Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Demi Kebaikan Bersama


__ADS_3

Clark menatap Riani yang duduk di depannya. Ia menarik napas panjang beberapa kali lalu menyesap kopinya dengan pelan. Sementara Riani, hanya memegang gelas yang ada di tangannya seolah ingin menyalurkan panas ke tangannya.


"Minumlah kopinya, Riani. Nanti dingin."


Riani pun menyesap kopinya lalu menatap Clark. "Jadi bagaimana?"


"Apa yang kau baca di media sosial itu benar. Jack memang bukan laki-laki dari kalangan biasa. Ia salah satu bintang olahraga dan juga pemimpin 2 perusahaan. Salah satunya adalah perusahaan produk kecantikan yang merupakan warisan mamanya. Namun kehidupan Jack juga penuh misteri sebagaimana publik yang tak tahu kalau Jack sudah memiliki seorang putri cantik bernama Cassie. Jadi, bukan hanya tentang dirimu yang disembunyikan oleh Jack melainkan juga tentang anaknya sendiri."


"Tapi mengapa?"


Clark mengangkat kedua bahunya sambil membuka tangannya lebar-lebar. "Soal itu aku nggak tahu. Walaupun aku dan Jack merupakan kakak dan adik, namun kehidupan kami berdua sangat jauh berbeda. Bahkan hubungan kami berdua juga tak baik. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali dekat dengannya namun rasanya itu tak mungkin. Karena Jack terlanjur membenciku."


"Apa yang membuat hubungan kalian tak baik?"


Clark tersenyum kejut. "Karena aku anak dari selingkuhan papanya. Mungkin."


Riani kembali menyesap kopinya. Ia termenung.


"Soal perempuan yang kau lihat tadi, jangan dulu berprasangka buruk. Budaya barat merupakan hal biasa saat ketemu dengan orang lain dan saling berpelukan sambil cium pipi kanan dan kiri. Mungkin itu rekan bisnis Jack makanya dia harus bersikap ramah dan sok akrab gitu."


Riani nampak masih diam.


"Ri, kamu sudah ada di sini. Jadi sebaiknya biasakanlah dirimu dengan budaya yang ada di sini. Juga, persiapkanlah dirimu jika suatu saat nanti Jack membuka rahasia siapa dirimu."


Riani menarik napas panjang. "Aku tak butuh pengakuan dirinya tentang siapa aku di hadapan publik. Yang aku butuhkan hanyalah kejujuran Jack. Aku bukan kepo dengan kekayaannya melainkan bagaimana konsepnya memulai hubungan dengan mendustai aku seperti ini."


"Aku pikir Jack mencintaimu. Aku dapat melihat itu dari caranya menatap mu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang berhasil dinikahi olehnya."


"Clark, sebelum menikah denganku, pacar Jack banyak ya? Aku melihat kalau dia pernah dekat dengan beberapa model dan bintang film ternama. Ia juga pernah dekat dengan pemain golf yang terkenal dengan julukan Barbie itu."


Clark tersenyum. "Wajarlah. Lelaki tampan, kaya dan terkenal dekat dengan perempuan yang terkenal juga." Clark menyentuh tangan Riani. "Hei, ayo tersenyum!"


"Clark, tentang mamanya Cassie. Kamu tahu kan?"


"Aku tahu namun bukan hak ku untuk menceritakannya. Karena mamanya Cassie ada hubungan dengan masa laluku. Dan aku tak ingin membuka cerita lembaran masa lalu ku."


"Terima kasih, Clark." Riani pun tersenyum. Tentu saja sekalipun masih penasaran namun Riani tak mungkin memaksa Clark menceritakannya. Ia menghargai keputusan Clark. "Aku mau pulang saja."


"Katanya ada janji dengan Jack."

__ADS_1


"Aku sudah malas untuk jalan-jalan. Tolong Carikan aku taxi." pinta Riani.


"Kebetulan aku mau ke desa untuk melihat vilaku. Sekalian saja kita pergi bersama."


Riani pun mengangguk setuju. Sungguh ia memang merasa kesal dengan keadaan ini.


************


Jack membuka pintu kamar dan melihat Riani yang nampak sedang berbaring namun tak tidur.


"Sayang, kok teleponku nggak kamu angkat? Aku sampai khawatir memikirkanmu." ujar Jack lalu mendekati istrinya yang sedang berbaring itu. Jack duduk di tepi ranjang dan melihat mata Riani yang nampak sembab seperti baru habis menangis.


"Ada apa?" tanya Jack sambil membelai wajah Riani.


