
"Kenapa memangnya? Aku sudah kedinginan." Riani pun membungkuk untuk menggunakan baju dalamnya.
"Eh.....!" Jack semakin dekat. Wajahnya sudah memerah.
"Ada apa sih, Jack? Kamu mau menghukum aku karena pergi dengan Clark dan tak memberitahu? Ya sudah, aku siap dihukum. Tapi ijinkan dulu aku menggunakan pakaianku."
"Jangan....!" Jack menggoyangkan kedua tangannya.
"Jangan apa sih?" tanya Riani yang mulai kesal.
"Jangan dipakai."
"Maksudmu aku nggak boleh memakai pakaianku? Kamu mau menghukum aku dengan cara ini? Hukuman apa ini?" Riani kembali menunduk untuk menggunakan pakaiannya.
"Sayang, tunggu!" Jack kini berdiri di depan Riani. Ia memegang bahu istrinya. Riani pun terpaksa berdiri tegak lagi.
"Mau apa sih?" tanya Riani sambil memegang underwear nya di tangan.
"Aku.....!" Jack mulai mengusap lengan Riani dengan usapan seringan bulu. "Aku, maksudku, bolehkah....."
Riani mengerutkan dahinya. "Jack, maksudnya apa? Aku sudah kedinginan."
"Let's make love." ujar Jack dengan suara yang bergetar, penuh rasa permohonan dan hasrat yang tak terbantahkan.
Riani undur beberapa langkah. Menatap Jack dari kepala sampai kaki secara berulang-ulang. Riani tak habis pikir. Bukankah Jack sedang marah padanya? Bagaimana mungkin Jack kini bergairah padanya? Apakah karena ia yang saat ini tampil polos di hadapan suaminya?
"Jack, kamu sehat?" tanya Riani. Ia mundur lagi karena Jack kembali maju.
"Ya." Jawab Jack sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Ka...kamu nggak minum kan? Mak...sudku, kamu nggak mabuk kan?"
"Nggak." Kancing kemeja Jack sudah hampir terbuka semuanya.
"Eh, kamu nggak sedang menggunakan narkoba atau obat-obatan?"
Jack tersenyum. Ia membuang kemejanya sembarangan, lalu membuka juga kaos dalamnya. Ia terus maju, mendesak istrinya dan membuat Riani semakin mundur tanpa menyadari kalau kini ia sudah berada di tepi tempat tidur.
"Aku sehat lahir batin sayang." Ujar Jack saat ia berhasil menurunkan celana kain yang dipakainya. Hanya dengan satu dorongan, Jack berhasil membuat istrinya itu tidur terlentang di atas ranjang. Jack pun menempatkan posisinya di atas Riani. "Jangan terlalu keras bersuara karena kamar ini tak kedap suara dan Sam serta para pelayan lainnya sedang membersihkan ruang tamu."
Riani melingkarkan tangannya di leher sang suaminya. "Maaf, aku tak bisa janji kalau aku tak akan bersuara." bisik Riani lalu menarik suaminya dan langsung menyatukan ciuman mereka.
**************
__ADS_1
Sam akan datang ke kamar untuk menanyakan apakah para pelayan akan menyiapkan makan malam. Namun pria itu mengurungkan niatnya saat mendengar suara-suara aneh di balik pintu. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dasar si bos !
Sesampai di ruang tamu, Sam memerintahkan para pelayan yang ada untuk segera menyiapkan makan malam. Sam dengan sebagai menyetel lagu dari piringan hitam Clasic milik Jack agar suara sang majikan dan istrinya jangan sampai di terdengar di ruang tamu.
"Tuan Sam, makan malamnya sudah tersedia. Apakah bos akan makan sekarang? Kami sudah menyiapkan semuanya di atas meja." lapor salah satu pelayan.
"Ayo kita pulang. Bos pasti akan makan terlambat." Ajak Sam.
"Musiknya?"'
"Biarkan saja seperti itu. Bos suka mendengarkan musik." ujar Sam lalu segera mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan rumah itu.
**********
"Cukup, Jack! Aku capek!" Kata Riani. Entah sudah berapa kali ia mencapai puncaknya selama 2 ronde ini.
Jack yang masih menikmati sisa-sisa kepuasan raga untuk yang kedua kalinya, tersenyum puas. Sebenarnya dia masih ingin lagi. Namun ia menyadari kalau istrinya sedang hamil muda dan ia tak boleh terlalu memaksakan hasratnya. Itu bisa berbahaya.
Dengan lembut Jack mencium dahi Riani, turun ke hidungnya dan berakhir di bibirnya. "Aku tak tahu apa yang kamu miliki sampai bisa menghipnotis ku seperti ini. Rasa marahku langsung hilang saat melihatmu tadi."
