
Hari ini Athan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, dia hanya dirawat satu malam di rumah sakit. Kata dokter, Athan sudah agak mendingan dan cukup rawat jalan saja. Pagi- pagi sekali Fara sudah membantu Athan untuk mencuci muka, berganti pakaian dan sarapan sekaligus minum obat. Fara juga sudah mandi dan berganti pakaian, dia menumpang di kamar mandi tempat Athan dirawat.
Sambil menunggu mobil jemputan mang Deden sampai, Fara menyelesaikan administrasi rumah sakit di loket pelayanan. Dia meninggalkan Athan seorang diri di ruangan. Cukup lama, karena Fara mesti mengantre dulu, terus ternyata ada berkas yang belum difotokopi, dan Fara terpaksa harus keluar dari barisan antrean, berlari kecil menuju gedung luar rumah sakit untuk memfotokopi, kemudian kembali lagi ke loket. Sempat juga bersembunyi dibalik punggung antrean yang ada didepannya karena ada om Rudy, dokter spesialis bedah syaraf, temannya mama. Dan akhirnya Fara bisa tersenyum lega saat semuanya sudah diselesaikan. Dia berjalan kembali ke kamar rawat Athan.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara- suara dari arah kamar Athan. Pelan Fara membuka pintu kamar, dia sempat tertegun melihat Dira tengah duduk di sisi tempat tidur Athan, sambil menepuk pelan lengan cowok itu. Dan ada juga wanita berusia pertengahan enam puluhan yang berdiri di belakang Dira. Mereka serentak menoleh ke arah Fara saat perempuan itu masuk, Fara tersenyum dan menyalami wanita yang dipanggil Dira sebagai nenek.
“Makasih banyak ya, Fa. Untung ada kamu yang bantuin Athan, dia enggak bilang kalau alergi, padahal aku ada dirumah kemarin seharian.” Dira ikut tersenyum dan berdiri.
Fara mengangguk singkat,”Enggak papa kok.”
“Athan emang dari kecil punya alergi kacang almond, dulu pernah juga di bawa ke rumah sakit gara- gara gak sengaja makan cookies yang ada almond nya. Kapan ya, kalau gak salah waktu kelas empat SD ya, Than?” Dira menoleh ke Athan yang dijawab anggukan pelan dari cowok itu.
Fara lalu setengah melotot ke arah Athan sambil bersedekap.“Terus ngapain kamu makan kemarin kalau udah tau alergi?”
“Kan udah aku bilang gak sengaja.” Bela Athan yang enggan menatap mata Fara.
Fara baru saja ingin buka mulut lagi saat pintu kamar terbuka, kepala mang Deden muncul dari sana. Dira langsung membantu Athan untuk berdiri, sementara nenek Dira mengambil tas Athan dan menjinjingnya. Mang Deden yang memang ingin menjemput mereka langsung membantu nenek menjinjing tas. Dan Fara, gadis itu berdiri paling belakang, menonton mereka yang sudah mengambil tugas masing- masing. Sepertinya Fara tidak digunakan lagi di sini, Athan sudah ada Dira yang membantunya, ada nenek Dira dan mang Deden. Jadi, Fara seharusnya pulang dong, dia juga ada janji sama Dru ingin membuat video yang sempat tertunda kemarin.
Athan berhenti dari langkahnya dan menoleh ke belakang, ke arah Fara. Dia sempat mengernyit sebentar melihat Fara yang masih berdiri di sisi tempat tidur.”Kok masih disitu?”
“Hah...”
“Kita pulang...” Athan berjalan kembali ke arah Fara.”Kamu ikut ke rumah aku kan?”
“Enggak.”
Kening Athan makin berkerut mendengar jawaban Fara.
“Aku mau pulang ke rumah aku.”
“Enggak mau ikut ke rumah aku dulu?”
“Aku ada janji sama Dru.”
“Dru?”
Fara mengangguk singkat,”Kemarin aku pergi gitu aja, padahal kami lagi bikin video, jadi mau diganti hari ini. Kamu juga udah ada Dira kan yang jagain.”
