
5 TAHUN KEMUDIAN....
RAYA
Aku memarkirkan motorku di toko kelontong milik mang Iman dengan tergesa sebab bus perusahaan yang akan mengantarkan ku ke tempat kerja sudah menunggu. Jarak rumahku ke halte memang lumayan jauh, sekitar 15 menit dengan motor. Jadi setiap hari, aku akan berangkat dari rumah dengan menggunakan motor, dan menitipkannya di tempat mang Iman, adik angkat ayah. Dan selanjutnya aku akan menumpang bus menuju PT. Laboratoria Medicad tbk tempatku mengais rezeki hampir empat tahun ini.
Aku memandang keluar dari kaca jendela bus yang berembun sebab hujan semakin deras mengguyur kota Surabaya sejak subuh tadi. Sementara geliat hiruk pikuk kehidupan kota besar mulai terasa disana sini. Bunyi klakson kendaraan yang saling bersahutan, serta decitan ban memenuhi ruang dengarku, mereka seperti berlomba untuk mengantarkan siapapun yang berada didalamnya sampai ke tempat tujuan.
Beginilah rutinitasku hampir setiap hari, kecuali hari Sabtu Minggu. Karena perusahaan tempatku bekerja menganut sistem 5 hari kerja.
Aku bekerja di PT. Laboratoria Medicad tbk, sebuah pabrik farmasi yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur. Lebih spesifiknya di departemen produksi.
Setiap hari perusahaan menyediakan bus untuk karyawan yang tinggal di Surabaya. Jarak Surabaya - Sidoarjo sekitar satu jam dan biasanya selalu macet, itulah mengapa aku lebih memilih naik bus perusahaan ketimbang motor.
Aku turun beserta teman-teman yang lain ketika bus kami telah sampai. Tanpa menunggu yang lain, aku segera menuju ke gedung produksi beta laktam. Gedung yang memproduksi jenis antibiotik jenis penisilin, golongan amoxilin.
"Hai,, mbak Raya.." Aku tersenyum sekilas sambil melampisi bajuku dengan pakaian produksi berwarna putih ketika Gelis menyapaku. Dari sekian banyak karyawan disini, mungkin hanya Gelis yang tulus ikhlas berteman denganku, enggak pernah berbicara buruk baik di depan apalagi dibelakangku. Sedang yang lain hanya fake, pura-pura baik di depan dan mengataiku di belakang.
"Eh... Sekarang siapa lagi yang dia goda??"
"Hati- hati jangan terlalu akrab deh sama Raya, entar laki lo di embat."
"Bingung,, sebenarnya statusnya apa sih? Janda bukan, gadis juga bukan... Eh ada anak aja. Kasian anaknya enggak ada bapak."
Begitulah cuitan orang- orang sekitarku selama ini. Dan aku, tentu saja cukup menulikan telinga dan menebalkan muka. Toh aku enggak pernah minta makan ke mereka, aku bekerja, dan uang yang kuhasilkan halal. Jadi, mereka enggak ada pengaruh apa- apa bagiku. Kecuali jika mereka mulai menyeret- nyeret nama anakku, maka aku enggak akan tinggal diam. Enggak ada seorang pun yang boleh menghina Athan.
Pukul lima sore biasanya lonceng berbunyi di segala penjuru pabrik. Pertanda waktu bekerja telah usai, dan aku akan bergegas membuka pakaian produksi yang membungkusku lalu ikut yang lain untuk menunggu bus pulang.
***
"Makasih mang." Aku menghidupkan mesin motorku di pelataran toko mang Iman.
__ADS_1
"Eh, titip untuk Athan ya."
"Apa ini mang?" Aku mengambil bungkus plastik besar yang disodorkan mang Iman.
"Bekas mainannya Fajar, masih bagus- bagus. Kasih ke Athan, wong Fajar nya udah gede, udah masuk pesantren."
Fajar anak tertua mang Iman yang baru masuk pesantren tahun kemarin.
"Makasih mang, Athan senang banget pasti nih."
