
Di saat mereka melewati pintu utama rumah itu, Riani semakin tercengang melihat ruang tamu yang ada sofa mewah dan besar yang hanya pernah ia lihat di film-film. lalu ruang tamu utama. Di sana ada foto pernikahan mereka, lalu ada foto Jack bersama Arma dan Riani, juga ada foto Jack, Riani dan Cassie saat mereka liburan di Bali. Kini mereka menaiki tangga melingkar yang terlihat elegan dengan nuansa warna gold-black.
"A...aku turun saja, Jack." Riani merasa tak enak.
"Kamu sangat ringan, sayang."
Riani pun semakin tercengang melihat isi lantai dua. Ada home teater dengan TV terbesar yang pernah Riani lihat. Sampai akhirnya mereka memasuki sebuah kamar yang besar dengan interior kamar super super mewah. Jika Riani mau bandingkan besarnya kamar ini dengan rumahnya, rasanya hampir sama.
Jack perlahan menurunkan Riani di atas tempat tidur. Riani pun menggeser tubuhnya agar bisa bersandar di kepala ranjang. Ia duduk walaupun Jack memintanya untuk tidur.
"Istirahatlah, sayang. Aku mau ke perusahaan sebentar karena ada tamu penting dari Jerman. Setelah itu kita akan bicara. Namun jangan memaksakan diri untuk berpikir yang terlalu jauh. Ingat, kata dokter kamu tak boleh terlalu banyak pikiran." Jack mengecup puncak kepala Riani. "Jika perlu sesuatu, tekan saja tombol merah ini." Jack menunjukan sebuah tombol merah yang ada di samping nakas. " Para pelayan akan datang. 3 jam lagi aku akan kembali." lalu Jack pun pergi. Meninggalkan Riani di dalam kamar yang sangat besar itu. Ranjangnya saja begitu besar dan mewah. Belum sempat Riani berpikir jauh, pintu kamar diketuk, lalu Cassie masuk dengan senyum manisnya.
"Mommy.....!" ia langsung berlari dan memeluk Riani dengan penuh kasih.
"Baby....!" Riani mengusap kepala Cassie.
"Aku sangat kaget saat Daddy mengatakan kalau mommy mengalami kecelakaan. Apalagi mommy harus dirawat selama 3 minggu di sana dan daddy tak mengijinkan aku untuk menjenguk mommy." Cassie melepaskan pelukannya, ia menatap Riani dengan wajah yang masih terlihat sedih. Riani tersenyum walaupun sebenarnya hatinya gelisah.
"Mommy sudah baik-baik saja, sayang. Oh ya, kamu sudah biasa tinggal di sini?"
"Ini kan memang rumah daddy yang sebenarnya. Ada juga rumah daddy di London. Kata daddy itu warisan dari Oma. Namun daddy jarang sekali ke sana."
"Kalau rumah yang di desa?"
"Itu rumah masa kecil daddy. Kata daddy sampai aku berusia 1 tahun, aku tinggal di sana. Lalu kami pindah ke sini. Dulu rumah ini nggak Segede ini. Lalu Daddy membangunnya secara perlahan. Waktu aku berusia 5 tahun, rumah ini sudah Segede ini."
"Oh......"
Cassie duduk di tepi tempat tidur. "Maafkan Cassie ya? Sebenarnya Cassie ingin cerita ke mommy soal rumah ini. Tapi daddy melarangnya. Nggak tahu juga alasan daddy apa. Tapi sekarang Cassie senang. Mommy sudah di sini. Cassie nggak suka tinggal di desa. Rumahnya nyaman tapi nggak terlalu luas. Kalau di sini ada ruangan bermain khusus Cassie. Jika Arma datang, kami akan bermain bersama. Aku sering Videocall sama Arma. Kami sama-sama belajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Arma sangat cantik. Seperti mommy." Cassie terus bercerita tentang banyak hal. Riani jadi haru melihat cara anak ini berusaha menjadi akrab dengannya. Cassie yang sejak kecil tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, kini ia bisa menikmatinya dengan Riani. Wanita yang diinginkannya untuk menjadi istri ayahnya.
Tak lama kemudian, seorang perempuan berpakaian seperti perawat masuk.
"Nyonya, sudah saatnya minum obat." kata perempuan itu ramah.
"Hallo suster Hanna." sapa Cassie yang ternyata mengenal perempuan itu.
Hanna adalah seorang perawat yang berusia 38 tahun. "Hallo Cassie sayang. Wah, senangnya bisa bersama mommy selama 1 minggu kan?"
"Iya. Berharap agar liburnya ditambah. ha ...ha ...." gadis yang mulai beranjak remaja itu tertawa.
__ADS_1
"Kamu ini....." Hanna mengacak rambut Cassie lalu ia membuka obat itu dari wadahnya, dan memberikan kepada Riani. Ia mengambil gelas yang memang sudah tersedia di atas nakas, menuangkan air dari wadah kacau berbentuk bulat yang juga sudah ada di sana.
Hanna menyelesaikan tugasnya. "Nyonya, 1 jam lagi akan makan ya? Tuan Jack meminta saya untuk bertanya kalau Nyonya ingin makan apa?" tanya Hanna.