Athan menghela nafas pelan, kemudian menatap Fara, “Aku enggak suka kamu dekat- dekat sama Dru.” Bisiknya hampir tak terdengar. “Tapi thanks untuk kemarin, semalam dan hari ini. Ingat janji kamu, aku bakalan tagih kalau aku udah sembuh.”
__ADS_1
“Janji apaan?”
Athan menjitak kening Fara dengan dua jarinya,”Kamu bakalan peluk aku kalau aku sembuh.”
Fara panik langsung menutup mulut Athan sambil meringis menoleh ke arah Dira dan neneknya. Fara yakin seratus persen mereka mendengar ucapan Athan barusan, Fara lantas balik lagi menatap Athan dengan tatapan yang, yah seolah Athan adalah mangsa empuk yang enak digigit. Sementara Athan masih saja memasang tampang sok polosnya. “Bareng aja sama mang Deden pulangnya, nanti lewat ke rumah kamu dulu.”Ucap Athan tanpa memperdulikan tatapan membunuh dari Fara.
“Enggak usah, aku udah pesan taxi online.”
“Ya udah, hati- hati ya, kabari kalau sudah dirumah.”
Fara ingin tertawa, dia mau membalas “siapa kamu sampe aku harus kasih kabar kalau sudah sampai rumah.” Tapi tentu saja kata- kata itu ditelannya bulat- bulat di kerongkongan, alih- alih membalas, Fara hanya diam, hingga akhirnya mereka keluar meningglkan kamar rawat.
Athan menoleh sekali lagi ke arah Fara sebelum cowok itu masuk kedalam mobil.”Beneran gak mau ikut mobil mang Deden?” tanyannya memastikan .
Fara menggeleng, dia jujur soal taxi online yang dipesannnya, lagian enggak efektif juga kalau Fara harus ikut di mobilnya Athan, otomatis membutuhkan waktu yang lebih lama berkeliling dulu mengantar Fara, sementara Athan juga masih dalam proses pemulihan yang mengharuskannya untuk beristirahat.
“Ya udah, hati- hati ya, thanks Fa.” Ucap Athan tulus, sempat- sempatnya cowok itu mengelus kepala Fara, membuat pipi Fara berubah merah, apalagi saat matanya bertabrakan dengan Dira yang menyaksikan tingkah Athan. Anehnya, Dira malah mengu lum senyum sambil menggeleng.
Sesampai dirumah, Fara masih memikirkan ekspresi Dira tadi. Perempuan itu tersenyum, tunggu, bukankah seharusnya Dira malah cemburu kan melihat Athan mengelus kepala Fara. Jadi, apa memang benar selama ini mereka, maksudnya Athan dan Dira pure sahabatan, tanpa ada unsur bermain perasaan didalamnya?... yang jelas, dari tadi sih, tidak ada gelagat Dira yang menampakkan kalau dia cemburu. Atau cuma Athan yang suka, Diranya enggak suka. Tapi Athan bilang dia cintanya ke Fara, berapa kali juga Athan bilang itu ke Fara. Walau tingkahnya selama ini nyebelin, cuek, sok enggak butuh sampai akhirnya berubah sejak Fara memutuskan untuk mengakhiri hubungan.
Hmmm, kalau dipikir- pikir kok jadi pusing ya. Ahhhkkkhhh, Fara menggelengkan kepala. Baru saja ingin ganti pakaian bersiap ke rumah Dru, ponselnya menyala. Nama Athan terpampang disana, cowok itu menelpon setelah mengirim pesan yang belum sempat Fara balas.
Fara mengernyit mendengar suara Athan yang datar dan to the point itu, lalu ia membuka whatsapp, kemudian mendengus membaca pesan Athan.
Aku udah dirumah, kamu sudah sampai belum?
“Sudah...” Jawab Fara singkat setelah menutup pesan.
“Lagi ngapain?”
“Mau siap- siap ke rumah Dru.”
“Ke rumah Dru....Harus sekarang ya?”
“Iya, aku udah janji ke Dru, kenapa?”
