Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Adiknya Cassie dan Arma


__ADS_3

"Ri, suamimu punya berapa bodyguard?" tanya Dessy saat mereka sedang jalan-jalan di pusat perbelanjaan kita Manchester.


"Aku tak tahu. Namun bodyguard yang biasa menjaga aku jika mau keluar rumah ada 2."


"Sekarang yang mengikuti kita ada berapa?"


"Ada 4. Yang lain mungkin shift jaga."


"Wah, si ganteng yang tadi pagi juga pulang ya?"


"Iya."


"Dia tampan. Manis. Ingin rasanya aku menyentuh hidung mancungnya itu."


Riani tertawa mendengar perkataan Dessy.


Mereka belanja beberapa baju, tas dan sepatu. Ayah dan ibu Riani nampak terkaget-kaget saat semuanya di bayar hanya dengan sebuah kartu.


"Kata mama, aku harus panggil Cassie dengan sebutan kak Cassie." ujar Arma saat ia dan Cassie sementara memilih topi.


"Ok. Jika memang Arma tak keberatan untuk memanggil aku sedang sebutan kakak."


Arma menatap Cassie. "Sekarang kita berdua kan sudah menjadi ade dan kakak."


"Benar juga. Ah, senangnya punya adik." Cassie berkata dengan nata berbinar. Riani yang diam-diam mendengar percakapan mereka jadi ikutan senang.


"Nak, kita sudah belanja banyak. Apakah nanti suamimu nggak marah?" tanya Sulastri.


"Dia nggak akan marah, Bu. Uang yang aku pakai belanja ini adalah uang bulanan yang Jack berikan padaku. Tadi juga saat mau berangkat belanja, ia sudah memberikan satu kartu untukku. Kita mau belanja apa saja pasti semuanya bisa aku bayar."


Sulastri menggelengkan kepalanya."Duh, seberapa kaya suamimu itu? Ibu jadi malu membayangkan dia pernah tinggal di rumah kita yang kecil."


"Jack orangnya nggak sombong, Bu. Dia juga memiliki rumah di desa yang pernah aku tinggali selama beberapa bulan."


"Ah, kami beruntung sekali mendapatkan Jack. Sudah tampan, kaya, baik hati lagi."


Ibu nggak tahu aja kalau Jack marah. Menakutkan.


"Nak, 3 hari yang lalu Daniel datang ke rumah. Hanya dia sendiri. Katanya dia rindu dengan Arma. Awalnya Arma nggak mau keluar kamar. Namun akhirnya dia mau juga setelah ibu membujuknya. Arma bercerita banyak dengan Daniel. Ibu melihat kalau Daniel sungguh sayang pada Arma."


Riani menarik napas panjang. "Nggak masalah jika Daniel mengunjungi Arma di rumah. Namun jangan pernah ibu ijinkan jika dia harus membawanya. Sikap Dewi yang judes nggak baik untuk perkembangan Arma."


"Iya."


Acara belanja dan jalan-jalan hari ini selesai karena jam 4 sore Riani harus mengunjungi dokter Diana.


Arma dan Cassie juga ikut karena mereka ingin tahu perkembangan adik mereka di perut Riani.


"Perkembangannya baik. Sesuai dengan usianya. Dan jenis kelaminnya laki-laki."


"Baby boy?" ucap Arma dan Cassie hampir bersamaan. Keduanya langsung berpelukan sambil melompat-lompat kegirangan.

__ADS_1


Jack sendiri tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca.


Dokter Diana pun ikut senang melihat semua yang di ruangan itu nampak sangat bahagia saat ia menyebutkan jenis kelamin si jabang bayi.


Air mata Riani menetes. Ia memang sangat menginginkan anak laki-laki namun dia tak akan pernah kecewa seandainya pun saat ini dia hamil anak perempuan.


"Mommy, bolehkah nama adik nanti kami berdua yang carikan?" tanya Cassie dalam perjalanan pulang mereka.


Riani menatap Jack yang sedang menyetir. "Bagaimana sayang?"


"Boleh." Jawab Jack. "Daddy sebenarnya sudah punya nama."


"Begini saja. Kami berdua carikan satu nama dan daddy carikan satu nama."Usul Arma.


"Boleh juga." ujar Riani diikuti anggukan Jack. Suasana itu membuat Cassie lupa kalau sebenarnya ia masih berseteru dengan papanya.


**********


Selama satu minggu, Riani mengajak keluarganya menikmati hari liburan bersama. Kadangkala, Riani tak ikut turun. Ia hanya menunggu di mobil karena Jack memang sangat protektif dengan istrinya itu. Apalagi saat tahu kalau jenis kelaminnya laki-laki.


Dessy pun tak mau jauh-jauh dengan Vigo. Keduanya seringkali jalan bersama dan Arma yang menjadi penterjemah jika mereka bicara. Arma memang sudah sangat fasih berbahasa Inggris karena ia kursus dengan sangat baik.


