
Dokter Diana yang datang ke rumah Jack sambil membawa semua alat pemeriksaan kehamilan, memeriksa kondisi kehamilan Riani.
"Semuanya terlihat baik. Nyonya Almond hanya perlu beristirahat yang cukup karena kehamilan di 3 bulan pertama ini biasanya rawan dengan keguguran." ujar dokter Diana setelah selesai memeriksa kandungan Riani.
"Terima kasih, dok." kata Riani sambil tersenyum bahagia saat dokter menyerahkan hasil foto USG bayinya yang pertama.
"Dokter, berapa lama lagi sampai akhirnya adikku bisa lahir?" tanya Cassie.
Dokter Diana yang memang sudah sangat mengenal keluarga ini, tersenyum sambil mengusap punggung Cassie.
"Masih 7 bulan, 2 minggu lagi baru adiknya lahir. Jadi Cassie harus sabar menunggunya ya?"
"Wah, lama sekali." ujar Cassie membuat Jack, Riani dan Diana terkekeh.
"Pasti adiknya akan senang sekali karena bisa memiliki kakak yang luar biasa seperti kamu." kata dokter Diana lalu mulai membereskan peralatannya.
"Dokter, bulan depan tak perlu datang ke sini dengan semua peralatan ini. Biar saja kami yang pergi ke tempat praktek dokter. Nanti atur waktunya sehingga tak perlu ketemu dengan banyak orang." kata Riani sambil menatap Jack.
"Tapi sayang...." Jack nampak tak setuju.
"Tak masalah." ujar Diana. Bagaimanapun Jack sudah banyak membantunya selama ini. Termasuk juga membantu pendirian klinik melahirkannya.
"Nggak. Kami yang akan pergi ke sana." Riani bersikeras membuat Jack hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum agak terpaksa ke arah Diana. Kehamilannya telah membuat Riani banyak berubah. Termasuk sifatnya yang banyak membantah Jack.
"Cassie boleh ikut kan? Hari pemeriksaannya harus hari Sabtu, supaya Cassie boleh hadir." mohon Casise membuat Riani langsung mengangguk. Ia tak akan pernah mengecewakan anak sambungnya itu.
Setelah dokter Diana dan timnya meninggalkan mansion Jack Almond, Riani pun memilih untuk beristirahat di kamar karena ia merasa badannya agak lemas. Mungkin karena sebelum pemeriksaan tadi ia beberapa kali muntah karena mencium bau makananan dan kue saat memasuki dapur.
"Sayang, kau butuh sesuatu?" tanya Jack saat memasuki kamar.
"Nggak. Aku hanya ingin membaringkan saja tubuhku."
Jack naik ke atas tempat tidur lalu berbaring di samping istrinya. Ia memeluk Riani yang memang sedang tidur berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Sayang, aku bahagia sekali mengetahui akan ada anak kita yang lahir nanti. Kamu inginnya anak kita apa?"
Riani tersenyum. "Kalau boleh memilih, aku ingin anak laki-laki. Karena kita sudah punya 2 anak perempuan. Tapi kalaupun Tuhan memberikan perempuan, aku akan menerimanya dengan senang hati. Bagaimana denganmu?"
Jack pun mengangguk. "Tentu saja aku akan menerimanya dengan senang hati, apapun jenis kelaminnya."
"Benarkah?"
"Benar sayang. Yang paling penting adalah kamu, dan anak kita sehat pada saat kelahirannya nanti." Jack semakin erat memeluk Riani. Membiarkan istrinya itu bersandar di dadanya. Ia sendiri mencium harum rambut Riani.
"Dulu, aku berpikir tak akan pernah mencintai wanita lain selain Cecilia. Saat Camila hamil, perhatianku tertuju padanya dan aku merasa mencintainya. Entahlah, mungkin karena ia dan Cecilia adalah kembar identik sehingga sangat sulit dibedakan namun aku merasa bahagia bersama Camila. Ia memiliki hati yang lembut seperti dirimu." Jack menjauhkan Riani dari pelukannya sehingga ia bisa menatap wajah istrinya itu.
"Aku awalnya berpikir, mengejarmu hanyalah untuk membuktikan pada Cecilia bahwa aku akhirnya bisa menemukan perempuan yang walaupun agak mirip dengannya namun sangat jauh berbeda sifatnya. Awalnya aku juga berpikir, kalau mengejarmu, adalah untuk membuat Cassie bahagia. Ternyata aku salah. Aku sungguh jatuh cinta padamu sampai rela bekerja di sawah ayahmu untuk meyakinkan beliau kalau aku sunggung-sungguh denganmu. Saat ayahmu menerima lamaran ku, semalaman aku tak bisa tidur saking bahagianya." Jack mengecup ujung hidung Riani. "Kini, aku pun bahagia karena buah cinta kita sedang tumbuh di perutmu. Sebenarnya aku seperti Cassie. Tak sabar menanti kelahiran anak ini."
