
Masakan yang dibuat oleh Riani akhirnya lebih cepat selesai karena ada dua pria ganteng yang membantunya.
"Wah, aku pasti akan banyak makan malam ini." ujar Clark saat melihat semua masakan sudah ada di atas meja.
Jack memperhatikan bagaimana Clark berusaha menguasai percakapan di meja makan dengan kefasihannya berbahasa Indonesia.
"Jack, kau tak suka makan nasi? Kau harus membiasakan diri lho makan makanan Indonesia sebab istrimu sangat pintar memasak. Aku justru jadi ketagihan makan di sini." kata Clark lalu menikmati teh melati yang Riani siapkan.
"Jack sudah mencoba makan nasi namun ususnya belum terbiasa. Namun aku yakin kalau Jack pasti akan bisa. Iya kan sayang?" Riani m natap suaminya.
"Tentu saja. Kita akan hidup bersama bertahun-tahun lamanya masa sih aku nggak bisa makan nasi." Jack membelai pipi Riani yang memang duduk di sampingnya. Clark hanya tersenyum. Kau boleh menunjukan kemesraan mu padaku sekarang namun aku tahu, akan ada saatnya kau bosan dengan Riani seperti kau juga bosan dengan yang lain.
Akhirnya selesai makan dan berbincang sedikit, Clark pamit pulang sambil berjanji kalau ia akan datang kembali untuk makan makanan Indonesia. Tak dipedulikannya dengan wajah Jack yang nampak tak suka, pria itu pun segera masuk ke dalam mobilnya.
"Aku mau membereskan dapur dulu." ujar Riani.
"Aku bantu ya?"
"Nggak usah sayang. Kamu kan capek bekerja seharian. Gantilah baju dan bersihkan tubuhmu."
"Pokoknya aku mau bantu." Jack melangkah di samping istrinya sambil memeluk pundak Riani.
Mereka pun berkerja sama untuk membersihkan dapur dan ruang makan.
"Aku akan membeli mesin pencuci piring agar kamu nggak capek karena harus mencuci piring."
Riani menatap suaminya. "Capek apa sih, sayang? Hanya cuci piring. Airnya juga hangat nggak dingin."
"Tetap saja aku akan membelikannya."
Riani hanya menggelengkan kepalanya. Ia terus melanjutkan pekerjaannya sementara Jack menuju ke kamar.
Selesai membereskan piring yang kotor, Riani pun segera ke kamar. Ia melihat kalau Jack sudah selesai ganti pakaian.
"Sayang, kapan saljunya turun?"
Jack mendekati istrinya. "Mungkin sekitar satu minggu lagi, sayang. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin merekam salju pertamaku di sini. Arma ingin melihatnya."
Jack memeluk istrinya. "Aku akan mengajak kamu ke suatu tempat jika salju pertama akan turun."
"Oh Jack. Aku tak sabar menunggu hari itu." Riani melepaskan pelukannya, lalu sedikit mendongak menatap suaminya. "Tadi aku melihat kau kurang nyaman saat makan malam dengan Clark. Ada apa?"
Jack yang masih memeluk tubuh Riani langsung melepaskannya. Ia melangkah dan duduk di tepi ranjang.
"Sejujurnya, aku cemburu melihat kedekatan kalian. Kalian nampak tertawa bersama menggunakan bahasa Indonesia. Sama-sama menikmati makanan Indonesia yang pedas."
Riani duduk di samping suaminya. "Jack sayang, Clark kan sahabat kamu. Jadi nggak mungkinlah kalau dia macam-macam. Sekalipun Clark ternyata punya niat yang nggak tulus saat bersamaku, aku tak mungkinlah menanggapinya. Mana mungkin aku mengkhianati pria sebaik kamu? Bagaimana mungkin aku melupakan perjuanganmu untuk bisa menikah denganku? Kau adalah segalanya, tak akan tergantikan walaupun seribu Clark berdiri di hadapanku."
Jack tersenyum. Ia langsung menarik tangan istrinya dengan pelan dan meminta Riani untuk duduk di pangkuannya.
"Kalau aku nggak masuk kerja, ajari aku bahasa Indonesia ya?" pinta Jack sambil mengusap lengan istrinya.
__ADS_1
"Ok. Dengan senang hati."
Keduanya tertawa bersama. Setelah itu Jack mulai mencium pundak istrinya dan tangan Jack dengan cepat menyusup masuk ke balik kaos yang Riani kenakan.
"Sayang, kamu mau apa?" tanya Riani sambil berusaha untuk tak bersuara karena sentuhan Jack itu.
"Kamu sudah tahu apa maksudku sayang."
Riani tertawa kecil saat Jack perlahan mengangkat tubuhnya lalu membaringkannya di atas ranjang. Ia tentu saja tahu apa maksud suaminya dan ia juga menginginkannya.
************
Pekerjaan Riani di toko kue kini bertambah. Ia juga membuat kue coklat yang ternyata banyak diminati oleh pengunjung toko itu. Termasuk juga Clark.
Clark setiap lagi akan mampir ke toko itu untuk sekedar minum kopi dan menikmati kue.
Hari ini, cuaca bertambah dingin. Riani bahkan harus menyusun sebuah mantel tebal yang dipakainya dengan jaket yang tebal juga.
Sayang, kayaknya salju akan turun hari ini. Kamu tunggu aku di toko kue ya? Aku akan pulang cepat dan menjemputmu di sana. Kita akan melihat salju turun untuk yang pertama Kali.
Riani pun nampak bahagia. Ia lebih semangat lagi bekerja.
