JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Up date lagi yaaaaaaa


__ADS_3

Assalamualaikum wr wb


Haloooo apa kabar semua.... Ya ampun udah sekian purnama aku meninggalkan Aga dan Raya,, aku sampe lupa ceritanya gimana ini... Hiks hiks... Bukan maksud hati hilang begitu saja, tapi kerjaanku di dunia nyata lagi padat padatnya sampe gak sempat buka MT,, maafkan lah semuanya...


Ini kira - kira masih ada yang mau baca gak ya??? Wkkkkk...


Mohon dikoreksi jika ada kesalahan di part ini ya readers tersayang, soalnya aku lupa-lupa ingat hiks hiks


AGA


"Om, kok mainannya banyak banget?" Athan sibuk membongkar beberapa mainan yang sengaja kubawa sebelum bertemu.


"Ini kan mainan mahal om, Athan pernah minta belikan ini sama bunda duluu, kata bunda enggak boleh beli mainan mahal." Terbayang seterenyuh apa hatiku saat kata-kata itu meluncur mulus dari bibir anakku. Dia bahkan enggak pernah memiliki mainan dengan harga yang menurutku enggak ada apa-apanya.


"Gak apa, kalau perlu nanti, om belikan lagi yang lebih mahal dari ini, ya." Aku tersenyum dan mengelus kepala Athan. Jauh dari dasar hatiku terdalam, aku ingin meneriakkan padanya bahwa akulah papanya, jangan panggil aku om, tapi panggil aku papa. Tapi tentu saja itu enggak mungkin kulakukan untuk saat ini.


"Apa tidak sebaiknya kamu bicara dulu sama Raya, Ga." Ayah Raya yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi kami berdua, ikut nimbrung bicara.


Sesaat aku menoleh ke ayah, ayah benar. Seharusnya aku bertemu Raya dan membicarakan masalah ini, membicarakan anak kami. Raya bahkan belum tahu kalau aku sudah mengetahui keberadaan Athan diantara kami. Dan aku perlu mendengar alasan Raya yang masuk akal hingga ia tega enggak memberitahuku sama sekali tentang kehamilannya dan kelahiran Athan. "Aku akan bicara ke Raya secepatnya, yah." ungkapku pelan.


Hari sudah menjelang sore ketika aku berpamitan pulang. Sengaja aku pulang lebih awal sebelum Raya tiba dirumah, Raya bahkan enggak tahu aku sudah di Surabaya hari ini. Kami memang janji bertemu dua minggu lagi, bertepatan dengan ulang tahunku.


Aku memeluk Athan erat sebelum pulang, dan diam-diam mencabut sehelai rambut Athan. Bukan, bukan karena aku menyangsikan Athan sebagai anakku. Aku percaya dan yakin sepenuhnya bahwa Athan adalah darah dagingku bersama Raya. Tapi papa bersikeras ingin melakukan tes DNA. Aku enggak ingin memperlarut keadaan. Aku ingin secepatnya menikahi Raya dan hidup bersama anak kami. Lebih cepat permintaan papa dipenuhi akan lebih baik untuk kami.

__ADS_1


"Sering datang ya om, nanti Athan kenalkan sama bunda. Bunda Athan baik banget lo, om." Senyum Athan sumringah melambai mengiringi kepergianku.


Masih kudengar Athan meneriakkan ucapan terimakasih saat mobilku sudah menjauh dari rumah. Aku akan kembali ke Jakarta, mengantar sampel rambut Athan dan datang lagi ke Surabaya sesuai janjiku pada Raya. Raya ingin memberiku kejutan, mungkinkah dia berniat ingin memberitahukan soal Athan padaku. Aku tak sabar ingin segera berada dimomen itu.


Kalau saja papa enggak sibuk soal hasil DNA, aku sudah langsung melamar Raya hari ini juga, Raya pasti kaget. Tapi papa ingin melihat hasil DNA dulu, papa janji akan mengajak keluarga untuk langsung melamar Raya secara resmi setelah hasil DNA keluar. Persetan dengan hasil DNA, aku mencintai Raya.


.


.


.


RAYA


Awalnya aku berangkat ke pabrik seperti biasa, masuk keruangan ku, mengerjakan pekerjaan yang biasa aku lakukan setiap hari dengan baik. Sampai tiba waktunya pulang. Ibu Gigi mencegatku.


"Selamat Raya, akhirnya sukses mendapatkan hati pak Jagad."


Alih-alih meladeni bu Gigi, aku lebih memilih diam sambil melepas pakaian kerjaku


"Kemarin aku dan papa makan malam di rumah pak Jagad. Kamu tau apa yang terjadi?"


"Bukan urusanku."

__ADS_1


"Kamu enggak akan ngomong seperti itu kalau tahu apa yang aku katakan ke mereka?"


Sontak aku berhenti dari aktivitasku, menatap tajam ke arah bu Gigi yang sekarang tengah menyeringai.


"Aku bilang kalau wanita yang disukai pak Jagad adalah wanita enggak benar, yang memiliki anak diluar nikah, yang sampai sekarang enggak tau keberadaan bapak anak itu dimana!"


"PLAKKK!!!!"


Tanpa sadar tanganku mendarat mulus di pipi wanita yang sekarang berada dihadapanku, wanita yang aku segani dulu karena dia atasanku. Tapi sekarang, aku menatapnya tak lebih dari seekor lalat yang mesti dibasmi. Sialnya, bu Gigi masih sempat tersenyum.


"Apa pak Jagad menghubungimu? menanyakan perihal anak itu? kurasa enggak, karena mungkin saat ini dia sudah muak sama kamu."


"CUKUP!! atau kamu akan menyesal." Aku memejamkan mata, menghembuskan nafas pelan lalu berjalan menjauh dari Gigi sialan itu.


Aku meraih ponselku, berharap ada panggilan atau pesan dari Aga. Enggak mungkin dia tidak menghubungiku kalau sudah tahu aku pernah hamil. Dia seharusnya menyadari kalau bayi yang kukandung adalah anaknya. Dia satu-satunya pria yang meniduriku malam itu, Aga tahu.


Baru saja aku ingin menelepon Aga, notifikasi pesan dari pria itu muncul dilayar ponsel.


[Sayang, udah pulang belum?]


Aku mengeryit heran, apa bu Gigi barusan berbohong atau gimana. Jelas-jelas pesan Aga menggambarkan kalau dia seperti biasa. Aku menghembuskan nafas lega, bu Gigi hanya menggertakku, buktinya Aga belum tahu apa-apa. Dan aku tetap akan melanjutkan rencanaku, mengenalkan Athan dihari jadi Aga dua minggu lagi.


TO be continued

__ADS_1


__ADS_2