"Sayang, apakah Vigo dan Dessy pacaran?" tanya Jack saat mereka baru saja menikmati makan malam di halaman belakang dan Dessy sudah menghilang entah kemana.


"Aku tak tahu."


Arma mendekat. "Mama, kata paman Vigo, bibi Dessy itu cantik dan enerjik. Dia suka melihat bibi tersenyum apalagi tertawa. Apakah mereka pacaran?"


"Kan aku yang menterjemahkan."


Riani memeluk putrinya. Ia merasa sangat bahagia karena bisa melihat bagaimana anaknya menikmati liburan mereka saat ini.


"Arma, jangan pulang. Tinggal saja di sini. Maulana?" ujar Cassie.


"Aku kasihan jika harus meninggalkan ayah dan ibu."


"Tapi di sini juga mommy Riani selalu merindukanmu. Selalu menangis jika rindunya tak tertahan."


"Iya. Aku juga sebenarnya ingin tinggal di sini. Namun tunggu sampai aku kelas 7 ya?"


"Pada hal aku ingin sekali kita bisa tinggal bersama."


"Sabar ya?" ujar Arma sambil mengusap punggung Cassie.


Arya dan Sulastri yang melihatnya menjadi haru. "Aku yakin kalau Arma akan betah di sini. Cassie terlihat sangat menyayangi Arma."


"Iya. Ibu juga rela jika Arma tinggal di sini." ujar Sulastri menyambung ucapan suaminya.


"Walaupun kenyataannya kita berdua pasti akan sendiri " Arya menarik napas panjang sambil mengusap dadanya.


"Ayah nggak mau tinggal di sini? Jack semalam bilang kalau ia lebih suka kita berdua juga tinggal di sini."

__ADS_1


Arya menggeleng. "Aku lebih suka dengan suasana desa, dengan rumah sederhana kita. Dengan bau becek saat bekerja di sawah. Menantu kita terlalu kaya. Ayah nggak bisa tinggal di rumah semewah ini."


Sulastri mengangguk. "Ibu juga lebih suka dengan rumah di desa kita."


Tanpa keduanya sadari, Riani mendengar percakapan itu. Riani pun sebenarnya rindu dengan desanya. Rindu dengan kamarnya. Namun nasib telah mempertemukan dia dan Jack dan membawanya ke Inggris. Mau bagaimana lagi?


**********


Dessy dan Vigo saling berpelukan. Dessy menangis. Walaupun status hubungan mereka belum jelas namun Dessy merasa sedih harus meninggalkan Vigo.


Riani yang melihatnya menjadi tersenyum. Tinggal beberapa saat lagi mereka akan meninggalkan Inggris.


Selama 8 hari, Jack membawa mereka berkeliling di beberapa tempat wisata yang terkenal di Inggris. Kalau mereka datang hanya membawa satu koper tiap orang, kini masing2 membawa 3 koper. Riani memang membelikan berbagai macam barang untuk mereka.


"Aku akan menabung untuk bisa mengunjungimu di Indonesia." kata Arma menerjemahkan kata-kata Vigo.


"Ok baby." ujar Dessy sambil mengangkat kedua jempolnya. Yang lain langsung tertawa


Arya dan Sulastri memeluk putri mereka. "Nak, jaga kesehatan baik-baik ya? Kamu kan akan melahirkan sendiri. Ibu nggak bisa lagi mendampingi kamu."


"Baik, Bu." Sulastri mengusap perut Riani. "Cucu ibu, sehat-sehat ya nak. Bila kau lahir nanti pasti akan membuat daddy dan mommy mu bahagia."


Riani jadi baper. Ia sebenarnya tak ingin menangis. Tapi rasa sedih karena akan berpisah dengan mereka membuat matanya menjadi basah juga.


Arma dan Cassie pun saling berpelukan sambil menangis. Mereka berdua terlihat enggan untuk berpisah.


"Nanti kita akan ketemu lagi kan? Jadi jangan terlalu sedih." ujar Jack membuat kedua gadis cantik itu akhirnya bisa melepaskan pelukan mereka.


Jack memilih penerbangan dengan kelas 1 untuk mereka. Baginya itu akan baik demi kenyaman mereka.


**********


2 hari kemudian.....


"Jack, ada undangan sidang dari pengadilan." ujar Sam Sambil menyerahkan sebuah amplop.


"Sidang?" Jack langsung membuka surat itu. Wajahnya langsung menjadi merah. "Tak akan ku biarkan mereka merebut Casie dari tanganku."


"Bagaimana jika Cassie yang ingin tinggal bersama mereka?" tanya Sam membuat Jack terkejut. Benarkah Cassie akan meninggalkannya?


*********


Hai...selamat malam


maaf ya episodenya kurang panjang. Aku masih ada acara keluarga.


Emak juga masih sangat sibuk.


Semoga suka ya......


setelah episode ini konflik panjang Jack dan Riani akan dimulai.

__ADS_1


__ADS_2