JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Meledak


__ADS_3

AGA


Suara dentuman musik memekakkan telinga langsung memenuhi ruang dengarku ketika aku memasuki club bersama Ian. Kami langsung menuju ruang VVIP yang memang sudah di reservasi Shella untuk pestanya.


Di sana sudah ada Shella dan beberapa teman yang diundangnya. Duduk melingkari sebuah meja bundar. Dengan botol minum di atas meja. Shella langsung menghampiriku, memberi kecupan singkat di pipiku sebelum menggandengku duduk disebelahnya.


"Happy b'day." Ucapku, enggak bisa dikatakan pelan sebab harus mengimbangi suara musik yang berdetak kencang diruangan ini. Sementara Ian sudah bergabung dengan yang lain di meja berbeda.


"Kado?" Shella menengadahkan tangannya manja ke arahku.


Aku meraih sesuatu dari dalam kantong jaket, kotak kecil yang sudah dibungkus rapi, dan memberikannya ke Shella. Isinya sebuah gelang, pilihan Raya. Aku juga membelikan satu untuk Raya.


"Gue buka sekarang atau nanti?"


"Terserah." Jawabku mengedikkan bahu.


"Okay, kita buka sama- sama nanti di apartemen gue."


Aku menaikkan alis, "Gue enggak bilang ya Shel mau ke apartemen lo."


"Ini hari spesial gue, Ga. Sekali kali lo nurutin permintaan gue, kenapa sih?"


Aku menghela nafas pelan, kesalahanku adalah terlalu lama mengulur waktu, enggak pernah tegas pada perasaanku sendiri. Seharusnya aku sudah mendepak gadis ini jauh hari sebelum hubungan tidak sehat ini berjalan berlarut- larut.


Jujur saja, aku dan Shella sebenarnya seperti kutub Utara dan kutub Selatan, kami enggak pernah nyambung. Terlalu jauh perbedaan sehingga aku enggak bisa bertahan, dia dengan segala pernak-pernik kehidupannya yang hedonis, seperti ini misalnya. Aku sudah muak berada di tempat semacam ini, padahal belum lima belas menit kakiku menginjak lantai club yang seperti ikut bergoyang akibat suara musik yang begitu kencang.


Alih-alih menanggapi Shella, aku malah melirik Ian, yang sama bosannya denganku. Namun Ian sudah memegang sesuatu ditangannya, minum? Shitt, sejak kapan Ian minum, dia bisa mabuk kalau begini.


Baru saja aku ingin berdiri menghampiri Ian. Flo, sahabat Shella berdiri, mengucapkan kata pembukaan untuk pesta Shella malam ini, membuatku mau enggak mau harus tetap berdiri di tempat.


"Happy b'day Shella, selamat juga buat gelar SH nya sayang, we proud of you, hunny. This night for you !!!!" Flo berteriak. "Cherrrsss for Shella, congratulations!!!"

__ADS_1


Semua mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi, Shella yang berdiri disampingku memberiku sebuah gelas berisi cairan putih bening, sekilas terlihat seperti air putih biasa. Aku meraih gelas itu dan ikut bersulam untuk keberhasilan Shella.


"What's that?" Minum itu terasa manis di tenggorokanku, ini bukan alkhohol, aku tahu.


"Just Cherry, not alchohol."


Hampir satu jam kami berada disana, beberapa sudah turun ke lantai dansa dan menari, beberapa juga sudah mabuk parah, termasuk Ian. Aku sedang menghentikan Ian dan berusaha memapahnya. Kami harus pergi dari sini secepatnya.


Tapi ada yang aneh pada tubuhku, aku enggak tahu apa. Segalanya seperti terasa gerah dan panas. Aku meminta air putih ke bartender, meneguknya hingga gelas ke lima, perutku sampai kembung. Tapi panasnya enggak berkurang.


"Ian sudah mabuk, tadi gue udah telpon kakaknya buat jemput. Jadi lo enggak perlu mengkhawatirkan Ian." Entah kapan Shella sudah duduk disampingku.


"Sejak kapan lo kenal kakak Ian?"


"Kakaknya teman om Riyan, sama-sama di firma. Dia lagi jalan kesini." Shella menjelaskan. Om Riyan adalah adik mama Shella, seorang pengacara, sama seperti kakak Ian.


"Yuk, pulang, lo tadi bareng Ian kan? enggak bawa kendaraan?"