"Iya, salam sama Ayah kamu ya."
Sekali lagi aku mengangguk sebelum melajukan motor matic yang ku beli secara kredit sejak dua tahun lalu itu.
Ayah sedang duduk menghisap rokok diteras dengan kopi serta sepiring singkong goreng diatas meja ketika aku tiba dirumah. Dan ibu, ibu tiriku, wanita yang dinikahi ayah dulu, duduk di kursi disampingnya.
"Athan mana buk?" Ucapku sambil melepas helm, kemudian menyalami ayah dan ibu.
Siska itu anak nya ibu tiriku. Usianya sekarang 16 tahun, kelas 2 SMA. Kali ini ayah memilih jalan yang benar dengan menikahi seorang wanita baik seperti ibu tiriku itu. Sifatnya anggun dan keibuan serta enggak neko- neko. Sangat berbanding terbalik dengan mama tentunya. Satu hal yang sangat aku syukuri sampai hari ini.
Athan muncul dan berlari ke arahku sambil mengerucutkan bibir. Aku tahu, dia sedang merajuk jika berekspresi seperti itu.
"Kenapa sayang?" Tanyaku gemas.
"Bibi Siska!!! "
"HEEI,, Jangan panggil aku bibi!!!!"
"KAU MEMANGGILKU BOCAH, TAU!!!"
"Kau memang bocah...Dasar bocah." Siska yang sudah ikut keluar, mengacak rambut Athan yang langsung ditepis oleh anak itu.
__ADS_1
"Jangan panggil aku bocah!!!"
"Terus panggil apa?" Kali ini aku yang bersuara.
"Pria empat tahun, aku pria empat tahun, mommy!!"
Ya Tuhan, kepalaku mendadak pening sementara semua sudah terbahak. Dan lagi, sejak kapan bocah ini memanggilku mommy.
"Siapa yang mengajarimu memanggil mommy hmm? Uang ibun enggak cukup mau kasih kamu belanja kalau panggilnya mommy, panggil seperti biasa. Panggil ibun okay!!"
"Tapi Mike panggil mommy." Athan tak terima sebab teman sekolahnya yang setengah bule memanggil mamanya dengan sebutan mommy.
"Jangan lihat rumput tetangga, son. Tetap panggil ibun, no debate, okay."
"Okay...Tapi, apa hubungannya dengan rumput tetangga, ibun?"
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan Athan dan mengacak rambut Athan pelan. "Eh iya, ini ibun bawain mainan dari bang Fajar, banyak loh."
Athan langsung meraih kantong plastik yang ku pegang dan antusias membukanya, sama sekali lupa pertengkarannya dengan Siska barusan, membuatku geleng kepala.
Aku berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri, sementara Athan sibuk dengan aktivitasnya.
Malamnya setelah selesai minum susu dan sikat gigi, bocah yang sangat anti dipanggil bocah itu sudah bersiap untuk tidur. Aku segera mengambil posisi berbaring disampingnya.
Athan memeluk pinggang ku erat, sambil memejamkan mata, ia bergumam. "Ibun, aku ingin punya papa. Kapan papa pulang, katanya kerja kok enggak pulang- pulang."
Sebenarnya ini adalah pertanyaan rutin yang Athan lontarkan sebelum tidur, dan biasanya aku akan menjawab," Papa belum bisa pulang sayang, jadi kalau Athan rindu papa, berdoa saja ke Tuhan, titip salam lewat bintang di langit, nanti bintang di langit akan sampaikan rindu Athan ke papa."
"Bintang di langit suka bohong, ibun. Buktinya papa enggak pernah muncul. Athan pengen papa seperti Mike, yang bisa jemput Athan ke sekolah tiap hari. Atau papa seperti Tiara yang punya pistol, yang punya topi polisi. Yang nyata ibun, bukan bo'ongan."
To be continue
__ADS_1
Nah kaget kan,, kok udah lima tahun aja nih cerita. Biar enggak monoton dan membosankan. Jadi alurnya dibikin maju mundur ya... 😇 😇 😇