Janda Muda Dikejar Om Bule

Janda Muda Dikejar Om Bule
Permintaan Maaf


__ADS_3

Sudah lebih dari 30 menit Jack berdiri di depan jendela kaca yang ada di ruangan tamu. Ia menata ke luar jendela sambil memasukan kedua tangannya di dalam kantong celananya.


Kopi yang dibuatkan Riani sama sekali belum disentuhnya.


"Sayang....!" Riani yang sejak tadi diam langsung mendekati suaminya.


Jack menarik napas panjang, memberikan senyum kecil ke arah istrinya lalu duduk di atas sofa lalu mengambil kopi yang tadi dibuatkan Riani dan meminumnya sampai habis.


Riani pun duduk di samping suaminya. "Honey, apakah kau tak akan pergi? Bagaimana jika papamu ternyata, maaf, tak bisa selamat? Apakah kau tak akan menyesal?"


Jack menatap istrinya. "Sejak usia 18 tahun aku sudah meninggalkannya. Bahkan di hari pernikahanku, pernikahan adikku, dia sama sekali tak pernah datang. Lalu kenapa ia harus mencari aku di ujung kehidupannya?"


Riani memegang tangan kanan suaminya, ia mengusap punggung tangan itu perlahan lalu mulai berbicara dengan lembut. "Sayang, aku memang tak tahu bagaimana terlukanya dirimu saat mamamu meninggal dan ketika papa mu menikah lagi. Tapi, tak dapatkah kita saling memaafkan? Setidaknya, papamu masih mengingat kalian di ujung usianya. Tak bisakah dia diberi kesempatan terakhir? Aku punya anak. Kamu juga punya anak. Aku tahu kita tak akan melakukan itu pada anak-anak kita. Tapi bagaimana jika suatu saat kita melakukan kesalahan dan Cassie atau Arma tak mau memaafkan kita?"


Jack diam. Ia kelihatan masih berpikir.


"Sayang, memaafkan itu tak akan membuat kita rugi. Justru akan membuat kita tenang. Aku bukannya menekankan mu. Namun aku tak ingin kau menyesal suatu hari nanti saat tak melakukannya hari ini."


Jack masih diam.


Riani mencium punggung Jack. "Aku akan siapkan sarapan ya?" Laku Riani pun segera ke dapur.


**********


Hari sudah sore. Riani baru selesai membuat kue. Dia ingin membawanya ke asrama Cassie.


Saat ia akan ke kamar, di pintu kamar ia berpapasan dengan Jack yang sudah berganti pakaian dan menggunakan mantel yang tebal.


"Kamu mau pergi?" tanya Riani.


"Ya. Aku mau ke rumah sakit."


Riani tersenyum senang. "Syukurlah, Jack."


"Kamu ingin ikut denganku?"


"Jika kamu mengijinkannya."


Jack mengangguk. "Aku ingin kamu ikut denganku."


"Aku ganti pakaian dulu ya?"


"Bawalah juga baju ganti. Karena papaku di rawat di salah satu rumah sakit yang ada di London."


"Kita akan ke London?"


"Ya. Kita akan kembali berkendara selama 4 jam."


"Aku siap menemanimu, sayang. Sebentar ya aku mau ganti baju dan menyiapkan pakaian kita berdua. Tapi sebelumnya, kita mampir ke asrama Cassie dulu ya? Aku membuat kue untuknya."

__ADS_1


Jack hanya mengangguk dan membiarkan istrinya itu ke kamar untuk bersiap-siap.


***********


Pukul 9 malam, mereka pun tiba di London. Papanya Jack di rawat di salah satu rumah The Thomson. Salah satu rumah sakit swasta terbaik di kota itu.


Felix sang pengacara sangat senang melihat kedatangan Jack.


"Adikmu Juliana sudah dalam perjalanan ke tempat ini. Katanya ia mau datang karena kau meneleponnya." ujar Felix.


"Di mana daddy?"


Felix menunjukan sebuah ruangan yang sebagian dindingnya adalah kaca. Jack mengintip ke dalam dan melihat papanya terbaring di sana dengan banyak sekali alat penopang kehidupan.


Seorang dokter keluar dan mengijinkan Jack masuk, namun Jack ingin masuk jika Riani menemaninya. Akhirnya mereka pun masuk bersama.


Riani baru menyadari bahwa wajah Jack sebagian besar mirip dengan papanya. Mulai dari hidung, mata dan juga dagunya.


"Jack.....!" Ray membuka matanya. Ada binar kebahagian dibalik matanya yang meredup.


Jack tak bicara. Ia hanya diam sambil menatap tubuh papanya yang nampak kurus. Pada hal papanya juga adalah atlit peselancar yang sangat menjaga bentuk tubuhnya. Namun sekarang ia terlihat seperti pria tua yang tak berdaya.


"Hallo daddy!" sapa Riani.


Ray menatap Riani. "Riani?" tanyanya.


"Yes."