Riani tak dapat menahan air matanya. Cinta Jack, perhatian dan kasih sayang yang sudah diterimanya selama ini membuat Riani dengan mudahnya memaafkan suaminya itu saat Jack dan Cecilia tersandung masalah yang belum ada titik penyelesaiannya sampai hari ini.
"Jack, i love you."
"I love you more." bisik Jack tepat di hadapan wajah istrinya lalu ia mengecup bibir Riani. Berulangkali sampai akhirnya ciuman itu mendapatkan tanggapan yang lebih dari istrinya. Jack tersenyum. Ada yang berbeda dengan Riani semenjak hamil. Istrinya itu tak lagi malu meminta Jack untuk bercinta dengannya. Dan tentu saja itu suatu keuntungan untuk Jack.
***********
Hari ini Jack mengabulkan keinginan Riani untuk pergi ke rumah desa. Walaupun harus dikawal oleh 2 orang bodyguard dan ada 2 orang pelayanan yang sudah lebih dulu pergi untuk membersihkan rumah. Jack ingin rumah itu steril sebelum istrinya sampai.
Riani mampir sebentar di toko kue untuk sekedar melepas rindu pada pasangan suami istri itu. Tak sampai satu jam ia ada di sana, Riani langsung menuju ke rumahnya.
Para pelayan sudah selesai membersihkan rumah dan menyiapkan makan siang untuk sang nyonya. Riani kemudian meminta mereka untuk kembali ke mansion sementara ia akan menunggu Jack pulang kerja.
Setelah beristirahat sebentar, sore harinya Riani jalan-jalan di sekitar kompleks yang ada. Beberapa penduduk desa menyapanya dan memberikan selamat atas kehamilannya.
2 orang bodyguard tetap mengikuti Riani dari jarak yang aman karena sebenarnya Riani sendiri tak mau mereka mengawalnya. Ia merasa aman ada di desa ini.
Hari ini desa nampak ramai dengan kunjungan beberapa bus pariwisata. Riani tahu ini adalah salah satu sumber kekayaan Jack. Karena hampir semua yang ada di desa ini adalah milik Jack dan juga Clark.
__ADS_1
Saat melihat para wisatawan yang melihat beberapa taman bunga, Riani tanpa sadar sudah ikut berbaur dengan orang banyak. Para bodyguard agak kesulitan mengikuti jejak Riani sampai akhirnya mereka tak menemukan sang nyonya ada di sana. Bahkan ketika para wisatawan telah pergi dengan bus mereka, Riani juga tak ada.
**********
"Dasar bodoh.....! Mengapa kalian sampai melepaskan pandangan kalian dari istriku?" teriak Jack marah sambil melemparkan apa saja yang ada di hadapannya.
Semua penduduk desa sudah ikut mencari keberadaan Nyonya Almond. Namun sampai jam 6 sore, sang nyonya belum juga ditemukan. CCTV di sekita tempat itu pun secara mendadak, rusak.
Sam pun telah datang ke desa untuk membantu proses pencarian.
"Tenang Jack. Kau telah merusak hampir semua barang yang ada di sini." Ujar Sam.
"Bagaimana aku bisa tenang, Sam. Istriku sedang hamil. Dan para bodyguard bodoh ini sudah menyebabkan istriku dalam masalah."
"Tenanglah. Ini kan baru 3 jam semenjak Riani menghilang. Siapa tahu ia hanya pergi ke tempat lain. Kamu kan tahu kalau Riani sudah bosan dengan keadaan mansion. Ia lebih suka dengan kesederhanaan. Dan itu ia dapatkan di desa ini. Ponsel Riani sudah kau hubungi?" tanya Sam.
"Ponselnya ia tinggalkan di kamar. Itulah kebiasaan Riani. Selalu meninggalkan barang penting, seperti ponsel. Bagaimana aku bisa tahu keberadaannya ?" Jack mengusap wajahnya kasar. "Aku bisa gila bila sesuatu terjadi pada istriku. Dan aku akan bertindak gila jika itu sampai terjadi."
Sam dengan gerakan matanya meminta dua bodyguard yang mengawal Riani untuk segera keluar dari ruang tamu sebelum Jack menumpahkan segala kemarahannya pada mereka.
"Pihak berwajib akan segera datang. Sebenarnya mereka belum akan menangani karena Riani belum hilang sampai 24 jam namun aku meminta mereka untuk segera melaksanakan pencarian karena yang hilang itu istri Jack Almond." Sam mengusap pundak sahabat sekaligus bosnya itu.
Jack ikut berpikir. Kemana istrinya berada ? Ia bagaikan kehilangan separuh napasnya saat ini.
*********
Ada yang tahu Riani kemana?
Atau diculik oleh siapa?
Satu bersama siapa?
Tinggalkan komentar kamu ya guys
__ADS_1