"Kangen Arma."


"Sayang....!" Jack ikut berbaring dan langsung menarik tubuh Riani untuk ada dalam pelukannya. "Sabar ya? Kita pasti akan mengunjungi Surabaya nanti."


Tangis Riani kembali pecah saat Jack memeluknya. Hatinya gundah. Ingin sekali Riani bertanya namun entah kenapa dia ingin Jack sendiri akan jujur padanya.


"Jack, biarkan aku bekerja kembali ya? Aku ingin mengumpulkan uang yang banyak agar cepat ketemu Arma."


"Tapi aku butuh uang, Jack. Aku sangat merindukan Arma."


"Sayang, baru juga 4 bulan kamu ada di sini. Tak bisakah kau menahan diri sebentar?"


Riani melepaskan diri dari pelukan Jack. Ia bahkan turun dari tempat tidur. Dengan cepat ia mengikat rambut panjangnya secara asal lalu ia keluar kamar.


Jack merasa heran dengan sikap Riani. Sebagaimana Riani juga yang membatalkan pertemuan mereka dan tak mengangkat telepon. Ia pun bergegas mengikuti langkah Riani. Dan menemukan istrinya itu sedang membersihkan sayur untuk menyiapkan makan malam.


"Sayang, ada apa?" tanya Jack sambil memeluk Riani dari belakang.


"Jangan ganggu aku, Jack. Aku mau masak."


"Tapi katakan dulu ada apa? Kamu terlihat kesal. Apakah karena aku melarangmu untuk bekerja? Bukankah kita sudah sepakat tentang masalah itu. Aku akan memberikan kamu uang jika ingin mengunjungi Arma. Namun belum sekarang."


Riani tak menanggapi Jack. Ia terus mencuci sayuran.


"Aku bantu ya?" tanya Jack.

__ADS_1


Riani tak menjawab.


"Sayang ....!" Jack terlihat kesal dengan sikap Riani namun ia berusaha terlihat tenang.


"Jangan ganggu aku, Jack. Aku sudah lapar."


Jack pun melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Riani. Ia segera pergi meninggalkan dapur membuat Riani akhirnya melepaskan sayur yang dipegangnya. Ia menjadi kesal. Ia butuh kejujuran Jack. Bukan karena dia yang bertanya namun harus Jack yang menceritakannya sendiri.


2 jam kemudian, keduanya makan malam bersama. Tak banyak percakapan yang tercipta karena Riani lebih banyak diam.


Selesai makan malam, Jack memaksakan diri untuk mencuci semua peralatan makan yang mereka gunakan. Riani tak banyak protes. Ia membuatkan Jack melakukan pekerjaan itu dan dia segera ke kamar untuk ganti pakaian dan tidur.


Ketika Jack memasuki kamar, dilihatnya lampu kamar sudah temaram dan Riani sudah tidur membelakanginya.


Jack tak mengerti mengapa sikap Riani sangat berubah. Ia pun naik ke atas ranjang, lalu tidur sambil memeluk istrinya. "Sayang, kau sudah tidur?"


Riani tak bersuara.


Jack mencium pundak Riani lalu ia pun memejamkan matanya.


1 jam berlalu, Jack tak bisa tidur. Ia pun bangun dan menyalahkan lampu baca yang ada di sampingnya lalu ia mengambil hp nya dan membaca email.


Selesai dengan email, Jack melihat hp Riani yang ada di atas nakas. Ia mengambilnya dan membuka galeri untuk melihat foto-foto mereka yang banyak tersimpan di galerinya Riani.


Alangkah terkejutnya Jack saat menemukan foto Riani yang ternyata tadi siang berada di intu Trafford Centre. Di galeri Riani memang diatur waktu dan tempat pengambilan gambar.


Riani berada di sana di jam yang sama denganku? Pantas saja ia minta bertemu di sana. Apakah ia melihatku? Apakah ini yang membuat sikap Riani berubah?


Jack merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Ia menoleh ke arah Riani yang nampak begitu nyenyak dalam tidurnya.


Hati Jack jadi tak tenang. Bukan maksudnya menyembunyikan identitas dirinya. Jack terlanjur nyaman dengan keadaan yang seperti ini. Ia sudah lelah dengan semua kehidupan sosial para kaum Borjuis. Termasuk ia lelah dengan sikap Cecilia yang pernah memporak-porandakan hatinya.


************


Selamat pagi....


selamat beraktifitas


jangan lupa dukung emak ya guys

__ADS_1


__ADS_2