Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Ngambek


__ADS_3

Bunyi pintu yang dibanting secara keras membuat Riani sangat terkejut. Jack yang biasanya lembut dan terlihat sabar, kini sangat berbeda.


Riani mencoba menenangkan hatinya selama beberapa menit. Ia kemudian turun perlahan dari tempat tidur. Setelah memakai mantelnya, Riani keluar kamar dan melihat Jack sedang berdiri di depan perapian. Di tangannya ada gelas berisi minuman.


"Jack....!" panggil Riani.


"Aku ingin sendiri." kata Jack tanpa menoleh.


"Aku tak mau kalau kamu salah sangka. Aku bukannya menyembunyikan pertemuan pertamaku dengan Daniel, namun aku merasa ia tak penting lagi untuk hadir dalam percakapan diantara kita." Kata Riani sambil perlahan mendekati Jack.


"Sudah ku katakan kalau aku ingin sendiri.!" tegas Jack dengan suara yang agak meninggi. Riani terkejut. Ia pun mundur beberapa langkah.


"Tapi Jack aku....!"


Prang!!!


Gelas yang ada di tangan Jack di lemparkannya ke arah dinding sehingga menyebabkan gelas itu pecah berkeping-keping.


Tangan Riani menutupi mulutnya. Ia tak percaya dengan apa yang Jack lakukan. Marahkah Jack padanya? Ia pun segera kembali ke kamar sambil menahan sakit di hatinya.


Sementara itu Jack di ruang tamu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tak mengerti dengan dirinya sendiri yang begitu mudah terbakar emosi. Jack memang memiliki sifat yang agak mudah emosi dan sangat posesif dengan apa yang menjadi miliknya. Ia kembali mengambil gelas yang baru lalu menuangkan minuman kembali ke dalamnya. Jack ingin mabuk saat ini.


**********


Entah jam berapa Riani bisa memejamkan matanya. Yang pasti ia bangun saat ini dengan kepala yang sakit. Ia menatap seisi kamar dan menemukan dirinya sendirian.


Perlahan Riani turun dari atas ranjang dan ia membereskan tempat tidur.


Setelah selesai dengan semua ritual pagi di dalam kamar, ia pun keluar.


Di lihatnya Cassie sedang menonton TV.


"Good morning, honey!" sapa Riani lalu mencium pipi putri sambungnya itu.


"Good morning, mom."


"Di mana daddy?" tanya Riani.


"Nggak tahu. Aku bangun dan berpikir kalau kalian masih tidur. Tapi tumben juga kalau daddy masih tidur. Ini kan sudah hampir jam 8. Memangnya daddy nggak kerja?"


"Iya. Mommy akhirnya terlambat ke toko kue. Mommy buat sarapan dulu ya?"

__ADS_1


"Nggak perlu, mom. Aku sudah sarapan sereal dan susu. Mommy bersiap saja ke tempat kerja. Pasti sebentar lagi jemputan nya datang."


"Ya, sudah. Mommy bersiap saja ya?"


Riani kembali ke kamar dengan perasaan bingung. Apakah Jack sudah berangkat kerja dan tak pamit padanya?


Tak sampai 15 menit, John datang menjemput Riani. Memang semenjak musim dingin datang dan salju turun, John selalu datang menjemput Riani setelah mengantarkan kue ke hotel yang ada di desa ini.


Cassie juga ikut bersama Riani karena ia tak mau tinggal sendirian di rumah. Di sana, Cassie ikut membantu Riani dalam melayani. Sebenarnya Riani tak mengijinkan namun ternyata ia punya tugas sekolah di sepanjang masa libur musim dingin ini. Yaitu bagaimana mengisi waktu liburan yang bermanfaat. Makanya Riani pun sesekali mengambil foto dan video dari ponsel Cassie untuk nanti akan dilaporkan pada makalah yang akan dia buat.


***********


Pulang dari toko kue, Riani dan Cassie menyiapkan makan malam secara bersama.