Riani tersenyum. "Bilang saja memang sudah nggak tahan untuk bercinta. Aku tahu seminggu ini pasti kamu sudah tersiksa namun aku juga masih dalam kondisi kurang enak badan, makanya sedikit mengabaikan suamiku ini"
Jack terkekeh. Ia membelai wajah istrinya. "Jangan pergi seperti itu lagi, Ri. Aku bisa gila karena rasa takut sesuatu yang buruk akan menimpamu."
"Maksudnya?"
"Aku awalnya ke toilet, disitulah para bodyguard mulai kehilangan aku. Saat aku masuk ke dalam toilet, lantainya biasa saja. Namun ketika aku keluar, lantainya sudah basah dengan air sabun. Aku hampir saja terpeleset. Untung ada Clark di sana dan langsung menolong aku. Kata Clark, ia melihat ada 3 laki-laki yang mengikuti aku."
"Apa? Siapa yang ingin mencelakai mu?" tanya Jack khawatir.
"Entahlah. Mungkin Clark salah mengerti atau bagaimana. Yang pasti setelah aku mengeluh selalu diikuti oleh bodyguard mu, ia pun mengajak aku ke restorannya. Dia sebenarnya menawarkan aku untuk menelepon mu namun aku berpikir kalau itu tak perlu karena kamu pasti sedang sibuk dengan rapat."
"Rapat ku terganggu karena bodyguard itu menelepon dan mengatakan kalau kamu hilang dari pandangan mereka."
Riani tersenyum. Ia mengecup ujung hidung Jack. "Maafkan aku ya? Aku tak bermaksud ingin membuatmu khawatir. Apalagi sampai melibatkan seluruh orang yang ada di desa ini."
"Aku memaafkan mu."
Keduanya kembali berciuman dengan sangat mesra. Namun Riani tiba-tiba saja melepaskan ciumannya.
"Kenapa?" tanya Jack yang nampak tak rela ciuman itu berakhir.
"Aku belum memaafkan mu karena membuat ruang tamunya berantakan." ujar Riani dengan mata yang melotot.
__ADS_1
"Itu terjadi karena aku tak bisa lagi mengendalikan emosiku, sayang."
"Dengan cara menghancurkan barang-barang yang tak bersalah? Kamu mungkin punya banyak uang untuk membeli barang-barang itu kembali. Namun kebiasaan menghancurkan barang itu nggak baik, Jack. Apa kamu nggak tahu di luar sana masih banyak orang yang tinggal di rumah sederhana. Bahkan sofa pun mereka tak ada."
Jack memeluk Riani. "Aku janji akan belajar mengontrol emosiku."
Riani membalas pelukan Jack. "Sayang, aku lapar."
"Ayo kita lihat apa yang sudah mereka siapkan untuk kita." Jack turun dari tempat tidur dan menggunakan pakaiannya kembali. Demikian juga dengan Riani.
Setelah selesai berpakaian, keduanya segera keluar kamar dan menuju ke ruang makan. Riani yang melihat ruang tamu sudah rapi akhirnya tersenyum senang walaupun ia sedih karena beberapa barang yang pernah dibelinya sudah hancur.
Mereka pun menikmati makan malam bersama.
Sementara Jack mencuci peralatan makan yang mereka gunakan, Riani duduk menemaninya di meja makan sambil membuka foto-foto yang sudah dikirimkan oleh Clark padanya. Riani pun meneruskan foto itu kepada anaknya di Surabaya. Tak berapa lama Arma langsung meneleponnya dengan panggilan Videocall. Riani terkejut karena jika dilihat jamnya, di Surabaya sekarang jam 4 pagi.
"Sayang, kok bangunnya cepat?" tanya Riani.
"Arma nggak bisa tidur, ma."
"Kenapa? Lho, itu di mana? Arma nggak berada di kamar sendiri?"
"Arma dijemput oleh bapak Daniel. Ayah dan ibu sebenarnya nggak mengijinkan Arma pergi tapi bapak Daniel dan petugas polisi memaksa Arma untuk pergi. Katanya tiap akhir pekan Arma harus bersama bapak Daniel. Ayah dan ibu melarang Arma untuk memberitahukan pada mama tapi Arma nggak mau bohong. Ma, kata orang-orang, bapak Daniel itu adalah papanya Arma ya? Kan kata mama kalau papa Arma sudah meninggal?"
Riani jadi terkejut mendengar kalau Arma ada di rumah Daniel. Lebih terkejut lagi karena ayah dan ibunya tak memberitahu dia kalau Daniel membawa Arma.
"Arma sendiri saja di sana?" tanya Riani.
"Iya. Bapak dan ibu nggak mau ikut."
Amarah Riani memuncak. Untuk apa Daniel sekarang mendekati Arma? Apa yang dia inginkan?
Jack yang melihat Riani namakan khawatir segera mendekati istrinya.
"Ada apa, sayang?" tanya Jack.
"Jack, aku mau pulang ke Surabaya." ujar Riani tanpa bisa menahan rasa khawatirnya.
************
Selamat pagi
Berhasilkah Riani pulang ke Indonesia ?
__ADS_1
Berikan argumenmu ya?