Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Sifat Riani Yang Lain


__ADS_3

"Berikan aku waktu seminggu untuk membereskan semuanya. "


Jack mengerutkan dahinya. "Maksudmu apa?"


"Cassie. Ia pasti akan menerimaku. Dalam satu minggu, aku pasti akan memenangkan hatinya. Ijinkan aku bersamanya, Jack." Mohon Cecilia.


"Tidak. Jangan usik kebahagiaan Cassie."


"Jack.....!" Cecilia berpindah tempat dan ia berlutut di hadapan Jack. "Demi masa lalu yang pernah kita lewati bersama, demi anak yang sementara aku kandung ini, ijinkan aku untuk berkenalan dengan Cassie. Kenangan tentang Camila ada dalam dirinya. Kamu tahu kan kalau aku sangat menyayangi adikku itu."


Jack berusaha menarik tangannya dari genggaman Cecilia namun Perempuan itu menahannya dengan kuat. Air mata Cecilia mengalir membasahi wajahnya dan hal itu membuat hati Jack jadi tak tenang. Pernah bersama Cecilia selama 10 tahun lebih, tentu Jack hatinya Jack jadi tak tega melihat Cecilia yang menangis seperti itu. Namun membiarkan Cassie bersama Cecilia, Jack rasanya tak sanggup Usia Cassie yang masih labil membuatnya pasti akan sangat terguncang saat tahu kalau Cecilia, wanita yang sangat dibencinya itu adalah bibinya.


"Ce, aku mohon jangan kayak gini. Aku belum bisa mengatakan pada Cassie karena aku takut kalau dia belum cukup dewasa untuk mengerti semua ini. Dia masih kecil. Tunggulah sampai usianya cukup."


Cecilia menangis di pangkuan Jack. "Jack, aku ingin sekali bertemu dengannya."


"Sayang.....!"


Jack menoleh dengan kaget ke arah suara itu. Ternyata Riani sudah berdiri di sana. Wajah istrinya itu terlihat tenang. "Aku kebelet pingin buang air kecil. Nggak apa-apa kan aku masuk? Toiletnya di mana ya?"


Jack segera berdiri dan membuat Cecilia yang masih ada di pangkuannya langsung terjungkal ke belakang.


"Ke sini, sayang." Jack menunjukan sebuah pintu yang memang agak terbuka sedikit.


Riani pun melangkah dengan santainya dan memasuki toilet. Ia seakan tak perduli dengan Cecilia.


"Kamu datang bersamanya, Jack?" tanya Cecilia kesal sambil berpegangan pada sofa untuk berdiri.


"Ya. Tadi istriku nggak mau masuk. Ia hanya menunggu di luar."


Wajah Cecilia menjadi cemberut. "Kenapa kau mengajaknya, Jack? Bukankah aku memintamu datang sendiri?"


"Dia istriku, Ce. Aku tak mungkin akan mengabaikannya. Lagi pula diantara kami tak ada lagi rahasia. Istriku sudah tahu semua kisah masa lalu kita. Termasuk juga tentang Camila."


"Cih, memangnya apa kelebihan perempuan itu dibandingkan diriku?"

__ADS_1


Jack akan menjawab namun pintu toilet kembali terbuka. Riani keluar dengan senyum manisnya. "Sayang, 10 menit lagi ya?" ujar Riani lalu segera keluar dengan gaya santainya. Pada hal hatinya dengan galau. Ia benci saat melihat Cecilia yang menangis di pangkuan Jack.


"Apa maksudnya 10 menit lagi?" tanya Cecilia nampak kurang suka.


"Waktuku untuk berbicara denganmu hanya 30 menit. Riani nggak mengijinkan aku terlalu lama di dalam sini."


Wajah Cecilia langsung berubah kesal. Ia mengepalkan tangannya. "Kok kamu mau hidupmu di atur oleh perempuan itu sih?"


"Perempuan itu adalah istriku, Ce. Dan aku mencintainya. Lagi pula dia sedang hamil anakku."


"Oh ya? Jadi kamu akan punya anak dua sekaligus? Kenapa dia harus hamil sekarang? Kenapa dia nggak hamil dari beberapa bulan lalu?"


"Sudahlah, Ce. Aku mau pergi!" Jack mulai kesal dengan tingkah Cecilia.


"Tunggu ! Bagaimana dengan Cassie? Kapan kau akan mempertemukan aku dengannya?"


"Nanti saja."