Riani dan Jack terkejut saat menyadari bahwa papanya tahu tentang kehidupan Riani.


"Dia masih di Indonesia." jawab Riani dengan lembut.


Ray menatap Jack yang masih bersikap cuek padanya. "Maafkan aku, Jack. Aku tahu kalau aku sudah menyakiti mu."


Jack masih diam. Riani menatap suaminya. "Sayang, aku tunggu di luar ya? Kalian sebaiknya berbicara berdua saja." Riani kemudian pamit dan segera keluar ruangan.


Keheningan terjadi di ruangan itu. Yang terdengar hanyalah bunyi alat penopang kehidupan yang menempel di tubuh Ray.


"Jack....!" panggil Ray.


Jack menatap papanya. Untuk sesaat, terbayang masa kecilnya yang bahagia. Bagaimana papanya mengajari dia naik sepeda, belajar mengajarinya berselancar, bahkan menemaninya membuat PR. Hati Jack bergejolak. Saat mengingat kasih sayang papanya tapi juga penderitaan yang dialami oleh mamanya karena perselingkuhan dan KDRT yang sering mamanya terima.


"Aku tahu kalau aku tak pantas meminta cinta dari kalian. Tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu dan adikmu."


Jack masih diam.


"Jack......!" tangan Ray terulur dan menyentuh tangan Jack. Tangan papanya sangat dingin saat bersentuhan dengan tangan putranya itu. Jack cukup terkejut. Ia akhirnya memegang tangan papanya.


"Aku memaafkan mu." ujar Jack lalu air matanya pun jatuh. Ray nampak tersenyum lega. Ia tak banyak bicara lagi. Tangannya masih berada dalam genggaman Jack. "Aku ingin tidur. Tolong jangan lepaskan tanganku." pintanya lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


*********


Adik Jack tiba saat hari sudah pagi. Perempuan itu sangat cantik. Usianya 4 tahun di atas Riani.


Hampir bersamaan dengan kedatangan Juliana adiknya Jack, Clark datang. Pria itu terlihat sangat tegang dan panik saat memasuki rumah sakit. Ia bahkan tak menyapa Riani.


Ray pun memohon maaf pada putrinya itu dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya dengan wajah yang damai.


***********


Acara pemakaman Raymond Almond di laksanakan sore itu juga atas permintaan Ray pada pengacaranya. Ia bahkan dikuburkan bersebelahan dengan makam ibunya Jack.


Para sahabat dan kerabat terdekat datang dan menyampaikan rasa belasungkawa mereka. Cecilia Smith juga hadir.


Dari Felix akhirnya Riani tahu kalau Jack dan Clark adalah bersaudara. Ibu mereka yang berbeda. Ibu Clark adalah mantan reporter TV. Clark tak memakai nama belakang Ray. Ia lebih memilih memakai nama belakang Kakeknya. Makanya tak banyak yang tahu kalau dua pria tampan itu kakak beradik.


Selesai acara pemakaman, Jack nampak berbicara sebentar dengan adiknya. Perempuan itu juga datang menyapa Riani dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


Jack dan Clark tak bertegur sapa. Keduanya saling cuek bahkan terkesan enggan saling bertatapan.


"Sayang, ayo kita pulang !" ajak Jack saat semua orang sudah meninggalkan kompleks pemakaman itu.


"Baiklah. Tapi, apakah setidaknya kamu istirahat dulu, sayang? Kamu kan tak tidur semalaman."


Jack menatap istrinya. "Kalau aku capek, kita bisa berhenti dan tidur di dalam mobil."


"Baiklah."


Saat Jack dan Riani akan pergi, Felix memanggil mereka.


"Tuan Jack, saya berharap 2 Minggu lagi kalian datang untuk mendengarkan pembacaan surat wasiat." kata Felix.


"Aku tak butuh warisan apapun darinya."


"Tapi ini bukan hanya untukmu. Ini juga untuk Cassie."


"Daddy tahu tentang Cassie?"


Felix tersenyum. "Ia bahkan sudah sering mengunjungi Cassie di asrmanya."


"Apa?" Jack terkejut.


"Dia mungkin jahat di masa lalunya. Memuaskan hasratnya dengan banyak wanita muda. Dia mungkin kelihatan tak peduli dengan kamu dan Juliana tapi sesungguhnya ia selalu memantau perkembangan kalian. Saat Juliana menikah, ia sebenarnya sedang sakit sehingga tak bisa datang. Papamu hadir saat kau merayakan ulang tahunmu yang terakhir ini sekaligus dengan syukur atas pernikahanmu. Di mata orang dia sudah bangkrut karena para wanita yang bersamanya hanya menginginkan hartanya. Namun apa yang menjadi hakim, sudah lama di simpannya."


Jack terkejut mendengar perkataan Felix. Hatinya menjadi tersentuh. Benarkah daddy selalu memperhatikan hidup ku?


***********


Selamat pagi....

__ADS_1


semoga suka dengan part ini ya?


__ADS_2