Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Haruskah Seperti Ini?


__ADS_3

"Maksud kamu apa, Jack? Kamu nggak akan menyesal jika tahu kebenarannya? Memangnya video apa yang sudah kamu lihat?" tanya Clark mulai emosi melihat saudara tirinya itu mulai bertindak mengikuti kata hatinya sendiri.


"Kamu jangan ikut campur dengan semua urusan keluargaku. Ini semua terjadi karena kamu yang menolong Riani untuk datang ke sini." kata Jack dengan nada yang semakin tinggi.


Clark menatap Dea. "Dea, bawa baby Reo main di taman bawa."


"Baik, tuan!"


Sam memungut ponsel Jack yang sudah hancur. Ia meraih nomor dan kartu memorinya lalu memindahkan ke dalam ponselnya.


"Jangan lihat, Sam!" bentak Jack.


"Kau melihatnya hanya sebentar bos. Cobalah lihat sampai akhir." Kata Sam lalu menyalahkan ponselnya lagi.


"Ah......!" Jack meninju lemari yang ada di dekatnya. Clark hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Ini tontonlah lagi....!" ujar Sam sambil menyerahkan ponselnya. Namun Jack yang sudah terbakar cemburu, mendorong tangan Sam yang menyerahkan ponselnya.


Clark langsung merampas ponsel itu dan menonton video yang dikirim oleh orang tak dikenal. Matanya menyipit saat melihat aksesoris dan tata ruangan tempat adegan itu berlangsung.


"Inikan di hotel yang sama dengan kita. Lihat ranjangnya, bantalnya, lampu tidurnya. Bahkan lukisan di dindingnya." ujar Clark membuat Jack langsung merampas ponsel Sam dan membuka aplikasi yang terhubung dengan GPS yang ada di liontin kalung Riani. Benar saja. GPS itu menunjukan bahwa Riani ada di dalam hotel ini.


Jack langsung keluar diikuti oleh Sam dan Clark.


*********


Riani yang dibawa oleh kedua pria itu merasa sangat takut ketika matanya ditutup oleh mereka. Dan saat ia akan berbicara, Riani merasa kalau matanya tiba-tiba saja mengantuk dan ia tak sadarkan diri.


Saat ia siuman, ia kaget melihat dirinya sudah ada di dalam kamar hotel yang Riani tahu kalau ini adalah hotel yang sama, tempat ia menginap. Sayangnya tangan dan kaki Riani terikat.


Namun yang lebih kaget saat ia melihat kalau di depannya ada Cecilia dan Dewi.


"Kalian....? Cepat katakan, dimana anakku?" Riani langsung emosi saat melihat mereka.


Cecilia tertawa. Ia kemudian mendekat dan mencengkeram dagu Riani. "Kau sudah menghancurkan hubunganku dengan Jack. Tak apalah jika aku tak mendapatkan Jack namun kau juga tak akan memiliki Jack."


"Mau kamu apa sih, Cecilia?" teriak Riani marah.


Cecilia menampar pipi Riani. "Diam Perempuan kampungan! Aku akan tahu kelemahan Jack. Dia orangnya sangat cemburuan dan suka bertindak gila jika sudah cemburu."


Dewi pun ikut tertawa. Tak lama kemudian pintu kamar diketuk. Dewi mengintip lewat pintu dan segera membukanya saat tahu siapa yang datang.


Daniel terlihat kaget saat ada Riani di atas ranjang.


"Apa-apaan kalian ini? Dewi, Cecilia, kalian sudah gila ya?"


"Selama 8 tahun aku menjadi istri yang baik. Namun kamu sama sekali tak pernah menghargai aku. Kamu terus hidup di alam mimpi tentang gadis kampunganmu itu. Kau lupa, waktu kecil kita pernah berjanji untuk saling menyayangi. Namun KKN sialmu itu telah membuat kamu bertemu dengan Riani. Kau jatuh cinta tanpa memikirkan aku yang sejak kecil sudah mencintaimu. Aku akan menghancurkan mu, dan juga wanita yang sudah membuatmu berpaling dariku." teriak Dewi menumpahkan semua kekecewaan yang ia rasakan selama ini.


"Kamu sudah tahu Dewi, sebelum aku menikahimu aku sudah jujur tentang perasaanku padamu. Sudah berulang kali aku meminta agar kita cerai saja. Bahkan di tahun pertama pernikahan kita. Maafkan aku, Dewi." ujar Daniel dengan nada penyesalan yang sungguh-sungguh.

