
AGA
Aku mendudukkan bocah, ralat, pria empat tahun ini di sofa depan. Jujur saja, dia menggemaskan sekali. Setelah menyapa bude yang baru datang dari arah dapur, aku kembali menghampiri si bocah.
"Udah cocok kayaknya, Ga. Punya anak." Bude tersenyum jahil ke arahku, dan aku hanya meringis.
"Eh, siapa tadi namanya? om lupa.." Aku beralih ke bocah yang sekarang duduk berdampingan denganku itu.
"Athan, Om."
"Dia ponakannya temen aku, mas." Tiba-tiba saja Cia sudah ada diantara kami, Cia mencubit pelan pipi Athan yang langsung ditepis oleh anak itu.
"Athan udah sekolah?"
"Udah Om."
"Di mana?"
"Di playgroup."
"Udah pintar dong ya, udah bisa apa nih?" Ucapku antusias.
"Udah bisa baca doa kedua orang tua." Athan menjawab malu, bahkan telinganya sudah memerah.
"Oh ya? hebat dong.. Coba, om boleh dengar?"
Bocah itu menatapku sebentar, tampak berfikir kemudian mengangguk ragu. Lalu mulai mengucapkan doa dengan lantang.
Bismillah hirrohmannirrohim...
Allahumma firli waliwalidaia war ham humma kama robbaya nisoghiro...
Aminnnnnnnnn...
"Wah, amin nya panjang banget." Kekehku sambil mengacak rambut Athan.
"Biar doanya cepat sampai, biar papa cepat pulang." Athan tersenyum, tapi bukan tersenyum malu seperti tadi. Dia tersenyum penuh pengharapan, membuatku penasaran.
"Papa nya kemana?"
"Kata ibun, papa kerja. Tapi enggak pernah pulang." Bocah itu menunduk, ada raut kerinduan disana yang coba ia tutupi dari wajah mungil nya. "Jadi kalau Athan rindu, ibun bilang berdoa aja, nanti bintang dilangit sampaikan doa Athan ke papa." Ia mendongak membuat mata kami bertemu, untuk sesaat hatiku teriris mendengar pengakuan bocah ini. Jujur saja, aku terenyuh, untuk orang yang enggak pernah kekurangan kasih sayang seorang papa, aku salut pada Athan, di usianya yang masih sangat kecil dia tergolong anak yang tegar dalam menyikapi hidup.
__ADS_1
Aku mengangguk pelan, berfikir mungkin papanya bekerja sebagai TKI diluar negeri, hingga sulit untuk pulang setiap waktu.
"Kalau Athan rindu ke papa, Athan kan bisa telpon." Ucapku diplomatis sambil menggoyangkan ponsel ku.
Anak itu tampak bingung dan menatapku, "Benarkah? tapi ibun enggak pernah telpon papa, Athan juga enggak tau muka papa gimana."
Nyess....
Hatiku mencelos mendengar kejujuran anak ini, untuk kesekian kali aku tersentuh oleh ucapan polosnya. Bermacam spekulasi mulai bermunculan dikepalaku, mungkin orang tuanya bercerai saat dia bayi, atau papanya sudah meninggal atau bisa jadi TKI yang hilang yang tak tau keberadaannya.
Aku tersenyum dan kembali mengacak rambut Athan, "Kalau gitu, kamu bisa telpon om aja."
" Really? " Mata Athan berbinar membuatku mencubit pelan pipinya.
" Of course." Aku meraih pulpen di sudut meja, dan merobek kertas note book yang ada disana. Menuliskan nomor ponselku, "Ini nomor telpon om, Athan bisa telpon kapanpun."
Athan mengangguk semangat dan menyimpan kertas pemberianku ke dalam tas mungil kepala Mario Bros yang disandangnya sedari tadi.
" Thanks, uncle." Athan mencium pipiku, membuatku kaget, dan juga menghangat pada saat yang bersamaan. Bude benar, sepertinya aku sudah cocok punya anak.
.
.
.
Oh Tuhan, aku seharusnya sudah berada di bus jam segini, tapi nyatanya aku masih berada dikamar, sedang menautkan kancing kemejaku di tengah tangisan Athan yang enggak bisa berhenti dari tadi.
"Athan, ibun udah telat!!!!" Aku sedikit membentak ke Athan sambil memoles lipstik dengan terburu.
"Pinjam hp ibuuuuun!!!! Athan mau telpon om!!!"
Enggak ada yang bisa dimintai tolong saat ini, Siska sudah berangkat ke sekolah pagi-pagi, sementara ayah dan ibu ke rumah sakit, adik ibu yang paling bungsu jatuh di kamar mandi subuh tadi dan sekarang stroke di rawat di RS. Athan memang biasanya berangkat ke sekolah bersamaku, playgroup nya enggak jauh dari rumah, nanti jam 11 siang ayah yang menjemput ke sekolah.
