JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Salah Batch


__ADS_3

RAYA


Senin merupakan hari sibuk setelah jatah libur Sabtu-Minggu kuhabiskan dengan seharian bersantai dirumah bersama anakku, Ranathan. Senin juga adalah hari dimana aku biasanya akan memulai kembali aktivitasku bekerja, berangkat pagi dan pulang saat adzan magrib berkumandang. Sudah dua bulan ini aku diangkat menjadi manager produksi di departemen beta laktam, sebelumnya aku adalah seorang supervisor.


Dan tepat pukul delapan pagi, disinilah aku berada, di depan sebuah gedung PT. Laboratoria Medicad tbk. Gedung ini terdiri dari gedung utama dan dua gedung produksi, yang membentuk huruf U. Gedung utama adalah gedung yang posisinya berhadapan dengan gerbang. Gedung lima lantai yang didominasi oleh dinding kaca itu terlihat paling mewah dengan desain paling modern. Di sisi kiri gedung utama adalah gedung produksi beta laktam, di gedung itulah tempatku bekerja. Sementara di sisi kanan, ada gedung dua lantai, disana adalah gedung produksi non beta laktam.


Kenapa ada dua gedung produksi?


Karena sifat bahan aktif beta laktam yang dapat mengakibatkan Anaphylatic shock hingga bisa berdampak pada kematian bagi seseorang yang alergi pada beta laktam. Untuk itulah dibuat gedung terpisah agar tidak terjadi kontaminasi pada produk- produk non beta laktam.


Aku baru saja membungkus tubuhku dengan pakaian produksi dan memakai masker, ketika Andin, supervisor produksi berjalan tergesa ke arahku. Wajahnya pucat, jantungku sudah berdebar, aku tahu pasti ada yang enggak beres, ya Tuhan, ini baru dua bulan berjalan aku diangkat jadi manager produksi, ku mohon jangan ada masalah yang serius.


"Ada apa, Ndin?" Aku memakai penutup kepala, dan melepas sepatuku, menggantinya dengan sendal jepit khusus untuk masuk ke ruang produksi, berusaha menampilkan ekspresi setenang mungkin.


"Anu.... Anu... Mbak!!" Wajah Andin makin pucat, hingga pikiran buruk terus menari- nari dikepalaku.


Karena Andin tak kunjung menjawab, maka aku berinisiatif untuk masuk sendiri ke ruang produksi dan melihat mereka dengan wajah pucat semua seperti kehilangan darah. Aku menghela nafas pelan, sambil berdoa dalam hati, semoga apa yang terjadi enggak seburuk yang terlihat.


"Ada masalah apa?" Tanyaku pelan, bertanya pada Gio, operator mesin kemas yang sedari tadi terus menunduk.


"Ini mbak, no batch nya salah cetak." Gio menjawab dengan suara bergetar.


Aku menatap kontainer- kontainer plastik yang sudah dipenuhi oleh tumpukan strip obat. Mataku terpejam, berusaha menenangkan hati dengan menghirup nafas panjang sebelum menanyakan sesuatu yang kuharap jawabannya enggak semenyeramkan yang kupikirkan.


"Berapa strip?" Wajah mereka makin pucat ketika aku menanyakan itu.


No... No... Jangan bilang semuanya.


Yang dimaksud batch adalah sejumlah obat yang memiliki sifat dan mutu yang seragam yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan. Dalam satu siklus itu, semua proses produksi mulai dari penimbangan bahan baku hingga pengemasan dicatat dalam satu dokumen yang disebut batch record.


Pada satu kemasan obat, nomor batch adalah sangat penting. Nomor batch sebagai penanda dalam satu proses produksi obat, sehingga apabila terjadi suatu masalah pada obat yang diproduksi maka perusahaan akan melacaknya lewat nomor batch record yang telah dibuat.


"Satu batch mbak." Jawab Gio lirih.

__ADS_1


Okay, ternyata memang semuanya. Satu batch obat adalah sepuluh ribu strip obat. Bagaimana mungkin mereka mencetak sepuluh ribu strip obat dan satupun enggak ada yang menyadari kalau nomor nya salah?


Aku menarik nafas, berusaha sekuat mungkin agar enggak meledak. Gio adalah orang baru yang bekerja di departemen beta laktam, sedang Andin, dia lebih lama bekerja disini. Strip obat enggak bisa dicetak tanpa acc dari supervisor. Dan ada juga fungsi IPC (In process control) yang mengambil sampel kemasan untuk diperiksa setiap beberapa menit selama proses pengemasan berlangsung.


Lantas kenapa enggak ada satu orangpun yang menyadari?


"Kenapa bisa?" Aku menyuarakan keherananku dengan suara yang mulai meninggi.


Semuanya menunduk, sampai membuat kesabaranku kian tipis. Baru dua bulan aku diangkat jadi manager produksi, apa kata big boss jika aku sudah membuat masalah sebesar ini.


