
Perlahan Riani membuka matanya. Ia menemukan ruangan yang serba putih dengan bau yang sangat khas.
"Selamat datang kembali, Ri."
Perlahan kepala Riani bergerak mencari sumber suara itu. Dan ia menemukan Clark yang berdiri di samping tempat tidur sambil memasukan kedua tangannya di saku celananya.
"Clark, aku di rumah sakit?" tanya Riani sambil berusaha bangun namun ketika ia merasa sakit di tangannya, ia melihat ada selang infus di tangan kanannya.
"Pintar...! Kau pingsan selama beberapa jam. Asam lambung mu mengalami gangguan yang menurut dokter sangat parah. Entah kapan kau terakhir makan, ditambah dengan stres yang berlebihan kau akhirnya harus berakhir di sini." kata Clark dengan wajah sedihnya.
"Bagaimana kamu membawa aku ke sini?"
"Aku datang tepat disaat kamu pingsan di depan pintu rumah Jack. Leo membukakan pintu dan menawarkan untuk membawamu ke dalam namun aku menolaknya karena bagiku, perintah Jack itu sudah sangat terlambat. Kamu tahu apa yang dokter katakan? Terlambat 5 menit saja kamu akan mati, Riani."
Riani tanpa sadar meneteskan air mata. "Aku akan marah pada Tuhan kalau sampai aku mati saat ini. Aku akan berjuang untuk bisa bersama anakku."
"Tuhan sangat baik padamu. Kau bisa selamat. Sekarang, pulihkan dulu kesehatanmu. Dan kau akan berjuang dengan tubuh yang sehat untuk menghadapi Jack di pengadilan nanti."
"Pengadilan?"
"Bukankah jadwal sidang perceraian kalian 4 hari lagi? Di sanalah kau harus berjuang untuk bisa mendapatkan hak mu sebagai seorang ibu."
"Haruskah aku menunggu begitu lama? Aku merindukan Reo sampai aku tak bisa tidur nyenyak karena begitu ingin memeluknya."
Clark meraih tangan Riani. Ia mengusapnya dengan lembut. "Kamu pasti bisa, Ri. Karena kamu adalah perempuan yang kuat."
"Terima kasih, Clark."
Clark tersenyum. Camila, semoga dengan membantu Riani, aku bisa menebus semua kesalahanku padamu.
********
Pagi ini Riani diijinkan pulang dari rumah sakit. Ia harus menghadapi sidang pertama perceraiannya. Pernikahannya mereka memang dilaksanakan di Indonesia namun Jack sudah mendaftarkan pernikahan mereka di Inggris.
Sidang ini dilaksanakan secara tertutup. Riani bersyukur kalau tak ada wartawan yang datang. Riani tahu, Jack pasti sudah mengatur semuanya agar pihak pengadilan juga tak membocorkan pada siapapun perihal perceraian mereka.
Jack tak hadir di sidang yang pertama hanya diwakili oleh pengacaranya yaitu Sam. Sedangkan Clark bertindak sebagai pengacara Riani.
__ADS_1
Jack tetap dengan keinginannya untuk bercerai sedangkan Riani akan menyetujui perceraian itu asalkan Jack memberikan hak asuh Reo kepadanya.
Hakim meminta Jack untuk hadir di persidangan kedua.
Saat mereka bertemu di sana, Jack selalu tak ingin menatap Riani.
"Aku keberatan kalau hak asuh jatuh ke tangan Riani. Pertama, dia tak punya pekerjaan, kedua dia bukan istri yang bertanggungjawab karena telah berselingkuh, ketiga, saya tak ingin anak saya dibawa ke Indonesia." kata Jack.
"Nyonya Riani bukan seorang pengangguran saat kau menikahi dia, tuan Jack. Dia terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya untuk bisa mengikutimu ke sini. Dan perlu kalian semua ketahui, sekarang ini Nyonya Riani bukan lagi pengangguran. Ia bekerja di perusahaan Clark company sebagai kepala bagian pemasaran dengan gaji yang layak untuk bisa menghidupi dirinya sendiri dan juga anaknya." Kata Clark membuat Riani sedikit terkejut. Namun ia tersenyum sambil mengangguk.
Hakim memberikan kesempatan kepada Riani untuk bicara. "Aku tak meninggalkan anakku seperti yang dituduhkan kepadaku. Tapi Jack membawa anakku sementara dia masih minum ASI secara eksklusif. Aku bahkan tak diijinkan untuk melihat anakku. Aku sangat tertekan karena sebagai ibu harus dipisahkan dengan anakku. Aku setuju jika Jack ingin pisah. Itu tandanya bahwa ia tak mempercayai aku lagi. Aku tak butuh uang bulanan darinya karena aku bisa bekerja mencari nafkah dengan tanganku sendiri. Aku hanya ingin mendapatkan hak ku sebagai ibu." kata Riani sambil berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Ia tak mau terlihat lemah di depan Jack.
