang kaget melihat tingkahku.
Aku berlari ke arah jalan, menatap nanar ke segala penjuru. Nihil, Raya benar-benar seperti ulat nangka yang melenting dan meloncat entah kemana.
***
"Jadi lo nungguin Raya dan dia ninggalin lo di Perpus?"
Aku mengangguk singkat membenarkan ucapan Ian yang sekarang duduk dihadapanku. Ku teguk sisa minuman kaleng milikku dan meremasnya seperti kerupuk.
"Biarkan Raya sendiri dulu." Ucap Ian tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar tv. "Mungkin dia lagi ada masalah yang enggak mau kita tahu."
Aku melirik ke arah Ian sekilas sebelum ikut menatap tv, "Justru karena dia ada masalah, makanya gue khawatir. Terakhir dia ribut sama abangnya malah mau lompat ke sungai."
Aku ingat betul bagaimana frustasinya Raya malam itu, hanya karena tabungannya diambil abangnya, dia nekat mau melenyapkan diri. Gadis itu sering berfikir dangkal dan tidak mempertimbangkan resiko kedepan. Dan sekarang, bukan tanpa alasan, dia pindah tiba-tiba dengan tidak mengabari siapapun.
"Lo perhatian banget ke Raya, sampai uring-uringan kayak begini."
Aku mendengus menanggapi ucapan Ian, "Dia sahabat gue, wajar kalau gue care."
"Apa ke semua sahabat cewek, lo care seperti ini? mengejar-ngejar seperti orang gila. Dan menderita layaknya orang yang patah hati ditinggal?" Tantang Ian.
"Ian...!!"
"Raya cuma teman bukan kekasih lo, dia punya hidup sendiri, jadi berhenti bersikap berlebihan ke Raya."
"Brengsek...!!" Aku melempar remot tv kearah Ian, dan ditangkap dengan gesit oleh pria itu.
__ADS_1
"Kalau lo menganggap Raya teman, biarkan dia bernafas. Dia cukup kesulitan melihat lo mengejar- ngejar nya terus."
"Lo ketemu Raya?"
"Enggak." Ian menggeleng. "Kalau dia sudah mau terbuka dan cerita, pasti dia datang sendiri nanti. So stop treathing her like she's someone special for you."
Aku terkekeh pelan,"Why? lo enggak suka? Raya memang spesial bagi gue, sahabat gue, I care about her, a lot."
Ian mencibir singkat, "Seperti yang lo bilang, cuma sahabat, sa ha bat, teman, friend, you name it. Jadi perhatian lo selaku sahabat udah diluar garis batas, sampe lo sulit membedakan mana kekasih mana sahabat."
Untuk sesaat aku tertegun mendengar ucapan Ian. Alih-alih membalas, aku hanya mengusap wajahku pelan dan merebahkan diri di sofa dengan wajah menengadah ke langit- langit.
***
"Terserah lo mau ngomong gue berlebihan. Tapi ini sudah hari ke 3 Raya enggak masuk kuliah." Aku menghempaskan tubuhku di samping Ian dan merebut minuman yang ada dihadapan pria itu. "Minum lo? bagi... Gue haus." Aku meneguk minuman itu hingga tandas tak berbekas.
Ian juga enggak bisa menyembunyikan wajah cemasnya kali ini. Mendengar Raya bolos kuliah sampai tiga hari, merupakan hal yang baru bagi kami.
"Dengar ya Ian, gue udah berteman dengan Raya jauh sebelum lo kenal gadis itu. Raya tipe orang yang enggak pernah terbuka, apalagi cerita tentang masalahnya sendiri kalau enggak ditanya. Jadi jangan harap Raya bakalan datang dan curhat mengeluhkan hidupnya. Gue yakin saat ini Raya sedang ada masalah, dia menyembunyikan itu."
Ekspresi Ian makin kalut, dan aku yakin 100 persen, Ian mengetahui sesuatu. Hanya saja, ia enggan untuk berterus terang.
"Kalau lo tau sesuatu, sebaiknya lo jujur. Mungkin Raya sedang ada masalah saat ini. Dia enggak pernah bolos kuliah sampai tiga hari, gue tahu betul bagaimana semangatnya anak itu untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu."
Ian menghembuskan nafas kasar sebelum menatap ku, "Gue tahu tempat tinggal Raya."
"Kita kesana, now." Tegasku tanpa bisa dibantah.
***
Ian membawaku ke pemukiman padat penduduk, ke sebuah gang yang mengerikan. Aku enggak pernah tahu ada daerah seperti ini yang masih dibiarkan beroperasi oleh pemerintah, setahu ku sudah ada Perda yang mengatur pelarangan daerah semacam ini.
