
Riani terkejut saat membuka pintu apartemennya dan melihat ada Clark di sana dengan 2 orang lelaki yang agak gemulai.
"Kau sudah mandi?" tanya Clark saat melihat ada handuk yang membungkus kepala Riani.
"Baru saja."
Clark menatap jam tangannya yang yang menunjukan waktu setengah tujuh pagi. Ia kemudian menatap kedua lelaki itu.
"Apakah kalian boleh mengubahnya selama 1 jam?"
"Tentu saja, tampan." ujar salah satu diantara mereka.
"Mengubah apa, Clark?"
"Mengubah penampilanmu. Sekarang kan statusmu sudah berubah. Saatnya juga mengubah penampilanmu. Kan kata orang potong rambut, membuang kesialan."
"Rambutku?"
"Jack kan sangat suka dengan rambut panjang mu. Buktikan padanya kalau kau bisa membuang apa yang dia suka." bisik Clark.
"Tapi aku juga suka dengan rambut ini, Jack. " Riani memegang kepalanya.
"Rambut panjang tak cocok untukmu. Buktinya kau dua kali ditinggalkan oleh lelakimu." Kata Clark dalam bahasa Indonesia.
"Mungkin. Ya, sudah. Aku mau di make over."
Clark tersenyum senang.
1 jam kemudian.....
Riani menuruni tangga dengan perlahan. Ia menggunakan rok hitam sebatas lutut, kemeja putih tanpa lengan dipadu dengan bleser hitam. Rambut sebahu, dan sedikit make up di wajahnya. Kalau dulu Riani biasa memakai yang natural, kini ia tampil berani dengan warna yang sedikit menyala namun tak nampak norak di wajahnya. Justru kecantikannya semakin menonjol.
"Waw ......waw.....Waw....aku yakin hari pertamamu ke kantor akan membuat para pria terpesona." puji Clark membuat Riani sedikit tersipu.
"Mantap kan bos?" ujar dua pria gemulai itu secara bersamaan.
"Kalian akan ku beri bonus."
Riani pun hanya bisa tersenyum geli saat melihat kedua pria itu bersorak gembira karena akan diberikan bonus.
Setelah kedua pria itu pergi, Clark mengantarkan Riani ke rumah Jack.
"Jam 8.45, sopirku akan menjemputmu di sini." ujar Clark sebelum Riani turun.
"Ok." Ujar Riani lalu melangkah turun dari mobil. Ia melihat kalau mobil yang biasa dipakai Jack tak ada di garasi. Itu tandanya sang bos sudah tak ada di rumah.
Leo menyambut Riani dengan senyum manisnya.
"Selamat pagi Nyonya."
Riani menatap Leo. "Panggil saja aku dengan sebutan Riani. Karena aku bukan nyonya di rumah ini lagi."
__ADS_1
"Nyonya selamanya ada dalam hati kami. Kami sangat sedih ketika mendengar nyonya dan tuan harus berpisah. Nyonya sangat baik pada kami."
"Di mana jagoanku, Leo? Aku sudah merindukannya."
"Dia ada di kamarnya. Semalam dia menangis. Mungkin mencari mamanya. oh ya nyonya. Aku suka dengan potongan rambutnya. Hampir saja aku tak mengenali nyonya tadi saat membuka pintu."
"Kau bisa saja, Leo. Sekarang aku ke kamar Reo dulu ya?." Riani bergegas ke lantai dua. Saat melewati kamar Jack, hati Riani bergetar. Kamar yang penuh kenangan. Riani menguatkan hatinya. Ia segera ke kamar Reo. Kebetulan putranya itu baru saja bangun. Ia segera mengukirkan tangannya minta dipeluk oleh Riani dan langsung menarik-narik baju mamanya. Sepertinya ia sudah tak sabar ingin minum ASI.
Riani memberikan ASI nya yang sudah di isinya di beberapa botol susu kepada sang pengasuh untuk di simpan di lemari pendingin.
