
JAGAD BIMASAKTI
Aku menyemprotkan parfum andalanku sejak dibangku SMA sebagai sentuhan terakhir dari penampilan pagi ini. Dan tak lupa tersenyum didepan cermin dikamar, didalam apartemenku. Lagu lawas 'Jesamine' by Casuals yang melantun dari audio ponsel menemani rutinitas pagiku. Ini lagu tahun 60an akhir, bahkan usianya lebih tua dari papa, hahaaaa. Entah sejak kapan aku menyukai lagu-lagu ketinggalan zaman ini, tapi masih enak didengar. Aku bahkan memiliki koleksi lagu khusus yang dirilis tahun 80an,sebut saja "Through the Barricades" by Spandau Ballet, "Tahiti" by David Essex dan "The Riddle" by Nik Kershaw.
Usiaku akan menginjak 20 tahun tiga hari lagi, dulu waktu aku berulang tahun ke delapan belas, papa menghadiahiku sebuah apartemen yang aku tempati sekarang. Saat itu aku baru berada di semester satu jurusan Hi (Hubungan Internasional) di salah satu universitas negeri di Jakarta. Gilaa!! Woooo, aku bisa tinggal sendirian, aku tak henti-henti tersenyum. Aku sudah membayangkan bisa bangun siang tanpa diganggu Helen, adikku. Enggak perlu takut diomel mama kalau pulang larut, dan yang terpenting aku bisa bawa pacar kesini, kami bisa apa saja tanpa ada yang mengganggu.
Pacar?? Hufhhhh, aku tersenyum kecut, bahkan setelah dua tahun sejak aku melangkahkan kaki di apartemen ini, belum ada satupun cewek bernama pacar yang bisa ku ajak masuk. Satu-satunya makhluk bernama wanita yang datang kesini cuma Raya.Ngomong-ngomong soal Raya, aku jadi ingat janjiku malam tadi untuk mentransfer uang semester.
Umur panjang, tepat ketika aku meraih ponsel, benda pipih itu bergetar.
Raya calling...
"Udah jalan belum, Ga? aku tunggu di simpang."
"Bentar, baru mau keluar." Aku meraih kunci motor diatas nakas, memasang jaket dan keluar dari apartemen menjemput Raya. Seperti sudah tersistem otomatis, setiap pagi aku akan menjemput gadis itu dan berangkat menuju kampus yang sama. Kami satu universitas cuma beda jurusan, aku jurusan HI, Raya jurusan farmasi. Dan biasanya ketika pulang, aku juga yang akan menunggunya dan mengantar kembali ke kontrakannya.
"Thanks ya,, uangnya udah masuk." Raya mengambil helm yang ku ulurkan dan diikuti anggukan kecil dan senyum tulus yang terbit setiap aku bersama Raya.
Aku melirik sekilas ketika Raya melingkarkan tangannya ke perutku, dia santai sekali seolah tak ada kejadian saja, Raya enggak tahu kalau setiap dia bertingkah seperti itu, ada yang mengalir ditengkukku. Aku menggeleng kepala pelan, sebelum menstarter motor dan melaju membelah jalanan.
"Thanks ya, nanti aku tunggu jam lima di perpustakaan." Raya turun dari motor dan mengembalikan helm padaku.
"Ray... Raya..?! "
" Ya? " Raya berbalik menoleh padaku.
"Mulai besok aku enggak bisa antar jemput kamu lagi."
Raya mengeryitkan dahi bingung, "Kenapa?"
Aku mau cari pacar, Raya. Targetku usia 20 nanti sudah punya pacar, minimal gebetan lah. Kebetulan ada cewek cantik fakultas hukum yang sedang aku incar. Gimana aku mau deketin dia, kalau kita pulang pergi sama-sama terus.
Namun pernyataan itu kutelan bulat-bulat.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Enggak, enggak ada... Ya udah, nanti jam lima aku tunggu di perpustakaan."
Raya mengangguk pelan kemudian berbalik pergi.
Aku menunggu Raya berjalan menuju fakultasnya sampai punggung mungil itu tak nampak lagi, kemudian beralih menuju fakultasku sendiri.
***
"Jagad"
Aku baru saja memarkirkan motorku ketika suara cempreng mirip kaleng susu bekas yang ditendang memenuhi ruang pendengaranku. Aku kurang suka jika mendengar orang memanggilku dengan panggilan Jagad. Waktu SD aku sering dibully karena nama itu. Maka sengaja aku enggak menoleh, aku terus berjalan menuju kelas.
"Jagaad!!!"
"Woii sapu jagad!!"
"Aga.... "
" Gila lo, gue panggil-panggil dari tadi."