“Enggak papa sih....” Terdengar suara keberatan dari Athan. “Aku enggak suka kamu dekat- dekat sama Dru, tapi aku juga enggak bisa ngelarang kamu kan?”
Ini pernyataan apa pertanyaan sih, Fara cuma bisa menghela nafas pelan. Sikap Athan belakangan ini, jujur saja, bikin Fara bingung. Ada sisi dimana hati Fara menghangat mendengar pengakuan Athan kalau cowok itu enggak suka lihat dia dekat dengan cowok lain, terlebih melihat interaksi antara Athan dan Dira di rumah sakit tadi. Selama ini Fara berfikir kalau Athan dan Dira saling mencintai, tapi nyatanya, Fara tidak menemukan tatapan cinta, baik itu dimata Athan, terlebih lagi dimata Dira. Athan bahkan terang- terangan menagih janji dipeluk Fara tepat dihadapan Dira. Apakah selama ini Fara sudah salah sangka?...
__ADS_1
“Fa...?” Kamu masih dengar aku kan?”
Suara Athan membuat Fara tersentak, “Eh...Iya..”
“Mau berangkat sekarang?”
“Eh,,iya,,,iya berangkat sekarang, ini lagi siap- siap.”
“Ya udah, hati- hati ya.”
“Ya....” Ucap Fara pelan sebelum telpon terputus.
Sepertinya sudah tidak ada waktu untuk memikirkan Athan dan Dira, hari mulai beranjak tengah hari, Dru dan yang lain juga sudah menunggu Fara. Jadi Fara langsung menuju rumah Dru. Menuntaskan project mereka kemarin yang sempat tertunda.
Semua sudah berkumpul di gazebo di halaman rumah Dru ketika Fara tiba, perempuan itu langsung mengambil posisi duduk di dekat Dru sambil mendengarkan arahan dari Haikal selaku sutradara mereka.
“Boleh numpang ke kamar kecil gak?” Sempat- sempatnya Fara berbisik ke arah Dru, dia menahan pipis sejak berangkat dari rumah tadi, sebenarnya bisa saja Fara tadi pipis duu di rumah, tapi keburu taxi nya jemput, jadi ya Fara tahan aja dulu.
Dru menoleh dan mengangguk,”Di kamar gue aja, WC yang diluar lagi perbaikan.” Dru bangkit berdiri mengajak Fara berjalan ke arah kamarnya yang kebetulan hanya berseberangan dengan halaman tempat mereka berkumpul.
Ini kali pertama Fara masuk ke kamar cowok. Kamar Dru tergolong kamar yang super rapi untuk ukuran cowok, kamar Fara aja enggak pernah serapi ini.
“Rapi banget.” Itu komentar Fara ketika dia sudah keluar dari wc di kamar Dru.
Dru tersenyum, cowok itu duduk bersila di sisi tempat tidurnya, dia sempat menepuk sisi lain di sebelahnya, memberi isyarat agar Fara ikut duduk disana. “Bibik yang bersih- bersih, gue mana pernah merapikan kamar.” Dru terkekeh.
Fara sempat melirik deretan gitar listrik koleksi Dru yang dipajang di dinding kamar sebelum akhirnya ikut duduk disamping Dru.
“Fa, thanks ya udah mau bantuin gue. Gue berharap banyak sama project ini.”
Fara mengangguk,”Santai aja sih, gue juga lagi gak ada kerjaan kok.”
“Kalau gue minta tolong sekali lagi bisa gak Fa?”
“Minta tolong apaan?”
Dru sempat diam sebentar, kemudian menatap Fara, agak lama hingga Fara berfikir ini Dru mau ngapain sih, tangan Dru juga sudah menyentuh rambut Fara yang menjuntai kemudian diselipkannya ke belakang telinga perempuan itu. “Jadi pacar pura- pura gue mau gak?”
“Cuma pura- pura doang sampai single gue dirilis, sebab gue tau lo gak kan mau kalau jadi pacar sungguhan.”lanjutnya.
__ADS_1
Degg....