
Aku tak perlu bahasa apapun untuk mengungkap aku cinta kamu,
Aku tak pernah beristirahat untuk mencintai kamu sesuai janjiku...
Promise_ Melly Goeslaw
***
RAYA
Jantungku bergemuruh hebat saat melihat sosok Aga sudah duduk di meja pojok mengarah ke jalan raya, satu-satunya meja yang sedikit jauh dari pengunjung resto. Dia memakai jeans dan kaos santai dengan jaket denim membalut tubuhnya. Dan langsung berdiri ketika netranya menangkap keberadaanku, Aga menungguku.
"Ray, aku bisa jelaskan semu-..... "
Aku mengangkat tanganku cepat, menyuruh Aga berhenti bicara, benar saja, Aga berhenti dan kembali duduk setelah aku duduk lebih dulu."
Aku meletakkan bungkusan plastik berisi potongan rambut Athan dan sikat gigi Athan diatas meja dan menyodorkannya ke arah Aga. "Ini kan yang kamu mau, barangkali yang tadi masih kurang."
"Ray...." wajah Aga pias, bisa kulihat kulitnya memucat.
"Ambillah, hanya karena ini kan kamu bela- belain datang dari Jakarta. Kamu mau buktikan apakah Athan adalah anakmu atau bukan. Kenapa? apa karena bu Gigi bilang aku hamil di luar nikah, aku punya anak tapi enggak tau bapaknya kemana!??? Iya? lantas kamu curiga kemungkinan Athan adalah anakmu karena kamu yang meniduriku dulu?" dadaku sesak mengatakan ini, mataku bahkan sudah berair.
__ADS_1
"Ya, bu Gigi benar, aku pernah hamil diluar nikah, aku punya anak dan aku tidak menikah. Yang dia katakan ke kamu dan keluargamu benar." Aku nyaris hilang kendali dan hampir berteriak.
"Ray... dengarkan aku dulu... " Aga berdiri mendekatiku, tapi dengan cepat aku juga berdiri dan menjauh dari gapaian Aga.
"Ambil lah ini, ini rambut dan sikat gigi anakku, pakailah sesukamu untuk tes DNA. Tapi aku mohon, apapun hasil yang kamu terima nanti, tolong jauhi aku dan anakku. Pergilah dari hidupku, jangan pernah menampakkan wajahmu lagi dihadapanku." Aku berdiri dan berjalan cepat ke arah luar. Aku masih bisa mendengar suara Aga meneriakkan namaku, jelas dia menyusulku dari belakang.
Baru saja aku tiba di trotoar, lenganku ditarik kasar, siapa lagi pelakunya kalau bukan Aga. Tapi Aga yang ini berbeda dari sebelumnya, wajahnya merah padam, seumur hidup aku mengenalnya, aku enggak pernah mendapati sisi Aga yang seperti ini. Aga seperti kerusakan tujuh setan sekaligus, membuat keberanianku yang tadi menguap entah kemana, tubuhku menciut seketika dan pasrah ketika lagi- lagi Aga menarikku dan membawaku kedalam mobil dengan paksa.
"See. Kamu selalu saja seperti ini. Kamu cuma memikirkan apa yang ada didalam tempurung kepalamu saja. Kamu enggak pernah memikirkan perasaanku seperti apa!!!" Suara Aga bergetar hebat, aku tahu, dia sedang berusaha keras mengendalikan emosinya.
"Kita enggak akan seperti ini kalau kamu enggak mengambil keputusan sendiri, Ray. Dan aku, aku.... seharusnya sudah lama mengenal anakku kalau kamu berfikir positif tentangku dulu. Why? apa sebenarnya yang kamu lihat dariku, apa sebegitu buruknya aku dimatamu sampai kamu tega enggak memberitahuku tentang kehamilanmu? apa kamu pikir aku lebih memilih karier dibanding kamu dan anak kita? tega kamu Ray.... " Aku tertegun mendengar ucapan Aga dan apa... Aga menangis, dia menangis.... Hatiku bergetar, apakah Aga terluka? sama terlukanya sepertiku?
"Ga.... "
"Kamu tau, aku sangat terpukul waktu tau kita punya anak dan aku baru menyadarinya setelah lima tahun kemudian, kemana saja aku selama lima tahun itu. Aku sudah kehilangan waktu lima tahun untuk bersama anak kita."
"Aku pria paling brengsek, Ray!!!" Aku benar-benar tercekat melihat Aga, baru kali ini seumur hidup aku melihat laki- laki menangis. Dan akulah penyebabnya, aku telah memisahkan Aga dan Athan, merenggut kebersamaan mereka selama bertahun- tahun.
"Aku enggak akan pergi kalau tau kamu tengah hamil anak kita waktu itu."
"Maafkan aku... " Airmataku jatuh, suaraku sejak menahan semua emosi yang campur aduk di dalam dada. Satu hal yang aku tau, Aga mencintaiku dan Athan, anak kami.
__ADS_1
"Gigi mengungkapkannya didepan mama dan papa, saat itulah aku menyadari kalau ada yang belum terselesaikan dari kejadian dulu. Aku mulai menyatukan puzzle nya satu demi satu, semuanya berhubungan. Kenapa kamu pergi dariku, alasan kamu menghilang, lalu tentang kehamilan dan keberadaan Athan, semua berkumpul disatu titik, yakni akulah penyebabnya." Aga menatapku dalam dan meraih tubuhku, mendekapku erat.
"Aku jujur ke papa kalau yang dibicarakan Gigi benar, dan akulah ayah dari anak yang pernah kamu kandung. Papa ingin bukti, papa ingin tes DNA. Aku menyanggupi karena aku ingin masalah ini cepat selesai. Aku ingin segera menikahimu dan hidup bersama anak kita."
"Percaya aku, Ray. Aku mencintaimu, aku mencintai Athan. Aku enggak mau lagi kehilangan waktu bersama kalian. Cukup lima tahun aku membuang waktu sia-sia tanpa kalian." Aga makin mempererat dekapannya padaku, membuatku makin tak berdaya.
"Maafkan aku, Ga..." Lirihku pelan.
"Aku juga minta maaf, untuk semuanya."
"Semuanya..." Ulangku.
Kami sama-sama tersenyum kemudian tertawa. Kami saling menghapus air mata.
"Setelah ini, enggak akan ada lagi kesalahpahaman diantara kita, aku bukan cenayang yang bisa menebak- nebak perasaan. Tolong terbuka apapun itu Ray. Jangan mengambil kesimpulan berdasar pikiranmu saja."
"Aku minta maaf, aku pikir kamu enggak mencintaiku dulu, keberadaanku dan bayi yang tengah aku kandung hanya akan menghalangimu."
"Jangan pernah berfikir seperti itu lagi, aku enggak pernah beristirahat dari mencintai kamu, Ray. Promise." Aga mencubit hidungku.
Tobe continue
__ADS_1