
Cassie menjadi penghibur bagi Riani. Saat Jack bekerja, ia selalu ada dan menemani ibu sambungnya itu. Dia bahkan dengan senang hati memapah Riani keluar dari kamar dan menuju ke taman, supaya Riani tak bosan di kamar.
"Mommy, bagaimana menurut mu dengan taman bunga ini?" tanya Riani sambil menunjukan taman bunga yang ada di bagian depan.
"Mommy suka."
"Beberapa bunga di sana aku yang menanamnya."
Riani jadi ingat tentang Camila yang juga suka menanam bunga sewaktu hamil. Pasti sifat itu menurun pada putrinya.
"Belajar menanam bunga memang bagus untuk anak perempuan."
Cassie tersenyum senang. "Jika mommy sudah sembuh, kita menanam bunga bersama ya? Apalagi sebentar akan masuk musim panas. Daddy nggak akan marah jika aku berlama-lama di luar rumah."
"Mommy rindu rumah yang di desa."
Cassie memeluk Riani yang masih duduk di kursi roda. "Nanti kita akan main ke sana juga. Tapi Cassie ingin kita tinggal di sini. Dari sini dekat dengan sekolah Cassie. Dekat juga dengan perusahaan milik daddy. Kalau di desa kesannya sepi."
Hati Riani gelisah. Bagaimana ia bisa mengatakan pada Cassie bahwa kemewahan hidup seperti yang ada di rumah ini rasanya kurang cocok dengan dirinya. Bagaimana ia bisa mengatakan kalau ia lebih suka tinggal di desa dan bekerja di toko roti.
Sanggupkah Riani membuat wajah Cassie kecewa? Apalagi saat anak itu menceritakan tentang keinginannya untuk segera keluar dari asrama dan tinggal di rumah bersama Riani. Hatinya begitu tersentuh. Sebagai seorang ibu, Riani ingin mencurahkan kasih sayangnya pada Cassie. Tapi, bagaimana jika itu bertentangan dengan keinginan hatinya? Cassie sudah terbiasa dengan segala kemewahan ini sedangkan Riani tidak. Bagaimana caranya beradaptasi?
"Mommy, kita ke dalam ya? Cassie ingin mommy memberikan resep kue coklat buatan mommy pada koki supaya mereka bisa menyiapkan kue coklat itu untuk kita nanti sore." Cassie mendorong kursi roda Riani dengan penuh semangat. Saat sudah berada di dalam rumah, Riani meminta untuk jalan saja karena ia merasa sudah agak baikan setelah berjemur di luar.
Dapur berada di bagian belakang. Ruangan dapur terdiri dari 3 bagian. Dapur bersih yang berisi peralatan memasak canggih. Dapur ini biasanya dipakai jika ada acara makan malam khusus. Lalu dapur tempat para koki memasak dan dapur yang satu adalah khusus tempat pembuatan kue.
Ada kepala koki yang bernama James. Lelaki berusia 45 tahun yang terlihat sangat akrab dengan Cassie, lalu ada 2 Koki pembantu.
"Selamat pagi Nyonya!" sapa Leo, kepala pelayan di rumah ini.
Riani merasa agak kikuk di sapa Nyonya seperti ini. Dia berusaha tersenyum walaupun terlihat kaku.
Hanna ada di belakang Leo. Ia sudah membawa obat untuk Riani minum.
"Nyonya ingin makan apa hari ini?" tanya Hanna setelah Riani selesai meminum obatnya.
"Eh, aku....ingin makan apa saja yang disiapkan koki hari ini." Riani jadi kaku berbicara.
"Mommy bilang aja mau makan apa. Makanan Indonesia mungkin." ujar Cassie.
Riani menatap Putri sambungnya. "Mommy mau makan makanan Inggris dulu."
Cassie tersenyum. "Kalau begitu, suster Hanna tolong antarkan mommy ku ke kamar supaya bisa istirahat dan aku mau bantu paman Charles menyiapkan makanan untuk mommy tersayang."
Semua pelayan terlihat senang. Sudah lama mereka tak melihat senyum bahagia di wajah nona kecil mereka. Dan kali ini mereka melihatnya lagi.
Riani pun kembali ke kamarnya di temani Hanna. Mereka tak naik tangga melainkan menggunakan lift.
__ADS_1
"Nona Cassie terlihat sangat bahagia. Nyonya benar-benar telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan nona kecil kami. Selama ini, nona kecil selalu bertanya kapan ia akan memiliki seorang ibu. Kami semua juga bingung karena semua perempuan yang dekat dengan tuan, tak pernah disukai oleh nona Cassie. Dan aku terkejut saat mereka pulang liburan dari Bali, ada berita gembira yang kami terima."
Riani menatap Hanna yang sementara membuka perban di kepalanya. "Bagaimana bekas operasinya?"
"Sudah kering, nyonya. Sebaiknya tak usah lagi diperban."
"Baiklah."
"Hanna, kau sudah lama bekerja di sini?"
"Ya. Aku sudah 3 tahun bekerja dengan tuan Jack. Jika nona Cassie sakit, aku yang merawatnya. Tuan Jack tak mau membawa nona ke rumah sakit. Ada dokter keluarga yang biasa datang ke sini."
"Kau tahu alasannya?"
