
RAYA
Aku selalu berpendapat bahwa first kiss itu scared. Harus dilakukan dengan orang yang benar-benar mencintaiku. Tapi prinsip itu sudah dilenyapkan Aga, yang menciumku untuk bahan percobaan nya.
Semalaman aku merenung dengan layar laptop yang menunjukkan halaman skripsi yang mesti ku revisi. Namun enggak ada satu kalimat pun yang berhasil ku ketik. Sementara benakku dengan lancangnya memainkan ulang ciuman Aga kemarin pagi.
Seharusnya aku sudah mengerjakan revisi dan kembali menghadap dosen pembimbing untuk konsul perbaikan. Namun, seolah ada yang menyumbat keran otakku sehingga aku enggak bisa berfikir sama sekali, yang kulakukan malah manyun sendiri, persis seperti jin kekurangan sajen. Aku masih saja terbengong di kamar sampai tengah hari, jadwalku seharusnya sudah mandi dan pergi ke kampus hari ini, bukannya tersenyum malu- malu hanya karena teringat Aga.
Demi tuhan, ini Aga. Apa yang bisa kuharapkan dari dia? Hidupku dan dia bagai langit dan bumi. Ada Shella atau gadis cantik dan kaya lainnya yang berderet yang ingin bersama Aga, aku enggak ada apa-apa nya dibanding mereka. Seharusnya aku tidak perlu memanjakan hati dengan mengenang kejadian kemarin, karena enggak akan ada kelanjutan dari cerita itu.
Aku menggeleng kencang, sebaiknya aku mengguyur kepalaku dengan air dingin agar bisa kembali berfikir jernih. Jatuh cinta ke Aga memang sangat mudah, dia tampan, baik, kaya. Orang- orang pasti akan mengasihaninya jika Aga berakhir denganku, dan aku, tentu saja akan di cap sebagai wanita tak tahu diri karena berani- beraninya menyukai sosok seperti Aga.
Aga sudah berangkat dari tadi, sebab besok adalah hari penting untuknya, Aga akan ujian skripsi, sementara aku lebih cepat satu minggu dari nya, aku sudah ditahap perbaikan. Jika tidak ada halangan bulan depan kami sudah akan wisuda.
Berbanding terbalik denganku, Aga malah bersikap biasa- biasa saja. Dia terlihat santai seolah enggak pernah terjadi sesuatu diantara kami. Dan tentu saja, itu cukup membantu menghilangkan kecanggunganku.
***
Sorenya aku pergi ke kampus, setelah memutuskan untuk enggak tenggelam dalam memori ciuman bersama Aga. Namun, tentu saja ketika beradu muka dengan Aga lagi, otakku jadi travelling ke insiden di dapur.
Aga enggak perlu tahu kalau aku masih sangat mengingat kejadian itu.
"Gimana perbaikan? udah?" Aga sudah menyodorkan helm ke arahku.
"Udah, kamu gimana?"
"Besok ujian skripsi, ntar malam bantuin ngecek typo PowerPoint aku ya."
Aku mengangguk, "Tadi aku ketemu Shella, kalian udah baikan?" tanya ku pelan ke Aga.
"Udah, hari minggu dia mau buat pesta ulang tahun sekalian kelulusan nya dia. Tadi dia pesan, kamu diundang."
"Dimana?"
__ADS_1
"Forex's night club."
Aku menaikkan alis, pesta di club. Yang benar saja, aku enggak akan datang.
Aku menyusul Aga duduk di ruang tamu setelah mandi. Aga pun sudah mandi sepertinya, bisa dilihat dari rambutnya yang setengah basah. Dia memangku laptop dengan kertas berserak dimana- mana.
"Kamu jadi mau ngambil S2?" Tolehku sambil melirik apa yang dikerjakan Aga di laptop.
Aga mengangguk singkat, "Udah daftar, dapat di LMU (London Metropolitan University), abis wisuda berangkat."
Hatiku mencelos, ada yang nyeri disana, ketika mendengar bahwa tak lama lagi kami akan berpisah. Aga akan pergi, terbang membentangkan sayap mengejar cita-cita nya, aku enggak perlu segalau ini kalau saja ciuman kemarin enggak pernah terjadi. Ketika melihat wajah Aga, aku menyadari sepenuhnya bahwa aku sudah jatuh cinta pada sosok ini.