Shella masih menyusulku, sementara aku sudah berjalan ke arah pintu exit. "Ga, lo enggak sehat, gue khawatir terjadi apa-apa dijalan, gue antar."


Dengan sambil menahan perasaan aneh yang mulai muncul dalam tubuhku, aku berbalik, tubuhku bahkan setengah menggigil sekarang." Gue masih sehat tadi sebelum kesini, sebelum gue minum air dari gelas pemberian lo, jadi bisa jelaskan ke gue, apa yang lo campur di minuman sialan itu?"


Tubuh Shella tiba-tiba menegang, wajahnya sedikit pucat.


"Lo anak hukum kan? lo pasti tahu akibatnya dan pasal berapa yang akan menjerat lo, kalau berbuat sesuatu yang merugikan orang lain?"


"Ga, lo mabuk." Shella mengelak.


"Gue enggak nyentuh alkohol, brengsek!!!" Bentakku sambil mendorong Shella ke dinding, menahan tangannya ke atas kepala. Aku yakin ada yang dicampur Shella ke minumanku tadi, tubuhku tiba-tiba berubah drastis.


"Ini kan yang lo mau." Aku menyentuh bibir Shella dengan rakus, bersamaan dengan sesuatu didalam tubuhku yang terus meledak- ledak.

__ADS_1


Secepat aku menyentuhnya, secepat itu pula aku menghentikannya. "Dasar wanita murahan!!!" Decihku sambil menatap jijik ke Shella dan mengelap bibirku dengan punggung tangan.


"Kita putus!! Jangan pernah menampakkan wajah lo lagi depan gue." Aku melepaskan Shella dengan kasar dan meninggalkannya.


Shella berlari, masih berusaha terus mengejarku, "Ga, ini bahaya. Lo harus pulang bareng gue." Kali ini suara Shella benar-benar tampak memohon.


"Gue restraining order kalau lo masih ngikutin gue!!!" ancamku, sampai Shella akhirnya berhenti dan membiarkanku pergi dengan wajahnya yang tampak was- was.


Aku menghentikan sebuah taxi dan kembali ke apartemen. Entah aku masih sanggup atau tidak berjalan sampai ke unit ku, tubuhku benar-benar parah, keringat sebesar jagung sudah mengaliri dahiku. Satu- satunya yang ingin kulakukan saat ini hanyalah melepaskan sesuatu yang meledak meraung-raung dalam tubuhku sejak tadi.


"Aga???? What's wrong? Ian mana?" Raya langsung menyambutku di depan pintu. Wajah cemas yang sama sekali enggak ia tutup- tutupi memenuhi penglihatanku.


Raya memapahku sampai ke kamar, membuka sepatu dan kaos kaki ku, dan memberiku minum. Sementara aku terguling di kasur seperti paus terdampar. Ini benar-benar panas dan gerah.


"Badan kamu panas, Ga." Raya menyentuh dahiku, sentuhan biasa tapi mengapa begitu menggairahkan bagiku.


"Ray...." Aku bergumam. "Please, help me. Raya...!!"


"What can I do for you?"


"I want touch you, I want you... Please." Sekali lagi aku bergumam, meracau sambil menatap Raya penuh damba. Sementara Raya tampak bingung dan gugup berada didekatku.


Aku enggak peduli lagi pada apapun, tubuhku sudah menguasai otakku. Aku benar-benar enggak tahan lagi. Tanpa pikir panjang aku meraih tubuh Raya yang menegang disampingku, menuntaskan sesuatu yang ingin keluar dari tubuhku sejak tadi.


Aku mendengar Raya yang menjerit dan menangis, aku sadar dia kesakitan karena perbuatanku, tapi seolah ada yang mengkomando dan menguasai diriku untuk terus menyentuhnya, terus dan terus sampai sebuah cahaya putih itu mendekat, semakin dekat dan pecah menghamburkan serpihan cahaya kecil yang memenuhi kamarku. Sesuatu seperti meledak dalam diriku diikuti oleh aku yang ambruk sambil memeluk Raya. Sementara Raya bergetar dengan air mata menganak sungai diwajah nya. Ini bukan diriku, aku enggak mungkin membuat Raya tampak menderita seperti ini. Aku enggak akan menyakiti Raya, ini bukan aku.


Aku menggeleng pelan sebelum memejamkan mata. "I'm sorry, Raya."


To be continue...


Happy reading yaaa....

__ADS_1


__ADS_2