__ADS_1


Tangis Dewi pecah. "Tak bisakah kau menghargai perasaanku? Riani saja sudah melupakan mu."


"Sudahlah, Dewi. Percuma kau menangis. Sekaranglah saatnya membalas sakit hati kita." Cecilia menyalahkan TV. Nampak Arma sedang duduk sambil diikat pada sebuah kursi. Mulut gadis kecil itu ditutupi dengan sebuah lakban hitam.


"Cecilia, mengapa kalian menyiksa anakku seperti itu? Lepaskan dia. Balasan dendam kalian kepadaku." ujar Daniel hampir menangis melihat wajah Arma yang nampak sangat ketakutan.


"Arma....!" teriak Riani histeris.


Cecilia menelepon seseorang. "Pasangkan bom itu." perintahnya.


Seorang pria yang menggunakan masker hitam dan topi, muncul lalu memasang bom itu ke tubuh Arma. Gadis kecil itu sangat ketakutan dan menggerakan tubuhnya.


"Apa yang kalian lakukan? Kalian sungguh tak punya hati nurani. Apa kesalahan anak saya? Lepaskan!" Riani merontah-rontah ingin melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Daniel langsung membantu Riani untuk melepaskan ikatan itu.


"Bom yang dipasang di tubuh Arma sudah diatur waktunya yaitu 30 menit. Yang harus kalian lakukan adalah bercumbu di atas ranjang. Harus nampak alami sebab kalau tidak, Arma akan meledak." ujar Cecilia.


"Brengsek kau, Cecilia. Kau sungguh kejam dan tak berperasaan. Aku membencimu!" Riani menyerang Cecilia. Namun perempuan itu hanya menangkis pukulan Riani sambil berteriak.


"Waktu terus berlalu Riani."


Riani menatap Daniel. Lelaki itu pun nampak kacau.


"Cepatlah.....!" teriak Cecilia.


Riani melihat ke arah tv. Arma nampak sangat ketakutan. Dan penunjuk waktu yang ada di sana sudah menunjukan 25. Berarti 5 menit sudah berlalu.


"Dewi, Cecilia, jangan seperti ini. Tolong lepaskan Arma." mohon Daniel.


Air mata Riani jatuh. Perlahan ia naik kembali ke atas tempat tidur.


"Ayo bercinta dengan Riani, Daniel. Kau tentu tak lupa dengan hasrat mu padanya sampai membuat Riani hamil kan?" ujar Dewi sambil tertawa.


Daniel terlihat enggan untuk naik ke atas ranjang. Walaupun ia sangat mencintai Riani namun ia tak mau mengambil keuntungan seperti ini.


"9 menit telah berlalu....!" teriak Cecilia.


Riani menghapus air matanya. Ia menatap Daniel. Lelaki itu dengan sangat berat akhirnya naik ke atas ranjang.


"Semuanya harus nampak alami, Daniel. Aku tak mau adegan ini terlihat terpaksa dilakukan. Hapus air matamu Riani."


Daniel menatap Riani. "Maafkan aku, Ri. Sungguh, aku tak bermaksud mengambil keuntungan darimu." ujar Daniel lalu menghapus air mata Riani. Perlahan Daniel mencium dahi Riani. Kemudian turun ke hidungnya.


"Ulangi....., aku tak mau Riani tanpa respon seperti itu. 12 menit sudah berlalu." Cecilia sedikit kesal karena melihat kedua orang itu masih nampak kaku.


"Daniel, demi Arma, lakukan semuanya seperti saat dulu kita melakukannya." kata Riani pelan. Ia menatap ke layar TV. Ketakutan yang ada di wajah Arma membuatnya berusaha menguatkan hatinya. Maafkan aku, Jack. Maafkan aku.


Riani membalas ciuman Daniel. Ia membayangkan sedang mencium Jack saat ini.


Dewi menahan rasa cemburu di dadanya melihat lelaki yang dicintainya kini bercumbu dengan orang lain. Namun karena ia sangat membenci Riani yang telah membuatnya tak bahagia selama ini, Dewi pun memilih memejamkan matanya.

__ADS_1


Daniel menurunkan resleting gaun yang Riani pakai. Tangannya bergetar saat membelai punggung Riani yang mulus. Semua yang ada di tubuh Riani, dialah yang memilikinya untuk pertama kali.


