JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Tes DNA


__ADS_3

RAYA


Aku sempat membalas pesan Aga sebelum keluar dari gedung pabrik. Meninggalkan bu Giana tertinggal jauh dibelakang. Aga akan datang ke Surabaya dua minggu dari sekarang, dan aku harus menyiapkan segalanya, terutama mental Athan. Walau bagaimanapun ini cukup berat.


Menjelaskan pada Athan tentang keberadaan ayahnya selama ini bukan hal yang mudah. Juga pada Aga, pria itu pasti syok jika tahu kami memiliki anak bersama. Aku meninggalkannya dulu tanpa Aga tahu apa-apa tentang kehamilanku. Tunggu,,, apakah nanti Aga bisa menerima semua ini?


Tiba-tiba saja lututku melemas membayangkan reaksi Aga seperti apa. Aku enggak bisa menebak- nebak, apakah Aga akan senang dengan keberadaan Athan atau sebaliknya. Dan aku harus menata dan menyiapkan hati menerima dua kemungkinan sekaligus.


"Ibuuuuun." Athan berlari kearahku dengan tangan memegang mainan mobil remote terbaru, tepat saat aku baru tiba diambang pintu.


"Ibuuun tadi ada oom kesini, dia bawakan mainan banyak banget untuk Athan, bun." Dahiku mengernyit, oom mana yang dimaksud Athan. Apakah oom sepupunya teman Siska?


Aku menoleh ke ayah, meminta penjelasan. Tapi ayah pura- pura sibuk memasukkan motor kedalam garasi. Menurutku ini sudah berlebihan, orang asing membelikan Athan mainan mahal, mobil remote dengan harga lebih dari satu juta. Dan aku bertambah syok ketika masuk ke ruang tengah, tidak hanya satu tapi ada mainan lain yang tidak kalah mahal harganya dengan mobil remote, enggak. Ini udah enggak benar.


Aku berjongkok, mensejajarkan tubuhku dengan Athan, mengelus kepalanya pelan. "Oom mana yang belikan Athan mainan sebanyak ini, nak?"


Athan menatapku dengan mata polosnya, "Dari oom teman Athan, ibun. Temannya aunty Siska juga, kok."


Mataku mendelik ke arah Siska yang tiba-tiba saja langsung berhenti dari mengunyah keripik." Bisa jelaskan ini ke mbak, Sis? "

__ADS_1


Siska langsung menarikku ke kamar, meninggalkan Athan yang masih dalam mode bengong. Siska menutup pintu kamar dibelakangnya." Nah itu, aku juga enggak tau kenapa oppa Ji Cang wook bisa dirumah kita tadi mbak, kami cuma papasan di pagar. Aku baru pulang. Kayaknya ayah lebih tau deh mbak, soalnya dia ngobrolnya ke ayah."


Kepalaku bertambah pusing, siapa oppa Ji Cang wook yang disebut Siska, aku enggak kenal dia. Kenapa dia membelikan Athan begitu banyak mainan, dan juga kenapa dia bisa dirumah kami. "Siapa pria itu?" tatapku tajam ke Siska.


"Kan aku udah cerita mbak, dia itu sepupunya teman aku dari Jakarta."


"Terus kenapa bisa kenal ke Athan?"


"Mereka kan ketemu pas dulu aku ajak Athan, kayaknya cocok Athan sama oppa Ji Cang wook, mereka juga sering kan telponan pake hp aku." Siska balik menatapku.


Okay, masuk akal juga kalau dia kesini karena teman Athan, tapi mainan yang dia belikan untuk Athan sudah kelewatan. Aku cuma takut dia ada niat jahat dibalik itu.


Jantungku mencelos mendengar pengakuan Siska. Siapa pria itu, mau apa dia. "Kamu punya nomornya kan? sini, mbak mau hubungi pria itu." Tegasku.


Siska memberikan nomor ponsel sepupu sahabatnya itu, nomor yang dulu Athan pernah merengek untuk meneleponnya. Dengan cepat aku mengetikkan nomor itu ke dalam ponselku, tapi setelahnya, seperti godam raksasa tak kasat mata menghantam kepalaku, meremukkan jantung dan hatiku secara bersamaan.


Aga.....


Ini nomor Aga, ku ulang lagi angka demi angka,berharap aku salah angka. Iya nomor tersebut telah tersimpan di ponselku dengan nama Aga. Jadi Aga???

__ADS_1


Aku terduduk lemas, Aga kesini. Dia kesini, kerumah kami, bertemu Athan, bertemu ayah, dan dia sama sekali enggak memberitahuku. Aga tahu tentang Athan, sejak kapan? Apa yang dikatakan bu Gigi benar, Aga tahu dari bu Gigi. Dan apa tadi, Aga mengambil rambut Athan, untuk apa? apa dia meragukan ku? meragukan kalau Athan adalah anaknya?...


Gigiku bergemeletuk menahan amarah. Dadaku rasanya ingin pecah. Aga, tega sekali kamu. Kamu sengaja enggak mengklarifikasi ini tapi justru secara diam- diam mengambil sampel rambut Athan, apalagi kalau bukan untuk tes DNA. Dia enggak mempercayaiku, Aga meragukanku, dan itu sungguh sangat sangat menyakiti hatiku.


Padahal dia sudah tahu semuanya tentangku, cerita tentangku dia sudah tau, derita hidupku dia juga tahu sejak dulu. Seperti apa aku... Cuma dia satu-satunya laki-laki yang pernah menyentuhku. Aku belum pernah menikah sampai detik ini. Dan sekarang, Aga sudah melempar harga diriku jatuh, jauh ke dasar bumi terdalam. Aga tega sekali dirimu.


Aku menekan icon hijau untuk nomor Aga, melakukan panggilan. Panggilan ke tiga telpon terangkat. Aku tahu, Aga saat ini pasti masih berada di Surabaya, karena jika ia berniat kembali ke Jakarta, penerbangan ke Jakarta tercepat pukul 8 malam.


"Ya, sayang." Biasanya aku akan berbunga-bunga ketika mendengar Aga memanggilku seperti itu, tapi kali ini rasanya hambar.


"Ga, aku tahu kamu lagi di Surabaya, batalkan penerbangan kalau kamu berniat pulang ke Jakarta malam ini, aku ingin ketemu." Ucapku to th point.


Hening sesaat, aku tahu Aga tengah berfikir. Kami diam sampai akhirnya.


"Oke."


"Oke, aku tunggu di Rawon pak pangat, jam 8."


Aku menghembuskan nafas pelan, sebelum bersiap berangkat menemui Aga.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2