
Badai salju terjadi malam ini. Riani merasakan suhu udara yang semakin dingin. Ia menarik selimut untuk membungkus tubuhnya namun tetap saja merasa dingin.
Perlahan, Riani mendekatkan tubuhnya pada tubuh Jack. Tubuh Jack yang tinggi, besar dan berotot itu pastilah akan memberikan Riani kehangatan.
Jack sedang tidur membelakangi Riani. Tanpa bermaksud menganggu tidur suaminya, ditambah lagi mereka sedang marahan, Riani pun menempelkan punggungnya di punggung Jack. Dan ia merasakan tubuhnya sedikit hangat.
Gerakan Riani akhirnya membangunkan Jack dari tidurnya. Ia segera membalikan badannya dan menemukan Riani ada di hadapannya.
Harum rambut istrinya itu membuat Jack tersenyum. Perlahan, ia melingkarkan tangannya di pinggang Riani lalu menarik tubuh istrinya itu agar semakin menempel padanya.
Riani juga ikut terbangun. Ia pun membiarkan Jack memeluknya. Ia bahkan mengusap punggung tangan Jack lalu kembali memejamkan matanya.
Jantung Jack berdetak dengan cepat saat sentuhan tangan Riani mengusap punggung tangannya. Tubuh Jack mulai gelisah oleh sesuatu yang selama satu minggu ini ditahannya. Posisi Riani yang masih membelakanginya membuat napas Jack yang hangat mulai menyentuh leher Riani.
Perlahan, Riani membuka matanya kembali. Tentu saja sapuan hangatnya napas Jack mulai menganggunya. Namun ia berusaha menahan diri. Bagaimanapun ia juga sedang marah dengan Jack karena mengacuhkan dirinya. Namun saat tangan Jack mulai mengusap perutnya dengan gerakan yang lembut, tentu saja Riani semakin merasa terganggu. Apalagi Jack mulai mengendus lehernya. Riani mulai gelisah.
Jack memegang bahu Riani dan menarik tubuh Riani yang membelakangi nya agar tidur terlentang. Setelah itu dengan cepat ia memposisikan dirinya di atas sang istri.
Di balik remangnya cahaya yang ada di kamar itu, keduanya saling bertatapan. Jack bertumpu pada kedua lutut dan siku tangannya agar tubuhnya tak menimpah istrinya. Ia menyingkirkan anak-anak rambut Riani yang menutupi wajahnya lalu dengan lembut ia mengecup dahi Riani, turun ke matanya, lalu ke pipinya dan akhirnya ia mencium bibir istrinya.
Awalnya Riani tak merespon walaupun tubuhnya sangat menginginkan sentuhan Jack. Tapi akhirnya Riani mengalah. Perlahan ia membalas ciuman suaminya itu.
Tak ada kata yang terucap kan hanya bahasa tubuh yang menggambarkan bahwa mereka ingin saling memuaskan di subuh yang dingin itu.
**********
Jangan ditanya bagaimana mereka menghabiskan pagi itu dengan balutan cinta dan gairah. Tubuh Riani bergetar dan berkeringat karena Jack hanya memberikannya jedah selama 5 menit sebelum ia meminta lagi dan lagi.
Mereka belum sama sekali berkomunikasi. Bahkan ketika Jack mencapai puncaknya untuk yang ketiga kalinya, pria itu hanya ambruk di samping istrinya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Tidurlah sayang." bisik Jack saat memeluk Riani yang sudah memejamkan matanya. Perempuan itu hanya tersenyum lalu merapatkan wajahnya di dada bidang Jack.
*********
Cassie menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul 9 lewat 40 menit. Daddy dan mommy belum juga bangun.
Namun gadis yang beranjak remaja itu tersenyum. Ia tak akan membangunkan mereka. Lagi pula di luar salju masih turun diiringi dengan angin yang lumayan kencang.
Cassie memilih menyiapkan sarapannya sendiri. Ia makan sereal sambil menonton acara TV.
Sementara itu di kamar, Riani mulai terlihat bergerak. Ia membuka matanya dan menemukan dirinya ada dalam pelukan Jack.
Hati Riani merasa damai. Secara perlahan ia mencium pipi Jack dan membuat suaminya itu bangun.
"Good morning...!" Sapa Jack lalu secara perlahan mencium puncak kepala istrinya.
"Good morning." Riani membalas sapaan suaminya.
"Capek?" tanya Jack lembut sambil mengusap wajah Riani dengan punggung tangan nya.
__ADS_1
"Lumayan."
"Ya sudah, tidur lagi."
Riani sebenarnya ingin memejamkan matanya lagi. Namun saat ia melihat jam dinding yang menunjukan pukul setengah sepuluh, perempuan itu langsung bangun dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Jack sambil ikutan bangun.
"Aku harus menyiapkan sarapan bagi Cassie. Aku juga harus menelepon tuan John untuk meminta berhenti."
"Cassie pasti sudah makan sereal. Ia tak pernah sarapan di atas jam 8 pagi."
"Ah...., aku ini mommy yang buruk." Riani terkekeh sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Tidak sayang, kamu mommy yang baik."
