JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Diantara dua pria


__ADS_3

RAYA


Hari ini sesuai janjiku, aku akan mempertemukan Athan dengan Aga. Aku enggak bisa memungkiri kalau ada sejumput kekhawatiranku akan suksesnya pertemuan ini. Tapi aku meyakinkan diriku sendiri jika Athan akan menerima Aga sepenuhnya. Aga udah sebegitu cemasnya , enggak mungkin aku juga ikut- ikutan panik kan.


Sebelum tidur kemarin, aku sudah membicarakan ini ke Athan. Tau apa reaksi Athan. Dia senang bukan main. "Horeeeee, akhirnya ketemu papa!!!" itu saja yang ia teriakkan sepanjang hari ini, hingga telingaku rasanya ingin pecah. Belum lagi, Athan sibuk bertanya baju apa yang bagus dipakai pas ketemu papa, sampe ngamuk minta dibelikan sepatu baru demi bertemu orang yang disebut papa olehnya itu. Aku sampai kewalahan.


Dan yang paling mengharukanku, Athan menggambar sosok papanya di kertas gambar, diwarnainya merah kuning hijau. Menurut Athan seperti itu papanya, walaupun menurutku gambar Athan lebih mirip upin berbaju Spider-Man. Aku tersenyum dan mengacak rambut anakku. Aku optimis pertemuan ini akan berjalan lancar. Dan itu yang aku ungkapkan ke Aga.


Aku memilih rumah tempat pertemuan kami, lebih aman dirumah ketimbang di tempat umum, sebab pertemuan ini sakral. Pertemuan seorang ayah dan anak laki-lakinya. Tampaknya baik ayah maupun bunda sangat memberi privasi untukku. Mereka ke toko pagi- pagi sekali, dan Siska walau sangat kepo sekali seperti apa sosok papa Athan tetap menghargaiku dengan berangkat ke sekolah. Siska terus memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan konyol nya, "Pasti papa Athan hidungnya mancung ya mbak, itu Athan hidungnya mancung, enggak kayak mbak, bulat. Alisnya juga cakep pasti."


Dan aku enggak memberinya clue sama sekali. Siska pasti pingsan ditempat kalau aku katakan oppa Ji Cang wook nya itu adalah papa Athan. Aku geli sendiri membayangkan ekspresi Siska nanti.


Tepat pukul 9 kurang lima belas menit kulihat mobil Aga sudah terparkir di depan pagar. Tapi sosoknya enggak muncul-muncul.


"Ga... Kok enggak keluar?" Aku menelepon Aga.


Suara Aga tampak gugup diseberang telpon."Athan gimana?"


"Dia udah prepare banget dari malam tadi buat ketemu papanya" Aku melirik Athan yang sibuk merapikan gambarnya yang akan ditunjukkan ke Aga.


"Dia nerima aku kan Ray...?"


"Pasti... aku bisa jamin dia sangat senang ketemu papanya." entah untuk keberapa kali aku meyakinkan Aga, dan aku yakin kok Athan pasti akan menerima Aga dengan suka cita.


Aku bisa mendengar hembusan nafas Aga, tak lama kulihat Aga keluar dari mobil dengan membawa beberapa buah paperbag ukuran jumbo. Aga tampak sangat tampan dengan outfit nya hari ini. Jelas dia sangat memperhitungkan pertemuannya dengan Athan.


Aku berbalik dan melihat Athan yang sudah berlari mendekatiku. "Papa sudah datang ya bun?"


Aku mengangguk antusias, aku menutup mata Athan dengan kedua telapak tanganku dan membimbingnya ke arah pintu dimana Aga sudah berdiri disana. Ini pasti akan jadi momen paling menyenangkan dalam hidupku.

__ADS_1


"Taraaaaa....." Aku melepaskan tanganku dari wajah Athan.


Hening....


Hening...


Hening...


Jantungku berpacu hebat saat Athan dan Aga berhadapan, aku membayangkan akan ada jeritan bahagia dari Athan, secara dia sangat menantikan momen ini kan, momen bertemu dengan papanya. Tapi...


Athan hanya mematung, okay mungkin dia sedikit syok atau apa. Sampai aku menyenggol lengannya dan berisik, "Athan anak ibun sayang, ini adalah papa Athan." Tak ada reaksi, aku melirik sekilas wajah Aga yang menyemburatkan aura kekecewaan namun berusaha ditutupinya dengan sempurna. Aga tersenyum sebaik mungkin dan berjongkok serta meraih kedua bahu Athan, "Hai jagoan papa."


