Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Merasa Ditinggalkan


__ADS_3

Keputusan hakim dan para juri sudah diketuk. Jack dinyatakan bersalah karena memalsukan berita kematian Cassie dan menyembunyikan Cassie dari keluarga Smith yang adalah keluarga ibu kandung Cassie sendiri.


Hakim memberikan denda yang harus dibayarkan kepada negara dan hak asuh Cassie jatuh ke tangan kakek dan neneknya. Jack diberikan kekuasan untuk bersama Cassie setiap akhir pekan dihari Sabtu dan minggu.


tok.....tok.....tok......


Keluarga Smith langsung bersorak gembira. Memeluk Cassie karena guguran mereka terkabul.


Jack mengeram kesal. Tangannya memegang tangan Riani yang sudah berdiri di sampingnya.


"Calm down dear, don't get emotional. I don't want you to run amok here." bisik Riani sambil menautkan jari mereka. Jack menatap istrinya. Ia kemudian tersenyum. Entahlah, hatinya sakit saat melihat keluarga Smith nampak bersorak-sorai.


Saat keluar dari pengadilan, Jack sengaja ikut pintu belakang agar terhindar dari para awak media yang sudah menunggunya.


Begitu tiba di rumah, Jack terkejut melihat Cassie yang sudah menunggu mereka dengan 2 buah koper besar yang ada di sana.


"Apa maksud semua ini?" tanya Jack.


"Cassie akan dijemput oleh Oma." ujar Cassie.


"Apakah harus pergi sekarang?" tanya Jack.


"Iya."


"Kamu begitu senang ya akan pergi dengan mereka? Ya sudah sana pergi....! Pergi....!" Jack mendorong 2 koper itu dengan keras membuat Riani terkejut. Tak puas sampai di situ, Jack pun memporak porandakan kursi yang ada di ruang tamu."


"Jack....!" Riani menahan tangan Jack. Dan tanpa sengaja, Jack ikut membuat Riani jatuh.


"Mommy.....!" teriak Cassie sambil membantu Riani berdiri.


Jack terkejut. "Sayang.....!" Ia langsung melepaskan pegangan tangan Cassie di lengan Riani lalu membawa tubuh Riani ke kamar.


"Leo, telepon dokter Diana....!" teriak Jack.


"Aku tidak apa-apa, Jack." ujar Riani saat Jack membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Maafkan aku sayang? Apakah ada yang sakit?"


"Tidak....! Aku jatuhnya pelan, kok. Pergi dulu lihat keadaan Cassie. Ia begitu ketakutan saat melihat kamu mendorong kopernya seperti itu."


Wajah Jack yang tadi khawatir langsung berubah marah. "Biar saja. Kalau dia mau pergi ya pergi saja. Anak itu, seakan melupakan semua kasih sayang dan perhatian ku selama ini."


Riani bangun lalu meraih kedua tangan Jack. "Biarkanlah dia bersama mereka. Kan kita masih punya waktu setiap weekend bisa menjemput Cassie."


"Bujuk saja Arma agar mau tinggal di sini. Jangan tunggu nanti dia SMP. Terlalu lama."


Riani mengusap lengan Jack. "Aku tahu kau marah. Aku tahu kalau kau sedih. Aku tahu kau cemburu karena Cassie memilih ikut dengan mereka. Biarkanlah Cassie pergi sayang. Aku yakin, suatu saat ia akan merindukan dirimu."


Jack menatap Riani. Lalu memeluknya erat. "Terima kasih sayang. Kau hadir disaat aku harus mengalami pergumulan seperti ini. Kalau kau tak ada, mungkin aku sudah menjadi gila."


"Jack, berusahalah untuk sabar. Kendalikan emosimu."


Jack membelai perut istrinya. "Apakah dia baik-baik saja?"


"Dia baik-baik saja, daddy. Jangan terlalu khawatir."


"Aku takut kalau sampai menyakitinya, Ri. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sesuatu terjadi padamu dan anak kita."


"Aku baik-baik saja, ayah. Makanya ayah jangan marah-marah." kata Riani sambil menirukan suara seorang bayi.

__ADS_1


Jack terkekeh. Ia menunduk dan mencium perut Riani secara berulang-ulang. "Tak sabar menunggu kamu lahir sayang."


Pintu kamar diketuk.


"Masuk....!"


Dokter Diana masuk sambil membawa tas peralatan dokternya bersama Leo. "Kebetulan aku ada di klinik. Jadi jaraknya hanya dekat saja. Ada apa?" tanya Diana sambil mendekati tempat tidur.


"Aku tak sengaja menyebabkan istriku jatuh, dok. Aku takut sesuatu terjadi padanya." kata Jack.


"Aku sudah bilang kalau sebenarnya aku tak apa-apa. Namun dia memaksa untuk memanggil dokter." Riani menatap suaminya dengan sedikit jengkel.


"Harap maklumlah. Tuan Jack memang orangnya posesif. Itu sebagai bukti dia sayang pada istrinya."


Jack mengangkat alisnya sambil tersenyum. "Tuh kan sayang, dokter saja mengerti dengan perasaanku padamu."


Leo mendekat. "Tuan, keluarga Smith ada di bawa. Mereka akan menjemput nona Cassie." bisik Leo.


"Biarkan saja." ujar Jack dengan nada ketus.


Riani yang sementara diperiksa oleh dokter Diana menjadi gelisah. Ia tahu kalau Cassie akan pergi dan dia belum sempat mengatakan apapun pada anak sambungnya itu.