"Aku.....!" Riani bingung. Ia tak pernah dilayani seperti ini.
"Suster Hanna juga pernah tinggal di Indonesia. Jadi tahu makanan Indonesia." ujar Cassie membuat Riani terkejut.
"Mantan suami saya adalah dokter di Indonesia. Namun karena orang tuanya menginginkan perempuan asli Indonesia, ditambah lagi dengan tekanan dari keluarganya, aku memilih kembali ke Inggris. Kami sudah 5 tahun berpisah." Wajah suster Hanna terlihat sedih. "Nyonya mau masakan Indonesia apa?"
"Rendang...." Riani tiba-tiba saja mengingat jenis makanan itu.
"Aku juga suka rendang. Aku periksa dulu kalau di kulkas ada bahannya. Kalau nggak, aku meminta sopir membelinya di toko Asia." Hanna pun meninggalkan kamar.
"Suster Hanna orangnya sangat baik. Dia bekerja di rumah-rumah orang yang membutuhkan jasa seorang perawat. Nggak di rumah sakit. Anaknya berusia 7 tahun. Namanya Dee. Sering juga main ke sini."
Riani hanya mengangguk.
"Mommy tidur saja ya? Aku akan keluar sehingga mommy bisa istirahat. Nanti malam, aku ke sini lagi." Cassie mengecup pipi Riani sebelum meninggalkan kamar.
Sifat Cassie yang penyayang membuat Riani selalu merasa terhibur. Ia bisa menyalurkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu pada gadis itu.
Riani mengingat kembali bagaimana Jack yang pernah tinggal di rumahnya. Kamar Riani yang sempit, apalagi kamar mandinya yang hanya ada satu di belakang. Bagaimana Jack bisa tidur di ranjangnya yang agak keras, sangat jauh dengan ranjang yang sekarang ini Riani tempati.
Perlahan mata Riani mulai terasa berat. Mungkin juga karena pengaruh obat. Ia pun tertidur dengan pikiran yang masih terus bertanya.
************
Saat Riani bangun, Jack sudah ada di kamarnya. Pria itu bahkan sudah mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana jeans selutut.
"Sayang, kau sudah bangun?" Jack membantu Riani untuk duduk.
"Aku mau ke toilet."
Jack mengambil sebuah sandal rumahan dengan kepala berbentuk kartun mini mouse dan meletakkannya tepat di bawa kaki Riani. Kemudian Riani pun menurunkan kakinya dan langsung memakai sandal itu. Jack segera melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan menolongnya ke kamar mandi.
Riani kembali terkejut melihat isi kamar mandi Jack. Ada bathtub berukuran besar, shower, lemari yang khusus menyimpan peralatan mandi, lalu sebuah kloset yang super canggih.
Jack menerangkan cara menggunakan toilet itu. Semuanya tersedia dalam bentuk tombol. Riani pernah melihat kloset semacam ini saat menonton Chanel tentang hotel-hotel di siaran TV.
__ADS_1
Saat mereka keluar dari kamar mandi, Hanna sudah berada di kamar. Ia mengatur makanan di balkon kamar. "Makanannya sudah siap tuan."
"Terima kasih, Hanna."
Hanna menunduk hormat lalu segera keluar kamar.
Jack menuntun Riani untuk melangkah ke balkon kamar. Di sana ada meja bulat yang sudah berisi makanan. Ada sayuran, nasi dan tentu saja rendang.
Riani dan Jack makan bersama tanpa banyak bersuara.
Kerinduan Riani pada makanan Indonesia boleh terobati saat ini walaupun rasa rendangnya tak seperti buatan ibunya.
"Aku senang karena kamu makannya banyak." Kata Jack setelah Riani selesai makan.
"Aku rindu makanan Indonesia."
Jack membelai wajah Riani. "Kau bisa meminta Hanna untuk membuat makanan Indonesia."
Riani menunduk. Lalu ia menatap Jack yang memang sedang menatapnya.
"Mengapa kamu harus menyembunyikan ini semua dari, Jack? Apakah kau takut aku akan serakah dengan kekayaanmu?"
Jack menggeleng. "Bukan seperti itu sayang."
"Lalu kenapa? Aku nggak mau tinggal di sini, Jack. Aku mau kembali ke rumahmu yang ada di desa. Aku merasa bahagia di sana. Bahagia dengan rumah sederhana itu. Bahagia dengan statusku sebagai istri dari seorang pekerja biasa. Bahagia naik mobil pick up mu itu." Riani mengucapkan kata demi kata dengan penuh penekanan. "Siapa dirimu, Jack? Aku justru takut dekat denganmu sekarang ini."
"Sayang.....!" Jack meraih tangan Riani namun ditepiskan oleh istrinya itu dengan kasar. "Katakan yang sebenarnya, Jack. Jika ada lagi yang kau sembunyikan, maka aku akan kembali ke Surabaya. Aku tak mau ada dalam hubungan yang penuh rahasia ini."
Jack terkejut mendengar perkataan Riani.
**********
Hallo semua.....
Terus dukung emak ya guys....
Apa komentarnya di episode ini?
Ada yang tahu alasan Jack menyembunyikan identitasnya?
__ADS_1