Jam empat sore, udara bertambah dingin. Pengunjung toko kue pun sudah tak ada.
"Riani, apakah kau akan pulang? John bisa mengantarmu ke desa. Cuaca sudah sangat dingin." Ujar Elisa.
"Jack akan menjemput ku di sini."
"Baiklah. Aku dan John ada di belakang untuk menyiapkan makan malam. Jangan lupa tutup pintu jika kau akan pergi ya?"
Riani duduk di dekat pintu masuk agar bisa langsung melihat jika mobil Jack datang.
Tak lama kemudian, Riani melihat mobil Jack memasuki halaman toko kue. Riani pun bergegas keluar dari toko.
Jack turun dari mobil sambil membawa sebuah topi rajutan. Ia memakaikannya di kepala Riani.
Saat mereka tiba dalam mobil, Jack juga memberikan sepasang kaos tangan rajutan untuk istrinya. "Supaya kamu nggak kedinginan sayang."
"Terima kasih, Honey." ujar Riani. Ia selalu merasa senang dengan semua perhatian Jack padanya.
Mobil Jack pun perlahan meninggalkan halaman parkir toko kue itu. Mereka menuju ke suatu tempat yang agak jauh dari desa itu. Ke suatu daerah perbukitan.
"Sayang, tempat ini indah." ujar Riani saat turun dari mobil. Ada juga beberapa mobil yang terparkir di sana.
Jack melingkarkan tangannya di bahu Riani lalu mengajak istrinya itu berjalan. "Tempat ini memang indah, sayang. Banyak pasangan yang ke sini untuk melihat salju pertama kali turun. Menurut legenda yang beredar di sini, jika sepasang kekasih datang dan menikmati salju pertama yang turun maka permohonan mereka akan terkabul."
"Oh ya? Lalu apa permohonan mu?"
"Katanya nggak boleh dikatakan pada siapapun sebelum itu kita ucapkan saat salju turun."
"Rahasia nih?"
"Akan ku katakan jika saljunya sudah turun." ujar Jack sambil mencium puncak kepala Riani.
__ADS_1
Mereka memasuki sebuah cafe yang ada di sana. Jack memesan 2 kopi.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Riani saat keduanya duduk menghadap jendela sambil menikmati kopi mereka.
"Sudah. Tadi aku makan di cafe kantor."
"Apakah kita akan menjemput Cassie minggu ini?"
"Belum sayang. Ijin pulang Cassie hanya sebulan sekali. Namun setiap Minggu, kita bisa mengunjunginya dan mengajaknya pergi selama 3 jam."
"Dia pasti kesepian di asrama."
"Sebentar lagi dia bisa tinggal bersama-sama dengan kita." Jack meraih tangan Riani dan menggenggamnya erat.
"Sayang, apakah kamu seromantis ini orangnya?"tanya Riani saat merasakan betapa manisnya semua sikap Jack padanya.
"Entahlah. Bersama mu rasanya seperti ABG saja. Makanya sebelum kamu datang ke sini, aku sangat merindukanmu."
Riani menatap Jack. Mata elang itu sungguh meneduhkan hatinya.
"Aku mencintaimu, Jack." bisik Riani membuat Jack yang masih menggenggam tangan Riani itu tersenyum. "Aku juga mencintaimu, sayang."
Lalu keduanya berciuman dengan sangat lembut dan mesra.
Selesai menikmati kopi, keduanya melangkah kembali ke luar. Sudah semakin banyak pasangan yang datang.
Riani merapatkan tubuhnya pada suaminya dan Jack mendekapnya dengan erat. Bagi Jack, udara dingin seperti ini sudah biasa. Namun bagi Riani yang terbiasa dengan udara tropis pastilah ini sangat dingin.
"Sayang, saljunya turun...!" teriak Riani kegirangan. Ia langsung melepaskan diri dari dekapan Jack lalu ia melepaskan salah satu kaos tangannya sehingga bisa menyentuh salju itu secara langsung. Riani tak lupa mengeluarkan ponselnya dan merekam momen berharga ini.
"Arma sayang..., Mama sudah menyentuh salju untuk pertama kalinya. Ini sangat indah. Nanti kalau Arma sudah datang ke sini, kita pasti akan datang ke sini bersama."
Riani asyik berputar-putar sampai akhirnya ia melihat Jack yang sedang melipat tangannya dan tertunduk sambil menutup mata. Tak lama kemudian, pria itu membuka matanya, lalu menatap istrinya sambil tersenyum.
"Jack, apa permohonan mu?" tanya Riani penasaran.
"Aku ingin menjadi tua bersamamu."
Riani jadi baper. Ia tak menyangka kalau permohonan Jack seperti itu. Dengan cepat ia memeluk dan berjinjit lalu mencium pipi suaminya dengan gemas. Kemudian ia memejamkan matanya lalu berdoa dalam hatinya. Tak lama kemudian, ia membuka matanya.
"Aku pun mengucapkan sumpah yang sama, sayang. Aku ingin menjadi tua bersamamu."
Jack kembali memeluk istrinya, merasakan hangatnya tubuh mungil itu lalu kembali mencium bibir merah tanpa lipstick itu.
"Wah....wah......sungguh romantis."
Jack dan Riani sama-sama menoleh. Di depan mereka kini berdiri Clark dan seorang gadis cantik yang wajahnya mirip model terkenal Cecilia Smith.
**********
Hallo semua....
semoga suka dengan bab ini
__ADS_1
jangan lupa dukung emak ya guys