Bagaimana pun Daniel adalah lelaki normal. Ia sudah lama tak berhubungan intim dengan Dewi. Sekalipun awalnya ia tak ingin mengambil keuntungan dari semua ini, namun ia mulai merasakan percikan api gairah di tubuhnya.


Riani dapat merasakan itu, ketika tangan Daniel mulai menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Ia pernah bersama Daniel. Ia pernah merasakan gairah yang dimiliki oleh lelaki itu untuknya. Namun, untuk mencegah Daniel berbuat lebih padanya, nyawa Arma adalah taruhannya.


Kini bagian atas tubuh Riani sudah polos. Daniel pun sudah membuka kaos yang dipakainya. Cecilia nampak tersenyum manis saat merekam adegan demi adegan yang panas itu.


"Cukup....! Cukup.....!" teriak Dewi sambil mengambil ponsel Cecilia. Bagaimana pun, Dewi masih punya perasaan. Kebenciannya terhadap Arma dikalahkan oleh rasa cemburunya yang besar.


"Bagaimana dengan Arma?" tanya Riani.


Cecilia menelepon seseorang dari ponselnya yang lain. Dan pria yang tadi datang mematikan waktu yang ada pada bom yang dipasang di tubuh Arma serta mengeluarkan bom itu.


**********


Jack menuju ke lantai 7 tempat GPS pada kalung Riani terdeteksi. Jantungnya berdetak sangat cepat. Sam dan Clark pun mengikuti.


Saat mereka keluar dari lift, nampak Riani dan Daniel yang berjalan sambil bergandengan tangan dan membawa tas yang dibawa Riani beberapa waktu yang lalu.


Dada Jack bagaikan ditusuk sembilu saat melihat kedua mantan suami istri itu bergandengan tangan.


"Jack?" Riani nampak terkejut.


"Kalian......!" Jack maju dan hendak memukul Daniel namun lift yang terbuka mengalihkan pandangan mereka. Nampak Dewi keluar dari sana.


"Daniel...., ternyata benar kau bersama Riani? Kau memang brengsek. Kau pura-pura mengarang cerita tentang Arma yang diculik pada hal semua itu adalah skenario mu untuk membuat Riani bisa datang ke sini kan?" teriak Dewi sambil menangis.


"Dewi, tutup mulutmu!"


"Mengapa aku harus menutup mulutku? Aku sudah tak tahan dengan semua perilaku mu. Setiap ada kesempatan kau selalu menghubungi Riani. Merayunya agar kembali padamu." Dewi menatap Jack. "Jack, Riani mengambil uang yang cukup banyak beberapa waktu yang lalu kan? Aku sangat yakin uang itu diambilnya untuk melarikan diri dengan Daniel."


Tanpa diduga, Jack langsung maju dan memukul Daniel dengan membabi-buta. Sam dan Clark tak sempat mencegahnya. Daniel yang sudah jatuhpun tak mendapat ampun dari Jack.


"Jangan.....!" Riani tiba-tiba merembahkan tubuhnya di atas tubuh Daniel. Membuat tangan Jack yang siap memukul lagi akhirnya melayang di udara.


"Riani......!" Jack menggeleng tak percaya.


"Kalau kau ingin membunuh Daniel, kau harus melangkahi dulu mayatku."


Perkataan Riani bagaikan sebuah palu besar yang menghantam dada Jack. Perlahan ia berdiri. Kepalanya mengangguk dan ada senyuman sinis di wajahnya. "Kau memang tak pernah mencintaiku." ujar Jack lalu segera pergi diikuti oleh Sam.


Clark memandang Riani tak percaya. Saat pandangan mata mereka bertemu, Clark dapat melihat kalau Riani sangat tertekan. Namun karena Riani yang terus memeluk Daniel, Clark pun meninggalkan mereka diikuti oleh Dewi yang menangis pilu.


************


Hallo semua


Emak bilang ke aku kalau novel ini menurut beberapa pembaca sudah bukan gaya emak lagi. Maaf ya. Tanganku terlalu asyik mengetik dengan ide-ide yang tiba-tiba saja muncul di kepala ku. Jika memang dianggap kurang bagus, mohon jangan tinggalkan novel ini ya? Aku hanya sekedar menuangkan buah khayalanku.

__ADS_1


Love A M A N D A


__ADS_2