Ia juga memandikan Reo dan memberikan makan bagi putranya itu. Setelah selesai, ia kembali menidurkan Reo, barulah ia pergi ke kantor.
Saat jam makan siang, Riani akan datang kembali ke rumah Jack, memberikan kembali ASI kepada Reo dan pukul setengah dua ia kembali ke rumahnya.
Pulang kantor, Ria kembali ke rumah Jack. Ia bermain dengan anaknya sampai waktu menunjukan pukul 9 malam. Setelah Reo tidur, sopir Clark langsung menjemputnya.
**********
Tak terasa, sebulan sudah Riani bekerja di perusahaan milik Clark. Ia menikmati pekerjaannya, menikmati kebersamaannya bersama Reo.
Walaupun Riani tahu, ada bisik-bisik diantara para pegawai lainnya yang mulai mempertanyakan kedekatan antara Clark dan Riani.
Memang, penampilan Riani yang jauh berbeda dari sebelumnya membuat banyak yang tak mengenalnya sebagai mantan istri orang terkenal di Manchester ini. Apalagi Riani kini menggunakan kacamata karena ia kembali harus berhadapan dengan laptop.
Clark sangat puas dengan pekerjaan Riani dan dalam satu bulan ada kenaikan 12% untuk penjualan produk yang ada.
"Clark, kenapa masih memberikan aku gaji? Bukankah aku bilang bilang kalau baju-baju yang kau berikan padaku, sewa apartemen, di potong saja dari gaji ku." kata Riani saat menemui Clark di ruangannya.
"Begitu ya?"
"Sekarang Reo tinggal bersama Jack karena kamu belum memiliki tempat tinggal yang dianggap memadai. Makanya kamu harus bersabar, menabung dan terutama berdoa."
Riani mengangguk. "Clark, aku akan mengganti uang Jack yang kuambil sebagai biaya penebusan Arma. Memang yang lalu aku sempat memakainya namun dengan bonus yang kudapatkan dari hasil kenaikan penjualan, aku bisa melengkapi jumlahnya lagi."
"Kamu terlalu jujur, Ri. Sudah tak menerima uang bulanan dari Jack, masih juga mengembalikan uang itu."
Riani hanya bisa tersenyum. "Jack sudah menyakiti hatiku yang paling dalam. Dulu saat ia mengejar ku, aku berusaha membuka hatiku yang rasanya sangat sulit mempercayai seorang laki-laki. Aku yakin kalau Jack akan menjadi pelabuhan ku yang paling akhir. Namun ternyata, dia mengubur semua impianku. Aku menjadi janda lagi. Entah bagaimana aku akan pulang ke Indonesia dengan status ini."
Clark menepuk bahu Riani yang duduk di sampingnya. "Waktu yang akan menyembuhkannya. Semoga Tuhan mengirimkan orang yang mampu membuatmu percaya bahwa cinta sejati itu ada."
Riani menghapus air matanya. "Terima kasih, Clark. Sekarang aku hanya fokus merawat Reo dulu. Kalau Arma, aku tak khawatir karena Daniel kini bersamanya."
"Sudah waktunya pulang. Kamu mau ku antar ke rumah Jack?"
"Aku mau pulang ke apartemen dulu. Mandi dan ganti baju baru menemui Reo. Aku juga akan menunggu Jack."
"Memangnya selama ini kau tak pernah bertemu dengan Jack?"
"Tidak. Saat aku datang di pagi hari, ia sudah pergi, dan saat aku pulang di malam hari, dia belum juga datang. Leo bilang, Jack selalu pulang jam 10 malam."
Clark hanya tersenyum. Ia tahu Jack sengaja menghindar. Dasar pengecut! Kau akhirnya tersiksa dengan perasaan mu sendiri.
__ADS_1
*********
Betapa senangnya Cassie saat melihat Riani yang ada di kamar Reo.