"Oom bukan papa Athan!!!!" Secepat kilat Athan berlari ke arah kamar.


"BRAKKKK! " pintu kamar tertutup dari dalam, membuatku terlonjak kaget. Ini semua diluar perkiraanku. Ada yang salah, mesti ada yang salah disini, tapi apa yang salah... Bukannya Athan juga sudah kenal Aga, anak itu antusias sebelumnya ingin bertemu papanya, lalu apa ini?...


Aga ikut menyusulku dan berdiri tepat dibelakangku, wajahnya pucat menghadapi penolakan Athan, dan itu membuatku merasa sangat bersalah.


"It's okay, mungkin Athan kaget." Ucap Aga getir, tapi aku enggak menghiraukan ucapan penenangan dari Aga.


"Athan, buka pintunya?!! "Suaraku sudah naik 1 oktaf, namun Athan tetap bergeming di dalam kamar, mataku sudah berair, ini semua salahku, aku yang memisahkan Aga dari Athan, aku yang menyebabkan Aga kehilangan lima tahun berharganya. Dan sekarang, Aga harus menelan pil pahit ditolak mentah - mentah oleh darah dagingnya sendiri. Ini semua salahku.


"Athan..... " Aku menangis, terduduk di lantai tepat didepan pintu kamar.


" Ray, gak papa Ray,,, mungkin Athan butuh waktu, aku gak papa, serius. Kita bisa coba pelan - pelan. " Meski meneriakkan luka dari wajahnya, Aga tetap menghiburku, dia merangkulku, memberikan ku sandaran di dada bidangnya.


Aku menggeleng pelan, Athan bukan anak seperti ini. Dia anak penurut, bertahun-tahun dia menantikan kehadiran seorang papa, tapi kenapa...


" Ceklek.... " Pintu kamar terbuka, pelan dan nampak ragu, Athan keluar. Dia terlihat khawatir melihatku menangis. " Ibun... "

__ADS_1


" Ibun nangis? maafin Athan... " Gagap Athan pelan, wajahnya pucat melihat air mataku. Athan enggak pernah sekalipun membuatku menangis, itulah kenapa dia begitu khawatir saat melihatku menangis seperti ini.


.


.


.


AGA


Jujur, aku bingung dengan perubahan mendadak Athan, baru kemarin, dia sangat senang dengan kedatanganku, dengan wajah ceria bersahabat, Athan bahkan ingin mengenalkanku pada ibunya. Tapi sekarang, Athan tampak begitu membenciku, Athan bahkan memberiku tatapan penuh permusuhan, Athan mendekati Raya, menghapus air mata Raya. Athan sama sekali enggak ingin menoleh padaku, dan enggak rela melihat Raya dalam dekapanku. Anak- anak terkadang memang sulit ditebak.


Aku berdehem canggung saat kami sudah duduk kembali di ruang tamu. Athan menatapku dan Raya bergantian. Wajahnya penuh selidik, jadi mengingatkanku pada sosok detective Conan yang sedang memecahkan kasus. Kalau saja suasananya enggak seserius ini, aku sudah tertawa lucu melihat ekspresi Athan seperti itu.


"Ibun, bisa tinggalkan kami berdua. Athan dan oom perlu bicara."


Baik aku maupun Raya tampak kaget, Raya bahkan menaikkan alisnya tingi- tinggi.


"Pembicaraan antar pria..." Lanjut Athan serius.


Sumpah, aku ingin tertawa, Raya kamu kasih makan apa anak kita, aku mengulum bibirku kuat-kuat agar tawa tak lolos. Sebagai gantinya, aku memasang wajah seserius mungkin, dan memberi kode ke Raya agar menjauh dari kami. Benar, ini pembicaraan antar pria. Ada banyak yang dua pria ini akan ungkapkan satu sama lain, ada banyak waktu yang sudah terlewatkan diantara dua pria ini. Satu hal yang pasti, bahwa dua pria ini mencintai satu wanita yang sama.


...To be continue...


Satu kata untuk Aga


Satu kata untuk Raya


Satu kata untuk Athan

__ADS_1


__ADS_2