Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Demi Arma (part 2)


__ADS_3

Terlihat kalau Jack tak rela meninggalkan Riani sendiri. Semalam keduanya memadu kasih dan Jack berulang kali menyebutkan itu.


Namun Riani mengatakan kalau semua akan baik-baik saja dan Jack tak perlu khawatir.


"Sayang, jangan lupa makan, minum vitamin dan minum susunya. Apapun makanan yang kamu inginkan, katakan saja pada koki." pesan Jack sambil memperhatikan semua barang yang akan dibawahnya.


"Iya, sayang."


Jack menatap arlojinya. Pesawatnya akan berangkat pukul 7 pagi ini. Dan sekarang sudah jam setengah enam lewat. Ia dan timnya harus berada di bandara setengah jam sebelum waktu keberangkatan.


Salah satu sopir Jack masuk dan segera mengangkat barang bawaan Jack.


"Sayang, aku sudah menambahkan uang belanja di rekening mu. Aku juga sudah mengirim uang untuk ayah dan ibu di Surabaya. Jika kau bosan, pergilah jalan-jalan keluar. Tapi usahakan jangan dulu keluar bersama Cassie." pesan Jack. Ia meraih ponselnya lalu memasukan ke dalam kantong jaketnya.


Cassie menuruni tangga, masih dengan piyama tidurnya. Ia langsung memeluk papanya dan memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri.


"Dad, hati-hati selama di sana ya? Aku dengar ombaknya cukup ganas. Aku nggak peduli Daddy menang atau tidak. Yang aku inginkan jika Daddy bisa kembali dengan selamat."


Jack tersenyum mendengar perkataan anaknya. "Tentu saja daddy akan hati-hati." katanya lalu melepaskan pelukannya. Ia mendekati Riani yang berdiri di belakang Cassie. Mencium perut Riani dan mengusapnya perlahan.


"Sayang, jangan nakal di perut mommy ya? Daddy pergi dulu." Jack kemudian menatap istrinya. "10 hari kita akan berpisah sayang. Pasti aku akan sangat merindukan kalian."


"Ok. Hati-hati di sana. I love you."


Jack mengecup bibir istrinya lalu segera pergi meninggalkan rumah. Riani dan Cassie mengantarnya sampai di depan teras.


"Mommy, ayo sarapan." ajak Cassie sambil memeluk lengan ibu sambungnya itu.


"Bukankah ini masih terlalu pagi untuk sarapan?"


"Ayo kita buat nasi goreng bersama."


"Ok."


Keduanya melangkah menuju ke dapur. Setidaknya pagi ini, Riani akan menyenangkan hati Cassie sebelum mengajak anak sambungnya itu kerja sama.


Selesai sarapan dan mandi, Riani memilih untuk istirahat sebentar karena pagi ini ia bangun pukul setengah lima pagi.


Saat makan siang, Riani pun memutuskan untuk berbicara dengan Cassie. Ia tak mau anak sambungnya itu salah mengerti dengan maksud kepergiannya ke Indonesia.


"Sayang, mommy akan ke Surabaya." lalu ia menceritakan semua yang terjadi dan bagaimana Arma selalu menangis jika ia akan dijemput oleh Daniel.


"Mommy tahu ini tak baik karena sudah berbohong pada daddy. Namun mommy tak bisa tenang karena harus membiarkan Arma dalam situasi seperti ini."


Cassie menghapus air mata Riani. "Aku mengerti mommy. Aku bangga melihat bagaimana besarnya kasih sayang mommy buat Arma. Andai saja aku diberikan kasih sayang seperti itu. Aku pasti akan sangat bahagia."


"Sayang, kasih sayangku pada Arma, seperti juga kasih sayangku padamu. Tak ada perbedaan antara kau dan Arma. Itu janjiku padamu."


Cassie tersenyum. Ia memeluk Riani dengan erat. "Aku akan membantu mommy agar dapat pergi ke bandara."


"Terima kasih sayang."


Cassie membelai perut Riani. "Tolong jaga adikku ya."

__ADS_1


"Tentu saja, sayang."


Keduanya pun kembali berpelukan.


Pukul 2 siang, Cassie meminta sopir untuk mengantar mereka ke gereja karena Cassie akan latihan paduan suara. Ia memang salah satu anggota paduan suara di sana.


Karena yang latihan khusus anak perempuan, maka bodyguard tak bisa ikut masuk ke dalam dan hanya bisa menunggu di luar.


Tanpa mereka sadari kalau Cassie sebenarnya sudah memesan taxi untuk Riani dan taxi itu akan lewat Jalan belakang.


"Mommy hati-hati ya?" pesan Cassie sebelum Riani pergi.


Riani hanya membawa baju ganti sepasang saja. Ia tahu kalau membawa pakaian yang banyak maka ia akan ketahuan.


Saat ia tiba di bandara, Clark sudah menunggunya. Dan yang membuat Riani terkejut, Clark ternyata sudah menyiapkan beberapa pakaian untuknya dan diletakan di sebuah koper kecil.


"Terima kasih, Clark." kata Riani dengan rasa haru. "Aku pergi ya?"


Clark tersenyum. "Aku akan pergi denganmu."


"Apa?"


"Aku sudah lama tak pulang ke Surabaya. Aku juga memberikan coklat dan beberapa kue asal Inggris sebagai buah tangan bagi keluargamu di sana. Semua ini cukup berat karena itu biarkan aku saja yang membawanya."


