
Jom, kita ngintip isi kepala Aga dulu, wkkkkk
AGA
"Okay, kalau kalian ingin tertawa, silahkan tertawa sepuasnya."
Dan benar saja, baik Raya maupun Ian, tak ada yang mau berhenti mentertawakanku. Bahkan, Ian sudah berguling-guling diatas karpet dan memukul-mukul lantai.
"Jadi itu first kiss, lo?" Ian cekikikan.
"Bukan, first kiss gue udah diambil Raya." Aku memutar bola mata malas.
"Eoy monyong, kapan kita pernah ciuman." Sekarang giliran Raya yang mencak-mencak.
"Waktu kelas V SD, masa enggak ingat, kamu cium aku."
"Yah, itu karena aku kalah taruhan, kamu yang minta dicium. Lagian itu masih bocah, nggak masuk hitungan." Raya mengibaskan tangannya.
Aku terkekeh pelan, masih bocah? tapi tetap saja itu first kiss bagiku, yang tak pernah terlupakan.
"Jadi gimana rasanya?" Ian berhenti tertawa dan beralih menatapku.
"Apa nya?"
"Ciuman sama pacar? lo kan dari dulu penasaran gimana rasanya?" Ian menaik turunkan alisnya.
Aku berfikir sejenak, kalau mau jujur tentu saja jauh lebih manis bibir Raya, itu yang kurasakan waktu mencium Raya di mimpi basah pertamaku, kelas 2 SMP, dan selanjutnya aku sering mencicipinya dalam mimpiku. Kurasa sensasi manisnya akan sama jika aku menciumnya secara nyata, aku melirik bibir Raya sepersekian detik, lalu menggeleng pelan, otakku benar-benar enggak waras, tentu saja tingkahku barusan luput dari perhatian gadis itu. Ciuman Shella yang jelas nyata enggak ada apa-apa nya dibanding ciuman Raya walau dalam mimpi. Tapi aku enggak akan mengatakan itu, bisa mati dibunuh Raya saat ini juga kalau berani-berani aku bilang seperti itu.
"Aneh aja." Jawab ku pelan.
"Aneh karena lo diam aja kayak patung. Kiss is a two way communication, dua arah. Dia magut, lo juga magut." Ian menyatukan ujung-ujung jarinya membentuk orang yang saling berciuman, sambil tertawa.
"Udah, jangan ngikutin kata Ian, ajaran sesat." Raya beralih duduk disampingku. "Kalau mau pacaran, pacaran yang sehat."
***
Sebelum kedatangan Raya ke apartemen ....
Aku masih mengerjakan tugas kuliah, sesekali menguap karena mengantuk. Suasana sunyi dalam apartemen turut mendukung mataku untuk tertutup perlahan, benar saja, tak lama mataku pun terpejam sempurna. Tapi itu hanya beberapa menit, sebab suara bell apartemen menjerit nyaring, membuatku terjaga.
"Shella?"
Aku cukup kaget melihat Shella berdiri didepan pintu apartemen ku. Empat bulan kami pacaran, aku memang belum berani mengajak Shella ke apartemen. Kami hanya ketemu dikampus, sesekali nonton di bioskop kalau suntuk, makan di Cafe, atau di Starbucks dan jalan menemani Shella belanja di mall.
"Hai... Bentar lagi magrib kok tiduran?" Suara Shella mengagetkanku. Mungkin dia melihat muka bantalku yang ngantuk.
Aku membuka pintu lebar, mempersilahkan sang pacar masuk. "Dari mana tau apartemen gue?"
"Gue emang udah lama tau, lo aja yang enggak pernah nawarin main kesini."
__ADS_1
"Oh ya?" Aku berdiri salah tingkah.
"Gue bawa makanan, kita makan bareng Yuk." Letakkan Shella paperbag yang ada ditangannya ke atas meja.
Aku mengikuti Shella yang lebih dulu duduk di sofa,"Tunggu, gue beresin kerjaan gue tadi bentar."
Yah, laptop dan kertas-kertas tugas kuliahku masih terserak dikamar, ketikanku juga belum tersave, jadi aku berjalan ke kamar dan membereskan semuanya.
Aku enggak menyadari kalau ternyata Shella juga ikut masuk ke kamar, sampai sepasang tangan memelukku dari belakang, aku tersentak.
"Shella?"
"Hmmm." Shella mengeratkan pelukannya.
Jujur, aku benar-benar enggak nyaman dengan situasi saat ini, aku belum pernah berduaan dikamar bersama wanita seumur hidupku. Raya aja yang sudah berteman tahunan denganku, enggak berani nyelonong masuk kamar ini. Raya selalu mengetuk pintu kamar kalau mau memanggilku. Bagiku bedroom is scared, enggak sembarang orang bisa masuk, termasuk pacar. Aku memang menyukai Shella, dia cantik, aku naksir dia waktu kami sama-sama suka nongkrong di Jacob's Cafe, tapi kalau sudah seperti ini, aku malah jadi ilfeel, serius.
Shella menciumi leher belakangku, aku enggak terlalu polos untuk bisa menangkap maksud Shella, dia berusaha menggoda, tapi bukannya membuatku bergairah malah membuatku merinding. Setengah mati aku menahan gemetar, aku panik. Mungkin Shella sudah berpengalaman make out seperti ini, tapi enggak denganku, aku amatiran, bukan amatiran tapi sama sekali enggak ada pengalaman.
"Shell... Gue ke kamar mandi dulu." Aku melepaskan pelan tangan Shella yang membelit tubuhku. Keringat sebesar jagung hampir menetes di dahiku, aku enggak mengada-ada, aku benar terkena serangan panik.