"Mommy.....!" Cassie langsung memeluk Riani dengan perasaan yang sangat rindu. "Aku hampir tak mengenali mommy. Rambutnya kenapa di potong? Tapi mommy tambah cantik dengan rambut seperti ini. Kayak ABG saja."
Riani tertawa. Reo yang ada di pelukannya pun tertawa.
Cassie yang sudah satu bulan memilih ada di asrama memang tak tahu perkembangan yang terjadi. Setelah Riani menceritakan semuanya, gadis remaja itu meneteskan air mata saat mendengar kalau Riani sudah cerai dengan Jack. Riani juga menceritakan peristiwa penculikan Arma dan apa yang terjadi antara dirinya dan Daniel.
"Kenapa mommy tak pernah menceritakannya pada Daddy?"
"Jack tak mau mendengarkannya. Sudahlah. Mommy terlalu lelah dengan sifat egois dan keras kepala Jack. Yang penting sekarang mommy bisa merawat Reo."
Cassie kembali memeluk Riani. "Kalau tahu mommy setiap hari di sini, Cassie akan kembali tinggal di rumah."
Riani membelai kepala Cassie yang berbaring pundaknya. Sungguh, ia sangat menyayangi Cassie seperti ia juga menyayangi Arma.
Jam 10 lewat 15 menit, Jack memarkir mobilnya. Ia turun sambil memegang ponsel di tangannya. Salah satu bodyguard nya langsung membawa mobil Jack ke dalam garasi.
Jack masuk dari pintu samping yang memang masih terbuka. Tak ada orang di ruang tengah. Mungkin para pelayan sedang berada di belakang. Ini hari Jumat, beberapa pelayan mendapatkan waktu libur mereka.
Jack duduk di sofa sambil melepaskan sepatunya. Sandal rumahnya sudah disediakan di sana. Para pelayan memang sudah tahu kebiasaan Jack yang membuka sepatunya sebelum naik ke lantai dua.
Saat Jack akan menaiki tangga, langkahnya terhenti melihat seorang perempuan cantik yang berdiri di dekat tangga. Jack hampir saja tak mengenalinya.
"Selamat malam Jack. Aku sengaja menunggumu." kata Riani berusaha menahan gejolak di hatinya. Sebesar apapun kebencian di hatinya, Riani tak bisa menahan getaran di hatinya saat berhadapan langsung dengan Jack.
"Ada apa?" tanya Jack dingin.
Riani menyerahkan sebuah kertas. "Aku sudah mentransfer kembali uang yang kuambil sebagai biaya penebusan Arma. Ini buktinya."
Jack menatap kertas yang disodorkan oleh Riani. Seharian ini Jack sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia tak memperhatikan ponselnya. "Sebenarnya kau tak usah repot mengembalikannya padaku."
"Aku tak mau lagi berhutang apapun padamu." Riani meletakan kertas itu di atas meja kecil yang ada di dekat tangga.
"Selamat malam." kata Riani sebelum meninggalkan Jack untuk pulang kembali ke apartemennya. Taxi yang sudah dipesannya kini sudah memasuki halaman rumah Jack. Riani menarik napas panjang. Menahan sesak di hatinya. Tuhan, aku mohon padaMu, buanglah semua rasa ini. Aku tak mau menyimpan rasa pada lelaki yang tak sungguh-sungguh mencintaiku.
Dari balik jendela kaca rumahnya, Jack melihat Riani yang pergi dengan taxi. Hati Jack sakit. Entah apa yang membuatnya harus sakit melihat Riani. Tuhan, tolong aku melupakan Riani.
*********
Benarkah mereka akan saling melupakan?
Terus bagaimana dengan Daniel yang sudah bercerai dari Dewi dan Clark yang masih jomblo?
Ada yang mau kasih ide?
Emak balik nulis lagi ya guys
makasih untuk Amanda yang sudah menulis beberapa episode selama emak sakit. Emak suka dengan konflik yang Amanda ciptakan
__ADS_1