"Oh Clark, bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu?"


"Cukup dengan menjaga dirimu dan kandunganmu saja."


1 jam kemudian....


sayang, pesawat mommy bentar lagi take off. Jaga dirimu baik-baik, ya sayang? I love you.


Cassie tersenyum membaca pesan itu. Ia pun keluar dari tempat latihan.


"Nona, kemana Nyonya Almond?" tanya John, salah satu bodyguard.


"Mommy sudah terbang ke Indonesia. Dan kalian, jangan melaporkan ini pada Daddy karena aku tak mau konsentrasi daddy terganggu. Mengerti?"


"Tapi nona...."


"Kalau Daddy menelepon, katakan kalau Nyonya sedang istirahat di lantai atas. Sisanya biar aku yang tangani."


Kedua bodyguard itu pun menurut dan segera mengantar Cassie pulang.


Sesampai di rumah, Cassie mengumpulkan seluruh pelayan yang ada.


"Jangan ada yang mengatakan di mana mommy berada karena daddy pasti tak akan konsentrasi latihan. Daddy butuh konsentrasi karena ini mungkin turnamen terbesar terakhir yang akan diikuti oleh daddy. Di lantai dua tak ada CCTV, jadi katakan saja kalau mommy sedang istirahat di atas karena merasa pusing. Mengerti? Semoga mommy bisa kembali sebelum daddy pulang."


Semua hanya bisa mengangguk pasrah walaupun sebenarnya mereka sangat ketakutan ketika harus berbohong pada tuan Jack Almond.


***********


Arya dan Sulastri terkejut saat melihat Riani yang berdiri di depan pintu rumah.

__ADS_1


Riani sendiri juga terkejut melihat perubahan bentuk rumahnya yang semakin besar setelah direnovasi. Bahkan proses ronovasinya berjalan terus.


"Nak, kok kamu datang tanpa memberitahukan kami?" tanya Sulastri sambil berlari dan memeluk anaknya. 9 bulan Riani pergi dan kini ia bisa memeluk putrinya lagi.


"Di mana Arma, Bu?"


"Ada di rumah Daniel, nak. Biasanya mereka akan mengantar Arma sekitar jam 8 malam." jawab Arya.


"Daniel brengsek! Aku akan menjemput anakku sekarang." Riani segera membalikan badannya dan masuk ke dalam mobil sewaan. Clark ada di dalam. Pria itu sengaja tak turun karena tak mau orang-orang kampung bertanya tentang siapa dirinya.


Riani pun kembali naik mobil dan memerintahkan sopirnya untuk menuju ke rumah Daniel yang jaraknya hampir 2 jam dari rumah Riani.


Begitu mereka tiba di sana, untungnya pintu pagar terbuka sehingga mobil yang membawa Riani dan Clark, boleh langsung masuk ke dalam.


Seorang satpam mengejar mobil itu dan hendak mempertanyakan maksud mereka yang masuk tanpa permisi.


Riani turun dan segera masuk ke dalam. Kebetulan Arma, Daniel dan ibunya baru saja akan keluar untuk mengantar Arma pulang.


"Mama....!" Arma langsung berlari dan memeluk mamanya saat melihat Riani datang.


"Untuk apa kalian kini mengambil Arma sedangkan kehadirannya dulu tak kalian inginkan? Kalian memasulkan cerita tentang kematiannya. Bukankah begitu nyonya Alwina yang terhormat?" tanya Riani sambil menatap ibunya Daniel dengan tatapan yang sedikit mengejek.


"Nak Riani. Masuklah dulu, kita berbincang secara baik-baik."


"Tidak! Bukankah dulu kau pernah mengusir aku dalam keadaan hamil saat datang ke rumah ini? Urus saja menantu kalian si Dewi itu. Bukankah kalian keluarga kaya yang punya banyak uang? Carilah dokter specialis terbaik agar menantu kesayangan kalian itu bisa hamil."


"Riani, jangan bicara seperti itu di depan Arma." ujar Daniel.


Riani tersenyum sinis pada Daniel. "Jangan sok menjadi lelaki baik, Daniel. Kamu saja yang lembek karena mau terus berada di bawa ketiak orang tuamu." Riani memeluk pinggang anaknya. "Ayo sayang, kita pergi!"


"Riani!" Daniel mengejarnya.


"Lepaskan! Aku akan membuat keberatan di pengadilan sehingga kamu tak bisa menganggu Arma lagi."


"Tak semuda itu, Riani!"


"Kita lihat saja nanti!"


Riani segera membawa Arma masuk ke dalam mobil. Di sana memang ada Clark yang sengaja tak turun karena tak ingin mencampuri urusan mereka. Tugas Clark hanya satu. Ia ingin menjaga keselamatan Riani.


Mereka pun langsung pergi meninggalkan Daniel yang nampak kesal karena ditinggalkan oleh Riani dan Arma.


Di dalam mobil, Arma menangis dalam pelukan ibunya. "Arma senang mama ada di sini. Jangan biarkan papa Daniel menjemput Arma lagi, ma. Arma nggak suka."


"Iya sayang." Riani terus memeluk putrinya, sampai ia merasa ada sesuatu yang hangat keluar dari inti tubuhnya. Riani menjadi tegang. Apakah itu darah?


*********


Selamat sore....


have a nice Sunday


terus dukung emak ya guys

__ADS_1


__ADS_2