Setelah 3 kali persidangan, hakim pun akhirnya memutuskan bahwa Jack dan Riani akhirnya resmi bercerai. Riani diijinkan untuk mengasuh baby Reo selama ia masih diberikan ASI namun baby Reo tetap ada di rumah Jack. Jadi sampai Reo dewasa, Riani tak ada batasan untuk datang mengunjungi anaknya.
Hakim juga memutuskan bahwa Riani akan terus menemani tunjangan dari Jack walaupun Riani menolaknya.
Saat hakim mengetuk palu, untuk sesaat Riani terkenang kembali saat pertemuannya dengan Jack. Kenangan di Bali dan kenangan di rumahnya di desa kembali terbayang. Kenangan itu bagaikan sejuta jarum yang menusuk hati perempuan itu. Ia dengan cepat menghapus air matanya. Tangannya melepas cincin kawin yang masih melingkar di jari manisnya. Dengan langkah cepat ia mendekati Jack yang nampak masih berdiskusi dengan Sam.
"Jack....!" panggil Riani.
Jack akhirnya menoleh.
Sam tersenyum kecut. "Kau kehilangan dia, Jack."
Jack mengambil cincin itu dan menyimpannya ke dalam saku celananya.
********
Tangis Riani pecah saat ia bisa memeluk anaknya. Baby Reo yang awalnya hanya menatap Riani dengan tatapan kosong akhirnya tersenyum setelah Riani menyayikan lagu Rek ayo rek yang merupakan lagu khas asal dari daerahnya.
"My baby....!" Riani menciumi Reo yang badannya saat itu sedang demam.
Dan saat Riani mencoba menyusui Reo lagi, anaknya itu langsung mengisapnya dengan lahap.
Sampai jam 9 malam, Riani berada di rumah Jack. Setelah memberikan instruksi pada pengasuh Reo yang baru, Riani pun pulang bersama Jack. Ia kaget saat tahu bahwa Cassie memilih tinggal kembali di asrama dan hanya pulang setiap hari Jumat.
Sementara Jack belum berada di rumah sampai Riani pulang.
__ADS_1
**********
"Clark, apartemen siapa ini?" tanya Riani.
"Ini apartemen milik perusahaan yang biasa ditinggali oleh para karyawan atau mitra perusahaan yang harus tinggal selama beberapa waktu lamanya. Ini juga dekat ke rumah Jack sehingga kau tak membutuhkan waktu yang lama untuk menemui anakmu."
"Terima kasih, Clark. Aku tak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu."
Clark tersenyum. "Cukup dengan menjadi Riani yang kuat dan tak pantang menyerah."
Riani mengangguk. Ia menatap ruangan apartemen yang dikatakan cukup mewah.
"Ada dua kamar di sini. Kamar yang satu ada di lantai dua. Apartemenku sendiri ada di dekat kantorku. Tapi jaraknya juga tak jauh dari sini. Besok pagi, aku akan menjemputmu pukul 7 agar kau bisa menemui baby Reo dulu, lalu setelah itu kita berangkat kerja."
"Jadi benar kalau aku akan bekerja?"
"Memangnya kau pikir apa yang kukatakan pada hakim adalah sebuah kebohongan? Aku tahu di Surabaya kau bekerja sebagai kepala bagian pemasaran. Kebetulan kepala bagian pemasaran ku sudah ku pindahkan ke cabang yang lain. Jadi kehadiranmu memang sangat tepat."
Riani langsung memeluk Clark. "Terima kasih Clark."
"Kau pantas mendapatkannya."
Setelah membantu Riani mengatur beberapa barang, Clark pun pamit untuk pulang.
**********
Suster Fanny, yang menjadi pengasuh Reo, mengatakan bahwa baby Reo tidur dengan sangat pulas setelah disusui oleh ibunya.
Jack mencium pipi putranya lalu segera menuju ke kamarnya. Ia menatap foto pernikahannya dengan Riani yang masih ada di kamar mereka.
Hati Jack nelangsa. Saat ia merogoh sakunya, ia terkejut saat menyadari cincin pernikahan milik Riani yang ada di sana.
Jack memasukan cincin itu di laci nakas yang ada. Di sana ada juga cincin pernikahan miliknya yang sudah lama dibukanya.
Jack tahu mengapa hatinya merasa sangat kesepian. Apalagi dengan keputusan Cassie yang memilih tinggal di asrama. Jack merasa bahwa ia sendiri di tengah istananya yang megah ini. Ada sesuatu yang hilang dan rasanya sangat menyakitkan.
**********
__ADS_1
Hallo semua, terima kasih ya atas partisipasi membaca sampai part ini.
Selanjutnya saya serahkan kembali ke penulis asliya. Terima kasih emak telah ijinkan Amanda yang masih amatiran ini untuk bisa ikut menulis beberapa part di novel ini.