Tapi sejak bangun tidur dia bertingkah dengan memaksaku menelepon entah siapa yang dia panggil om om sejak pulang dari rumah temannya Siska kemarin. Bukannya aku enggak mau menuruti permintaan Athan, tapi pagi tadi hp ku lowbat, lupa nge cas sebelum tidur. Dan sekarang aku telat, ada acara penting hari ini di pabrik, kami kedatangan tim dari Jakarta dan harus meeting dulu sebelum tim datang. Benar-benar enggak ada waktu buat meladeni Athan. Lagian, dia juga mesti ke sekolah.
Aku menghembuskan nafas pelan ketika mengunci pintu, ku lihat Athan sudah berhenti menangis, menyisakan sesegukan dari mulut mungilnya.
Aku berjongkok mensejajarkan wajahku ke wajah anakku itu. "Kenapa Athan mau telpon om itu?" Tanyaku lembut.
"Athan mau kasih lihat, kalau Athan mau berangkat ke sekolah, Athan pake seragam."
__ADS_1
Okay, rupanya bocahku mau pamer, aku tersenyum, "Ibun janji, malam nanti kita telpon om nya ya, pagi ini Athan udah telat, ibun juga udah telat, om nya juga pasti lagi sibuk pagi-pagi seperti ini."
"Janji?..Malam nanti telpon Om?"
"Janji." Ucapku sungguh-sungguh. "Emang Athan punya nomor om nya?" Aku menggandeng Athan dan kami mulai menaiki motor.
"Punya,, kemaren dikasih sama om ganteng itu, katanya Athan boleh telpon om kapanpun, kalau Athan rindu papa, Athan juga boleh telpon Om ganteng."
Aku terkekeh mengangguk sambil menstarter motor...
***
Yap, aku benar-benar telat hari ini. Ku lihat ponsel, ada 3 panggilan tak terjawab dari bu Giana.
Langsung ke ruang meeting, Ray.
Pesan singkat dari bu Gigi yang baru ku buka saat memasuki gedung utama. Aku langsung berlari kecil menuju lift, menekan lantai dua dimana ruang meeting berada.
Rupanya aku enggak benar-benar terlambat, mereka masih siap- siap sambil menunggu pak Guesto ketika aku tiba. Tepat saat aku baru saja mendaratkan bokongku di kursi, disamping manager pemasaran, pak Arif. Pintu terbuka, pak Guesto bersama sang putri, bu Giana alias bu Gigi masuk ke ruangan.
"Kita langsung aja." Pak Guesto selaku direktur PT. Laboratoria Medicad tbk mengambil alih, tampak sedikit terburu.
"Mungkin kalian sudah tau, kalau hari ini pabrik kita akan kedatangan pemilik saham terbesar di perusahaan. Mereka berencana akan menjadikan pabrik kita sebagai pabrik amprahan. Jadi untuk kedepannya kita tidak hanya memproduksi obat dari perusahaan kita tapi juga akan memproduksi obat sesuai permintaan dari PT. Medifarm."
Aku melongo mendengar ocehan pak Guesto, yang benar saja. Selama ini kami dari departemen produksi beta laktam sudah cukup kewalahan dengan permintaan pihak marketing yang seolah tak pernah memperdulikan bagaimana mesin kami bekerja dengan SDM yang terbatas. Mereka hanya tau obat siap dipasarkan dan sekarang harus memproduksi orderan obat dari perusahaan lain, mati aja sekalian.
Memang selama ini, PT. Laboratoria Medicad hanya memproduksi amoxilin generik, tapi enggak menutup kemungkinan setelah menjadi pabrik amprahan, kami akan mulai memasuki pasar obat paten. Aku memijit pelipisku.
"Kita akan menambah mesin baru, menambah tenaga kerja juga." Pak Guesto yang seolah tahu isi pikiranku tersenyum penuh arti. "Dan sekarang, kita harus siap-siap, dua puluh menit lagi pak Jagad tiba. Mungkin nanti dia akan berkeliling perusahaan, saya mohon untuk setiap manager departemen bertanggung jawab di unit masing-masing. Saya tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun." Pak Guesto menutup meeting kami pagi ini.
Semua mengangguk dan berdiri, untuk selanjutnya berjalan ke departemen masing-masing. Aku bersama pak Arif berjalan beriringan menuju lift.
"Dengar- dengar, bu Gigi mau dijodohkan sama anaknya yang punya PT. MEDIFARM, yang nanti bakalan kesini."
"Aihh, patah hati dong pak Arif kalau gitu." Aku tergelak menanggapi gosip pak Arif.
"Nah itu, makanya aku enggak bisa tidur semalaman, mana dengar- dengar lagi nih ya, cowoknya ganteng pake banget, kan aku jadi ngerasa seperti sisa rempeyek dalam toples."
"Yah cocok dong sama bu Gigi yang cantik." Andin ikut nyeletuk, membuatku mengangguk setuju dan kami kompak mentertawakan pak Arif.
"Ya, udah aku sama Raya aja kalau gitu."
__ADS_1
"Nanti pak, nunggu matahari terbit dari barat." Kami tertawa makin kencang.
To be Continue...