Cecilia mengahadang Jack. Menatap pria itu dengan tatapan mengancam. "Kamu tahu siapa aku, Jack. Membocorkan saja informasi tentang kehamilanku, aku sama sekali tak takut. Apalagi jika harus mengatakan pada orang tuaku kalau anak Camila masih hidup. Kau tahu, orang tuaku akan melakukan apa saja agar Cassie dapat bersama mereka. Karena soal kasih sayang, keluarga ku pasti mampu merebut hati Cassie dengan kasih sayang yang melimpah kepadanya."


Jack hanya membalas tatapan Cecilia dengan tatapan dingin. "Aku pergi....!" Lalu ia melangkah meninggalkan kamar Cecilia. Tak peduli dengan sumpah serapah yang diteriakkan Cecilia kepadanya.


"Ok deh. Jika kangen makanan Indonesia, datanglah ke rumah. Lebih bagus lagi kalau Cassie sedang libur jadi kita bisa ramai menyiapkannya. Ok. See you, Clark. Bye..."


Jack melirik istrinya saat mendengar nama Clark disebut sebelum sang istri mengahiri percakapannya.


"Untu apa Clark meneleponku?" tanya Jack tanpa menyembunyikan rasa cemburunya.


"Hanya sekedar say hallo saja. Aku yang meneleponnya karena merasa bosan di dalam mobil. Memangnya nggak boleh? Clark kan saudaramu? Dari pada kamu yang membiarkan Si pandangan kabur itu menangis di pangkuanmu." Sindir Riani sambil memasang sabuk pengamannya.


"Pandangan kabur?"


"Memangnya kamu tak tahu artinya nama Cecilia adalah pandangan yang kabur? Makanya, walaupun sudah menjadi suami orang tetap saja di pandangannya kamu itu masih bujang. Makanya ia tetap menangis di pangkuanmu karena merasa kau masih miliknya. Kalau aku tak masuk tadi, mungkin kalian sudah berpelukan."


Jack kembali melirik istrinya yang terdengar cerewet bahkan sedikit jutek dengan sifat dan kata-katanya.

__ADS_1


"Aku tak mungkin memeluknya, sayang. Walaupun pada kenyataannya tak segampang itu melepaskan kenangan hidup selama 10 tahun lebih bersamanya. Cecilia hanya merasa bersedih karena begitu ingin dekat dengan Cassie. Namun aku tak siap karena tak ingin membuat jiwa Cassie terguncang."


"Alasannya saja ingin dekat dengan Cassie. Dia hanya ingin dekat denganmu, Jack. Bagaimana jika anak itu lahir dan ternyata itu adalah anakmu? Dia bisa menggunakan anak itu untuk membuatmu semakin sering ketemu dengannya."


Jack menepihkan mobilnya. Kebetulan mereka berada di jalan yang sepi.


"Sayang, jangan bicara seperti itu. Apapun nanti yang akan terjadi di masa depan, kamu dan anak ini adalah prioritas utama dalam hidupku." Jack mengusap perut Riani. "Walaupun memang aku tak bisa mengabaikan jika itu adalah anakku."


Riani menatap Jack. Ia melihat kesungguhan di mata hazel suaminya itu. "Jack, apakah tidak sebaiknya aku kembali ke Surabaya? Aku ingin melahirkan di Surabaya. Di dekat orang tuaku."


"Sayang, haruskah aku tak melihat proses pertumbuhan anakku sendiri sejak dari kandungan? Please, jangan menjauh dariku. Aku sungguh tak mencintai Cecilia lagi."


Jack meraih tangan Riani dan menggenggamnya erat.


"Kita pulang saja. Aku lelah dan ingin tidur."


Jack mengangguk. Ia mencium Riani dan kembali menjalankan mobilnya.


************


Cecilia menatap 2 lelaki di depannya. "Aku ingin anak di dalam kandungan perempuan itu menghilang. Dia tak boleh hamil. Hanya aku yang boleh memmberikan anak untuk Jack."


"Tapi, bagaimana caranya? Nyonya Almond jarang sekali keluar rumah."


"Bodoh! Memangnya dia hanya akan tinggal di rumah saja? Dia pasti akan ke dokter untuk memeriksakan kandungannya. Walaupun dia bersama, Jack, kalian pasti punya kesempatan untuk mencelakakan dia."


"Baiklah, nona. Akan kami usahakan. Seperti dulu kami yang tak pernah gagal melaksanakan tugas dari anda."


Cecilia mengeluarkan segepok uang dari dalam tasnya. "Ini baru uang mukanya, sisinya jika kalian berhasil membuat perempuan itu keguguran.. Mengerti?"


"Baik, nyonya."


*********


Ih....seramnya sih Cecilia

__ADS_1


Bagaimana kisah ini akan berlanjut?


dukung emak terus ya guys


__ADS_2