Namun sampai jam makan malam, Jack belum juga pulang. Hari ini juga Jack tak mengirimkan pesan mesra untuk Riani. Perempuan itu pun tahu kalau Jack beneran marah padanya.


"Daddy mengirimkan pesan. Katanya akan pulang larut malam hari ini karena ada lembur." ujar Cassie saat mereka selesai makan malam..


"Kasihan daddy. Dingin begini namun harus lembur juga." kata Riani berusaha terdengar baik walaupun hatinya gelisah karena Jack tak mengirimkan pesan apapun padanya.


Cassie hanya tersenyum. "Ini memang belum seberapa. Daddy kadang tak pulang selama seminggu karena banyaknya pekerjaan. Makanya aku lebih senang berada di asrama dari pada harus kesepian di rumah."


"Setelah liburan musim panas nanti, kita akan tinggal bersama lagi. Kamu nggak akan kesepian."


"Baiklah sayang."


Malam pun semakin larut. Cassie sudah tertidur semenjak satu jam jam yang lalu dan Riani masih duduk di depan perapian. Jam sudah menunjukan pukul setengah satu tengah malam. Riani mulai mengantuk.


Tak lama kemudian ia mendengar suara mobil Jack. Dengan cepat ia berdiri dan menyambut kedatangan suaminya.


Jack masuk tanpa suara. Hanya menatap Riani sejenak lalu membuka jaket tebalnya, menggantungnya lagi ke tempat jaket, membuka sepatunya lalu memakai sandal rumah, Jack pun melangkah masuk.


"Sayang, kamu ingin minum kopi atau teh?" tanya Riani.


Jack hanya menggeleng dengan wajah yang dingin dan segera menuju ke kamar. Riani dapat mencium bau alkohol.


Riani mengikuti langkah Jack ke kamar. Saat ia membuka pintu, dilihatnya Jack sudah rebahan di atas kasur tanpa mengganti pakaiannya.


"Sayang, apakah tidak sebaiknya kamu ganti pakaian dulu?" tanya Riani sambil membuka pintu lemari dan mengeluarkan pakaian Jack dari sana. Saat ia menoleh lagi, dilihatnya Jack sama sekali tak bergerak. Riani mendekati tempat tidur dan melihat bahwa suaminya itu sudah memejamkan matanya. Ia pun memutuskan untuk tak mengganggunya.


Perempuan itu pun ikut mematikan lampu kamar lalu ikut naik ke atas tempat tidur.

__ADS_1


***********


Keesokan paginya, saat Riani bangun, Jack sudah tak ada. Sepertinya pria itu pergi pagi-pagi sekali. Begitu seterusnya yang terjadi selama 3 hari berturut-turut. Jack akan pergi pagi-pagi sekali dan pulang saat sudah larut malam.


Riani berusaha sabar, ia tak mau bertengkar dengan Jack di hadapan Cassie. Apalagi perayaan natal akan tiba 4 hari lagi. Riani pun memutuskan untuk hari ini terakhir ia masuk kerja. Dan hari ini Cassie tak ikut karena sahabatnya akan datang. Riani sudah menyiapkan kue dan makanan untuk sahabat Cassie agar mereka bisa bersenang-senang sekalipun ia tak ada.


Seperti biasa, ketika tiba di toko kue, Riani akan membuat kue coklat lebih dahulu barulah kemudian ikut melayani para pelanggan yang datang.


"Riani, ada yang mencarimu." kata Elisa saat Riani baru saja selesai dengan kue yang terakhir.


Bergegas perempuan itu keluar. Riani terkejut melihat Daniel ada di sana.


"Kamu mau apa lagi sih?" tanya Riani melihat Daniel yang sudah duduk di salah satu meja yang ada di sudut ruangan.


"Ri, aku mohon, duduklah dulu. Berikan aku waktu 15 menit untuk bicara denganmu." Mohon Daniel.


"Waktumu hanya 5 menit." Riani menarik kursi yang ada di depan Daniel. Ia mengalah dan memilih mendengar dari pada harus menarik perhatian tuan John dan nyonya Elisa.


