JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Aga jadian


__ADS_3

Raya


Ting...


Sebuah notifikasi pesan dari Aga yang mengabarkan bahwa dia enggak bisa menjemputku pagi ini, kubalas dengan stiker senyum, yang artinya enggak masalah, easy going. Sebenarnya, Aga enggak perlu repot seperti itu. Dari dulu juga aku enggak pernah minta antar jemput ke Aga, tapi Aga yang ngotot. Aku cuma enggak pengen dia repot, terutama saat aku pulang dari minimarket, terkadang sudah jam 10 an malam.


"Bahaya Raya, anak cewek pulang malam."Itu ucapan Aga setiap aku membahas masalah keberatan jika Aga menjemput, bukan apa-apa, aku cuma enggak pengen dia terbebani karena menjemputku setiap malam.


Tapi pagi ini Aga bilang enggak bisa jemput, kemaren juga dia sempat bahas, kalau dia kemungkinan enggak bisa jemput lagi. Aku sih sebenarnya tidak masalah. Jarak kontrakan ke kampus, enggak begitu jauh. Aku punya aset berharga yang bisa kumanfaatkan, yap sepasang kaki untuk berjalan.


Jadilah akhirnya kuputuskan untuk berjalan kaki menuju kampus, bukannya aku pelit enggak mau keluar duit buat bayar grab, tapi aku sangat menganut azas manfaat dalam hidupku. Ongkos grab bisa ku alihkan untuk beli nasi urak arik nanti siang, kan lumayan.


Aku sengaja memilih jalan tikus menuju kampus, melewati gang-gang sempit, tembus ke jembatan tempat dimana aku hampir ingin terjun kebawahnya dua hari lalu, kemudian berbelok di persimpangan jalan kecil yang nantinya mentok ke jalan raya tepat di bagian timur dari perpustakaan kampus.


Terbiasa dibonceng motor Aga, membuat nafasku sedikit ngos-ngosan ketika berjalan kaki seperti ini, but well, aku menikmatinya. Sejak aksi percobaan bunuh diri yang gagal malam itu. Aku jadi memikirkan lagi hidupku, aku memang enggak seberuntung yang lain, yang punya keluarga harmonis, pekerjaan orangtua yang bisa membuatku berjalan bangga sambil membusungkan dada, atau memiliki saudara yang saling menyayangi, aku memang tidak memiliki itu semua. Aku tahu, aku juga enggak akan bisa mengubah takdir, dan enggak memiliki kuasa untuk itu. Tapi aku diberi kuasa penuh oleh Tuhan untuk memilih, aku berhak memilih insecure atau bersyukur, aku bebas memilih untuk ikhlas menerima takdir dan menjalani hidup atau malah mengeluh meratapi nasib, dan Tuhan juga membebaskanku untuk memilih jalan yang buruk atau jalan baik, dan mulai saat ini aku akan memilih jalan yang baik.


Tit.... Tit.... Tit...


Suara klakson memekakkan telinga mengagetkanku.


"Aga?"


"Kenapa jalan kaki?" Aga menepikan motor dan membuka helm.


Belum juga aku menjawab, Aga sudah menyodorkan helm. "Ayo, naik."


"Katanya enggak bisa jemput lagi." Raihku pada helm yang disodorkan Aga dan mengambil posisi di jok belakang motornya.

__ADS_1


Aga memilih diam tak mau menjawab pertanyaanku. Entah hanya perasaanku saja, tapi Aga sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


***


"Telpon aku kalau mau pulang nanti, jangan jalan kaki lagi ya."


Aku mengangguk pelan, "Kamu...?" aku tidak melanjutkan pertanyaan ku sebab melihat Aga yang sepertinya sedang terburu-buru.


"Ya udah, aku duluan." Aga menstarter motornya dan melaju.


"Rayaaaa." Aku menoleh ke sumber suara. Dia Emily, teman satu fakultas, kami enggak begitu dekat sebenarnya, tapi karena dia juga ikut mengambil kerja paruh waktu di perpustakaan, membuat kami sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan.


"Kamu sama Aga hubungannya apa sih?" Emily menatap motor Aga yang sudah menjauh di ujung jalan.


"Teman."


"Teman doang apa teman spesial?"


"Ya teman spesial, kayak pacaran gitu."


"Pffhhh, hahahaha. Ya, enggak lah. Aku sama Aga cuma teman, gak ada spesial-spesialan."


"Ohh,, syukurlah."


Aku menaikkan alis."Kenapa? Kamu naksir ke Aga?"


"Yaelah, Raya. Semua cewek juga pada naksir ke Aga, tapi berita yang kudapat dari lambe turah, Aga jadian sama Shella. Makanya tadi aku tanya, kamu sama Aga ada hubungan apa."

__ADS_1


Aku mengeryit bingung,"Maksudnya?"


"Isshh, katanya temen, masa gak tau." Emily membuka ponsel, mengetik sesuatu, kemudian menggeser-geser layarnya cepat."Nih, lihat."


Aku mencondongkan wajah ke arah ponsel Emily, unggahan foto di laman IG milik Shella yang sudah 1.6K like, padahal baru pagi tadi diposting. Foto yang menampakkan dua tangan yang bersebelahan, tidak bersentuhan. Dan aku yakin 100 persen, tangan cowok itu kepunyaan Aga. Caption nya 'Februari gak sendiri lagi.' Berbagai komentar memenuhi unggahan tersebut, yang kesemuanya adalah ucapan selamat. Aku tersenyum simpul, jadi ini alasan Aga bilang enggak bisa menjemputku lagi.


Akhirnya, tidak bisa dipungkiri, aku juga ikut bahagia. Aga memang dari dulu pengen punya pacar, dari ulang tahunnya yang ke 18. Dan sekarang Aga sudah 20 tahun. Terbilang lama untuk cowok keren macam Aga.


Aku merogoh ponsel ku, sambil berjalan beriringan bersama Emily, aku mengetikkan sesuatu.


Me : Cieee, yang baru jadian diem- diem wae uyy.


Kelang beberapa lama, ponsel ku bergetar.


Aga : Tau dari mana?


Me : Ada di ig nya Shella.


Aga : Emang kamu udah ada akun Instagram?


Bibirku mengerucut membaca pesan to the point tak berperasaan itu. Aku memang sejak dulu anti bersosialisasi memang, yah enggak di dunia nyata, dunia maya sama aja. Aku insecure duluan. Dulu pernah sih punya akun di facebook, tapi enggak pernah bikin status, enggak pernah posting foto, cuma stalking stalking aja. Entah kapan terakhir kali ku buka, aku bahkan sudah lupa. Bagiku media sosial hanya sebagai ajang pamer, pamer sudah punya ini itu, ajang curhat juga, bikin status biar seisi dunia tahu kita lagi bahagia, marah, kecewa atau sedih.


Me : Enggak ada, tadi Emily yang ngasih tau.


Aga : O


Aku menyimpan ponsel setelah balasan super singkat dari Aga, hanya terdiri dari satu huruf tanpa titik dan koma sebagai penyedap. Maunya sih nodong Aga minta traktir makan dalam rangka perayaan pelepasan status jomblonya, tapi nanti aja, nunggu ketemu. Lagian aku mau marah ke Aga, sebagai sahabat, agaknya tersinggung juga, aku tahu Aga jadian dari Emily, bukan dari orangnya langsung.

__ADS_1


To be continue...


Happy reading yaa


__ADS_2