"Oh iya, kamu nanti kerja di cabang perusahaan papa aja, nanti aku bantu masukin lamaran. Sebelum aku berangkat." Aga memutus lamunanku.
"Dimana?"
"Di Jakarta juga, di PT. Medixam, anak perusahaan dari perusahaan induk milik papa, bagian produksi non beta laktam."
"Ijazah belum keluar, aku daftar pake apa?"
"Nanti sambil kerja, kamu bisa kuliah lagi, ngambil profesi apoteker." Lanjut Aga.
Aku mengangguk bersemangat kali ini, setidaknya nanti setelah lulus kuliah aku enggak perlu kesana- kemari menyodorkan map meminta pekerjaan. Aku bisa bekerja di perusahaan farmasi papanya Aga, melanjutkan kuliah lagi dan mengepakkan sayapku juga.
***
"Beneran enggak mau ikut, Ray?" Entah untuk keberapa kali Aga memastikan itu.
Dan aku tetap menggeleng, pesta di club sungguh bukan duniaku. Aku sudah membayangkan seperti apa orang- orang yang bakalan datang kesana. Circle pertemanan Shella, enggak pernah main- main, kaum elit dan sosialita, tentu saja. Dan aku, lebih cocok jadi waitress disana ketimbang jadi tamu yang menghadiri pesta.
Aga menghela nafas pendek, dia sudah cerita kemaren, dia pun enggak mau datang. Cuma dia kan pemeran utama disana, pacar pemilik pesta, mana bisa dia absen.
"Kok belum pergi?" Tanyaku heran saat melihat Aga kembali duduk di sofa.
__ADS_1
"Nungguin Ian, dia datang juga."
Aku mengikuti Aga duduk disofa, "Nanti kalau kamu pergi, kalian LDR an dong ya, sama Shella?"
"Enggak,"
"Loh Shella mau lanjut kuliah di London juga? asyik dong." Suara seperti kaleng rombeng berhasil meluncur dari bibirku, aku pun enggak yakin itu benar-benar suaraku.
"Gue mau putusin dia sebelum berangkat."
Jlebb,,, tubuhku merosot. Nih anak kok gampang banget memutuskan hubungan, membuatku bergidik ngeri. Apa mungkin, karena Aga enggak pernah merasakan rasanya berjuang itu seperti apa, susahnya mendapatkan sesuatu itu seperti apa, dan aku yakin seorang Aga belum pernah benar-benar berjuang untuk hidupnya, apalagi cintanya. Sehingga ketika bosan, dia akan dengan sangat mudah melepaskan.
Bel apartemen berbunyi memutuskan lamunanku. Aku segera bangkit dan membuka pintu. Ian sudah berdiri disana, tersenyum.
"Loh, kok pake baju tidur? Lo enggak ikut?"
Aku menggeleng, "Gue belum cukup umur." jawabku bercanda.
Ian tergelak, hingga matanya menyipit. "Gimana kalau gue temenin lo aja disini? gue juga malas sebenarnya berangkat."
"Enggak enak lah sama Shella, sekalian jagain Aga. Iya kan Ga?" Tolehku ke Aga.
"Emangnya aku anak kecil pake dijaga segala." Aga mendesis.
"Hello, itu club, Ga!! Entar lo di *****- ***** sama Shella, hahahaha. Minimal ada Ian yang bisa nyelamatin lo. Atau sekarang udah nafsu sama Shella?" Aku menaik turunkan alis menggoda Aga.
Aga tersenyum miring, "Do you want me to kiss you again? Kayaknya aku lebih nafsuan sama kamu ketimbang Shella."
Damn.... Aku langsung menutup mulut Aga panik, sambil meringis ke arah Ian yang sudah terbelalak kaget.
TO be continue
Happy reading....
__ADS_1
Cerita sesungguhnya belum dimulai guys, pemeran utama belum babak belur disiksa othor,, biasalah ya,,, 😅 😅 😅