"Ada apa?"
"Gue punya berita bagus."
"Apa?"
"Cewek kemaren yang lo tanya, namanya Shella, anak semester IV fakultas hukum, gue juga udah dapat IG, fb, plus nomor WA nya." Ian mengerling jahil.
Aku takjub pada kemampuan Ian mencari informasi, padahal baru kemarin sore aku cerita ke Ian kalau lagi naksir cewek yang sering nongkrong di Jacob's Cafe itu, cafe tempat aku dan Ian menghabiskan waktu kalau lagi kosong mata kuliah. Ian temanku juga setelah Raya, bedanya kalau Raya cewek, Ian cowok. Sahabatku cuma mereka berdua itu, tapi dibanding Ian, aku lebih dekat dengan Raya.
"Gampang lah deketinnya, sinyal kuat bro, lo punya modal wajah cakep, tajir melintir, gue pastikan siapapun cewek yang lo deketin, jatuh terperosok pada pertemuan pertama, gak ada yang bisa nolak pesona seorang Aga, ya kan."Ian merangkul ku dan kami berjalan beriringan menuju kelas.
__ADS_1
Benar kata Ian, aku enggak tahu kalau pdkt ke cewek bisa segampang ini. Setelah jadwal mata kuliah selesai pukul tiga, aku memberanikan diri untuk mengirim chat ke Shella, basa-basi memperkenalkan diri. Di luar dugaan, Shella ternyata lebih tau tentang diriku. Cukup satu kali ajakan, Shella langsung mau ku ajak ketemuan di Jacob's cafe.
Tunggu, aku melirik jam tangan sekilas, pukul 03.15, itu artinya masih ada waktu banyak untuk ngobrol bersama Shella sebelum menjemput Raya di perpustakaan. Raya kalau sore memang punya pekerjaan sampingan di perpustakaan, menyusun buku. Malamnya Raya juga bekerja di minimarket sampai jam 10, aku setiap malam menunggui Raya, menjemputnya dan mengantarnya pulang sampai kontrakan. Raya sering protes soal ini, dia ngotot bisa pulang sendiri, tapi masa iya aku membiarkannya dijalan malam-malam sendirian.
Terkadang, aku ingin bertanya, kemana orangtuanya. Yang kutahu Raya sejak dulu hanya tinggal bersama eyang dan abangnya. Setelah abangnya menikah dan eyangnya meninggal, Raya tinggal sendiri di kontrakan itu. Aku pernah bertanya sekali, dulu sudah lama. Tapi Raya terlalu tertutup untuk masalah yang satu ini, dia bahkan tak pernah sekalipun bercerita tentang keluarganya, sejak itu, aku tak pernah menyinggung masalah keluarganya lagi.
Shella melambaikan tangannya kearah ku tepat ketika aku memasuki cafe. Aku menyugar rambutku pelan demi mengimbangi kegugupan yang mendadak muncul. Shella tersenyum dan mempersilahkanku duduk di sampingnya.
"Sudah lama?"
"Lumayan.. " Shella tersenyum cantik. Yah, dia memang cantik dan modis. Style nya kekinian, segala yang melekat ditubuhnya semua barang branded, dan bisa kupastikan kalau Shella pergi kesalon paling sedikit seminggu tiga kali, dapat dilihat dari kulitnya yang terawat paripurna itu.
Aku berdehem, "Mau makan apa?"
"Gue minum aja, chocolate milkshake. "
Aku mengangguk singkat lalu melambaikan tangan pada bang Coi, pelayan cafe yang sudah jadi teman selama dua tahun ini.
"Dapat nomor gue darimana?" Shella menoleh padaku.
"Dari Ian... "
Shella tersenyum lagi, entah sudah berapa kali aku memergokinya tersenyum sendiri sejak kami bertemu, apa hobinya memang tersenyum.
"Gue udah lama ngefollow lo."
"Oh ya?" Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku, untuk ukuran orang yang naksir cewek, aku termasuk orang yang kurang amunisi. Bagaimana bisa orang yang ku taksir sudah lama ngefollow IG ku, dan aku enggak menyadarinya. Memang sih, aku termasuk tipe yang jarang buka medsos.
"Gue jarang buka IG." Aku ku jujur.
Hampir satu jam lebih kami mengobrol, Shella banyak bercerita tentang dirinya, teman-temannya, keluarganya dan satu yang bisa ditarik kesimpulan dari ocehannya yang sepanjang sistem periodik itu, yaitu bahwa dia jomblo saat ini, dan aku bisa jadi pacarnya detik ini juga.
To be continue...
__ADS_1
Happy reading
Sudah hampir dua tahun aku tinggal