Selesai dokter Diana memeriksa, Riani langsung bangun.


"Sayang, Cassie sudah pergi?" tanya Riani saat Leo sudah meninggalkan mereka dan mengantar dokter Diana.


"Iya."


"Kenapa kau tak mengantarnya?"


"Untuk apa?"


"Jangan paksa aku, Ri." Jack berdiri. Ia melangkah menuju ke arah balkon. Di lihatnya Leo sedang memasukan koper Cassie di bagasi mobil keluarga Smith. Jack mundur beberapa langkah saat melihat Cassie yang menoleh ke arah balkon. Wajah gadis remaja itu terlihat sedih. Riani yang sudah berdiri di belakang Jack akhirnya maju sampai ke pagar pembatas balkon.


Cassie tersenyum melihat Riani. Ia melambaikan tangannya ke arah Riani. Riani pun membalasnya sambil mengirimkan ciuman jarak jauh.


Cecilia pun terlihat ikut melihat ke arah Riani. Ia terlihat tersenyum sedikit sinis. Lalu keluarga Smith semuanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah Jack.


Riani membalikan badannya. Jack sudah tak ada lagi di belakangnya. Saat ia mencari keluar kamar, Lessi mengatakan kalau Jack ada di ruang kerjanya.


Saat mengintip ke arah ruang kerja Jack yang tirai kacanya terbuka sedikit, Riani melihat Jack sedang duduk sambil memegang foto Cassie yang ada di meja kerjanya. Riani tahu, Jack pasti bersedih dan Jack ingin sendiri. Riani pun bergegas ke dapur. Ia ingin membuat makanan kesukaan Jack. Mereka belum sempat makan siang dan sekarang sudah jam setengah tiga sore.


"Nyonya.....!" Jems, si kepala koki menyapa Riani saat sang nyonya memasuki dapur.


"Jems, ayo kita buat makanan dan kue kesukaan suamiku."


"Baik."


"Dan saya harus membantu."


Jems tersenyum sambil mengangguk.


2 jam kemudian......


Riani melangkah ke ruang kerja Jack. Ia mengetuk pintu sebelum masuk.


"Sayang......!" Panggilnya sambil membuka pintu.


Jack nampak sedang konsentrasi dengan laptopnya.

__ADS_1


"Hi honey....!"


Riani mendekat. "Aku lapar. Makan yuk!"


"Sayang, sejak pulang dari pengadilan kamu kan belum makan. Ini sudah jam berapa?" Jack melihat jam tangannya. "Astaga, ini sudah jam setengah lima."


"Aku sudah minum susu. Namun nggak semangat makan jika hanya sendiri. Baby nya mau makan ditemani bapaknya."


Jack tersenyum. "Kamu pasti memasak ya? Apronnya saja nggak dilepaskan."


"Iya. Aku dan Jems. Namun tenang saja tuan Jack yang ganteng, semua bahannya di siapkan oleh Jems, aku bagian masak saja."


Jack berdiri, lalu mendekati istrinya. Di sekanya peluh yang ada di dahi istrinya. "Istriku yang cantik, aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu suamiku. Ayo kita ke ruang makan."


Keduanya bergandengan keluar dari ruangan kerja Jack.


Saat Jack tiba di ruang makan, matanya langsung berbinar saat melihat semua makanan dan kue kesayangannya ada di sana.


"Sayang, kau sungguh tahu seleraku."


"Karena aku mencintaimu."


Leo dan Jems saling berpandangan sambil tersenyum. Mereka tahu kalau Riani bisa menenangkan Jack saat pria itu dalam kebimbangan.


************


Jam 1 tengah malam, Riani terbangun karena merasa haus. Ia tak menemukan Jack ada di sampingnya. Riani minum segelas air putih lalu mencari Jack keluar kamar. Di lihatnya pintu kamar Cassie terbuka sedikit. Saat Riani mengintip ke dalam, ia terkejut melihat Jack sedang duduk di atas tempat tidur Cassie sambil memeluk bantal yang biasa anaknya itu gunakan.


"Jack.....!" panggil Riani.


Jack mengangkat wajahnya dan menatap istrinya. "Sayang, kenapa kamu bangun?"


"Aku merasa haus dan tak menemukan kamu di sini. Ada apa?"


"Sejak Cassie lahir, aku tak pernah merasa kesepian. Bahkan saat aku harus menitipkannya di asrama, aku tak pernah merasa seperti ini. Sekarang aku merasa sangat kesepian. Aku ditinggalkan anakku sendiri. Dia bahkan tak menelpon atau mengirim pesan padaku. Hatiku sakit, Ri."


Riani ikut duduk di samping Jack. "Sayang, aku mengerti perasaanmu. Namun, jangan seperti ini. Kau harus kuat, harus terbiasa dengan semua ini. Cassie pasti akan kembali. Akan bersama dengan kita lagi."


"Aku merasa ditinggalkan, Ri." Jack memeluk Riani. Tangisnya pecah.


"Sayang.......!" Riani membalas pelukan Jack. Keduanya menangis bersama.


Sementara itu, di kamar mewah keluarga Smith, Cassie pun tak tidur. Ia menangis sambil memandang foto mereka saat liburan di Bali.


"Daddy, Iam sorry....!"


************


Selamat malam....


maaf ya Manda baru up.....


tahulah Senin....


mohon dukungannya semua ya


Emak kita sakit lagi guys...

__ADS_1


__ADS_2