"Lo jangan kaget." Lirih Ian, hampir berisik ditelingaku.
Kemudian Ian berhenti, membuatku mengikutinya untuk berhenti. "Gue cuma tau gang nya, tidak rumahnya."
"Cckk, kita tanya ke mereka." Aku mengangkat dagu ke arah segerombolan psk berpakaian kurang bahan dengan menampakkan hampir dari setengah dada dan paha mereka itu.
Namun belum sempat kami berjalan lagi, seorang wanita berambut pirang dengan cat yang mulai luntur mendatangi aku dan Ian.
"Hai... Tampan.. " Dia menatapku lapar seperti aku ini sepotong keju yang lezat, membuatku merinding seketika sebab wanita itu mulai mengelus punggung tanganku.
"Sorry..." Kutepis wanita itu pelan, tanpa membuatnya tersinggung.
"Mau pilih yang mana? Katakan padaku, jangan malu. Bos kami sedang pergi, putrinya akan menikah besok, jadi untuk sementara aku yang akan menggantikannya."
Ku lirik Ian sekilas yang tampak sedikit terkejut dengan penuturan wanita itu."Apa yang kau maksud Raya, putri bosmu?" Ucap Ian.
Wanita itu menatap Ian sekilas, tampak menilai, lalu mengangguk, membuatku seperti diterjang gelombang dahsyat tak kasat mata, kepalaku pening seketika. Bagaimana bisa...
__ADS_1
"Dimana dia sekarang? Raya? Dimana?" Aku mulai kehilangan kontrol.
"Aku tidak pernah memberikan informasi cuma-cuma, sayang." Wanita itu membelai pipiku.
Aku langsung mengeluarkan dompet dan mengambil lima lembar uang merah didalamnya. "Ini, cukup? beritahu aku, dimana Raya sekarang."
PSK itu tertawa geli, menatapku dan Ian bergantian."Cukup sih, tapi aku minta satu syarat lagi."
Sumpah demi apa, ingin sekali aku mengarungi wanita sialan ini dan melemparnya ke pinggir tol, terlalu berbelit- belit. "Apa maumu?" ucapku datar.
"French kiss." bisiknya menggoda.
Baik aku dan Ian sama-sama melebarkan bola mata serentak. Yang benar saja, aku lebih baik mencium aspal ketimbang harus beradu bibir dengan seorang PSK. Ian melihatku dalam diam, seolah mau ngomong "lo aja..."
Aku balik melotot ke arah Ian, jadilah kami saling pandang, berkomunikasi lewat sorot mata, sampai deheman wanita itu memutus kontak mata kami.
"Jadi siapa diantara kalian berdua yang akan menciumku? ayolah man, aku enggak pernah dicium cowok-cowok keren macam kalian. Aku akan beritahu alamat calon suami Raya, besok pagi jam 8, dia akan melangsungkan pernikahan. Aku enggak tahu kalian siapanya Raya, tapi sepertinya kalian punya keperluan yang sangat mendesak pada tuan putri kami."
Dan tanpa diduga, Ian langsung maju selangkah, meraih tengkuk wanita itu dan melu mat bibirnya, ciuman yang mula-mula pelan kemudian berubah kasar dan beringas.
Oh world,, are you kidding me??? aku sampai mundur selangkah menyaksikan adegan tak masuk akal ini, sampai keduanya berhenti karena telah kehabisan oksigen. Ian langsung mundur, ekspresinya seolah baru saja berpapasan dengan dementor.
Wanita itu terkikik pelan, lalu menuliskan sesuatu disecarik kertas, "Ini alamat calon suami Raya, apapun tujuan kalian, semoga berhasil." ucap wanita itu tulus.
Aku dan Ian langsung berbalik, tak ingin berlama-lama lagi disana.
"Ciuman yang hebat, Man.... Datanglah lain kali kemari, gratis untuk kalian berdua!!!" Teriak wanita itu dibalik punggung kami, membuatku menahan tawa, terlebih ketika melirik Ian. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Kita ke minimarket dulu." Ucap Ian datar.
Ian membeli sikat gigi, pasta, dan air mineral. Entah berapa lama ia menggosok gigi dan mulutnya dibalik mobil kami yang terparkir, membuatku akhirnya memecahkan tawa yang enggak bisa ditahan lagi.
"Ini benar-benar gila,,, ciuman pertama gue dengan seorang PSK."
"Hahaaaahaaaa,,, jangan munafik, gue lihat lo menikmatinya tadi." Aku terkekeh.
"Taik lo.... "
***
"Bandung?" Aku dan Ian sama-sama terpaku membaca alamat di kertas tersebut.
"Enggak ada waktu lagi, kita berangkat malam ini."
To be continue
Happy reading ya..
Like, komen dong
__ADS_1