"Ri, ternyata selama ini aku dibohongi oleh keluargaku. Kemarin adikku sudah menceritakan semua kebenarannya. Dengan menggunakan alasan papaku yang saat itu sedang koma, mereka berhasil membuat aku merasa bersalah atas kondisi papa dan akhirnya menemani papa berobat ke Singapura. Mamaku dengan sengaja mencuri hp ku agar tak bisa menghubungimu. Kepergian papa begitu mendadak sehingga aku pun menulis surat untukmu karena tak bisa pulang untuk berpamitan denganmu. Selama di Singapura, aku disibukan dengan pengobatan papa, namun aku selalu merindukanmu. Sampai akhirnya pengacara papa datang dan mengantarkan gugatan cerai darimu beserta sebuah surat yang sangat mirip dengan tulisan tanganmu. Kamu katanya sudah mengugurkan kandunganmu. Saat itu aku marah, kecewa antara percaya dan tidak sampai akhirnya namun tak bisa meninggalkan Singapura karena saat itu mama ikut sakit juga. Saat papa sadar, ia meminta aku menikahi Dewi karena memang itu keinginan terakhirnya. Aku bingung, namun kabar yang aku terima di sana bahwa kamu sudah mendaftarkan perceraian kita ke pengadilan dan sudah menjalani sidang pertama tanpa aku. Saat itu aku kecewa denganmu karena aku pikir kalau kamu sudah keterlaluan karena mengugurkan kandunganmu. Aku menikah dengan Dewi dalam keadaan tertekan. Aku tak pernah mencintai Dewi sampai hari ini." Daniel menghapus air matanya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Riani.


"Ri, mereka dengan sengaja sudah memisahkan kita. Membohongi kita berdua dengan cara yang licik agar kita tak bersama. Aku mencintaimu, Ri. Dulu, aku dengan sengaja merayumu dan membuatmu menyerahkan dirimu padaku, karena aku takut kehilangan dirimu. Aku memang sudah banyak mengenal cewek sebelum kita ketemu. Namun hanya kamu yang mampu membuatku jatuh cinta. Hanya kamu yang bisa membuat aku bahagia. Makanya, saat tahu kalau kamu hamil, aku bahagia karena anak itulah yang akan mengikat kita selamanya. Namun ternyata anak itu juga meninggal."


Riani memalingkan wajahnya. Ia tak sanggup menatap wajah sedih Daniel. 7 tahun Riani akhirnya bisa menyembuhkan luka hatinya dan trauma atas kaum laki-laki. Jack mampu membuatnya jatuh cinta lagi hanya beberapa hari saja.


"Maaf Daniel. Kisah kita sudah usai. Aku sudah mencintai Jack suamiku. Aku bahagia bersamanya."


Daniel menggelengkan kepalanya. Ia meraih tangan Riani "Aku yakin kalau kamu masih menyimpan cinta untukku, RI. Ayo kita lari. Kita pergi ke negara lain dimana tak ada yang mengenal kita. Kita memulai hidup baru di sana."


Riani menarik tangannya dengan cepat. Ia berdiri. "Kisah 7 tahun lalu kita sudah tak tersimpan lagi dalam memoriku. Aku sudah memaafkanmu dan berhasil melupakanmu. Aku mencintai Jack. Sangat mencintainya." kata Riani lalu segera meninggalkan Daniel. Saat itulah lonceng yang terpasang di depan pintu restoran itu berbunyi. Saat Riani menoleh, Jack ternyata datang bersama Cassie. Tepat di saat itu Daniel mengejar Riani.


"Ri...., dengar dulu!" Daniel menahan tangan Riani.


Mata Jack dan Cassie sama-sama melihat bagaimana tangan Daniel yang menahan tangan Riani.


Mata Jack langsung menyala dan rahangnya mengeras.


*********


Selamat pagi......


semangat di hari Rabu

__ADS_1


dukung emak terus ya guys


__ADS_2