Keduanya tertawa bersama. Jack membawa Riani kembali ke dalam pelukannya. Tubuh polos mereka saling bergesekan dan membuat Jack kembali merasa panas.
Riani yang merasakan sikap suaminya menjadi lain, berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Jack namun pria itu sudah kembali mendorongnya untuk tidur terlentang.
"Kamu mau apa, sayang?" tanya Riani sambil menahan dadanya Jack dengan kedua tangannya.
"Menurutmu?" tanya Jack dengan senyum menggoda.
"Aku bisa terlambat menyiapkan makan siang, Sayang."
"Aku akan membantumu menyiapkan makan siang. Aku nggak akan pergi kerja hari ini asalkan kau membantu aku untuk menidurkan yang ini dulu." Jack menarik tangan Riani ke inti tubuhnya membuat Riani sedikit menjerit. Jack tertawa melihat wajah istrinya yang memerah.
"Sayang.....!" Riani menatap wajah Jack. Pria itu menunduk dan menyentuh hidung Riani dengan hidungnya. "Aku bodoh karena mengabaikan mu selama seminggu ini. Menyiksa diriku untuk menjauhi mu pada hal sesungguhnya aku tak bisa jauh darimu."
Masih dalam posisi yang sama Riani kemudian melingkarkan tangannya di punggung Jack. "Melalui peristiwa ini, kita belajar untuk saling memahami satu dengan yang lain. i love you, baby."
"Love you too, honey." balas Jack laku mulai menggoda istrinya kembali dengan sentuhannya yang memabukkan.
*********
Ada senyum kebahagiaan di wajah Cassie saat melihat kedua orang tuanya sudah berbaikan di hari ini. Apalagi mereka saling bertatapan mesra saat memasak bersama.
Tak lama kemudian Arma menelepon melalui panggilan Videocall. Ternyata ia ada di pasar. Sedang belanja baju dan sepatu natal bersama opa dan omanya.
Mata Riani menjadi berkaca-kaca. Ia tak banyak bicara, hanya mendengarkan saja bagaimana Arma bercerita tentang selera opa dan omanya yang sedikit kuno.
"Ibu nggak ijinkan Arma membeli sepatu hak tinggi. Katanya itu untuk para anak gadis, pada hal ukurannya sudah pas di kaki Arma." wajah Arma terlihat sedikit cemberut. "Coba mama ada di sini. Pasti selera kita sama."
Hati Riani bergetar mendengar perkataan anaknya. Ingin rasanya ia menangis namun ia menguatkan hatinya. "Mungkin ibu takut Arma jatuh."
"Nggak. Arma sudah bisa memakai sepatu hak tinggi." Arma menoleh ke arah omanya yang ada di sampingnya. "Boleh ya?"
Sulastri menggeleng. Arma terlihat seperti ingin menangis.
__ADS_1
"Bu, biar saja Arma membeli sepatu itu." ujar Riani.
"Tapi ibu takut Arma jatuh, nak."
"Nggak masalah, Bu. Kan itu juga untuk ukuran anak-anak."
Sulastri menatap cucunya. "Baiklah."
"Hore....!"
Riani tersenyum bahagia melihat Arma yang melompat kegirangan.
Cassie dan Jack yang ada di belakang Riani pun ikut bahagia walaupun tak mengerti dengan percakapan diantara Riani dan Arma.
"Nak Jack, thankyou ya sudah mengirimkan uang untuk kami di sini sehingga Arma bisa beli baju baru." Ujar Sulastri membuat Riani terkejut. Ia menatap suaminya. Jack hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.
"Kamu mengirimi mereka uang?"
"Ya."
Riani menjadi tersentuh. Ia tak menyangka kalau Jack begitu perhatian pada keluarganya.
Panggilan Videocall itu pun berakhir. Riani langsung memeluk suaminya sebagai tanda terima kasih.
"Arma harus mendapatkan hak yang sama dengan Cassie, sayang. Karena Arma sekarang adalah anakku juga. Aku mengirimnya nggak banyak, kok. Kalau dirupiahkan mungkin hampir 7 jutaan."
"Itu banyak, Jack. Sangat banyak untuk ukuran orang kampung seperti kami."
Cassie menatap papanya. Ada rasa bangga dalam hatinya karena papa mengasihi Arma.
"Semoga tahun depan kita bisa natalan bersama ya, mom. Ingin rasanya mengenal Arma semakin dekat." ujar Cassie.
"Amin." ujar Riani lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Saat ia akan menyajikan makan siang, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini ada pesan yang masuk.
Aku tak akan pernah berhenti mencintaimu. Aku akan terus mengejarmu sampai kau menjadi milikku kembali.
Nomor itu memang tak ada namanya. Namun Riani tahu kalau itu adalah Daniel.
"Dari siapa sayang?" tanya Jack saat melihat wajah istrinya yang tegang.
"Daniel."
"Damn!" Jack terlihat marah. Tangannya yang sementara memegang alat makan terlihat tegang.
**********
Good morning (ceile ke bule-bulean)
__ADS_1
selamat Jumat Barokah
semangat terus dan semoga terhibur