"Tadi saat pergantian shiff kebetulan juga pertukaran batch, saya pikir mas Hendra sudah mengganti no batch yang di papan, jadi saya setting mesin sesuai dengan nomor yang di papan." Gio menjawab pelan.


"Dan kamu langsung acc, Ndin?" tatapanku beralih ke Andin yang bertugas sebagai supervisor.


"Saya cek kok mbak, saya cek dulu nomornya cocok, tanggal kadaluarsanya juga. Ya udah, saya acc."


"Lalu kenapa bisa salah?"


"Karena saya cocokkan berdasar nomor yang di papan, saya pikir sudah diganti."


Aku menatap wajah- wajah pucat yang sekarang sedang berdiri dihadapanku. Bukannya marah, aku malah iba melihat mereka, ini murni keteledoran, dan mereka hanya buruh- buruh pabrik dengan gaji tak seberapa. Membayangkan gaji mereka dipotong berbulan- bulan untuk membayar ganti rugi perusahaan membuatku tak tega meledak pada mereka.


Maka, kuputuskan untuk menghadap ke bu Giana, dia direktur operasional yang membawahi langsung departemen produksi. Bu Giana, yang sering dipanggil bu Gigi itu sebenarnya seumuran denganku. Dia blesteran Turkish - Indo, lulusan farmasi di Amsterdam. Baru dua tahun ini bekerja di PT Laboratoria Medica tbk, milik ayahnya pak Guesto.


Yah, perusahaan ini memang milik keluarga bu Gigi. Jadi tak heran jika dia yang memiliki kuasa penuh atas kami semua.


Aku menarik nafas panjang sebelum mengetuk pintu ruangan bu Gigi.


"Masuk." Suaranya yang khas dengan logat bule itu menyambutku.


"Ada masalah apa Raya?"


Aku duduk dan terdiam sebentar sebelum menceritakan semua masalah yang telah terjadi di departemen beta laktam. Wajah cantik blesteran itu langsung keruh setelah mendengar ceritaku.

__ADS_1


"Tidak ada cara lain selain memotong gaji mereka sebesar yang telah mereka rugikan pada perusahaan." Ucap bu Gigi tegas membuatku langsung merosot.


"Kamu tahu kan Ray, perusahaan kita hampir kolaps, bahkan setengah dari saham kita sudah diambil alih oleh pak Adyaksha, perusahaan farmasi di Jakarta. Kalau kita harus menalangi kerugian dari keteledoran para karyawan, kita akan bebar- benar gulung tikar."


Aku mengangguk pasrah, bu Gigi benar jalan satu-satunya adalah memotong gaji kami, gaji semua yang terlibat dalam masalah ini.


***


Aku pulang dan tiba dirumah saat hari mulai gelap dengan kepala berdenyut kecang. Athan sudah menungguku di muka pintu dengan senyum nya seperti biasa.


"Ibun bersih- bersih dulu, ya." Aku melewatinya, enggak berani menyentuh apalagi mencium karena aku tahu tubuhku masih banyak virus yang berasal dari luar.


Kami berkumpul diruang keluarga setelah makan malam.


"Ada masalah di tempat kerja?" Ibu melirikku yang sedari tadi menghela nafas, meski pelan.


"Sedikit bu, tapi udah kelar." Jawabku tersenyum ke ibu, aku enggak ingin cerita perihal gajiku yang dipotong akibat kesalahan di pabrik tadi, itu akan menambah beban ibu saja.


"Mbak, besok aku ajak Athan main ke rumah teman ya?" Siska ikut duduk bersama kami di kursi.


"Kemana?"


"Ke rumah Cia, teman sekelas aku. Mau lihat Song Jong Ki kw 3, katanya kakak sepupunya yang baru datang dari Jakarta mirip sama oppa Song Jong Ki, kami satu geng jadi penasaran dong, jadi mau pura-pura main kesana." Kikik Siska.


Alisku mengernyit, aku enggak begitu paham sebenarnya dengan oppa oppa korea yang poster nya memenuhi kamar Siska itu, ada ya anak sekarang, mengidolakan artis sampai segitunya.


"Mau ajak Athan ngapain?" Tanya ku.


"Iya, enggak apa- apa sih, si oppa demen sama anak kecil, buat pemancing biar dia mau ngobrol sama kami."


"Enggak boleh, enak aja. Athan biar sama ayah di toko." Mataku melotot tegas ke Siska.


"Athan ikut ibuuuuun!!!" Ehh, si bocah malah nge gas, aku yakin pasti Siska sudah menjanjikan sesuatu ke Athan. Kulihat mereka ber tos ria saat aku akhirnya menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Jagain ponakanmu baik- baik Sis." Ucap ibu sambil geleng kepala.


TO be continue....


__ADS_2