Okay, aku meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Mungkin Shella bingung melihatku membawa ponsel ke kamar mandi, biarkan saja, aku lagi butuh pertolongan saat ini.
Dengan cepat aku menutup pintu kamar mandi, beralih ke arah toilet yang kedap suara. Ian, hanya Ian yang terlintas dipikiranku saat ini.
"Oyy, kenapa?" Suara Ian yang cempreng memenuhi pendengaran setelah aku memencet nomor Ian.
"Ian, ke apartemen gue, penting."
"Tolong gue, please. Ke apartemen gue."
Bip.. Bip... Bip..
Akhhh sial, ponsel ku lowbat, aku memaki pelan. Shella, aku enggak pernah tau, kalau dia seagresif itu, mirip kucing liar. Tengkuk ku masih meremang merasakan hembusan nafas hangatnya tadi disana.
Okay, hirup nafas panjang, hembuskan lewat mulut perlahan, itu yang biasanya dilakukan mama kalau lagi panik.
Aku membuka pintu kamar mandi, Shella masih duduk ditempat tidurku, busyeet dia tersenyum pula, seolah menantangku, sejauh mana keberanianku. Aku, tentu saja bukan nabi Yusuf yang punya iman sebesar gunung uhud, yang enggak mempan ketika digoda Zulaikha. Aku hanya Aga, pemuda lemah yang suatu saat bisa khilaf kalau dibombardir terus seperti ini.
Untuk menolak Shella, bahkan mengusirnya dari kamar ini pun, aku enggak sanggup. Aku takut dia tersinggung. Dengan cepat aku menutup laptop dan meletakkan benda itu bersama kertas tugasku diatas nakas.
"I'm hungry, tadi lo bawa apa? kita makan yuk."
Melihat gelagatku yang jelas menolak ajakan tersirat dari nya. Shella pasrah berdiri dan mengikutiku keluar dari kamar.
"Tadi gue bawa Signature Assorted Chocolate sama ayam MD."
Aku melirik sekilas box coklat yang dibawa Shella, Shella yang melihat lirikan mataku langsung berinisiatif membuka box tersebut. "Lo mau yang mana?" Shella menyodorkan box itu ke hadapanku.
Aku menatap isi coklat itu. Disaat aku masih mempertimbangkan ingin mengambil yang mana, Shella mengambil sebuah coklat berbentuk hati. Dia mengejutkanku ketika menyuapkan coklat itu padaku.
__ADS_1
Dan sekali lagi, Shella mengejutkanku dengan merebut sebagian coklat yang sedang kugigit, langsung dari mulutku. Dia enggak beranjak, malah sepertinya sengaja berlama-lama disana hingga ia menggigit coklat itu dan bibirnya menyapu bibirku.
Dan tepat saat itulah, aku mendengar suara teriakan. Baik aku dan Shella sama-sama terkejut melihat keberadaan Raya disini. Aku langsung berdiri kikuk lalu menghampiri Raya.
"Dasar Ian brengsek, dia nyuruh aku kesini."Raya berisik pelan.
Entah aku harus bicara apa, antara lega karena kedatangan orang lain disini, tapi juga gugup sebab Raya melihatku dengan posisi yang sama sekali enggak baik.
Akhirnya kuputuskan untuk mengenalkan Raya sebagai sepupuku dihadapan Shella.
Tidak perlu otak pintar untuk menangkap sorot mata Raya yang seperti ingin menelanku hidup-hidup saat aku memintanya menemaniku duduk bersama Shella ke depan. Wajah Raya bahkan sudah merah padam.
"Raya, aku enggak pernah minta tolong ke kamu kan selama ini. Please, sekali-kali aku minta tolong, masa kamu enggak mau." Akhirnya kalimat pamungkas meluncur mulus dari bibirku.
Aku enggak bermaksud pamrih karena selama ini aku telah banyak menolong Raya, bukan, bukan itu maksudku. Tapi akhirnya Raya mengikutiku untuk duduk bersama Shella.
"Ikut makan ya, Ya. Shella udah bawa ayam MD tadi."
"Tapi gue cuma bawa dua porsi gimana dong?" Shella memelas.
"Gak apa, gue bagi dua sama Raya."
"Enggak usah, kalian aja yang makan. Gue udah kenyang." Raya menekankan kata kenyang sambil menggerutukkan gigi ke arahku.
Okay, sepertinya Raya sedang menjelma menjadi macan betina malam ini. Aku mengalah dengan makan bersama Shella dalam diam, sementara Raya duduk disofa sambil menonton tv.
Aku terbebas dari suasana awarkd, saat Shella pamitan pulang dan Ian tiba diapartemen.
"Jadi ada apa? lo sakit? siapa aja yang lo hubungi nyuruh datang kesini? Tadi di lobi, gue ketemu Shella." Ian bicara tanpa jeda, wajahnya panik.
"Iya, dia sakit cinta!!" Raya menjawab sarkas sambil melirikku.
Dan Ian tentu bingung dong.
"Lo tau apa yang gue lihat pas nyampe disini? Aga sama Shella lagi ciuman, mata suci gue udah ternoda melihat mereka."
"Pfffhhhh.... Hahahaha, serius? Gila emang."Ian terbahak.
"Gue sampai izin kerja hari ini cuma untuk melihat dia berbuat maksiat."
"Cukup, okay!!!" Semua diam saat aku berteriak. "Gue panik, panik, gue serius. Shella yang cium gue." Aku menelan air liur kasar.
Detik berikutnya mereka tertawa...
"Okay, kalau kalian ingin tertawa, silahkan tertawa sepuasnya."
To be Continue...
Satu kata untuk Aga???
__ADS_1
Satu kata untuk Raya??
Satu kata untuk Shella???