"Saya tahu, Nyonya. Semua yang bekerja di sini pun sudah disumpah untuk membunyikan keberadaan nona Cassie."
"Jadi kalian tahu siapa namanya Cassie?"
Hanna mengangguk. "Ya. Nyonya Camila. Kami memang tak pernah bertemu dengannya Namun kami tahu siapa Nyonya Camila. Keluarga Smith adalah keluarga yang cukup terkenal di Inggris ini."
Riani pun membaringkan badannya. "Aku mau istirahat."
Hanna mengangguk. "Apakah nyonya ingin jendelanya tetap terbuka?"
"Iya."
Semalam, ia dan Jack tak banyak bicara. Riani memilih tidur lebih dulu dan tak memperdulikan Jack yang nampak sibuk juga dengan pekerjaannya. Ia duduk di sofa sambil membaca beberapa dokumen. Sesekali ia mengajak Riani bicara namun Riani menjawab seadanya saja.
***********
Jack pulang malam hari ini. Ia bahkan melewati waktu makan malam. Saat ia memasuki kamar, Cassie nampak sedang duduk bersama Riani di atas ranjang sambil menonton sesuatu dari tablet yang Cassie pegang. Keduanya tertawa bersama.
"Hi dad....!" sapa Cassie.
Jack mendekat. Ia mencium pipi Cassie kemudian mengecup bibir Riani. Kecupan pertama setelah kecelakaan itu terjadi.
"Aku tinggalkan mommy di tangan daddy, ya?" pamit Cassie. "Good night mommy." ujar Cassie lalu mencium pipi Riani. Ia juga mengucapkan selamat malam pada papanya sebelum keluar kamar.
Jack ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan begitu ia keluar, ia sudah menggunakan celana rumahan dan kaos oblong.
"Bagaimana kabarmu hari ini, sayang?" tanya Jack sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Sudah membaik."
"Perbannya sudah di buka ya? Jika lukanya sudah benar-benar kering, kita akan ke dokter kulit untuk menghilangkan bekas operasinya di dahimu."
"Tak perlu. Biar saja seperti ini."
__ADS_1
"Sayang, kok bicaranya ketus sih?"
"Aku bosan berada di sini, Jack. Ingin rasanya aku pergi ke rumah desa."
"Sabar sayang, kamu kan dalam masa perawatan."
Riani menyilang kan kedua tangannya di depan dadanya. Ia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain. "Aku tak biasa dengan kehidupan seperti ini, Jack."
"Sayang, aku yakin perlahan-lahan kamu akan terbiasa dengan keadaan ini. Sekarang fokus dulu pada kesehatanmu." Jack meraih kedua tangan Riani dan menggenggamnya erat. Walaupun awalnya Riani menolak namun Jack dengan kuat menahan tangan Riani. "Aku akan membuat kamu bahagia. Aku akan membuat kamu merasa nyaman dengan pernikahan kita."
Jack menahan diri untuk belum menceritakan tentang Cecilia. Ia tak ingin Riani semakin terbeban sementara dokter menyarankan agar Riani tak boleh stres yang berlebihan.
Riani memberanikan diri menatap Jack. Lelaki yang sebenarnya membuat ia jatuh cinta hanya 3 hari setelah pertemuan mereka.
Jack melepaskan tangannya yang satu lalu membelai pipi Riani. "Aku mencintaimu, sayang. Itu yang harus kau percayai. Aku tak pernah merasakan hal seperti ini dengan semua perempuan yang pernah dekat denganku. Hanya kamu."
"Aku bingung dengan hubungan ini, Jack. Aku ..."
Cup.
Jack langsung mencium bibir istrinya. Menghentikan kalimat yang siap meluncur dari bibir istrinya.
Untuk sesaat, keduanya larut dalam nuansa romantis yang mulai berubah menjadi panas karena sudah satu bulan lebih tak saling memuaskan raga.
"Jack....tubuhku masih penuh bekas luka. Kamu pasti tak akan suka melihatnya." Ujar Riani saat ia dapat merasakan bahwa bukan hanya dirinya tapi juga Jack yang nampak tak kuasa menahan hasrat untuk masuk dalam hubungan intim.
"Kamu tetap cantik di mataku, sayang." Jack merayu istrinya. Membelai dengan lembut di tempat-tempat yang ia tahu sudah merupakan kelemahan Riani.
Saat baju yang Riani pakai akhirnya terlepas, Jack dengan sangat lembut mencium semua bekas luka yang ada di tubuh istrinya.
Riani pun memejamkan matanya. Berusaha untuk tak menolak walaupun ia tak tahu bagaimana nanti hubungannya dengan sang suami yang merupakan salah satu orang terkaya di kota ini.
Jack sendiri bersikap dengan sangat hati-hati. Ia tak ingin istrinya merasa tak nyaman.
*************
Sementara itu di luar pagar kokoh yang melindungi istana Jack, nampak da sebuah mobil yang berhenti di tepi jalan.
Jadi di sini kau menyembunyikan istri kampunganmu itu agar tak terlihat olehku? Aku pasti akan mendapatkan apa yang menjadi milikku, Jack. Karena memang dari dulu, kau hanya milikku.
***********
Selamat siang......
semoga suka dengan bab ini
jangan lupa dukung emak ya guys
__ADS_1